Wednesday, May 10, 2006

Hujan Arwah

Puisi Arie MP Tamba


Panah-panah hujan mengirim kami menusuki kulitmu.

Tapi hidup mengalir ke dalam botol tersumbat.
Menangisi pusaran sendiri seperti angin tumpat.

Kota bangkit dan mendengus bersama harimau di pundak.
Mencakar kebekuan yang mendekapmu dalam basah gelap.

Membanjiri mata dengan teriak kenangan terkoyak.
Bersama para arwah meledak dalam gema perjalanan hari ini.

Di puncak-puncak mereka lenyap dari pendakian suara.
Lalu risau menjelma busur yang merentang di benakmu.

Panah-panah pikiran menembusi pendar waktu di tengah hujan yang sama.
Orang-orang menepi untuk kerusuhan-kerusuhan terus dikabarkan.

Tapi mereka adalah mimpi-mimpi terbujur kaku di setiap rumah.
Dan hujan melepas dinginnya kata-kata menjamah resahmu.

Ketika cuaca menjelma keabadian dari setiap mulut arwah.
Tentang kami mengirimkan cahaya dari balik badai.

Mengingkari putus asa dan merebut kembali masa lalu.
Bersama para arwah berbicara seperti petir hitam.

Ketika para diktator melecuti kota dengan kematian.
Lalu memeluk masa kanak sendiri berupa kata-kata kosong.

(95)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home