Monday, May 08, 2006

Jaga Anak Baik-baik!*

Cerpen Arie MP Tamba

1.
DI KOTA kecil yang menghadap ke arah danau biru serta membe­lakangi bukit-bukit terjal berhutan lebat itu -- anak-anak dila­hirkan, dipelihara, dan tumbuh cepat menjadi lelaki atau perempuan dewasa yang cerdas dan berani. Bila anak-anak itu marah, suara mereka menggeram seperti auman serigala yang sering terden­gar dari puncak-puncak bukit terjal di kejauhan pada malam tanpa bulan. Pada malam sebelum badai panjang itu, anak-anak serigala yang sedang mengalami tumbuh taring dan mulai senang meninggalkan rombongan itu, tergoda mengabarkan keberadaan mereka dengan lolongan panjang. Seakan mereka juga mengirimkan pesan -- bahwa bulan – sedang menyembunyikan wajahnya, yang tadinya menyembul terang dari balik rimbunan awan gelap di atas sana.

Dan bulan yang melingkar putih sekejap itu, dapat menimbul­kan bermacam gambaran dan harapan bagi serigala-serigala itu.

Bulan itu terkadang seperti sebuah pulau cahaya di tengah malam, dengan aroma daging bakar menebar dari sana, menggoda selera makan mereka di tengah udara malam yang dingin.

Bulan itu terkadang seperti boneka berambut keperakan bersinar lembut, terayun-ayun di tangan seorang bocah perempuan yang sedang bermain di halaman rumah, sambil mengenangkan kakek dan neneknya yang telah lama pergi.

Bulan itu terkadang seperti bola salju yang menebarkan hawa dingin, siap melumer, ketika hawa panas napas menyentuh permukaannya, lalu merembes dan menggelombang berupa topan, menghancurkan selaput inti es yang sukar disosokkan kecuali dengan mata batin itu.

Dan bulan itu terkadang menyerupai matahari yang dulu pernah menggantung di barat bukit, suatu kali terjatuh ke danau hingga kedalaman tertentu, lalu tak pernah mengambang lagi dari sana. Sampai beberapa orang terpikir menggantikannya dengan matahari baru; namun kali itu, dengan bongkahan matahari dari plastik, yang tak akan pernah terbenam sekalipun terjatuh ke danau.

LALU dalam pertumbuhan mereka, anak-anak itu dilindungi dengan ranjang besi. Tempat mereka tertidur nyenyak. Terhindar dari mimpi-mimpi kebebasan, yang dapat membuat mereka membayang­kan apa saja. Termasuk membayangkan bunga-bunga mekar di antara keheningan, dari mulut beberapa kuburan tua yang menganga di kaki bukit.

Dua ekor anjing penjaga siap menyalak, bila seseorang atau apapun menjelma menjadi ancaman yang dapat mencelakakan, atau sekadar menimbulkan rasa takut bagi anak-anak itu.

Namun selama ancaman terjadi di luar sana, berupa kekacauan rumah tangga, peperangan antarbangsa, persaingan kecerdasan menciptakan senjata-senjata mematikan, atau raungan putus asa Romeo dan Juliet, seperti yang sedang dipentaskan di satu-satunya gedung teater di kota kecil itu -- tidak sampai ke telinga apalagi ke tepi kesadaran mereka -- berarti semuanya teratasi dengan baik. Bahwa kekurangajaran pikiran, dan kisah orang-orang yang memilih mati menjelang pagi -- tak tercatat sebagai noktah pengetahuan di benak mereka.

Di dinding ada peta, agar anak-anak itu kelak mengetahui batas-batas wilayah yang mereka huni; tempat mereka hidup dengan aman dan penuh pengharapan memburu masa depan. Lalu, tersedia radio-radio yang dapat digunakan setiap saat, bila mereka membu­tuhkan sesuatu yang lucu: seperti suara-suara para penyanyi dari
seberang lautan, yang terkadang melesat bagai kelelawar bersayap lebar menyuruk lorong telinga mereka.

Hingga, anak-anak terbiasa menikmati tidur sehat dan nyaman sepanjang malam. Terhindar dari ketidakberesan cuaca dan suara-suara sumbang yang tak dikenal dan tak terpahami, namun dapat membuat siapa saja menangis kebingungan. Karena dalam suara-suara sumbang itu, kerap terdengar kisah-kisah teror yang setiap hari dirancang para orangtua di gedung-gedung tinggi, dengan perlin­dungan berbatalion pasukan keamanan yang siap menembakkan peluru, begitu menangkap isyarat atau sekadar tanda yang memancing kecurigaan pada kesadaran membunuh mereka.

Maka, anak-anak belum saatnya mendengarkan gelombang sekian-sekian, yang dapat menyebutkan apa saja tentang isi hati para orangtua. Sementara, para orangtua sedang mendengarkan dengan gembira, berita terakhir tentang perebutan kekuasaan di sebuah negeri di kejauhan; atau bangkrutnya sebuah negara oleh sekelom­pok pengusaha raksasa, yang terkadang mampu menguasai mati hidupnya belasan negara sekaligus.

Dan anak-anak juga belum saatnya mengetahui: bahwa di kota kecil yang melahirkan mereka, para orangtua harus berpacu di setiap perjalanan karena banyaknya kesibukan, di antaranya kegia­tan menghadiri sidang-sidang bisnis penting yang berkaitan dengan keamanan negara. Atau, para orangtua sedang bercinta-cintaan dengan seseorang, yang siap berselingkuh pada jam-jam tertentu; sejenak mencapai kebahagiaan, melampiaskan fantasi seksual yang pernah dimiliki pada masa lewat -- dan dengan memuaskannya, berharap -- akan menyegarkan kembali irama kehidupan yang sempat monoton dan kering. Karena, semakin jauh dari lelucon lagu pop dan keputusasaan para pecinta abad romantik, yang kini hanya dapat menangis di novel-novel dan di film-film.

Namun, anak-anak harus tumbuh dengan pengertian para pecinta yang lapar segalanya -- yang hanya dapat terpenuhi oleh perhatian para orangtua -- yang bertahun-tahun kemudian mereka antarkan ke kuburan dengan upacara meriah. Atau, terkadang mereka biarkan saja terpuruk di sudut ruangan, hingga mereka hanya dapat menyesali ketuaan yang menelantarkan mereka -- sampai-sampai memandangi punggung anak-anak pun mereka sangat takut -- apabila akhirnya mereka terusir dari rumah, yang dulu dibangun untuk pertumbuhan dan keamanan anak-anak, dari ancaman kejahatan jalanan, yang membiarkan anak-anak menggilas keorangtuaan siapa pun.

Hingga para orangtua tergerak memaklumi, bahwa apa yang sangat dibutuhkan anak-anak -- kecuali rasa aman di antara perut kenyang dan imajinasi yang terpuaskan -- adalah...darah!

Darah... Darah... Tetesen darah di moncong serigala di bawah bulan yang perlahan sembunyi ke balik gumpalan awan gelap.

Dan terkadang, melebihi sekelompok serigala lapar di kejau­han, yang sedang menelan liur atas bayangan daging mentah berdarah yang menjadi makanan rutin mereka sejak masa kecil -- anak-anak sangat menyukai anyir darah, dan bermimpi telah menghirupnya di lorong kegelapan luka di kaki atau di tangan yang membusuk sebagai anggota tubuh mereka.

Anak-anak seperti menyadari, bahwa dengan menghirup bau darah -- mereka sedang berkenalan dengan kefanaan -- sejak berupa lingkaran kecil keperihan luka sendiri, yang kemudian membesar berupa kepedihan semesta kemanusiaan. Hingga dunia tertelan, dan kehidupan terbentang berupa kubangan tanpa dasar, pekat, dan
suatu kali menenggelamkan matahari di barat bukit.

Perang. Perang. Perang.

Terkadang para orangtua pun tak bisa menghalau perang yang menyerbu tidur anak-anak, mengasingkan mereka dari cahaya bulan, dan menjauhkan mereka dari auman serigala. Lalu mereka dibiasakan berdekatan dengan segala bentuk kejahatan, yang setiap detik setiap jam setiap hari diajarkan di TV, di koran-koran dan di buku-buku, saat mereka terus mengeja:

"Ini pisau ibu menikam ayah!"

"Ini pestol ayah menembak ibu!"

"Ibu-ibu menikam ayah-ayah!"

"Ayah-ayah menembak ibu-ibu!"

Hingga suatu ketika, anak-anak pun memutuskan berhenti mengeja dan mulai bertanya, "Adakah yang lebih mulia dan kejam daripada orangtua?..."


2.
KATA anak itu bersungut-sungut, "Sebetulnya saya ingin menjadi petinju, tetapi ibu tak pernah mendukung apalagi mengijinkan saya berlama-lama di sasana tinju di blok sebelah!..."

Lalu anak itu pernah berusaha agar keluarganya menyukai seorang petinju. Ia sengaja membawa seorang teman sekolahnya yang menjadi murid seorang petinju terkenal itu bermain ke rumah. Namun selama dua jam teman sekolahnya itu berada di antara ibu dan saudara-saudaranya, tak ada tanda-tanda yang memperlihatkan rasa suka apalagi ingin mengetahui lebih jauh dari saudara-sau­dara dan ibunya itu. Mereka bahkan sama sekali tak menyimak, ketika dengan bersemangat teman sekolahnya yang menyukai olah raga tinju itu bercerita tentang gaya bokser yang baru dipelajarinya.

Akhirnya, dengan perasaan bersalah anak itu mengantarkan teman sekolahnya sampai ke halaman. Ia meminta maaf dan sangat menyayangkan, karena murid seorang petinju terkenal tidak diteri­ma dengan layak di rumahnya.

Lalu anak itu sering memperhatikan apa saja dengan serius, dan memikirkannya sebelum tidur. Dan berkali-kali ia sudah mere­nungkan, bagaimana ibunya sangat membenci pekerjaan yang mengeluarkan keringat serta menimbulkan ribut, seperti halnya kesibukan sang ayah di garasi pada hari-hari Minggu tertentu. Tetapi, ibunya sangat menyukai pekerjaan rumah yang serba halus dan lembut.

Tangan ibunya memang halus dan lembut, dan sangat mendatang­kan kenyamanan bila bersentuhan dengan tangan yang selalu bergerak gemulai itu. Tetapi anak itu tak bisa memungkiri kenyataan: bahwa ia sering mencium bau susu yang memuakkan dari tangan ibunya. Itu boleh jadi timbul akibat pekerjaan rumah lainnya yang sangat dinikmati sang ibu, yakni mengoleskan susu, keju dan coklat, sebagai isi roti untuk sarapan, dan sering lupa member­sihkan tangannya usai melakukan semua itu.

Pada ibunya, anak itu mengenali pula semacam kebiasaan aneh. Ibunya setiap kali akan menggosok-gosokkan ujung tangannya ke hidungnya, setelah bersalaman dengan seseorang. Sang ibu; seolah ingin segera tahu, sang tamu terbuat dari bahan apa, mengandung susu atau tidak, dilapisi keju atau tidak, atau cuma dilumuri coklat cair? Sang ibu; seolah serigala betina, seperti sengaja ingin membaui korbannya terlebih dulu?

Dan anak itu tak bisa mengabaikan khayalan-khayalan buruknya tentang sang ibu. Bahwa sang ibu sangat menyukai makanan lembut, lunak, dan sarat lemak. Seperti sosis daging sapi misalnya, akan dilumuri sang ibu dengan mentega, lalu digoreng bersama telur,
dan kemudian dikunyah dengan tidak sabar -- seraya sesekali mengisi mulut dengan bergelas-gelas susu hangat yang sangat manis.

Maka, membayangkan semua kebiasaan itu, sang anak pun suatu pagi tergesa-gesa memegangi dan memencet-mencet ujung hidungnya, seraya menciumi bau tangannya yang saat itu berlepotan butir-butir coklat, yang tertumpah dari botolnya di atas meja.

Pada saat itu, ia pun seakan dapat memahami kenikmatan yang dirasakan sang ibu, dengan pekerjaan rumah yang halus serta segala makanan berlemak yang terasa lembut di mulutnya itu.

"NAH," kata sang ibu suatu malam, dengan senyum lebar penuh kemenangan. "...mulai kini ibu punya asisten menyediakan sarapan dan makan malam..."

Sang anak tertawa kecil ke arah ayah dan saudara-saudaranya, yang kini memandang terkesima melihat langkahnya yang gemulai menghampiri meja makan.

Sang anak tak dapat menjelaskan, bagaimana ia mulai menyukai cara melangkah sambil melenggangkan pinggul seperti ibunya itu.*****


* Diilhami karya instalasi Andar Manik dalam CONTEMPORARY ART OF THE NON ALIGNED COUNTRIES, 1995, di Jakarta, Indonesia -- berjudul "Taking The Children".

0 Comments:

Post a Comment

<< Home