Friday, May 19, 2006

Kisah Sastra dan Tiga Kota

Esai Arie MP Tamba

Kota Pertama: Medan

Di Medan, pada tahun 1970-an, di sebuah kelas tiga esempe Katolik, seorang anak dengan “biasa” saja tunjuk tangan di antara tangan-tangan teman-temannya yang teracung penuh semangat. Siang itu, jam terakhir mata pelajaran adalah Bahasa dan Sastra Indonesia. Si anak tunjuk tangan ingin mendapat giliran membaca sebuah buku yang diacungkan sang guru. Jumlah siswa ada 40-an orang. Maka buku sastra yang setiap kali diacungkan sang guru untuk ditukarpinjamkan pun berjumlah 40-an. Ke-40-an buku sastra tersebut, berupa novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, kumpulan kritik dan esai, masing-masing adalah milik semua murid. Yang dikumpulkan dan dipertukarkan setiap minggunya oleh sang guru, menjelang jam pelajaran usai. Bila bersungguh-sungguh, maka setiap pelajar pun akan berhasil membaca 40-an buku sastra sepanjang tahun.

Kembali kepada si anak, yang kali itu mengacungkan tangan dengan “biasa” saja, ternyata berlangsung kejadian yang tidak biasa. Siang itu ia memperoleh novel Siti Nurbaya. Sebuah novel tebal, dibandingkan sebuah kumpulan puisi Surat Kertas Hijau yang dikumpulkannya. “Untuk apa kalimat-kalimat panjang ini?” begitulah sang anak bertanya-tanya, dengan agak menyesal. Namun sudah terlanjur. Ia sudah tunjuk tangan dan memperoleh pinjaman novel. Ia harus bertanggung jawab. Suatu saat akan membuat rangkuman.

Tetapi, sang anak tetap saja merasa kurang puas. Sebab, dalam benaknya, sastra yang nyaman adalah lintasan-lintasan pemandangan, pemikiran, emosi, ataupun suasana, yang sudah sering ia goreskan di halaman belakang buku-buku tulisnya, berupa puisi. Puisi adalah sastra. Prosa, berupa novel atau cerita pendek? Mereka mungkin bukan sastra, tapi cerita! Cuma cerita!

Begitulah sang anak memahami dunia sastra masa itu, ketika ia kemudian hanyut selama bermalam-malam mengarungi imajinasinya yang saat itu dihidupi oleh Syamsul Bachri, Siti Nurbaya, teman-teman mereka, dan Datuk Maringgih. Novel tebal itu, ternyata adalah cerita yang tak adil! Kisah tidak menyenangkan yang dilalui oleh sepasang kekasih yang harus menanggung akibat dari kelengahan orang tua dan keculasan orang lain. Mengapa pengarang menulis cerita yang demikian tak adil itu? Mengapa si pengarang menyakiti Syamsul Bachri dan Siti Nurbaya?

Sayup-sayup, sang anak merasa tersiksa oleh sastra yang tak nyaman itu, yang didatangkan oleh novel Siti Nurbaya ke dalam pemahaman sastranya. Sastra, ternyata, bukan sekadar lintasan pemikiran dan suasana yang tergoreskan lewat kata-kata minimal dan bertenaga seperti dalam puisi. Tetapi sastra atau prosa adalah dunia imajinasi yang mampu meniru atau menciptakan kenyataan lain, yang ternyata menawarkan juga perenungan dan gejolak emosi yang tak pernah sudah. Kenyataan lain yang dapat digunakan sebagai bandingan untuk mengenali kenyataan keseharian?

Begitulah, sang anak kemudian terdorong untuk setiap kali mengacungkan tangan dengan bersemangat, apabila sang guru Bahasa dan Sastra Indonesia itu mengacungkan novel yang hendak dipinjamkan. Hanya novel atau kumpulan cerpen. Hanya novel atau kumpulan cerpen yang kini menggugah minat dan imajinasinya tentang dunia sastra. Terkadang ia memang kalah dari teman-temannya, terpaksa harus menerima kumpulan puisi, atau kumpulan esai. Namun ia tidak mengikutinya lagi seserius dulu. Apabila ia mendapat tugas membuat rangkuman, ia pun akan menyimpulkan sekadarnya, sekenanya, seumumnya. Tidak ada kesungguhan khas, sebagaimana yang terjadi bila ia mendapat tugas menyarikan sebuah novel atau kumpulan cerpen.

Dan pemahamannya terhadap novel atau kumpulan cerpen pun semakin variatif, ketika seorang guru bahasa dan sastranya di sekolah menengah atas, dengan santai, suatu siang, menandaskan bahwa Datuk Maringgih boleh jadi adalah seorang patriot, seorang pejuang masyarakat, berhadapan dengan penjajahan Belanda waktu itu.

Sang anak terperangah. Betapa ganjilnya. Seorang Datuk Maringgih yang kejam dan menghancurkan cinta Syamsul Bachri dan Siti Nurbaya, ternyata dianggap sebagai sosok seorang pahlawan oleh sang guru. Sang anak protes. Mengacungkan tangan. Dan berapi-api menandaskan bahwa Datuk Maringgih adalah tipikal seorang pengusaha licik, mabuk harta dan nafsu. Dan sang guru, seakan tak begitu terkejut dengan bantahan sang murid, hanya menggeleng sesaat. Lalu, kembali dengan santai mengingatkan, bahwa ia sedang membicarakan Datuk Maringgih, “mungkin” digunakan sebagai sosok yang disemangati nasionalisme yang hendak disosialisasikan oleh pengarang novel Siti Nurbaya.

“Mungkin”? Nasionalisme? Tak pernah terbayangkan oleh sang anak, bahwa dalam novel Siti Nurbaya ada nilai-nilai nasionalisme. Dan ada istilah “Mungkin”. Yang terbayang di benaknya selama ini adalah sebuah kota Padang, dengan sepasang tokoh cerita Siti Nurbaya yang gagal mewujudkan percintaan mereka. Dan Datuk Maringgih adalah sosok pengacau, sumber kegagalan percintaan sepasang remaja itu. Tapi, nasionalisme? Benarkah si pengarang novel sengaja menyebarkan semangat nasionalisme melalui novelnya? Bukankah itu hanya semacam keharusan peran sosial bagi tokoh-tokoh cerita yang sedang disusunnya?

Dan “Mungkin”? Kalau hanya untuk “mungkin”, untuk apa menuliskan sebuah cerita sampai ratusan halaman? Dan untuk apa menikmati dunia “mungkin”? Lalu, kalau isi novel tersebut adalah dunia “mungkin”, maka betapa kayanya penafsiran yang dapat dilangsungkan terhadap sebuah novel atau cerpen. Sebanyak minat dan pemahaman yang dapat dioperasikan terhadap novel atau cerita pendek yang dibaca. Betapa kayanya nilai atau pemahaman yang dapat ditarik dari sebuah karya sastra. Nilai-nilai atau pemahaman yang boleh bertolak-belakang, tumpang tindih, yang boleh jadi saling tak menyangka satu sama lain? Sebagaimana sang anak tak pernah membayangkan, Datuk Maringgih sebagai sosok yang menebarkan semangat perlawanan nasionalisme, terkuakkan oleh pemahaman sastra sang guru yang saat itu tentu saja lebih luas dibanding pemahaman sastra sang anak?

Sastra sebagai dunia “mungkin”, terutama dalam prosa, cerpen ataupun novel, menjadi cara pendekatan yang dilakukan sang anak dalam pembacaannya sampai bertahun-tahun kemudian. Cara pembacaan yang sampai kini, ternyata tidak berubah.

Kota Kedua: Bandung

Di Bandung, tahun 1980-an, sang mahasiswa yang dulu sebagai pelajar mengacungkan tangan agar memperoleh pinjaman novel Siti Nurbaya itu, mencari-cari buku di kaki lima alun-alun Bandung. Kala itu, buku-buku yang menjadi buruannya bukan lagi cuma buku sastra seperti novel, kumpulan puisi, kumpulan cerpen, kumpulan esai, tetapi juga buku-buku lainnya mengenai bidang studi filsafat, sejarah, sosiologi, psikologi, politik, dan juga agama. Bermacam-macam bidang studi menarik minatnya, meskipun secara khusus ia tetap menjadikan sastra sebagai kajian utama, karena ia memang menjadi mahasiswa di fakultas sastra sebuah perguruan tinggi negeri (di samping secara bersamaan menjadi mahasiswa di sebuah sekolah tinggi ilmu ekonomi).

Pemikiran-pemikiran “kiri” menyemangatinya untuk memburu bacaan sejenis dalam berbagai bidang studi, khususnya filsafat, ekonomi, dan sosiologi. Dan saat itu, “bacaan kiri” memang sedang laris-larisnya menjadi bahan diskusi di rumah-rumah kos. Buku-buku Pram sedang dilarang dan beredar dari tangan ke tangan. Sang mahasiswa merasa beruntung karena berhasil memperoleh pinjaman dari seorang teman. Jadilah novel-novel Pram itu mengenyangkan imajinasinya tentang dunia “mungkin”. Tetapi, sang mahasiswa sebenarnya merasa kurang puas, karena dunia “mungkin” dalam novel-novel Pram tampak lebih minimal, karena telah disajikan secara telanjang. Sang mahasiswa merasa tak memerlukan begitu banyak tenaga penafsiran, terhadap novel-novel Pram, dibanding yang harus dilakukannya ketika berhadapan dengan novel-novel Iwan Simatupang, cerpen-cerpen Budi Darma, Danarto, dan Putu Wijaya.

Dan pada masa yang sama, sang mahasiswa juga sedang menggeluti sebuah teori tentang cerpen dan novel yang benar. Secara deduktif, sang mahasiswa terajak mempercayai kata-kata HB Jassin atau entah siapa, bahwa novel yang bagus adalah gaya Doetoyevskian, sedangkan cerpen yang baik adalah gaya (Anton) Chekovian. Bagaimana detailnya, uraiannya, sang mahasiswa masih terus meraba-raba dan menyusun ulang setiap kali ia melakukan pembacaan atas karya-karya mereka.

Bahwa dalam prosa, yang diperlukan adalah kejelasan karakter, jatuh bangun nasibnya, turun naik emosinya, utuhnya konflik, sebagaimana terdapat dalam cerpen-cerpen Chekov dan novel-novel Dostoyevski – melebihi suspensi plot cerita yang sering dijadikan acuan para penulis cerpen dan novel umumnya. Begitulah sang mahasiswa berpegang teguh, dan berusaha membanding-bandingkan karya sastra bacaannya. Maka ia pun mencoba membuat klasifikasi, bahwa pengarang kelas satu adalah Dostoyevski dan Chekov, sementara yang lain-lainnya, seperti Pasternak, Tolstoy, Mauriac, Camus, Mishima, Hemingway, Faulkner, Updike, Boll, Kawabata, Tagore, Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Danarto, Budi Darma, dll., adalah pengarang kelas dua. Meskipun beberapa pengarang kelas dua itu menjanjikan eksperimentasi bentuk yang tak jarang luar biasa. Namun, kemampuan membangun karakter yang khas ala Doctoyevski dan Chekov, lebih memukaunya. Sementara dalam puisi, saat itu sang mahasiswa kurang memiliki banyak referensi, kecuali beberapa buku terjemahan puisi dunia dan puisi-puisi yang diikutinya di majalah Horison. Entah kenapa, masa itu, bagi sang mahasiswa, penyair hebat agaknya tak sepenting pengarang kelas satu yang diakuinya.

Namun masih teringat satu peristiwa di benak sang mahasiswa, di suatu senja, sang mahasiswa baru saja usai berburu buku di kaki lima alun-alun , ketika menampak para penyair Bandung, di antaranya yang teringat, Acep Zamzam Noor, membaca puisi-puisinya dengan bersemangat, di kaki lima Jalan Asia Afrika yang ramai, di bawah temaram lampu jalanan yang mulai menyala satu per satu. Kenangan itu, bagi sang mahasiswa, seperti keindahan dan ketragisan yang serentak dikuasai oleh puisi yang baik – gagal memasuki ruang-ruang sosial yang (memerlukan dan) ditujunya. Di jalanan, puisi-puisi reflektif Acep hanyalah “keanehan” seniman.

Kota Ketiga: Jakarta

“Ternyata puisi-puisimu dulu banyak ya,” kata Afrizal Malna suatu ketika. Kami masih bertetangga di Bekasi. Ketika itu kami pulang bersama dari Balai Budaya, markas lama majalah Horison. Sehari-harinya kami banyak menghabiskan waktu di sana. Afrizal merasa terkejut, karena sebelum pulang, ia sempat membaca daftar lama naskah-naskah yang masuk dalam setahun, aku ternyata mengirim puisi hampir sekali seminggu. Dan sampai saat itu, baru dimuat tiga biji oleh Bang Tardji.

Saya telah meninggalkan Bandung, beberapa tahun di belakang, dan sudah berkeluarga.

“Dulu aku memang terus menulis puisi, kukirimi ke Harison. Tapi kemudian lebih banyak menulis cerpen yang kusebarkan juga ke mana-mana di samping ke Horison,” kataku.

“Kenapa cerpen?” tanya Afrizal.

“Karena cerpen lebih laku dijual, Zal,” jawabku.

Ya, alasan saya menjadi lebih produktif menulis cerpen dan kemudian cerbung, skenario, biografi, iklan, dll, tentu saja karena faktor ekonomi, seraya sesekali mensosialisasikan pencapaian bentuk yang terkadang secara pribadi sengaja saya tekuni, paling tidak melalui cerpen. Seorang teman mengatakan, dengan menuliskan sebuah cerpen di Kompas, sekali dua bulan, seseorang segera menjadi cerpenis karena namanya langsung dikenal bagi kalangan peminat sastra di Indonesia, dibanding hanya menulis cerpen sekali setahun di majalah Horison. Kata-kata si teman, Aant S Kawisar, yang dulunya seorang cerpenis yang juga produktif, dan kini sebagai pelukis di Bali, saya kira ada benarnya. Koran memang telah menjadi elemen kesusastraan yang luar biasa dampaknya, dua daswarsa belakangan ini. Berbagai kumpulan cerpen diterbitkan, perorangan, ataupun melembaga, novel-novel diterbitkan, yang dulunya berupa cerbung di koran-koran, dan berbagai kegiatan sastra memasyarakat karena koran. Koran menjadi wadah sastra koran, sekaligus media sosialisasi sastra itu sendiri.

Namun, sementara itu, pergaulan saya dengan Nirwan Dewanto menguakkan cakrawala lain lagi tentang karya-karya sastra yang saya kenali. Perkenalan Nirwan yang agak serius dengan sastra dunia, khususnya sastra Amerika Latin, menambah luas wawasan saya, tidak sekadar terpaku ke Eropa Barat, Rusia, Amerika Serikat, Cina, India, dan Jepang. Dan pergaulan dengan Nirwan yang penyair dan juga Afrizal yang penyair itu, membuat saya mengakrabi lagi puisi dan juga teori sastra. Dunia sastra Jakarta memang bergejolak oleh kehidupan berdiskusi, di samping banyaknya publikasi karya sastra lewat koran dan terbitnya buku-buku.

Maka saya pun kini merasa berbahagia dengan karya-karya puisi Oktavio Paz, Seamus Heany, Wislawa Zimbiorska, Bei Diao, Walcott, Afrizal Malna, Dorothea Rosa Herlyani, Nirwan Dewanto, Radhar Panca Dahana, Arif B Prasetyo, Joko Pinurbo, Acep Zamzam Noor, juga karya-karya novel Milan Kundera, Garcia Marquez, Carlos Fuentes, Mario Vargas Lhosa, Ben Okri, Salman Rusdhi, Toni Morisson, Naipaul, Umberto

Eco, dll. Bergembira ria dengan semiotik, oh semiotik, yang menggaungkan adanya penanda dan petanda, hingga sebuah pembacaan tak perlu dirisaukan lagi oleh perebutan esensi, melainkan kebebasan persepsi, selamat datang para pembaca, rayakan kemerdekaanmu sebagai “denyut” yang dimiliki sekaligus mampu memiliki dunia. Dan betapa cerdasnya teori-teori sastra para pemikir postmodernis seperti Derrida, Barthes, Foucault, dll. Sastra adalah permainan, kata Derrida, dan segalanya “boleh jadi” diberi tanda petik. Selalu dalam tanda petik. Selalu dalam kesepakatan penafsiran yang dipertandingkan dan saling dipertahankan atau saling dihapuskan. Dan tentu saja, saya pun menikmati acara-acara pembacaan puisi atau diskusi yang dilangsungkan di berbagai komunitas yang sempat ramai di Jakarta, seperti Gorong-gorong Budaya, Oncor, Utan Kayu, dll., dan yang paling mutakhir: Meja Budaya. Perayaan kemerdekaan para pembaca masih terus bergulir.

Sementara itu, pergaulan saya dengan Radhar menyemangati saya untuk lebih mengikuti lagi irama pergaulan kesenian di Jakarta, jalan-jalan ke berbagai kota, seperti halnya pergaulan saya dengan Sutardji Calzoum Bachri, Hardi, Mualim Sukethi. Hanny Hendrata, Sides Sudyarto, Adek Alwi, Ramadhan Pohan, Ahmad Nurullah, Endo Senggono, Remmy Novaris, Sitok Srengenge, Martin Aleida, Syahnagra Ismail, Kamsudi Merdeka, dll., yang sengaja atau tidak sengaja selalu bersua di Taman Ismail Marzuki.

Dan hingga saat ini, semua pergaulan itu, semua bacaan itu, pengalaman itu, hari-hari itu, adalah pergaulan, bacaan, pengalaman, dan hari-hari masa datang saya juga, yang masih saya reguk sampai detik ini. Semua itu membuat saya merasa berbahagia menggeluti dunia sastra, prosa ataupun puisi, sebagai dunia “mungkin” bagi siapa saja dan tentang apa saja, sebagaimana telinga saya tak bosan-bosannya mengakrabi kekayaan “kemungkinan” yang ditorehkan alunan tajam trompetnya Miles Davis, di suatu tengah malam, dalam perjalanan panjang naik bus antarpulau, dari Denpasar ke Bekasi Timur.

Salam

0 Comments:

Post a Comment

<< Home