Monday, May 08, 2006

Lekuk Perempuan

Puisi Arie MP Tamba


Lahir perempuan untuk percakapan panjang kami.
Di pinggangnya melingkar tebing-tebing terjal masa lalu.
Sungai berkelok dan lembah berbunga menyesatkan si tua itu.

Di ujung jari perempuan kami teruskan penyelidikan.

Seperti Sulaiman lelaki adalah kebijakan yang dicurigai.
Seperti Sheba perempuan adalah keindahan yang diaibkan.

Tapi di ujung jari perempuan kami masih saja si rudin.
Menggedor pintu ke masa-masa lain.

Maka lahir perempuan dari perjalanan kami yang tertunda.
Di dadanya telah ditemukan pegunungan garam berwarna merah.
Dari sana setiap kali menggema sebuah dengusan perih.

Seperti malam ganjil ketika Roma terbakar.

Maka lahir perempuan untuk menggali air mata kami yang terkubur.

Tapi dengar teriakan-teriakan pada kitab terbuka itu.
Setiap kali kami memanggili nama-nama yang salah.
Dan kata-kata kemudian gagal menghayati keberadaannya.

Sementara bibir perempuan telah mengubah cara bermimpi kami.
Menjadi bongkah-bongkah keingintahuan berbentuk kapal.

Dan berulang menjelajahi benua-benua gelap itu.
Buru-buru kami menyesatkan diri seperti si tua.

Membiarkan siang berbenah berupa suara-suara asing di tepi pantai.
Saat kami dilontarkan oleh ledakan gelombang kebiruan.
Bersama semburan dan erangan dari dasar tubuh.

(92)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home