Tuesday, May 09, 2006

Patung Penari

Puisi Arie MP Tamba


Lalu kau bertanya tentang lentik jemari melecut angin.
Kisah senja berdarah tersingkap gelombang rambut di balik kain hitam.

Hingga tubuh menggigil terkenang kemarin merindukan kau.
Bersama mimpi tengadah menyusu buah dada bintang purba.

Di antara kedua telapak gelas terjatuh menjelma kemuraman patung dibasahi hujan.
Seseorang melangkah lentur di antara luka dan debar gairah fana.

Maka menarilah menghentakkan perlambang pada setiap langkah cahaya berkibaran.
Maka menarilah membangunkan esok berupa degup samudera pagi merah.

Hingga ruang dan waktu menjelma segurat impian.
Dan patung penari membiarkan tubuh beringsut dari batu berlumut.

Tangisan menepi hampa bersama kepergian menghampar tiba.
Kupu-kupu bersayap gelap membentur dan hinggap di lengan penari melanda bosan.

Hingga kemurkaan teriris alis sendiri di antara bulan berlompatan menjumlah perih di halaman.

Bersama musik menyuruk gelap mengulangi tarian gagal.
Ketika para penari memandangi luka membatu di dada kehilangan tutur malam keseribu.

Bahwa kelahiran menautkan sunyi pada bibir penari.
Hingga tarian mendamba kelenturan sia-sia menyetubuhi gerak sendiri dalam gulungan selendang menderu lunak.

Ketika akhirnya terjamah patung penari menahan gigil.
Menatap mimpi-mimpi berguguran
dan membatu di jemari sendiri.

(93)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home