Wednesday, May 10, 2006

Percepatan Ruang

Puisi Arie MP Tamba


Sebuah percepatan telah meleburnya menjadi pengulangan-pengulangan.
Menciptakan kebosanan-kebosanan yang sama bagi setiap persetubuhan.

Lukanya kemudian menganga telanjang seperti sejarah orang lain.
Dan sayap-sayap kemarahan melengkapi perhitungannya.

Ia pun merumuskan dirinya sebagai api tengah malam.
Dan memarak tanpa ragu pada gelap-gelap matamu.

Tapi tubuhnya selalu ringan dan berkelompok seperti awan.
Meluas tanpa sebuah puncak sebagai penjelasan.

Ruang apa ini menjulurkan kerisauan-kerisauan.
Suara siapa ini menistakan perlawanan-perlawanan.

Ia pernah membantai sebuah lelucon menjadi kekacauan.
Hingga dinding-dinding saling bergerak dan melukai.
Dan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab mendesing berupa ratapan sayup.

Tubuh siapa telah memilih ia menjadi persimpangan.

Lalu ia menjelaskan dirinya sebagai lelaki dari tepi pantai.
Mencemburui peradaban yang mengirim kota-kota.

Tapi ruang kemudian menjelmakan ancaman-ancaman tak terduga.
Hingga bikini ia pahami sebagai paradigama-paradigma lunak.
Tentang badai yang lama berkabung di lautan.

Dan para lelaki terlanjur muak atas tonjolan-tonjolan di tubuhnya sendiri.
Dan setiap kali keluar dari kamar tidur di tanah asing.
Mereka mencuci mulut yang semalamam merindukan ibu mereka.

Percepatan ruang telah memadatkan semua kenangan.
Menjadi tanjakan-tanjakan teror dalam pelarian di tubir mimpi.

Maka ia kemudian memaklumi dirinya sebagai logam.
Dan berdentam pada rakitan sebuah mesin pemintal.

Ruang apa ini menisbikan perlawanan-perlawanan.

Maka ia kemudian terbiasa dengan dongeng terbakar.
Memilah-milah segenap ketiadaannya sepanjang hari.

(92)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home