Monday, May 08, 2006

Taman Mishima

Puisi Arie MP Tamba


Dunia berlanjut menjadi dirinya sendiri.

Ada pengasingan tiba-tiba merasuk dari cermin itu.
Pemahaman setiap kali gagal menjelaskan tatapanmu.

Maka taman berduka pun tumbuh dari reruntuhan di belakangmu.
Mereka mewujudkan diri berupa bunga-bunga tanpa warna.

Barangkali ada yang lebih dulu berteriak pada batu-batu berlumut itu.
Namun mereka terbang dengan pengetahuan seekor lebah.

Sebab bahasa telah dilumpuhkan menjadi dengung tengah hari.
Bersama orang-orang semakin ramai melepaskan duka mereka.

Tapi tak ada lagi yang hadir pada senja kosong itu.
Kau sedang membangun kekuatan-kekuatan tersembunyi di hatimu.

Variasi kemarahan dan kesedihan tak lagi membuatmu gentar.
Persekongkolanmu dengan cakrawala telah menggandakan bayanganmu.

Menjadi olok-olok yang terus menguras darahmu.
Setiap perbedaan menjadi penghancuran terselubung akhirnya.

Sia-sia kau rusuhkan dosa-dosamu.
Selalu ada yang tak sempurna dari kedatangan-kedatangan yang kau perbuat. (Seperti lintasan mimpi dan kenangan yang sirna bersamaan).

Waktu adalah gugatan yang sia-sia disimpulkan.
Dan di tempat lain mereka berusaha mempertahankan sebuah cara hidup.

Rangkaian bunga-bunga dimasukkan ke rusuk mereka.
Dengan itu mereka tebarkan keharuman bagi tubuh-tubuh yang hancur.

Sebab telah cukup bagi mereka mengenang kehidupan dengan bau adas.
Karena dunia hanya berlanjut menjadi dirinya sendiri.

Dan di taman berduka itu reruntuhan segera menyergapmu.
Tak ada lagi rencana-rencana setelah kiamat itu.

(92)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home