Monday, May 08, 2006

Tarian Jenazah

Cerpen Arie MP Tamba


PERJALANAN INI pastilah menuju negeri mati. Dingin di sekitar. Bangku-bangku banyak yang kosong. Penerbangan terakhir ini berangkat terlalu malam. Dari lapangan terbang tadi yang tergambar adalah pemandangan menjelang tidur. Kabarnya, karena sejak sore cuaca sangat buruk, beberapa penumpang telah menunda penerbangan mereka untuk esok pagi. Tinggal aku dan beberapa orang tua, yang agaknya mendesak untuk tiba di kota tujuan malam ini juga.

Tapi, kekosongan yang kualami tak berlangsung lama. Udara dingin memang masih menusuk sampai tulang. Namun mataku sudah berkejap-kejap hangat menerima ramainya sorotan cahaya. Lalu telingaku juga mendengar suara gendang bertalu-talu, ramai sekali. Irama gendang itu mengiringi orang-orang berpakaian adat lengkap sedang menari. Tarian orang-orang itu pernah kukenal: tarian pengantar jenazah ke kuburan.

Siapa yang meninggal? Siapa yang mati kali ini?

"Beri dia jalan!"

"Biarkan dia lewat!"

Kudengar suara-suara di sekitar. Suara-suara manusia yang rasanya pernah kukenal, dulu. Jadinya, udara dingin yang sejak semula nyaris membekukan tubuhku kini buyar, berganti dengan percik-percik kehangatan yang mulai mengoyak dari dasar tubuhku. Sehembus angin kesadaran pun bertiup di benakku agar lebih memperhatikan sekitar.

Beberapa orang ibu sedang membereskan dandananku. Aku kini mengenakan pakaian adat lengkap, kemudian, ternyata sedang melangkah di tengah-tengah halaman kampung. Malam terasa baru dengan sorotan cahaya lampu (ternyata lampu gas) yang lebih banyak lagi. Lampu-lampu gas itu digantungkan tinggi-tinggi di beberapa tiang yang didirikan melingkari halaman kampung. Lalu semakin jelas, suara gendang bertalu-talu itu ternyata diselingi oleh suara dengung gong dan suara serunai yang meliuk-liuk dan terkadang melengking tajam. Dan, aku ternyata sudah mulai menari, menari bersama banyak orang di halaman kampung.

Pada masa kecil, aku hanyalah seorang penonton yang tidak penting di antara para penonton lainnya. Kini, lebih dua puluh tahun kemudian, kurasakan, akulah yang menjadi pusat tontonan. Semua mata rasanya mengarah padaku. Semua mata rasanya mengikuti setiap gerak-gerik tarianku. Lalu tiap kali aku melakukan gerak lambang yang dilanjutkan dengan hentakan cepat sepasang kaki menginjak bumi, serentak terdengarlah teriakan, "Heaahh! Heaahh! Heeaahh…!"

Mulanya teriakan-teriakan itu masih menyebar, satu demi satu. Tapi kemudian suara-suara teriakan itu menjadi irama koor membahana yang sanggup mendirikan bulu roma serta membakar semangat. Lalu ketika gerak tarian dan suara-suara teriakan semakin padu, para penonton dan para penari pun seperti tenggelam dalam kekhusukan yang sama. Namun, anehnya, aku malah merasakan kelegaan yang amat sangat, dan rasanya baru kali itu kualami. "Heeaahh! Heeaahh! Heeaahh…!"

"Dia sudah datang dari jauh," kata seorang ibu yang kulalui ketika menari.

"Dia memang perantau yang malang," kata ibu lainnya.

Sekilas kulirik, dalam pancaran cahaya lampu gas, kedua ibu itu belum terlalu tua. Paling jauh berusia enam puluhan. Seperti ibuku. Tapi pakaian mereka yang berwarna hitam dan rambut mereka yang dibiarkan terurai panjang, menambah usia mereka di dunia ini. Kurasakan, pastilah mereka telah berabad di dunia ini, hanya menari untuk mengantar orang-orang mati, dan mengeluarkan kata-kata yang sama kepada tiap pemuda yang sedang diarak memimpin upacara kematian di kampung itu.

"Kenapa baru pulang sekarang?" suara adikku menyentak­kanku dari kegalauan oleh cahaya lampu gas.

"Abang terlalu. Tak pernah berkirim surat. Pulang hanya untuk memberangkatkan mayat!" kata adik perempuanku menyambut uluran tanganku dengan tepisan.

Sepertinya, kali ini cahaya seluruh lampu gas itu serentak khusus menerangi wajahku yang memerah kemudian memucat.

"Tak ada yang mengurusnya! Tak ada teman mengobrol!" kata kakak perempuanku.

"Ombak di danau sana jadi saksi, bagaimana setiap sore ia memandang kapal berlabuh, mencari-cari kau di antara penumpang yang turun," kata abang sulungku seraya memukul dadaku dengan telapak tangannya yang keras.

Aku terhenyak. Tarianku terasa terganggu. Kedua tangan dan kedua kakiku seperti enggan mengikuti teriakan-teriakan yang membahana di sekitar. Cahaya lampu gas itu pasti memperlihatkan kepada orang-orang, bagaimana aku berkeringat dingin dan terkadang melangkah agak limbung.

"Ayo! Jangan berhenti!"

"Pusatkan pikiranmu!"

Beberapa teriakan kembali mempengaruhi kesadaranku. Kemudian, aku pun mengikuti perintah suara-suara itu, mengumpulkan segenap kekuatan dan kembali menari. Kini, menari dengan rasa penasaran di dada, ingin tahu siapa yang mening­
gal kali ini, siapa yang mati? Ayahkah? Tidak!

Dua puluh tahun yang lalu aku terlanjur yakin, ayah
pastilah hidup abadi. Jadi mustahil tari yang kupimpin di halaman kampung yang diterangi cahaya lampu gas itu adalah untuk ayah. Ayah pastilah abadi, karena selama hidup ia selalu menghadiri acara tarian mengantar orang mati, untuk mengantarkan orang lain. Ayah berkali-kali menjadi pemimpin acara tarian sejenis untuk memberangkatkan teman-teman seumurnya. Ayah pastilah abadi karena langit dan bumi menghendaki demikian.

Tahun demi tahun terus berganti, generasi demi generasi terus berlanjut, namun ayah masih tetap di puncak kekuasaannya sebagai ketua adat. Ayah pastilah abadi karena beberapa kecelakaan besar tak berhasil menghentikan kemauan hidupnya. Sudah tiga kali ayah lolos dari peristiwa tabrakan bus yang akhirnya menelan korban banyak penumpang lainnya. Kabarnya, pada masa mudanya, ayah beberapa kali lolos dari usaha peracunan yang direncanakan oleh lawan-lawannya di meja judi. Ayah tak pernah kelihatan rapuh, kecuali dalam sebuah surat yang dikirimkan oleh abangku,ketika menginjak tahun kelima aku meninggalkan kampung halaman.

"Kudengar kabar, di Jerman kau sempat menjadi gelandangan," kata seorang paman.

"Ada yang bilang, kau pernah dipecat dari kapalmu di Jepang," kata seorang bibi sambil memandang iba padaku.

Lalu bermacam-macam komentar terdengar lagi, menjadi nada-nada lain bagi irama tarian yang kulakukan dengan segenap tenaga.

Terkadang aku melompat. Terkadang kedua tanganku seper­ti sepasang tangan seorang pemain silat yang sedang mempersiapkan kuda-kudanya sebelum menyerang musuh. Terkadang aku pun menghentak-hentakkan kakiku. Keseluruhannya, seirama
dengan suara gendang bertalu-talu, dengung gong, jerit serunai, dan teriakan-teriakan para penonton yang membahana membelah malam sunyi di kampung tepi danau itu.

"Ayo teruskan!"

"Teruskan!"

"Hentakkan kuat-kuat kakimu!"

"Biar bumi terguncang-guncang!"

"Biar tanah kian terbelah!"

"Biar lapang jalan ayahmu!"

"Biar leluasa ia melenggang pulang!"

Tak mungkin ayah, jeritku dalam hati. Lalu dua butir air mata hangat bergulir di pipiku yang dingin!*****

0 Comments:

Post a Comment

<< Home