Tuesday, September 26, 2006

Abstraksionisme Ruud Vanekamp

Mengolah Keseimbangan di Atas Kanvas

Bagi penganut Formalisme dalam dunia seni lukis, sebuah lukisan seutuhnya dikembalikan pada kemampuan pelukisnya mengolah bidang, warna, garis, dan berbagai wujud material lain sebagai puncak kratif di atas kanvas. Tak ada keharusan pemaknaan atau menampilkan wujud nyata, seperti figur, lanskap, atau rekaman peristiwa yang segera dikenali penikmat, seperti mudah ditemukan pada lukisan-lukisan realis ataupun impresionis. Dengan pilihan kebebasan berekspresi ke dalam wujud-wujud dasar: bidang, warna, garis – kelompok ini kemudian dikenal sebagai penganut lukisan abstrak. Di dunia seni lukis Indonesia, cara pandang abstaksionisme pernah menjadi ciri khas “kelompok” Bandung.

Namun bagi Ruud Vanekamp (49), seorang pelukis Belanda yang meluncurkan buku dan berpameran di Galeri Cemara, 20-27 Juli 2006, abstraksionisme seperti dipahami kaum formalis mendapat koreksi yang layak disimak. Bagi Vanekamp yang pada tahun 1993 pernah memberikan workshop di IKJ dan ITB, abtraksionisme tak pernah sepenuhnya hanya keasyikan atau keterampilan mengolah bidang, warna, ataupun garis di atas kanvas. Baginya, sebuah wujud yang paling abtrak sekalipun, artinya sukar dimaknai atau dikenali dalam perspektif publik, tetap bertolak dari referensi alam sekitar. Meskipun berbagai wujud yang dihasilkan tampak sangat individual, paling tidak hal itu tetap mengacu pada pengalaman atau kehidupan keseharian si pelukis.

Begitulah yang diperlihatkan karya-karya Ruud Vanekamp. Ia sendiri – ini memang kebiasaan para pelukis abstrak – seperti enggan memberikan judul pada lukisan-likisannya. Untitled. Namun sebenarnya ia sengaja memberikan penjudulan dengan cara khas, yakni menjadikan periode penciptaan sebagai judul karya. Ada yang berjudul 6 November 2002, 22-27 April 2003, dll. Bisa dimaknai, bahwa Vanekamp secara lebih luas ingin menjadikan proses kreatifnya sebagai rekaman terintens sekaligus terluas dari sebuah tema yang disorotinya. Ia tidak hanya ingin menghasilkan sebuah wujud, tapi juga mengenang kembali proses penciptaan yang dilewati untuk mencapai wujud tersebut.

Tentu saja penikmatan pengalaman penciptaan semacam ini individual maknanya ataupun dampaknya. Namun, bukankah setiap lukisan sebenarnya mengandung anasir sama? Individual bagi si pelukis, dan individual pula bagi si penikmat? Di tataran ini, Vanekamp agaknya menyepakati sepenuhnya kebebasan pemaknaan seni seperti dipahami para penganut semiotik. Bahwa pada sebuah penanda, konsep bunyi (lampu merah, misalnya), atau wujud warna/bidang/garis pada kanvas, setiap pelukis dan penikmatnya bebas memaknai untuk kepentingan pengalaman pribadi. Bisa saja mengikuti kesepakatan publik, kalau ada; bisa juga tidak, meskipun ada. Seperti halnya pada lampu merah; ada yang mau berhenti, namun ada juga yang cuek.

Maka, menjadi wajarlah ketika Rifky Effendy yang menjadi kurator di Galeri Cemara, melepas Ruud Vanekamp menginstalasi sendiri bingkai-bingkai lukisannya pada sebuah dinding galeri. “Ia ingin memajang lukisan-lukisannya menjadi sebuah ‘gambar’ baru di dinding,” kata Rifky.

Uniknya, demii mencapai niatan membentuk ‘gambar’ baru ini, dari 10 buah lukisan yang semula terdaftar akan dipamerkan, ternyata Ruud Vanekamp kemudian menyetujui hanya 9 lukisan yang dipajang. “Lukisan kesepuluh rasanya kurang menyatu dengan yang lainnya,” kata Ruud Vanekamp, seperti ditirukan Rifky.

Lalu, hal lain yang khas adalah untitled dalam pengertian sesungguhnya. Lukisan-lukisan Vanekamp digantungkan tanpa judul. Kalaupun seseorang ingin mengetahui judul ‘periode waktu pembuatan’ yang dilakukan Vanekamp, penikmat bisa melihatnya di balik lukisan, sebagaimana dilakukan Jurnal Nasional untuk kepentingan penulisan dan pemotretan.

Dan mengamati pengalaman penciptaan yang dialami Vanekamp pada sebuah lukisan berjudul Januari – August 2002, saya pun menangkap kebenaran perkataan Vanekamp, bahwa seabstrak apa pun lukisan yang dihasilkan oleh seorang abstraksionis, tetaplah itu bersumber dari pengalaman keseharian. Karena yang segera tertangkap oleh penikmat adalah sebuah panorama alam, pegunungan, lembah, dalam suasana tropis yang sejuk. Saya sendiri tergoda memikirkan, bahwa dalam periode penciptaan lukisan tersebut, Ruud Vanekamp agaknya sedang merindukan Indonesia dalam kenangannya, yang akan dikunjunginya kembali empat tahun kemudian, yakni Juli 2006.

Bisa saja lanskap itu adalah hamparan perkebunan teh di Puncak, atau tebing dan lembah di wilayah Jawa Barat lainnya. Atau, kalaupun lukisan itu sebenarnya berasal dari pengamatan intens atas sebuah tempat di Eropa, menjadi tak masalah. Toh penikmat telah dibiarkan bebas mengisi momen penikmatannya, dengan cakrawala sendiri. Yang jelas, seabstrak apa pun wujud yang dihasilkan seorang pelukis abstrak, memang tetaplah berakar pada keseharian pelukisnya.

Lihatlah lukisan 7-23 March. Tanpa harus melukiskan sebuah pemandangan pohon yang rimbuh dan daun-daun yang berjatuhan dan berserakan di sekitarnya, Vanekamp cukup menggambarkan bidang-bidang cokelat menyerupai daun, mengambang, terjatuh, digoyang angin, terlepas dari tangkai, siap jatuh ke permukaan bumi. Seseorang yang sedang murung, ataupun mencoba mencari sisi-sisi filosofis dari lukisan ini akan segera mendapatkan mekna tentang kefanaan hidup. Namun, Vanekamp bisa saja hanya ingin menggambarkan, betapa ketika daun-daun jatuh dari tangkainya, saling bergesek dan bergoyang di udara, terkadang menghasilkan formasi wujud yang nikmat dipandang. Itulah yang ditangkapnya ke atas kanvas.

Lagi-lagi, ia seperti menegaskan, betapa nisbinya konsep aliran, ketika secara personal kita hanya ingin berekspresi dengan bahan-bahan akrilik atau cat minyak di atas kanvas, dengan benak dipenuhi berbagai wujud yang menyergap dari keseharian. “Dan mengolahnya secara seimbang di atas kanvas, bagi Vanekamp sudah mencukupi,” kata Rifky kepada Jurnal Nasional.

Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 30 Juli 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home