Tuesday, September 26, 2006

Berkreasi dari Kanvas Para Maestro

Banyak cara melukis, termasuk menduplikasi (dan mempersoalkan) karya para pelukis terdahulu.


BAYANGKANLAH sebuah lukisan karya seorang maestro dunia, Monalisa-nya Leonardo Davinci misalnya. Seorang pelukis generasi kini ingin menjadikannya sebagai titik berangkat proses kreatifnya. Si pelukis pun mengandaikan Monalisa digantungkan di sebuah dinding, lalu menghadapkannya dengan cermin. Maka yang terlihat adalah Monalisa baru dalam posisi terbalik. Si pelukis kemudian menjadikan Monalisa baru ini sebagai karyanya, dengan memindahkannya ke atas sebuah kanvas. Lalu “menutupi”-nya dengan garis-garis maupun bidang-bidang geometris dengan berbagai kemungkinan vertikal, horizontal, melengkung, cembung, cekung, membulat, melebar, memipih, dll.

Alhasil, si Monalisa baru yang terbalik itu semakin menyosok secara baru dan unik, sebagai pencapaian kreatif seorang pelukis lain yang menawarkan beragam pengalaman penikmatan artistik dan pemaknaan. Bila pemaknaan tidak lagi terlalu menyaran, karena yang lebih menonjol atau ditonjolkan adalah proses kerja menggarap peluang-peluang kegarisan dan kebidangan yang ada, maka pencapaian bentuk telah menjadi pemaknaan itu sendiri. Penanda identik dengan petanda, seperti pada puisi-puisi bunyinya Sutardji Calzoum Bachri maupun Ibrahim Sattah. Yang menjadi perhitungan adalah, sejauh mana si pelukis mampu mengolah karya empu itu, menjadi karyanya sendiri, tanpa terbebani “peniruan atau keterpengaruhan” bentuk maupun pemaknaan yang dikandung karya terdahulu. Seperti sejauh mana Sutardji dan Ibrahim memainkan bunyi-bunyi yang bertebaran di sekitarnya, sebagai bunyi puisi mereka yang khas.

Dan bagi seorang seniman, sengaja menjadikan karya-karya pendahulu sebagai ajang bermain atau berkreasi (baca: apropriasi), adalah pilihan yang juga lazim ditempuh. Baik itu disemangati keinginan berparodi, mengejek karya terdahulu, atau mengembangkan lebih jauh, ataupun sekadar ikut-ikutan karena kagum. Di bidang sastra Indonesia, pernah muncul anekdot tentang Goenawan Mohamad yang mempengaruhi Sapardi Djoko Damono, dan Sapardi Djoko Damono mempengaruhi Abdul Hadi WM serta penyair-penyair sesudahnya. Sebuah peristiwa "keberpengaruhan" yang kemudian dicatat Nirwan Dewanto sebagai "penjenuhan". Karena belasan atau bahkan puluhan penyair Indonesia kemudian, ramai-ramai "mendompleng" gaya pengucapan Sapardi yang ringan, elok, enak dibaca, dan kaya imaji.

Dalam seni rupa sendiri, peristiwa semacam ini secara khusus pernah mengguncangkan seni rupa dunia, karena gagasan apropriasi ekstrem yang dilakukan Marcell Duchamp (1887-1986). Duchamp menjadikan sebuah kloset (Fountain, 1917) sebagai karyanya, dan memamerkannya pada sebuah pameran bergengsi. Di sini pengertian tentang seni serius atau seni main-main telah diintervensi dengan pemaknaan baru: tiruan atau gagasan peniruan seni rupa, dapat dimunculkan dengan menghadirkan langsung benda atau rupa yang ditiru. Dan benda atau rupa yang ditiru, bisa apa saja, termasuk benda-benda keseharian, bahkan yang identik dengan "kekotoran": kloset.

Tidak seekstrem Duchamp, dalam perjalanan berkreasinya, Dipo Andy adalah seorang pelukis yang memilih kerja apropriasi sebagai titik berangkat. Ia seperti bermain-main dengan istilah orisinalitas, peniruan, duplikasi, dengan sengaja meniru, menduplikasi, atau menghadirkan sosok-sosok yang ada dalam keseharian. Bermacam tendensi ia sematkan dalam kerja kreatifnya. Ia misalnya, pernah menghadirkan wajah-wajah para tokoh politik Indonesia seperti Akbar Tanjung, Gus Dur, Megawati. Amin Rais, dll., dengan penampilan tubuh binaragawan. Seolah ingin mengatakan, bahwa para tokoh politik tersebut, hanya kuat secara fisikal, tapi belum di tingkat batiniah. Itu, kalau sebuah konsep bipolar: fisik-batin, ingin dijadikan motif penciptaan Dipo.

500 wajah anggota parlemen

Ia juga pernah menduplikasi wajah-wajah para pemain sepak bola yang terlibat dalam Piala Dunia 2002 dalam Bolart: Choreography of Soccer (Serigraphy of 750 face - World Cup Player 2002), Sport Museum, TMII Jakarta. Ia pun pernah menggegerkan dunia politik kita yang sedang riuh dengan memamerkan 500 wajah para anggota parlemen 1999-2004 denganh tajuk Muka-kamu-amuk-muak, di Museum Nasional, Jakarta Pusat. Dan banyak lagi pameran yang sudah dilakukan sendiri maupun beramai-ramai oleh pelukis yang berkali-kali menjadi finalis ajang bergengsi Phillip Morris Art Award ini.

Dan kini, kerja apropiasi Dipo masih berlanjut. Belum lama ini ia kembali memamerkan karya-karya duplikatifnya dengan judul Mirror: Masters Revisited di Vanessa Art Link, Setiabudi, Jakarta Selatan. Secara mengejutkan, ia menghadirkan kembali karya-karya para empu seni lukis dunia, dalam posisi terbalik, di atas kanvas, dalam torehan akrilik, dengan memanfaatkan pendekatan seni optik-geometris Victor Vasarely (1906-1997). Seperti banyak diketahui, Victor Vasarely menggagas lukisan abstrak-geometris dengan memanfaatkan susunan bentuk-bentuk geometris, berupa permainan garis, bidang, ataupun warna yang menghasilkan tata visual yang acap kali rumit, namun menyegarkan bagi mata dan pemikiran. Karya-karyanya kemudian dikenal sebagai Optic Art.

Begitulah, Dipo Andy pun menggarap ulang Monalisa (menghadap ke kiri) dalam tajuk Mirror#8: After Davinci (berwarna kebiruan), Mirror#9: After Davinci (berwarna merah jambu), sama-sama menghadap ke kanan, close up. Wajah-wajah Monalisa-nya Dipo dilapisi oleh jaring-jaring garis geometris, dengan pembidangan yang menyarankan berbagai kesan ekspresi wajah tidak sebatas apa yang sudah terbersit oleh Monalisa-nya Davinci. Meski tidak perlu mencari-cari pemaknaan dalam lukisan potret ini, namun pilihan close-up menjadi seperti sebuah motif pertanyaan dari Dipo, ingin mencari-cari apakah yang menjadikan wajah klasik itu menjadi abadi dan dinilai sebagai seni tinggi. Sementara ia menirunya dengan mudah, lalu mengoreksinya sebagai karya seni baru dengan pendekatan optik-geometris.

Motif penciptaan yang menarik juga bisa dirasakan ketika menikmati lukisan Manet Le De’jeuner sur l’herbe atau Luncheon on the Grass, atau Makan siang di rumputan. Karya yang menyosokkan panorama taman siang hari, dengan dua gadis “telanjang”, dua pemuda berpakaian resmi, secara khas memperlihatkan kehidupan kalangan menengah Eropa di zaman Manet (1832-1883). Bagi penikmat luas, yang tidak terbiasa dengan ketelanjangan tubuh, lukisan elok ini bisa saja tidak lolos sensor, karena akan mengundang jengah atau bahkan penolakan moral dari sebagian kalangan.

Nah, dalam hal ini, melalui lukisan Mirror#3: After Manet, bagi saya, Dipo seperti sengaja meloloskan Makan siang-nya Manet untuk publik lebih terbuka. Ketelanjangan dalam lukisan aslinya teralingi oleh permainan geometris bidang dan warna yang kaya. Kalau ini disengaja, maka motif sensor oleh Dipo tidak terasa mengganggu, karena permainan optik-geometik yang disusun Dipo berhasil menyuguhkan permainan bidang maupun warna yang justru mengundang mata untuk terus mencari-cari keistimewaan lukisan yang diduplikasi terbalik. Apropriasi Dipo, jadinya, tidak saja bisa berangkat dari motif seni tapi juga etika.

Namun bila pada beberapa lukisan yang diolah ulang, dari Raphael sampai Affandi, dari Mentegna sampai Warholl, dll, karya-karya Dipo dengan permainan geometris garis, bidang dan warna, bisa dikatakan berhasil memunculkan sebuah sentuhan baru. Tapi Mirror#13: After Dali-nya Dipo kurang berhasil “mengatasi” Soft construction-nya Dali. Keliaran imajinasi dan kekenyalan volume tubuh manusia dalam Konstruksi lunak Dali, berhasil diduplikasi dalam warna kebiruan, namun terlalu kuat bagi garis, bidang maupun warna Dipo. Hingga, menurut saya, tidak semua lukisan para Maestro takluk oleh apropriasi Dipo.

Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 9 Juli 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home