Wednesday, September 27, 2006

Dari Lagu Kebangsaan hingga Balawan

Perayaan kemerdekaan bisa dimaknai sebagai ajang memaknai kebebasan itu sendiri, dan jazz membuka peluang seluas-luasnya.


Sekilas, tak begitu banyak isyarat di atas pentas untuk membedakan acara malam itu (12/8) sedang mengusung tema “Jazz Kemerdekaan”. Dari kursi penonton, tampak dua drum bertengger di pojok kiri dan kanan pentas bagian belakang, piano di pojok kiri bagian depan, perangkat gondang Batak di pojok kanan, beberapa gitar, saksofon, klarinet, flute, pada cangkangnya, dan beberapa speaker besar yang kelihatannya sudah diinstalasi dan siap pakai di tata di sisi-sisi belakang, kiri dan kanan pentas. Kecuali, dinding belakang pentas, berlapiskan kain merah putih yang digantungkan menyerupai formasi bendera Indonesia dalam bentuk vertikal: merah-putih, merah-putih.

Namun ketika Bintang Indrianto (saksofon), Gerry Herb (drum), Arief Setiadi (gitar) memasuki pentas yang masih dalam kondisi remang, segera melantunkan sebuah nada yang akrab di telinga: Indonesia Raya, tak bisa dipungkiri lagi, acara tersebut memang dimaksudkan sebagai peristiwa perayaan kemerdekaan melalui pementasan musik jazz. Tepatnya: improvisasi jazz, sebagai jenis musik yang meluangkan para pemainnya memerdekakan diri melalui improvisasi sekaligus kerja sama menghasilkan harmoni musik yang enak didengar.

Nada-nada lembut saksofon Bintang yang menuntaskan Indonesia Raya dalam sebuah komposisi yang lembut di telinga, diiringi melodi Arief dan ditingkahi drum Gerry, berlanjut pada lagu Sekali Merdeka Tetap Merdeka. Seperti halnya pada lagu pertama, mereka bertiga masuk ke komposisi lagu yang dibawakan melalui reff. Keakraban diperdengarkan terlebih dulu, hingga selanjutnya pemain dan penonton dapat sama-sama memasuki wilayah nada yang dibawakan. Meskipun sesekali terdengar improviasi personal dari gitar maupun saksofon, itu justru menjadi jeda yang tidak mengganggu bagi persiapan meneruskan nada-nada selanjutnya.

Hal yang mengesankan juga menjejak ketika Bintang, Arief dan Gerry memainkan lagu Hallo-hallo Bandung. Ketiganya memainkan peralatan musik masing-masing dengan lincah, terkadang bernada mars, ketika lirik yang terimbas dari nada-nada di atas pentas adalah Sekarang telah menjadi lautan api, mari Bung rebut kembali. Pertama dimainkan oleh saksofon, lalu gitar melodi yang sengaja dimainkan sampai ke nada-nada tinggi, dan terakhir dengan pukulan mars pada drum.

Sungguh pembukaan yang memuaskan. Maka tepuk tangan pun membahana ketika Bintang dkk. berlalu dan penampil kedua memasuki pentas dan bersiap dengan peralatannya masing-masing. Iwan Hasan pada gitar, Anto Praboe dengan klarinet, Martin memainkan bass betot. Sebuah komposisi peralatan musik kamar, yang menjanjikan keterampilan tinggi dengan perpaduan ketat beberapa instrumen yang tidak lazim pada penampilan lain, tapi cukup umum, meskipun tidak banyak, pada jazz.

Tentu saja, bass betot mengundang perhatian. Bila bass biasa ingin berpadu dalam komposisi nada-nada cepat dengan gitar melodi, tentu yang terbayang adalah bass biasa. Tapi, bass betot, yang harus disanggah agar berdiri tegak sesuai yang diinginkan, lalu dimainkan dengan membetot senornya yang berat, tentu yang terbayang adalah nada-nada yang tidak begitu cepat. Bila mereka memainkan lagu-lagu kebangsaan seperti penampil pertama, pertanyaan yang muncul adalah: lagu yang mana?

Pertanyaan segera terjawab. Mereka ternyata tidak memainkan komposisi lagu-lagu kebangsaan penampil pertama, tapi membawa komposisi ciptaan mereka pribadi. Namun, lihatlah bass betot itu, di tangan Martin, ternyata dimainkan dengan ketat dan dinamis menghasilkan nada-nada lincah. Klarient dan gitar melodi lebih banyak menjadi pengiring, pengisi jeda, pemanis pergantian nada, ataupun pembuka ruang bagi nada bass betot untuk terus mengejar nada-nada yang diletupkannya. Penampilan ini menjadi penegas, bahwa jazz malam itu memang tidak harus mengusung lagu-lagu kemerdekaan, tapi juga memperlihatkan cara mengisi kemerdekaan itu sebagai individu-individu yang dapat bekerja sama dalam harmoni.

Musik lokal bernada nasional

Suatu hal, yang kembali digarisbawahi oleh penampilan ketiga, Marusya Nainggolan (piano) dan Tarzan Simamora (gondang Batak, seruling, kecapi). Seruling Tarzan langsung menyihir pentas yang kosong dengan alunan lembut bernada tinggi dengan warna komposisi musik seruling Batak yang khas, ditingkahi piano Marusya yang dimainkan penuh perhitungan menyusun nada-nada Satu Nusa Satu Bangsa ciptaan El Manik. Sebuah komposisi yang sengaja dibawakan lebih lambat seperempat ketukan dari aslinya, hingga paduan denting piano dan lembutnya nada seruling lebih teresapi. Sempurna.

Usai bermain lembut, Marusya dan Tarzan kemudian memainkan komposisi nada-nada lincah. Suasana etnik Batak kelihatannya sengaja menjadi pilihan “kemerdekaan” dalam bermain itu, sehingga dengan mulus saja lagu Butet pun ikut mengalun pada lantunan nada-nada sebuah komposisi Marusya pribadi, Fantasi. Marusya memang tidak tampak mengeluarkan segenap kemampuannya menguasai piano, namun ia tetap harus tangkas mengisi ruang kerja sama yang ia bangun bersama Tarzan yang dapat berganti-ganti instrumen, dengan seruling, gondang Batak, lalu kecapi. Permainan keduanya berlangsung intens, memuaskan, dan juga mendapat sambutan hangat dari penonton.

Begitulah penampilan ketiga menjadi pemanasan yang sudah mencukupi bagi munculnya penampil kunci, I Wayan Balawan (gitar), Dion Subiakto (drum), dan Adi Darmawan (bass). Tak banyak lagi kata-kata untuk mengomentari si jenius gitar Balawan, yang begitu canggih memainkain gitar berleher dua (double-neck snar 13) kesukaannya dengan teknik tapping. Ada kalanya ia memetik seperti pada snar gitar umumnya, tapi lebih sering ia menepuk, membelai, mengetuk, menggesek snar-snarnya, satu tangan di leher hitar yang satu dan satu tangan di leher hitar yang lainnya, untuk menghasilkan aneka bunyi menyerupai suara organ, piano, bas, sakfoson, klarinet, gendang, bahkan drum.

Bisa dikatakan, Balawan sebenarnya dapat bermain tunggal untuk sebuah orkestra jazz, bila keterbatasan manusiawi tidak menghalanginya. Sebuah orkestra jazz meluangkan permainan improvisasi, dalam keserempakan berbagai jenis bunyi dan nada. Seandainya cukup dengan penampilan linier, ganti berganti, sambung-menyambung, Balawan bisa sendirian. Balawan sudah memiliki latar belakang bermusik yang tak perlu diragukan. Lima tahun terkenal di Sydney, ia menguasai beberapa instrumen, sebelum akhirnya kembali ke Bali dan membentuk band Batuan Ethnic Fusion, yang memadukan musik Bali dan jazz.

Pada penampilan yang kedua di Gedung Kesenian Jakarta malam itu, Balawan memainkan beberapa komposisi yang sebagian diangkat dari album Globalism. Lagu-lagu jazz yang mengusung unsur musik Bali, yang tentu saja tidak dibiarkan usai sebagai lagu-lagu Bali yang dikenal. Sebab, Balawan memperkayanya dengan ber-tapping ria, mengejar berbagai kemungkinan bunyi instrumen dan nada, yang tujuannya adalah menjelajahi secara kreatif ruang improvisasi yang terbuka. Karena bernapaskan lagu-lagu daerah Bali, nada-nada gamelan Bali pun seperti berkejaran lincah dari jari-jari Balawan. Balawan terus memainkannya, menyuguhkannya, bagi telinga dan hati pendengarnya. Ia memang jenius gitar kita!


Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 20 Agustus 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home