Wednesday, September 27, 2006

Dari Mana Islam Bermula

The Message karya Moustapha Akkad, sebuah film biografis kaya informasi, memaparkan gejolak rohani masyarakat Mekkah dan Medinah pada masa Islam lahir.

Sekira 600 tahun setelah Kristus wafat, kala Eropa terseret ke dalam kegelapan dan banyak kebudayaan tua di dunia sedang tenggelam, sebuah embrio agama baru tumbuh di Mekkah. Hanya dalam tempo puluhan tahun saja, agama itu menjadi besar. Kita mengenalnya sebagai Islam. Nabinya: Muhammad SAW, kelahiran Mekkah dan dewasa serta berkeluarga juga di Mekkah.

Masa itu Mekkah menjadi salah satu kota terbesar dan paling ramai di wilayah Arab. Setiap tahun dilangsungkan perayaan besar-besaran yang dipusatkan di Kabah, pusat ibadat yang dulu dibangun Ibrahim AS (Abraham menurut film). Namun fungsinya kini dibelokkan oleh para penguasa Mekkah, yang dipimpin Abu Sofyan, seorang hartawan, pedagang, dan pelindung seni.

Kalau mulanya Kabah adalah tempat sembahyang, pada masa Abu Sofyan, Kabah sudah menjadi pusat penempatan berbagai patung dewa-dewa yang dibawa oleh suku-suku bangsa yang lewat atau sengaja datang ke Mekkah untuk berziarah atau pesiar. Pada masa Muhammad memulai kegiatan kenabiannya, di Kabah saat itu sudah berkumpul sebanyak 360 patung dewa, atau tuhan-tuhan dari berbagai suku bangsa, dengan macam-macam penyebutan: Dewa Keberuntungan, Dewa Perjalanan, Dewa Kesuburan, juga Dewanya dewa-dewa, dll.

Keramaian Mekkah sekali setahun tentu menjanjikan peluang dan keuntungan finansial yang tinggi bagi Abu Sofyan dan kliknya. Sebagai penguasa dan pedagang, kedatangan para peziarah dan pelancong menjadi sumber pemasukan. Perdagangan mencapai titik maksimal, dan membuat Abu Sofyan semakin kaya, dipuja masyarakatnya, dihormati para raja di tanah Arab. Maka, adanya desas-desus bahwa Muhammad sedang menyiapkan sebuah ajaran baru, yang berbeda dengan apa yang dianut masyarakat Mekkah saat itu, sedikit banyak menimbulkan gejolak politik di lingkungan Abu Sofyan.

Muhammad, yang tak sekalipun disosokkan dalam film Akkad ini, digambarkan pernah memandang kurang puas terhadap orang-orang yang mengelola Kabah dan membiarkan suku-suku yang datang menyerahkan patung-patung mereka disertakan sebagai kumpulan dewa di Kabah. Selain itu, bagi para orangtua yang kini mulai ditinggalkan keturunan mereka, Muhammad dianggap sedang menularkan kebiasaan buruk. Anak-anak muda tidak mengikuti tata cara hidup orangtua mereka lagi. Tapi mereka menghabiskan waktu memenuhi undangan Muhammad berkumpul di rumahnya, dan setia menunggui Muhammad saat Muhammad turun-naik ke gua Hira setiap kali mendapatkan firman.

“Kita adalah suku bangsa yang menghormati orangtua, dan tak akan bertentangan dengan agama orangtua kita,” kata Abu Sofyan marah.

“Lagi pula, janggal rasanya bila Muhammad yang kita kenal dan temui di jalan sebelumnya hanya manusia biasa, lalu sekarang mengaku sebagai utusan Tuhan,” kata pejabat Mekkah lainnya.

Demikian sebagian pembicaraan dalam sidang pejabat yang membahas pengaruh Muhammad, yang berujung pada permintaan kepada paman Muhammad, Abu Talib yang saat itu menjadi salah satu orang terpandang di Mekkah, agar menghentikan Muhammad mempengaruhi anak-anak muda serta mengembangkan ajarannya. Abu Sofyan siap meluluskan apa saja permintaan Muhammad, asalkan ia menghentikan kegiatannya yang mulai meresahkan keluarga-keluarga kaya di Mekkah. Namun, Abu Talib gagal mempengaruhi Muhammad. Muhammad tetap mempertahankan kegiatannya, karena ia mengaku hanyalah seorang utusan, pelaksana firman Allah.

Semua manusia sama di hadapan Tuhan

Seorang pengikut Muhammad pun ditangkap dan diinterogasi. Si pengikut bersikukuh akan tetap setia kepada Muhammad yang mengajarkan kesamaan semua orang di depan Tuhan. Seorang hartawan Mekkah menyuruh budak negronya, Bilal, mencambuk si pengikut Muhammad, agar si pengikut mengetahui perbedaan seorang majikan yang memerintah dan budak yang akan mengikuti apa pun kata majikannya. Namun, Bilal ternyata meletakkan cambuk, tak mau menuruti perintah majikannya. Hal ini menggegerkan para pejabat dan hartawan Mekkah. Si hartawan merasa dipermalukan di kalangannya. Keesokan harinya, di bawah terik matahari Mekkah, ia pun mencambuki Bilal.

Bilal berdarah-darah. Azohara, anak angkat Muhammad datang membawa uang titipan Abu Bakar, sahabat Muhammad, menebus Bilal. Bilal pun kini menjadi manusia bebas dan bergabung dengan pengikut Muhammad. Sementara Muhammad mulai menyiarkan ajaran barunya secara terbuka ke depan umum, tidak lagi dalam bentuk diskusi-diskusi tertutup. Ia bersama para sahabat dan pengikutnya mau mengembalikan fungsi Kabah sebagai tempat sembahyang, bukan gedung penampungan dewa-dewa. Namun dalam film, figur Muhammad tetap tak disosokkan oleh Akkad, kecuali dikesankan dengan gerak kamera mengikuti tatapan orang yang berbicara dengannya.

Di depan Kabah terjadi kekerasan. Muhammad dan pengikutnya dilempari batu dan dipukuli oleh penduduk Mekkah yang mendukung Abu Sofyan dan kliknya. Pada saat genting itu, muncullah Hamzah, seorang prajurit yang sudah terkenal malang-melintang melalui berbagai peperangan. Hamzah melindungi Muhammad dan berhasil membubarkan kerumunan.

Sementara pejabat Mekkah lainnya menangkapi penduduk yang ternyata menjadi pengikut Muhammad. Mereka disiksa, ayah-ibu-anak, dicambuki, dikurung, dan juga dibunuh. Kedatangan Hamzah dan pengikut Muhammad agak terlambat. Sudah ada korban nyawa. Maka saat itu Muhammad pun memerintahkan para pengikutnya mengungsi sementara ke Medinah sampai suasana tenang, sedangkan ia masih aman di Mekkah berkat perlindungan pamannya, Abu Talib.

Pengungsian pengikut Muhammad, sebanyak 30 orang ke Medinah, terus dalam pengejaran pasukan Abu Sofyan. Di tengah jalan, ke-30 orang ini ditangkap pasukan sebuah kerajaan Kristen dan akan dibawa kembali oleh seorang klik Abu Sofyan ke Mekkah. Namun seorang pengikut Muhammad berkata kepada sang raja Kristen, bahwa menurut Muhammad mereka akan aman melalui kerajaan itu karena mereka memuja Tuhan yang sama, Tuhan yang satu. Terjadi dialog singkat yang menunjukkan kesepakatan pengikut Muhammad dan sang raja Kristen, tentang agama masing-masing. Dan seperti dipastikan Muhammad, para pengikutnya itu memang dibiarkan berlindung dan pergi semaunya dari kerajaan tersebut. Hingga, para pengikut Muhammad pun berhasil mencapai Medinah dengan selamat.

Abu Sofyan dan kliknya semakin keras. Keluarga Muhammad di Mekkah diasingkan, rumah-rumah dan harta-benda mereka dihancurkan. Pada saat yang bersamaan Khadijah, istri Muhammad meninggal dunia, begitu pun pamannya Abu Talib. Dengan terpaksa, Muhammad harus hijrah meninggalkan tanah kelahirannya, dan memulai masa depan ajarannya dari kota Medinah bersama Ali, Abu Bakar, Hamzah, dan para pengikut lainnya.

Di Medinah Muhammad disambut sebagaimana layaknya seorang pemimpin umat. Penguasa Medinah, menawarkan istananya untuk ditinggali Muhammad, sedangkan penduduk Medinah saling berlomba menawarkan rumah dan tempat masing-masing. Namun untuk tidak mengecewakan semuanya, Muhammad pun memasrahkan pilihannya pada unta yang setia menyeberangkannya dari Mekkah ke Medina. Di mana sang unta berhenti dan istirahat, maka di situlah Muhammad akan membangun tempat tinggalnya.

Unta pun berhenti di sebuah dataran yang sejuk, dan di tempat itulah Muhammad (53 tahun) dan para pengikutnya kemudian membangun masjid yang pertama sekaligus tempat tinggal Muhammad. Usai bangunan masjid itu berdiri, Hamzah merasakan ada sesuatu yang kurang.

“Kita perlu sesuatu untuk memanggil orang bersembahyang,” kata Hamzah.

“Pakai lonceng saja, orang Kristen pakai lonceng,” kata seseorang.

“Pakai tanduk saja (baca: nafiri), saya pandai meniupnya,” kata seorang lain.

“Bagaimana kalau pakai suara. Suara Bilal. Suaranya merdu. Tapi tanyakan dulu kepada Nabi, apakah ia setuju,” kata Hamzah.

Ternyata Nabi Muhammad SAW setuju. Maka saat itulah diperdengarkan suara Bilal pertama dalam sejarah, oleh Bilal, bekas budak yang kebebasannya ditebus Abu Bakar. Seiring suara Bilal yang menggema ke padang-padang pasir tanah Arab, memanggili orang bersembahyang, maka ajaran Islam pun semakin berkembang. Dan beberapa tahun kemudian, setelah beberapa kali pertempuran dengan pasukan Abu Sofyan, termasuk sebuah pertempuran yang menewaskan Hamzah, Muhammad dan pengikutnya kemudian berhasil kembali ke Mekkah, merebut Kabah dari patung-patung para dewa yang kemudian dihancurkan.

Namun ketika meninggal dunia pada usia 63 tahun, Muhammad SAW dikuburkan di samping masjid yang dibangunnya di Medinah.

Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 23 September 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home