Wednesday, September 27, 2006

Dilarang Membunuh Anak-anak, Stevan!

Naskah Teroris karya Albert Camus terjemahan Arief Budiman, hidup dan menemukan kekuatan baru di pementasan Teater Stasiun.

Dikesankan peristiwa ini terjadi di Rusia sebelum kemenangan kaum Bolshewik yang kemudian mendirikan pemerintahan komunis Uni Sovyet (pra-1917). Boria (Madin Tyasawan) sang pemimpin kelompok, Dora (Lisa A Ristargi) si perakit bom, bersama Yanek (Joind Bayuwinanda) si pelempar bom pertama, dan Voinov (N’dang Rumeksa) si pelempar bom kedua sudah merencanakan pemboman terhadap seorang bangsawan yang mereka anggap perlambang pemerintahan tirani yang selama ini menyengsarakan rakyat. Persiapan mereka sudah sampai ke titik lanjut: menunggu hari pelaksanaan.

Dan Stevan (Soepro Boemie) yang baru melarikan diri dari penjara Swiss pun ikut bergabung. Karena rencana sudah matang, Stevan yang dipenuhi dendam kepada pemerintahan tirani kali ini hanya ditugaskan sebagai pengawas lapangan, meskipun ia bernafsu menjadi pelembar bom pertama. Stevan bertugas mewaspadai para agen polisi, agar tidak sampai mencium rencana pemboman yang akan dilakukan. Kemunculan Stevan di tengah kelompok kecil itu, telah menimbulkan beberapa perdebatan mendasar tentang ideologi revolusioner yang mereka perjuangkan, khususnya dengan Yanek.

Stevan meragukan keberanian Yanek yang seorang penyair. Bagi Stevan, perbuatan teror bukan pilihan bagi orang-orang romantis yang merasa bosan terhadap hidup. Tudingan ini ia sampaikan kepada Yanek, pertama, karena Yanek sudah mengubah kata sandi ketukan di pintu menjadi seenaknya (baca: bosan dengan empat nada ketukan yang lama). Kedua, dalam dialog bersama Dora, didengar Stevan maupun Boria, Yanek mengatakan bila perlu ia akan siap bunuh diri dengan melemparkan diri bersama bomnya ke bawah kereta si bangsawan. Dan ketiga, cara Yanek berganti-ganti dandanan, terkadang seperti pedagang, lain saat sebagai pria borjuis; mengganggu Stevan. Dengan berbagai indikasi inilah, bagi Stevan, Yanek hanya seorang penyair romantis yang bosan terhadap kehidupan, dan mengharapkan solusi dari teror revolusi.

Hal ini dibantah Yanek, yang juga didukung Boria, Dora, maupun Voinov. Boleh jadi karena lebih lama bergaul dengan Yanek, ketiganya bisa menerima pikiran-pikiran Yanek yang masih mengedepankan kecintaan terhadap kehidupan, di atas kebencian kepada sistem pemerintahan tirani. Perbantahan barulah selesai, ketika saat untuk melaksanakan pemboman tiba.

Dan pemboman yang mestinya dilaksanakan oleh Yanek itu ternyata batal. Yanek pulang ke markas dengan gelisah dan meminta maaf. Dia gagal melemparkan bomnya, karena ia melihat di dalam kereta si bangsawan terdapat dua anak. Alasan Yanek ini membuat Stevan semakin yakin, bahwa Yanek bukanlah seorang revolusioner sejati. Kali ini Yanek tak dapat membantah, kecuali kesal dan berjanji, bila saatnya tiba, ia pasti siap melemparkan bom membunuh si bangsawan. Tapi, sekali lagi, ia sama sekali tak pernah diperintahkan untuk ikut membom anak-anak.

Mempertanyakan terorisme

Bagi Yanek, bila ia membom membabi-buta, termasuk membom anak-anak, itu sama saja dengan menjadikan dirinya sebagai pembunuh biasa. Sementara, ia adalah seorang teroris, yang ingin menghancurkan pemerintahan tirani yang dilambangkan oleh si bangsawan. Dan anak-anak di kereta si bangsawan, yang tak sekali pun memandang ke arahnya itu, bagi Yanek, adalah bibit masa depan yang tak mungkin diberangus bersama si bangsawan. Karena perjuangan teror yang mereka lakukan adalah merebut masa kini dan masa datang dari tangan pemerintahan tirani, justru untuk anak-anak masa depan.

Stevan tak menerima argumen Yanek. Baginya kebencian tak pandang bulu; tua, dewasa, atau anak-anak, bila berseberangan, ia adalah musuh yang harus dimusnahkan. Revolusi menghalakan segala cara. Adalah membuang-buang waktu bila benak dibebani nilai-nilai yang diyakini Yanek. Revolusi adalah revolusi; merebut pemerintahan dari tirani; bukan larangan untuk membunuh anak-anak. Maka, silang pendapat di kelompok kecil itu kembali berlangsung. Lagi-lagi, Yanek masih mendapat dukungan mayoritas. Penonton juga mendapatkan suguhan kontekstual dari pikiran-pikiran Albert Camus, tentang revolusi, sosialisme, terorisme, dan perlawanan dengan jalan damai, yang telah direnungkannya sebelum Perang Dunia II.

Edi Yan Munaedi, sang sutradara, cukup beruntung mendapatkan dukungan para pemain yang mampu menghidupkan pertukaran dialog tangkas dan cerdas sebagai kelebihan naskah Camus. Yang paling istimewa tentu saja Joind Bayuwinanda, yang memainkan Yanek dengan maksimal. Berbagai perubahan emosi dan gejolak pemikiran Yanek sebagai penyair romantis sekaligus revolusioner pemberani, ditampilkan Joind dengan “menggelegar”. Pada tahun 1990-an saya termasuk yang pengagum keperkasaan Zainal Abidin Domba (Teater SAE) sebagai aktor teater, dan malam itu (7/8/2006), di Teater Kecil TIM, saya seperti melihat Zainal yang lain sedang memamerkan kemampuan aktingnya yang menjanjikan. Joind adalah harapan cerah dunia keaktoran panggung teater kita, yang terus dijaga para pecintanya yang fanatik di gelanggang-gelanggang maupun komunitas teater.

Gangguan pementasan memang tertangkap, ketika musik yang direkam sepertinya sudah terlalu sering dipakai, hingga menimbulkan bising yang tidak perlu. Bila memanfaatkan musik live, suasana dan wibawa para pemain pastilah lebih menyosok dan terjaga. Para tokoh yang dipanggungkan adalah pribadi-pribadi istimewa yang tidak sering muncul di tengah masyarakat. Mereka, para pemberani dengan pikiran-pikiran dan tindakan revolusioner itu jumlahnya tidak banyak. Sehingga, penonton kebanyakan akan mendapatkan berbagai pencerahan dari pementasan tersebut.

Begitu pun tata lampu, terkadang gagap menonjolkan ekspresi pemain yang sedang berdialog. Bila lampu sorot difokuskan ke wajah pemain yang sedang menyampaikan pikirannya, tentu akan menajamkan daya cengkeram pementasan; daripada pencahayaan dibiarkan menghampar flat ke semua wajah para pemain. Masalah prioritas dan penguasaan naskah, agaknya tidak menjadi pertimbangan penting penata lampu. Ini jelas kesalahan. Berbeda dengan penata musik yang sudah siap megikuti alur naskah, namun semberono menjaga kualitas musik rekaman.

Kembali ke pementasan malam itu, bom akhirnya diledakkan dan menewaskan si bangsawan. Yanek pun ditangkap. Suasana khusuk khas Camus seperti tersaji dalam novel-novelnya muncul di atas panggung, melalui dialog tajam dan filosofis antara korban (istri si bangsawan) dengan si teroris (Yanek). Istri si bangsawan menyesalkan, kenapa Yanek tidak membunuh keponakan-keponakannya saja, yang dalam keseharian mereka berperilaku tidak baik dan suka melecehkan pengemis. Sementara, suaminya yang selalu ramah dan banyak bergaul dengan petani itulah yang menjadi korban Yanek. Kenyataan ini tentu saja mengejutkan dan menyedihkan Yanek.

Istri si bangsawan kemudian mengajak Yanek berdoa agar dosanya diampuni Tuhan. Yanek menolak keras, sebab ia tak memiliki keperluan dengan Tuhan istri si bangsawan. Ia hanya memiliki kesiapan menerima kebenaran lain, apa pun itu. Ia rela dihukum mati sebagai teroris yang telah melaksanakan tugasnya, dan tak ingin dihadapkan pada konsekuensi-konsekuensi logis yang harus ditanggung seorang pembunuh biasa. Sebab, terorisme pilihannya berjalan di koridor logikanya sendiri. Bahkan bila si teroris itu bernama Yanek, yang tak siap membunuh anak-anak sebagai bibit masa depan.

Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 13 Agustus 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home