Tuesday, September 26, 2006

Jamila Satu Merah Panggung

Pelacur yang Ingin Bertemu Presiden

Ratna Sarumpaet kini dapat berlega hati, meneruskan kegiatan yang semakin menyita perhatian namun memperlihatkan kapasitasnya sebagai seniman teater: penulis naskah dan sutradara. Bukan berarti ia tidak mumpuni sebagai aktris. Tapi ketika ia memilih ikut bermain, sering kali penyutradaraan dan naskah terasa kurang intens. Kelemahan umum adalah kurangnya ruang untuk memunculkan konflik psikologis, sehingga sang aktris (Ratna) lebih tampil sebagai pengusung tendensi yang ingin disampaikan. Karena Ratna seorang aktivis politik dalam kesehariannya, tak terhindarkan, panggungnya pun berjejalan dengan verbalitas politik. Marsinah Menggungat adalah pementasan paling terkenal untuk konteks ini.

Maka, bagi mereka yang mengikuti sedikit saja perjalanan teater Satu Merah Panggung, akan tercengang menonton pertunjukan Jamilah dan Sang Presiden yang dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta (25-28 Juli 2006), dan akan dibawa keliling ke Surabaya (4-5 Agustus 2006), Medan (11-12 Agustus 2006), Bandung (21-22 Agustus 2006), dan Palembang (25-26 Agustus 2006). Ada peristiwa teater yang lebih serius kali ini dari perjalanan Satu Merah Panggung. Telah lahir seorang aktris, Atiqah Hasiholan. Dan Atiqah yang memerankan Jamila II berkesempatan mengekspresikan permainan yang memukau, karena ia mendapatkan ruang permainan konflik psikologis bersama aktris Peggy Melati Sukma yang memerankan Sipir/Bu Ria. Hal ini dapat berlangsung, karena naskah dan penyutradaraan sepertinya difokuskan Ratna bagi mereka berdua.

Tentu saja tidak sepenuhnya seperti itu. Sentuhan Boy G Sakti maupun keterlibatan Harris Priadi Bah menunjukkan jejak. Dan ada catatan di sana-sini. Karena ingin mengisi muatan dialog dan memperkaya motif psikologis Jamila II misalnya, terasa beberapa dialog dan motif psikologis Sipir/Bu Ria kurang maksimal. Ketika kita melihat Sipir/Bu Ria secara sungguh-sungguh membantu secara moral agar Jamila II mendapatkan pengampunan dari masyarakat dan grasi dari Sang Presiden, motif kekaguman kurang kuat mendukung kewajaran itu. Kesejajaran nasib sebagai wanita korban pria, akan lebih kuat sebagai latar belakang simpati dan keterlibatan. Namun, dialog ke arah ini tidak digarap tuntas oleh Ratna.

Permainan Rita Matu Mona yang memerankan germo Ibu Damo juga layak ditonton. Aktris ini seperti lepas sendiri tanpa penyutradaraan, namun mampu menampilkan permainan dengan olah tubuh dan vokal fungsional, meskipun dialognya bertaburan dengan informasi umum tentang nasib buruk para TKI di luar negeri; adanya ancaman pelecehan seksual dari para majikan, dan terbatasnya pekerjaan bagi TKI karena tingkat pendidikan yang kurang. Maka dalam iming-iming Ibu Damo, para wanita semacam Jamila, akan lebih baik menjadi penjual gado-gado, atau pelacur di negeri sendiri. Dengan rayuan seperti ini Ibu Damo berhasil menjadi germo yang memiliki banyak pelacur. Di antaranya, yang paling cantik, paling laku, dan paling banyak melakukan aborsi adalah Jamila.

Jamila lahir di tengah masyarakat yang tidak merasa bersalah memperdagangkan anak perempuan menjadi pelacur. Umur dua tahun Jamila sudah dijual ayahnya. Namun ibunya menyelamatkan Jamila dan menyerahkannya ke keluarga Wardiman. Di keluarga ini Jamila tumbuh sampai remaja sebagai seorang wanita taqwa. Namun, ayah-anak keluarga Wardiman hampir setiap malam melecehkannya. Jamila kemudian membunuh ayah-anak keluarga Wardiman dan melarikan diri. Dalam pelariannya Jamila tak bisa menghindari nasib buruk yang sudah dipilihkan ayahnya untuknya sejak bayi: menjadi pelacur.

Namun Jamila bukan pelacur biasa. “Saya adalah Pekerja Seks Peneliti,” katanya dalam sebuah dialog bersama petugas keamanan, yang hendak menangkapnya, karena diduga membunuh seorang germo di hutan Kalimantan. Jamila adalah seorang pelacur yang mampu menyuarakan perlawanan atas ketidakadilan yang diterimanya bersama teman-teman pelacurnya. Perlawanan ini sampai ke tingkat ektrem: membunuh. Jamila memang sudah membunuh berkali-kali, termasuk aborsi. Dan terakhir, yang kemudian menjadi awal cerita pementasan Jamila dan Sang Presiden, ia menyerahkan diri kepada polisi karena membunuh seorang pejabat negara yang menjadi langganannya.

Dari sinilah Jamila dikembangkan Ratna menjadi suara kolektif para pelacur, yang mengalami ketidakadilan nasib oleh budaya dan masyarakat yang melahirkannya. Tidak saja mengalami kesialan nasib, mereka pun mengalami hukuman prasangka untuk menanggung beban moral negatif, bagi pengukuhan moral positif kalangan agamawan dan juga pemerintah. Pelacur menjadi label kebobrokan sekelompok masyarakat terpinggirkan, umumnya perempuan, berseberangan dengan masyarakat baik-baik yang dalam pengamatan Jamila, sang Pekerja Seks Peneliti, hanya kumpulan anggota masyarakat munafik yang tidak mau melihat kebobrokan sendiri.

Maka bagi Jamila, selain ayahnya yang bertanggung jawab atas nasibnya yang menjadi pelacur, juga kalangan agamawan dan pemerintah. Untuk itulah, sebelum menjalani hukuman mati yang akan ditimpakan kepadanya, ia meminta seorang ulama terkenal dan juga presiden datang mengunjunginya. Mengetahui hal itu masyarakat semakin marah kepada Jamila. Tapi ulama terkenal datang mengunjungi Jamila. Sempat berdialog dengannya, dan mendapatkan pesan kalau si ulama mau menyempurnakan diri, hendaknya langsung terjun ke tengah-tengah masyarakat yang melahirkan Jamila, bukan sekadar berdakwah dan mengecam di televisi. Tapi, presiden tak pernah bertemu dengan Jamila. Dan Jamila sendiri kemudian merasa tak membutuhkan siapa-siapa lagi, selain Tuhan. Jamila pun bersujud, menangis, dan menggugat. Arie MP Tamba

Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 30 Juli 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home