Tuesday, September 26, 2006

Jejak Firman Muntaco

Sambrah Betawi Mencari Panggung

Kota Jakarte berupe-rupe

Sapu tangan jatuh di lumpur

Sambrah Betawi jangan dilupe

Lupe sebentar di waktu tidur

BELASAN tahun silam, pantun di atas sering diucapkan almarhum Firman Muntaco di hadapan putrinya, Fifi Firman Muntaco. Pantun sarat makna ini, bagi Fifi, menjadi penyemangat mempertahankan keberlanjutan sanggar kesenian Betawi warisan almarhum ayahandanya, khususnya untuk bidang kesenian Sambrah Betawi.


“Kalau Gambang Kromong, Lenong, Topeng, bahkan Tanjidor, bapak tak pernah khawatir. Pekerjanya banyak dan penanggapnya lumayan. Berbeda dengan Sambrah Betawi. Seniman dan peminatnya terbatas,” jelas Fifi kepada Jurnal Nasional.

Firman Muntaco, yang sampai kini tercatat sebagai penulis cerita humor Betawi paling terkenal dan produktif, menurut sang putri, memang sangat mencintai kesenian Betawi. Demi kecintaan ini, tak jarang ia mengorbankan waktu dan pikiran untuk urusan keluarga, demi kesenian Betawi. Secara berlebihan, ada kalanya Firman sampai mengeluarkan uang dari kantungnya sendiri, demi terlaksananya sebuah pertunjukan atau membiayai latihan dan perjalanan kelompoknya.

“Pernah untuk sebuah acara drama humor di televisi, waktu itu TVRI, agar menarik perhatian penonton, bapak sengaja mengajak Benyamin, Wati Siregar dan Jaja Miharja ikut main. Alhasil bapak kemudian nombokin. Bayaran yang diterima dari televisi cuma empat ratus ribu rupiah, sementara bapak harus membayar honor para pemainnya sejuta rupiah,” kisah Fifi.

Ini semua tak lepas dari obsesi almarhum Firman Muntaco, yang ingin memperkenalkan dan menegaskan keberadaan Sambrah Betawi yang kurang popular namun khas, berbeda dengan Sambrah Melayu atau kesenian Sambrah dari daerah lainnya. “Daerah pesisir umumnya memang memiliki Sambrah. Ada Melayu Riau, ada Semarang, ada Betawi. Perbedaan umumnya langsung terlihat dari kekhasan dialek, gerak tari, dan juga nada isi pantun yang lekat dengan karakter dan adat-istiadat suku,” kata Fifi.

Lalu, bila Sambrah Melayu terkenal dengan lagu-lagu Melayu-Riau yang kebanyakan diciptakan Mashabi, maka Sambrah Betawi hidup dan bertahan hanya dengan lagu dan pantun hasil gubahan para penulis tak dikenal, alias no-name. Jumlah lagu-pantunnya pun sampai kini hanya berkisar 20-an. Meski dalam pementasannya, tentu saja dapat dikembangkan sesuai kemampuan improvisasi pembawanya. Salah satunya:

Rambut panjang saye sisirin

Ambil senapan tembak buaye

None seorang saye pikirin

Sampai kapan di tangan saye

Dari nuansa pantun ini, langsung jelas bahwa muatan pantun Sambrah Betawi juga bernuansa “orang muda”. Dan memang, Sambrah Betawi mulanya adalah sebuah tari pergaulan anak-anak muda maupun orang dewasa Betawi, yang dilangsungkan pada pesta-pesta perkawinan adat Betawi.

“Dulu acaranya akan dimulai dengan kata-kata, ‘yuk, sudah malam, saatnya meminggirin meja dan kursi, benahin piring dan gelas, dan mulai mainin sambrah’,” kisah Fifi. Sementara kini, Sambrah Betawi hanya dimainkan, lebih tepatnya dipanggungkan, bila mereka mendapat tawaran atau undangan.

Namun pada masa kepemimpinan Firman Muntaco, tahun 1980-an, Sambrah Betawi dari sanggarnya pernah booming. Banyak permintaan manggung datang untuk mengisi pesta-pesta perkawinan di kampung-kampung, juga di balai-balai pesta besar, hingga ke rumah gedongan hartawan Betawi, yang menyelenggarakan pesta perkawinan dengan adat Betawi.

Pada masa inilah, Fifi selalu ikut ke setiap pertunjukan itu. Hingga, ketika sang ayahanda meninggal dunia pada tahun 1993, para anggota sanggar secara bulat meminta Fifi yang meneruskan kepemimpinan sanggar. Para anggota ini beranggapan, karena Fifi sering mengikuti perjalanan sang bapak, maka ia pun akan mengetahui cara mencari pemesan atau penanggap untuk grup kesenian mereka.

“Padahal itu pekerjaan sulit. Sampai kini saya masih kehilangan orang-orang yang dulu membantu bapak di TVRI, ke pesta-pesta, ataupun ke kedutaan asing,” kata Fifi.

Mulanya hanya pria

Menurut Fifi, almarhum ayahnya pernah mendapat cerita dari kakeknya, Haji Muntaco yang terkenal sebagai pengusaha susu-perah yang pandai bermain biola, bahwa kesenian Sambrah Betawi sudah berumur ratusan tahun. Pada awalnya, kesenian ini hanya dimainkan para pria, karena bentuk gerak dan tarinya yang khas dengan sepasang kaki setengah ditekuk, seraya berbalas pantun yang dinyanyikan – memang memerlukan tenaga besar.

Sedangkan pada masa sanggar pimpinan almarhum ayahnya, juga masa Fifi kini, dalam kesenian Sambrah yang mereka tawarkan, para pemain sudah bercampur, pria maupun wanita. Bergantung bagaimana keperluannya; sebesar apa plafon biaya yang dianggarkan, dan seperti apa pesta itu akan dilangsungkan.

Adapun penampilan terbesar bagi Fifi, selama ia memimpin sanggar warisan almarhum ayahandanya, adalah ketika berkesempatan memanggungkan Tonil Sambrah Betawi, dengan lakon “Bang Thamrin Pembela Rakyat” tulisan Firman Muntaco. Pementasannya diselenggarakan oleh Badan Musyawarah Masyarakat Betawi, dalam rangka memperingati hari lahir dan wafatnya MH Thamrin, seorang pahlawan nasional keturunan Betawi.

Dalam pementasan ini, segenap unsur kesenian Sambrah Betawi, seperti musik, tari, lakon, berbalas pantun dan nyanyi, dapat diekspresikan. Semuanya berlangsung lancar, berkat dukungan para anggota sanggar, yang bila semuanya berkumpul jumlahnya mencapai seratus orang.

Sehari-harinya, para anggota sanggar ini ada juga yang menyibukkan diri dengan kegiatan atau pekerjaan pribadi. Bila ada waktu senggang, barulah mereka ikut bermain ke sanggar. Seperti halnya Teta, anggota sanggar termuda, seorang siswi SMA, yang hanya ikut mengisi kegiatan sanggar ketika liburan sekolah.

Jadwal pementasan untuk kesenian Sambrah memang tidak begitu padat. Itu sebabnya Fifi dan teman-temannya merasa bersyukur, karena sejak tahun 2002 bila ada festival Pekan Raya Jakarta, kesenian Sambrah Betawi sudah ikut ditampilkan di anjungan kesenian Betawi. Bermain empat kali dalam sebulan penyelenggaraan pameran pembangunan tersebut, para seniman Sambrah berkesempatan berinteraksi dengan publik yang lebih luas dan beragam. “Ini menjadi ajang promosi juga, mudah-mudahan kesenian Sambrah semakin dikenal dan dicintai,” kata Fifi.

Sementara itu, Wiwit, penyanyi-pantun Sambrah di sanggar Fifi, adalah seorang wanita keturunan Jawa yang kebetulan tetangga Fifi. “Bagi sanggar memang tidak ada keharusan kesukuan. Siapa saja, asalkan menyukai kesenian Betawi, kami terima. Maka di tempat kami ada suku Jawa, Batak, bahkan China,” jelas Fifi.

Di tengah terbatasnya undangan manggung, para anggota kelompok Sambrah Fifi dibiarkan mengikuti berbagai kegiatan yang mendapat permintaan mentas. Dari Gambang Kromong hingga Lenong, dari Topeng hingga Tanjidor, dari Ondel-ondel hingga Organ Tunggal! “Organ tunggal lagi booming, kami garap juga. Hasilnya lumayan, mengimbangi terbatasnya permintaan manggung untuk kesenian lainnya,” kata Fifi.

Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 2 Juli 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home