Tuesday, September 26, 2006

Krypton

Esai Arie MP Tamba

Dalam novelnya Fury, Salman Rusdhi memperlihatkan penguasaan referensial luar biasa tentang tokoh-tokoh terkenal, dunia komik, sejarah novel, dan film-film Eropa maupun Hollywood. Ia menjadikan karakter tokoh-tokoh terkenal tersebut, baik dari kehidupan nyata, dunia komik, novel, maupun film, sebagai karakter atau plot bandingan untuk lebih menjelaskan si tokoh cerita, Profesor Malik Solanka, dengan kisah panjang yang menguntainya.

Rusdhi membahas novel Finnegans Wake sampai film Star Wars, serial televisi kehidupan mafia Soprano sampai Albert Einstein yang bergigi depan mirip Bugs Bunny, dan dari kecanggihan IT film The Matrix sampai keistimewaan manusia model Superman.

Tentang Malik Solanka, si tokoh utama Fury misalnya, Rusdhi menyebutkan terkadang seperti Superman yang sedang memasuki wilayah penuh Kryptonite, ketika berada di tengah belantara kota New York. Malik mendadak lunglai, kesadarannya mengambang, kekuatan logikanya surut, segenap kemampuan hidupnya seolah buyar bahkan raib. Hingga semakin menyadari, bahwa ia adalah manusia kesepian yang hanya dapat berharap, “Eat me, America, and give me peace.”

Krypton, dalam mitologi komik Superman, adalah planet asal Superman. Planet tersebut akan hancur dan penguasanya ingin menyelamatkan bayi tunggal mereka, dengan mengirimkannya ke bumi. Menembus ruang dan waktu yang berbeda, si bayi pun terjatuh di tengah ladang di sebuah kota kecil, Smallville. Selanjutya, si bayi dirawat sebagai anak oleh sepasang petani yang menemukannya, yang kebetulan memang tidak mempunyai keturunan.

Si bayi kemudian tumbuh menjadi anak dengan berbagai keistimewaan. Ia diberi nama Clark Kent. Menjelang dewasa, selalu diingatkan agar merahasiakan segala kekuatan dan kemampuannya untuk terbang. Hingga, sebagai pemuda ia merantau ke kota Metropolis dan menjadi seorang wartawan. Dari sinilah petualangan Superman yang sebenarnya, dimulai. Ia menjadi seorang super hero. Perkasa, terbang ke sana kemari, ringan tangan menolong manusia. Dengan tampilan berseragam “konyol”, bercelana dalam di luar, dengan jubah tersampir di pundak, yang mengembang ketia ia terbang. Sebuah penyosokan seorang pahlawan, yang secara samar memuat kemanusiaan kita, dipenuhi tanda tanya. Tentang kenyataan dan idealisasi tubuh. Tentang kefanaan, dan mimpi keperkasaan.

Paling tidak, Quentin Tarantino dalam film semi-komiknya yang terkenal, Kill Bill, menyinggung Superman dari sisi ironi kenyataan dan idealisasi ini. Tarantino menyebutkan, bahwa tokoh komik yang paling dikaguminya adalah Superman. Mengapa? Karena kehadirannya mempersoalkan lapisan bawah sadar kemanusiaan kita, secara langsung. Superman benar-benar seorang manusia super, tapi sengaja menyamar sebagai manusia bloon.

Superman mampu menyembunyikan keistimewaannya, dengan menyamar sebagai manusia lugu, Clark Kent, karena ia adalah manusia super yang berani berendah hati. Di samping, agar ia dapat hidup normal bersama manusia biasa, sebagaimana diharapkan kedua orangtua angkatnya yang petani. Juga, agar ia dapat “bekerja” diam-diam, sebagai manusia super. Si manusia super ini, telah diajak dan diajarkan berpikir seperti petani: semakin berisi, makin merunduk.

Melanjutkan logika Tarantino, dengan pilihan penyamarannya, bukankah Superman secara tak langsung mengingatkan – bahwa manusia yang sebenarnya tidak super – setiap hari ternyata tampil pongah, patenteng-patenteng di sekitarnya? Sementara, ia sebagai si manusia super, malah memilih dikenali sebagai manusia bodoh, “ndeso” dengan kacamata tebal, terkesan penggugup bahkan pengecut?

Sungguh kesuperan seorang Superman, yang berhasil mengejek habis-habisan kepongahan manusia biasa, yang mendadak cemas dan lari setiap kali ada bahaya, yang nantinya diatasi Superman.

Namun, kembali ke Salman Rusdhi, dengan ironi yang mencorong dari penampilan dan keberadaan si manusia super di antara manusia-manusia pongah sejagad – ternyata si manusia super – mempunyai kelemahan. Ia akan lumpuh bila berdekatan dengan Kryptonite. Jenis batu yang berasal dari pecahan planetnya, Krypton.

Dan dalam Fury-nya Salman Rushdi, Kryptonite itu dijelmakan sebagai kota-kota besar yang melumpuhkan individu seperti Malik Solanka, ketika harus kembali ke kamar apartemennya sendirian. Lunglai di lautan kesunyian kota, tercerabut dari kepribadiannya yang hablur di tengah massa. Hingga, ia hanya dapat meringkuk, menghiba-hiba, di dasar kenangan.

Di tingkat perbandingan pemaknaan seperti ini, Salman Rusdhi dan Quentin Tarantino, membuat kita ikut mengkaji lagi pemaknaan Superman. Khususnya tentang Superman, yang hanya dapat dilumpuhkan oleh Kryptonite, dari Krypton, planet Asalnya. Sebagaimana manusia biasa, Anda, saya, kita semua, takluk ke Asal?

Manusia super itu, ternyata fana!

Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 1 Juli 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home