Wednesday, September 27, 2006

Malam Puisi Humor Merdeka

Puisi humor selalu menghibur ketika dibacakan, tapi juga memiliki kekuatan pencerahan yang khas dan mudah diterima siapa saja.

A. Slamet Widodo kembali membuat kejutan dengan Real Estate Indonesia (REI) Peduli Seni “Parade Seni Humor Merdeka” di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, 7/9/2006. Dalam acara yang diproyeksikan sebagai malam peringatan kemerdekaan ke-61 tahun Republik Indonesia ini, Slamet mengusung Menteri Negara Perumahan Rakyat Yusuf As’yari, Juru Bicara Presiden SBY Andi Mallarangeng, Ketua REI Lukman Purnomo Sidi, Putu Wijaya, Basuki, Ine Febrianti, Imam Soleh, Wawan Sofwan, Jose Rizal Manua bersama kelompok teaternya yang baru saja memenangkan penghargaan dari festival teater anak-anak di Jerman, dll.

Penampil pertama, yang langsung menyita perhatian adalah kepiawaian aktor monolog dari Bandung, Wawan Sofwan, yang mendramatisasikan pidato Bung Karno dalam hari lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945 di depan sidang BPUPKI. Wawan demikian fasih melafalkan gaya pengucapan Bung Karno, ketika menjabarkan sila-sila Pancasila usulannya yang dimulai dari: 1. Kebangsaan Indonesia dan Nasionalisme; 2. Perikemanusiaan atau Internasionalisme; 3. Muafakat atau Demokrasi; 4. Kesejahteraan sosial; dan 5. Ketuhanan yang Maha Esa.

Dan dengarlah bagaimana sebagian besar pidato Bung Karno yang bersejarah itu dihidupkan lagi oleh Wawan Sofwan. “Saudara-saudara, kenapa kita sebagai pemimpin rakyat, yang mengetahui sejarah, menjadi zwaarwichtig, menjadi gentar, pada hal semboyan Indonesia merdeka bukan sekarang saja kita siarkan? Berpuluh-puluh tahun yang lalu, kita telah menyiarkan semboyan Indonesia merdeka, bahkan sejak tahun 1932 dengan nyata-nyata kita mempunyai semboyan "INDONESIA MERDEKA SEKARANG". Bahkan 3 kali sekarang, yaitu Indonesia Merdeka sekarang, sekarang, sekarang!”

“Dan sekarang kita menghadapi kesempatan untuk menyusun Indonesia merdeka, - kok lantas kita zwaarwichtig dan gentar hati! Saudara -saudara, saya peringatkan sekali lagi, Indonesia Merdeka, political independence, politieke onafhankelijkheid, tidak lain dan tidak bukan ialah satu jembatan! Jangan gentar! Jikalau umpamanya kita pada saat sekarang ini diberikan kesempatan oleh Dai Nippon untuk merdeka, maka dengan mudah Gunseikan diganti dengan orang yang bernama Tjondro Asmoro, atau Soomubutyoo diganti dengan orang yang bernama Abdul Halim. Jikalau umpamanya Butyoo Butyoo diganti dengan orang-orang Indonesia, pada sekarang ini, sebenarnya kita telah mendapat political independence, politieke onafhankelijkheid, - in one night, di dalam satu malam! Saudara-saudara, pemuda-pemuda yang 2 milyun, semuanya bersemboyan: Indonesia merdeka, sekarang! Jikalau umpamanya Balatentera Dai Nippon sekarang menyerahkan urusan negara kepada saudara-saudara, apakah saudara-saudara akan menolak, serta berkata: mangke- rumiyin, tunggu dulu, minta ini dan itu selesai dulu, baru kita berani menerima urusan negara Indonesia merdeka?”

“Tidak! Tidak”

Dan tentang prinsip ketuhanan, bagi Bung Karno yang disampaikan Wawan Sofwan secara berapi-api adalah: “Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad s.a.w., orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada "egoisme-agama". Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang bertuhan!”

“Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain.”

Indonesia Raya

Dan di gedung Graha Bhakti, TIM, pidato Bung Karno itu kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan Indonesia Raya oleh anak-anak di atas panggung bersama Wawan dan juga segenap hadirin. Hingga acara yang semula terbayang sepenuhnya bermuatan humor, mengingat A. Slamet Widodo kini semakin dikenal sebagai seorang pengusaha yang rajin memasyarakatkan puisi-puisi humor, tidak saja di kalangan kesenian tapi juga di kalangan yang lebih luas – ternyata tidak sepenuhnya benar.

Sebab malam itu, berbagai aspek kehidupan yang dapat dibangunkan oleh puisi serentak hadir secara berbaur. Dari serius, bergeser ke humor, masuk lagi ke serius, dan lepas lagi ke humor. Setelah fase monolog Wawan yang serius misalnya, selanjutnya acara pembacaan puisi bersuasana cair, lucu, bahkan sangat lucu; meskipun tak harus direkayasa dengan penampilan “melucu”, karena puisi yang dibacakan telah memiliki anasir humor yang kaya. Seperti puisi Nelayan karya Jeihan, yang dibawakan Menteri Negara Perumahan Rakyat Yusuf As’yari. Puisi tersebut menggambarkan hubungan terbuka antara seorang nelayan dengan alam, yang diandaikan si nelayan sebagai jejak Tuhan. Ketika si nelayan tenggelam di lautan, dengan kecut ia menyimpulkan, bahwa hal itu hanya karena ia bermain-main mengemudikan perahunya, sementara Tuhan selalu bersungguh-sungguh dengan badainya.

Mempertentangkan kondisi sosial Indonesia kini dengan janji-janji kemerdekaan, digambarkan oleh puisi Ketua REI Lukman Purnomo Sidi. Lukman berterus terang, ketika diminta Slamet untuk menciptakan puisi dan membacakannya di TIM, ia stres berat. Namun ia tak mau menghindari tantangan itu. Ia pun menuliskan sebuah puisi retorik, tentang janji-janji kemerdekaan, dan niatnya sebagai seorang pengusaha perumahan, agar dapat membangun semakin banyak lagi rumah bagi rakyat kecil.

Selanjutnya Juru Bicara Presiden SBY, Andi Mallarangeng, sengaja membacakan dua puisi karya Presiden SBY. Satu puisi berupa respons interteks atas lirik lagu Ebiet G Ade tentang Berita Kepada Kawan, dan puisi kedua berjudul Partai Sukar Maju. Kedua puisi bersifat kontekstual, langsung membicarakan perkembangan sosial Indonesia. Yang pertama tentang Indonesia yang seperti tak habis-habisnya mengalami cobaan melalui bencana alam dan kelengahan manusianya mengelola alam, sedangkan puisi kedua menyoroti dengan tajam fenomena calon legislatif dan partai-partai yang menjamur, tidak saja dari segi jumlah, juga ragam janji yang tak pernah diwujudkan.

Yang juga layak dicatat adalah puisi Nugroho, seorang pengusaha yang senang menulis puisi, berjudul Jilbab. Puisinya lancar membenturkan berbagai kenyataan yang bisa muncul dari seorang Pramudya Ananta Toer yang mengomentari jilbab. Pramudya pernah bertanya:/Mengapa taplak dikenakan di kepala?// Apa dia tidak tahu itu jilbab/Bodoh sekali dia sebagai penulis ternama// Tapi kalau dia bodoh,/kenapa bisa masuk penjara/Tapi kalau otaknya bebel,/Kenapa menjadi calon penerima Nobel.

Demikian puisi ini mengalir bersahut-sahutan, antara sampiran dan isi, yang kemudian memuncak pada larik: Atau,/Mungkin dia iri/Melihat pembauran telah terjadi/Wanita muslim berbusana ala biarawati/Menjadi pelayan-pelayan Tuhan, duta religi// Yang pasti dia pemikir, yang karyanya mendunia/Yang jelas, dia sengaja mencari gara-gara// Kalau begitu pasti dia orang yang pintar/Melempar pernyataan agar otak diputar.

Sebuah klimaks yang cerdik, setelah ruang diskusi dibuka lebar agar dimasuki pembaca (atau pendengar) secara serius. Sebuah tawaran reflektif yang layak dibawa pulang, dari malam pembacaan puisi kemerdekaan REI tersebut.


Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 17 September 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home