Tuesday, September 26, 2006

Mencari Bintang Kehidupan

Shiawase no Ichibanboshi, sebuah film keluarga dengan alur sederhana, memukau dengan suguhan dialog unik dan segar, menegaskan sebuah tema penting: kegembiraan hidup.


Nama saya Miyoko, 16 tahun, dari desa, seorang remaja perempuan lulusan SMP yang sudah tidak memiliki ayah, memilih menjadi pembantu di rumah seorang duda berputri satu di kota. Di samping saya memang membutuhkan uang untuk hidup, saya juga mencari figur seorang ayah… Mungkin begitulah kalimat-kalimat perkenalan yang akan disampaikan Miyoko (16) kepada penonton, seiring film Shiawase no Ichibanboshi yang sedang ditayangkan di Japan Foundation, Summitmas I, lt 2, 11 Juli lalu tersebut.

Film arahan sutradara Nariyuki Yamane yang juga menulis skenarionya ini, diproduksi tahun 1974, dengan para pemain Miyoko Asada, Hideki Saijo, Isao Yamagata, dll. Kesan “lama” langsung terasa dari gambar yang tidak lagi begitu bersih, dengan penampilan para pemain berdandanan celana “cutbrai” dan rambut gondrong, khusus pemudanya. Dengan warna-warni pakaian serba norak, tebal, sepatu hak tinggi, khusus pemudinya. Termasuk Miyoko, si remaja dari desa yang memenuhi panggilan kerja ke rumah duda Kamayama, seorang pensiunan reserse yang terkenal kikir dan pemuja uang.

Kedatangan Miyoko ternyata sudah dalam rencana Kamayama yang hendak memutuskan hubungan ayah-anak bersama putri tunggalnya Yuko, yang hamil di luar nikah. Kamayama tidak hanya keberatan dengan kehamilan sang putri, tapi juga tak sudi bermenantukan seorang pemilik warung sake di pinggir jalan, meskipun pria tersebut saling-cinta dengan sang putri. Pengusiran kepada sang putri dilakukan bersamaan harinya dengan dimulainya hari kerja si manis Miyoko yang selalu tulus dan murah senyum

“Cinta adalah nonsens,” kata Kamayama kepada Miyoko, ketika Miyoko sebulan kemudian meminta agar Kamayama menerima kembali sang putri dan juga pria kecintaannya.

“Maksud saya, cinta yang baik adalah cinta yang muncul kemudian, secara perlahan-lahan,” ungkap Kamayama.

“Ooh, jadi Pak Kamayama menjalani perkawinan yang diatur ya,” kata Miyoko tertawa.

“Apa salahnya dengan perkawinan yang diatur, kalau hasilnya bagus?” cetus Kamayama terkesima.

Kamayama benar-benar kaget pada perubahan dirinya sendiri, yang mulai senang berdiskusi dengan pembantunya itu. Bahkan dapat pula menerima kenyataan, bahwa pembantunya itu senang menyanyi, padahal ia sendiri benci menyanyi sejak kematian istrinya.

Miyoko memang membawa banyak perubahan ke dalam rumah Kamayama. Ia rajin bekerja dan senang menyanyi. Ia menyukai dan menghormati Kamayama yang memiliki “bau tubuh” seperti mendiang ayahnya. Ia juga menjadi perhatian para pria muda, termasuk dua anak tetangga, dan seorang pembantu rumah laundri langganan Janet, Hideki. Dan perubahan Kamayama, seiak awal telah menjadi perhatian Janet dan anak kos lainnya. Lama sebelum kedatangan Miyoko, untuk menambah uang untuk membayar rekening listrik, air, dan jumlah tabungan, Kamayama sudah menerima dua orang anak gadis kos di rumahnya, menghuni dua kamar loteng.

Cinta reserse dan si pencopet

“Ini akan menarik. Si pelayan baru itu ‘mengalahkan’ si kikir,” begitulah Janet dan teman kosnya memperbincangkan Miyoko. Janet (yang membuat cerita film semakin menarik), ternyata di samping bekerja sebagai kasir di sebuah bar pada malam hari, pada siang hari memiliki kesukaan aneh: mencopet. Untuk kebiasaannya, ia melakukannya di sebuah arena balap speedboat. Ketika para penonton sibuk bertaruh dan mengikuti siapa yang akan menjadi pemenang pertandingan, saat itu Janet akan menubrukkan dirinya pada calon korban seraya mencopet.

Dan suatu hari, Jenet pun bertemu dengan Kamayama dan Sako di arena balap. Kamayama yang mau menyimpan uangnya di bank, kecopetan. Lalu berniat mencari ganti kerugiannya dengan berjudi. Tapi yang terjadi kemudian, Kamayama malah bertambah rugi. Meskipun Sako, bekas anak buahnya itu, telah membantunya memenangkan sebuah pertandingan dengan tebakan nomor yang tepat.

Saat itu, Sako sedang bertugas mengusut kasus banyaknya pencopetan yang terjadi di arena balap speedboat. Bersamaan, ia pun tertarik kepada Janet yang ternyata kos di rumah bekas atasannya, Kamayama. Ironi pun mengembang lancar dan mengundang keingintahuan. Akankah Janet tertangkap Sako? Bagaimana perasaan Kamayama, si mantan reserse, bila mengetahui bahwa anak gadis yang kos di rumahnya memiliki kerja sampingan sebagai pencopet? Si pencopet bersembunyi di rumah pensiunan reserse? Wah!

Persoalan keluarga Kamayama yang tidak mau menerima Yuko dan pacarnya, kemudian tumpang tindih dengan kehidupan anak kos dan dunia kepolisian. Mestinya, cerita bisa berbelit-belit untuk menciptakan suspens yang mengejutkan, karena bahan cerita atau sumber konflik memang tersedia. Sutradara tinggal mempermainkan alur, dan selanjutnya mengaduk-aduk perasaan penonton yang sudah menunggu.

Tapi, film keluarga dan digarap sederhana ini bukanlah film hiburan yang sekadar memompakan suspens; melainkan disiapkan untuk penonton yang mengharapkan penanganan kisah yang wajar namun serius. Nariyuki Yamane, memang memilih cara sederhana memuaskan keingintahuan penonton, sekaligus menyenangkan para tokoh cerita. Tapi, cara tersebut benar-benar jitu sebagai langkah drama-sinematik berkualitas.

Di sinilah Mencari Bintang Kebahagiaan (terjemahan Indonesia) menawarkan hiburan yang tidak akan mudah dilupakan. Mengapa Nariyuki Yamane memulai filmnya dengan Miyoko yang memasuki kota, dengan keluguan dan keceriaan, terjawab kemudian. Karena senyum dan kegembiraan Miyoko-lah yang menjadi bintang kebahagiaan bagi Kamayama, Yuko, ataupun Janet. Seorang pembantu, telah menyelamatkan kehidupan bathin, harga diri, maupun masa depan para majikan yang terperangkap keegoisan orang-orang dewasa. Kamayama terbebani rasa takut kehilangan putri, setelah kehilangan istri; sekaligus tak rela mendapatkan menantu yang “tidak lebih” darinya. Sedangkan Janet tercekam sensasi ketakutan dan kegembiraan, saat berhasil mencopet; ia begitu sukar menghilangkannya.

Adalah akal Miyoko dan Hideki si pemuda dari rumah laundri, yang membuka peluang bagi Kamayama melihat cucunya yang sudah lahir, lalu mengetahui namanya diambil sebagian dari namanya. Kamayama kemudian berbaikan dengan sang putri, sang menantu, dan juga mendapatkan sang cucu, lalu mulai pula senang menyanyi.

Dan ketulusan Miyoko merahasiakan kehidupan Janet sebagai pencopet itulah, yang membuat Janet berani memulai hidup baru di kota lain, namun kemudian digagalkan Sako yang mencintai Janet. Sang reserse siap mengawini Janet tanpa pernah mengetahui, bahwa Janet adalah salah seorang pencopet yang pernah diburunya. Tentu saja, Kamayama sendiri tak pernah mengetahui, bahwa Janet yang pernah kos di rumahnya adalah seorang pencopet.

Dengan happy ending ini, Nariyuki Yamane mengingatkan kita secara samar: jangan pernah meremehkan manusia lain. Karena setiap saat, kita membutuhkan uluran tangan penuh ketulusan dan keceriaan dari siapa pun. Juga dari seorang pembantu rumah tangga.

Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 16 Juli 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home