Wednesday, September 27, 2006

Misteri Pembunuhan Tak Terpecahkan

Menggabungan dua cerpen Ryunosuke Akutagawa, Rashomon dan In a Groove, Akira Kurosawa membuat sebuah film pembunuhan dan perkosaan yang unik dan sering diulas sampai sekarang: Rashomon.

“Kalau angin tak bertiup pada siang yang panas itu, barangkali saya tidak akan membunuh,” kata Tajomaru, seorang bandit yang dituduh (dan juga mengaku) membunuh Samurai. Pengakuan itu disampaikan bandit Tajomaru di depan pengusutan polisi. Samurai sedang berjalan kaki menuntun kuda yang ditunggangi istrinya di tepi hutan antara Sekiyama-Yamashima. Akibat semilir angin, maka kain transparan yang menutupi betis dan wajah istri si Samurai pun tersingkap. Sepasang mata Tajomaru yang setengah mengantuk di bawah sebuah pohon rindang sontak terbelalak. Tajomaru terpesona dan terangsang oleh betis mulus dan wajah cantik istri si Samurai. Penonton dapat melihat jelas, saat memandang dengan setengah rebah itu, tangan Tajomaru perlahan menarik pedangnya.

Pembunuhan langsung terbayang. Tapi kemudian buyar. Suami istri berlalu. Namun Tajomaru bangkit dan berlari mengejar pasangan suami-istri itu. Ketika sudah berhadapan, Tajomaru patenteng-patenteng menarik perhatian. Lalu mencabut dan menunjukkan pedangnya. “Mau apa kamu?” tanya si Samurai waspada. “Selain pedang ini, saya juga punya cermin yang saya temukan dekat kuburan. Kalau tertarik dan ingin membeli murah, mari ikut saya,” kata Tajomaru memancing. Scene pun memperlihatkan adegan Tajomaru yang berlari diikuti si Samurai yang terpikat ke dalam hutan, di antara pohon-pohon rimbun yang kelihatannya sudah akrab dengan Tajomaru. Hingga, di sebuah pojokan rimbunan pepohonan, Tajomaru menaklukkan si Samurai.

Itulah awal cerita bersimpang empat Rashomon garapan Akira Kurosawa yang diproduksi (dan mendapat berbagai penghargaan internasional sejak) tahun 1950, namun keunikan skenarionya (bentuk elipsis, tak ada awal dan akhir) sampai sekarang menjadi bahan kajian dan mengundang perdebatan. Sebuah kisah berlatar belakang abad XII di Kiyoto, Jepang, ketika perang saudara, epidemi, pembumihangusan, dan bandit-bandit meraja lela. Dipaparkan melalui efektivitas dialog, adegan, posisi kamera – serempak dengan maksimalisasi properti dan motif psikologis penokohan, yang mengusung berbagai tema kemanusiaan – patut mendapatkan acungan dua jempol. Meskipun, Rashomon hanyalah sebuah film hitam putih yang berasal dari sebuah negeri Timur, Jepang, yang lima tahun sebelumnya diluluhlantakkan bom atom Amerika Serikat.

Rashomon memukau dan menimbulkan diskusi sampai film usai ditayangkan. Penonton akan bersikukuh dengan versi pengakuan yang paling masuk akal menurut cakrawalanya. Tajomaru mengaku membunuh si Samurai dalam sebuah pertarungan pedang yang adil, atas permintaan istri si Samurai yang tak ingin “dimiliki” dua lelaki. Lalu, si istri kabur. Sementara, istri si Samurai mengaku, ia-lah yang tak sengaja membunuh suaminya dengan belati, sepeninggal Tajomaru, karena tak tahan atas tatapan menghina dari sang suami.

Lalu si Samurai, melalui bantuan seorang medium yang memanggil rohnya, ternyata memiliki versi sendiri tentang pembunuhan yang menimpanya. Seusai menodai istrinya, Tajomaru melamar istrinya agar hidup bersamanya. Istri si Samurai setuju tapi meminta membunuh suaminya terlebih dulu. Tajomaro keberatan dan marah, hingga si istri melarikan diri. Tajomaru pun mengejar. Semua ini disaksikan si Samurai yang terikat. Kemudian Tajomaru kembali dan melepaskan ikatan si Samurai, lalu pergi lagi setelah merampas pedangnya. Kenyataan itu sungguh menyakitkan si Samurai. Ia tak sanggup lagi menanggung rasa malu karena dikhianati istri dan dihina bandit. Ia memilih bunuh diri demi kehormatannya. Namun, dalam sekaratnya, ia merasakan seseorang mencabut belati dari dadanya, dan ia pun mati.

Pengusutan yang gagal

Rashomon adalah cerita seorang pendeta dan seorang penebang kayu kepada seorang pengembara yang sama-sama berteduh dari hujan di kuil rusak Rashomon. Si pendeta ikut bersaksi di depan polisi, mengisahkan betapa ia pernah melihat Samurai dan istrinya di tepi hutan antara Sekiyama-Yamashima. Si penebang kayu bersaksi menemukan mayat si Samurai. Si pendeta dan si penebang kayu sama-sama mendengar pengakuan berlainan dari Tajomaru, istri Samurai, dan hantu si Samurai.

Sampai di sini, pengusutan polisi tak berhasil menentukan siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa pembunuhan si Samurai. Film juga tak mengisahkan bagaimana kelanjutan pengadilan yang tak berhasil memecahkan misteri tersebut. Tapi penonton disuguhi lagi sebuah simpang cerita lain untuk dipertimbangkan, sekaligus menambah kebingungan. Kenyataan yang membuat si pendeta semakin mengalami krisis kepercayaan kepada manusia. Ketika di kuil rusak Rashomon, si penebang kayu kemudian menuturkan kisah pembunuhan dan perkosaan versinya.

Menurut si penebang kayu, si Samurai mati oleh pedang, bukan belati. Setelah menodai istri si Samurai, memang terjadi pertarungan antara Tajomaru dan Samurai. Namun pertarungan bukanlah adu ketangkasan antara dua jagoan. Tapi antara seorang suami yang kalap mempertahankan harga diri, dengan seorang bandit yang selalu gemetar saat mengangkat pedang. Perkelahian yang berlangsung bukanlah tanding ketangkasan kaki maupun tangan atau adu pedang sampai “23 jurus” seperti kisah Tajomaru. Melainkan perkelahian serabutan, di tengah hutan, dengan kegugupan konyol yang begitu berhasil ditonjolkan kedua pemeran, dan diarahkan dalam kaidah realisme oleh Akira Kurosawa.

Dengan gaya ini, Kurosawa seperti menegaskan, meskipun seseorang adalah prajurit atau samurai yang diandaikan “mesin pembunuh”, atau seorang bandit yang biasa bergentayangan di hutan gelap membegal orang lewat – namun ketika berkelahi dengan taruhan nyawa – rasa takut dan kegamangan manusiawilah yang ada. Manusia, siapa pun dia, akan takut berhadapan dengan maut sedemikian dekatnya; hanya sebatas sebuah tebasan pedang yang semberono dan kalap, atau sekibas tusukan pedang tajam ke arah perut atau leher. Dan sepasang mata bulat, besar, menyorotkan jiwa yang gelisah, yang dipertontonkan aktor Toshiro Mifune yang memainkan Tajomaru, begitu intens, berhasil membangun konflik dan ketegangan.

Lalu, sang Samurai kemudian terperosok ke sebuah rimbunan semak yang segera dimanfaatkan Tajomaru – dengan tatapan ngeri – menancapkan pedangnya. Penonton tak pernah tahu seperti apa ekspresi si Samurai saat tertusuk pedang. Yang menyerbu tatapan penonton adalah ketakutan dan kegusaran yang muncul bersamaan di wajah Tajomaru yang segera merampas pedang si Samurai. Sementara, istri si Samurai sudah lama kabur entah ke mana.

Tinggallah si penebang kayu sebagai saksi, yang ceritanya ternyata tak dipercayai si pengembara. Si pengembara berdalih, kalau si penebang kayu memang memiliki kesaksian, kenapa tak menceritakan seluruhnya di depan polisi. Kenapa hanya mengaku menemukan mayat si Samurai. Menurutnya, si penebang kayu memang sengaja menghindari keharusan menceritakan semuanya di depan polisi, karena ia-lah orang yang mencabut belati dari dada si Samurai yang pastilah barang mahal.

Begitulah sebuah kisah pembunuhan dan perkosaan di tengah hutan, berkembang ke empat arah penceritaan berlainan, oleh tiga orang yang terlibat dan seorang saksi mata. Keempatnya membuka kemungkinan: menonjolkan kehebatan pribadi (Tajomaru), antara kesetiaan dan keterhinaan (istri si Samurai), harga diri dan kepongahan (Samurai), serta pamrih harta benda (penebang kayu). Keempatnya bersikukuh bahwa ceritanyalah yang benar. Namun, karena pembunuhan hanya terjadi sekali, pastilah hanya satu versi yang benar. Tapi, yang mana?

Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 12 Agustus 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home