Wednesday, September 27, 2006

Perjalanan Kehilangan Cinta dan Ciuman

Film berkisah tentang masyarakat, memerlukan bioskop untuk menayangkan dan masyarakat untuk menontonnya. Dan berbicara tentang masyarakat, berarti mempersoalkan nilai-nilai.


“Dan saya menolak pornografi,” kata Pastor Adelfio (Leopoldo Trieste) dengan wajah penuh kebencian seraya membunyikan lonceng di tangannya di dalam kegelapan bioskop. Saat itu ia sendirian sedang menonton film yang akan ditayangkan untuk umum besok. Sementara di ruang proyektor, Alfredo (Philippe Noiret) dengan cepat menandai adegan-adegan yang akan digunting, setiap kali lonceng dibunyikan sang pastor. Lalu di balik tirai, bocah Salvatore (Salvatore Cascio) yang selalu mengintip peristiwa semacam itu setiap malam, semakin menyukai dunia film. Ia selalu mengamati setiap tahapan kerja Alfredo di ruang proyektornya. Dan berkali-kali ia sudah meminta guntingan-guntingan adegan “porno” yang digunting itu, namun tak pernah diberikan. Alfredo, seorang suami berusia tiga puluhan, kemudian bersahabat dengan Salvatore yang hidup bersama ibu dan adik perempuannya, karena ayahnya tak pernah kembali dari perang di Rusia.

Film Cinema Paradiso garapan sutradara Italia Guiseppe Tornatore yang juga menulis skenario, mendapat penghargaan di beberapa festival bergengsi, termasuk film asing terbaik Piala Oscar 1990, sesungguhnya merupakan benang merah yang merentang panjang sebagai persahabatan mengesankan dan mengharukan, antara Alfredo dan Salvatore. Film dimulai ketika Salvatore dewasa (Jacques Perrin) dipanggil pulang ke kota kelahirannya, di Sicilia, oleh telepon ibunya, yang mengabarkan bahwa Alfredo sudah meninggal dunia dan akan dimakamkan esok harinya. Kabar ini memaksa Salvatore menoleh kembali ke masa lalunya, kota kecilnya, yang sudah tidak dikunjunginya selama 30 tahun; meskipun ia terus berhubungan dengan ibunya, terutama karena ia ikut membantu keuangan ibu dan keluarga adiknya.

Tiga perempat film kemudian adalah flashback. Memperlihatkan Salvatore sebagai bocah altar yang sering mengantuk ketika membantu Pastor Adelfio menyampaikan doa-doa di gereja. Ada yang kontras antara si anak altar yang selalu membunyikan lonceng dalam setiap pergantian tahapan upacara doa, dengan perbuatan sang pastor saat menyensor film di bioskop. Dan karena Salvatore sering kedapatan mengantuk, Pasto Adelfio selalu kesal dan bertanya-tanya ke mana saja Salvatore pada larut malam. Apakah ia tidak pernah tidur? Kalau ia mengetahui bahwa Salvatore juga ikut ke bioskop, dan mencuri-curi menonton, maka film tentunya akan berjalan lain.

Di sampaing menyukai dunia film dan selalu mengupayakan apa pun agar dapat ikut menonton di bioskop, termasuk menggunakan uang pembeli susu adiknya, Salvatore ternyata anak cerdas dan cukup populer di sekolah. Ketika terjadi ujian kenaikan kelas, bersamaan dengan murid-murid sekolah malam yang umumnya “para bapak” buta huruf, di antaranya Alfredo, Salvatore membuat perjanjian akan membantu Alfredo dalam ujiannya asalkan diajari mengoperasikan proyektor di gedung bioskop. Alfredo terpaksa menerima, karena ia memang tidak mengetahui sama sekali jawaban soal-soal yang diberikan pada ujian kenaikan kelas itu.

Salvatore pun kini secara terbuka menjadi asisten Alfredo. Bahkan ketika terjadi kecelakaan yang membuat Alfredo buta, Salvatore kemudian dipercaya sebagai petugas proyektor baru. Kecelakaan itu tidak saja mencelakakan Alfredo, tapi juga membakar gedung Cinema Paradiso. Pastor Adelfio bingung, dari mana biaya untuk merenovasi bioskop yang sudah terbakar itu. Ia tahu persis, bioskop sangat berguna sebagai arena hiburan bagi masyarakat setempat yang sebagian besar menjadi umatnya di gereja. Untunglah seorang pengusaha tertarik menanamkan modal. Lalu Cinema Paradiso baru pun berdiri megah, dengan operator proyektor Salvatore remaja (Marco Leonardi).

Membebaskan adegan ciuman

Cinema Paradiso baru, rekanan investor baru, dan operator proyektor baru, ternyata langsung membawa perubahan. Kini, tak ada lagi sensor oleh sang pastor. Untuk pertama kalinya terdengarlah tepuk tangan gembira di gedung bioskop itu, ketika adegan ciuman dapat mereka saksikan dengan utuh. Tepuk tangan untuk pengusaha baru dan operator baru. Lalu, bioskop pun semakin ramai oleh penonton. Ragam kegiatan mereka campur aduk: ada yang menonton, ada yang berpacaran, ada yang tidur, ada yang memamerkan pengetahuannya tentang apa saja, dan ada juga serombongan anak-anak yang menikmati tontonan dewasa dengan mata melotot.

Dialog-dialog politik masa itu, di tengah Perang Dunia II dan kemudian pasca-Perang Dunia II pun berlontaran dari mulut para penonton sebelum film diputar.

“Sial, pengangguran di mana-mana.”

“Cari saja kerja ke negeri Stalin.”

“Asal kamu tahu, massa itu tak berpikir. Mereka tak pernah tahu apa yang dibicarakannya.”

Lalu perilaku anggota masyarakat Sicilia di gedung bioskop itu pun memenuhi layar. Ada yang mengorok dan selalu saja tak jera meskipun sudah berkali-kali “dikerjai” orang-orang di sekitar, seperti memasukkan kecoa ke dalam mulutnya. Orang yang mengorok itu tentu terbangun dan marah-marah, tapi kemudian melanjutkan ngoroknya; sementara orang-orang menertawakannya. Lalu, ada seorang penonton di balkon yang senang meludah kepada penonton di bawahnya. Dan di bagian belakang, para lelaki hidung belang antri memasuki kamar praktek seorang wanita penghibur.

Dan saat-saat seperti inilah Salvatore tumbuh menjadi remaja dewasa. Ia mengenali hubungan seks untuk pertama kalinya dari si wanita penghibur itu. Ia juga mulai suka membuat film dengan kamera sederhana, termasuk merekam wajah cantik Elena (Agnese Nano), murid baru di sekolahnya, dan putri seorang manajer bank. Mereka saling mencintai, namun tidak mendapat dukungan dari ayah Elena. Elena akan dijodohkan dengan anak seorang rekan bankirnya. Elena melawan dan menandaskan bahwa pria yang dicintainya adalah Salvatore. Mereka berdua berjanji akan kabur meninggalkan kota itu.

Film kemudian memperlihatkan, bagaimana Alfredo mengambil peran dalam kehidupan Salvatore ketika berhasil memisahkan Salvatore dengan Elena. Alfredo mengetahui kapasitas dan mimpi-mimpi Salvatore tentang dunia film. Alfredo tidak ingin Salvatore mengakhiri hidupnya hanya menjadi seorang pria kota kecil, yang mengandalkan hidup dari pekerjaan operator proyektor film di bioskop Cinema Paradiso. Meski Cinema Paradiso kini sudah mempunyai cabang di tempat lain, dengan cara membedakan jam tayang, agar kedua bioskop hanya menyewa satu film. Alfredo juga tak ingin, nasib Salvatore berakhir sebagai pria dilanda cinta dan kabur bersama pasangannya ke kota lain. Alfredo memang ingin Salvatore pergi ke kota lain, khususnya ke ibu kota Roma, sendirian saja, untuk mewujudkan cita-citanya.

Salvatore tentu tak mengetahui keterlibatan Alfredo seperti itu. Yang ia tahu adalah ketika ia berjanji berjumpa di gedung bioskop dengan Elena, agar mereka kawin lari ke kota lain, Elena tidak pernah muncul. Salvatore kemudian kabur ke Roma membawa pedih, dan berhasil menempa dirinya sebagai seorang sutradara dan juga produser terkenal, Salvatore Di Vita. Namun sampai tiga puluh tahun kemudian, ia masih tetap hidup sendirian, tanpa cinta, meski dalam kesehariannya selalu gonta-ganti wanita. Benaknya masih menyimpan luka, akibat ditinggal pergi Elena. Dan kesempatan pulang menguburkan Alfredo, ternyata membukakan tabir keterlibatan Alfredo di dalam hidupnya, termasuk memisahkannya dengan Elena, yang kemudian membuatnya sukses sebagai orang film.

Semua itu ia dengar langsung dari Elena, seusai penguburan Alfredo, dalam pertemuan penuh cinta 30 tahun kemudian. Keduanya sudah beranjak setengah abad. Elena memiliki putra dan putri remaja, dan bersuamikan seorang politikus. Sementara Salvatore mendapatkan warisan dari Alredo: guntingan-guntingan berbagai adegan ciuman yang sudah dirangkainya menjadi sebuah film panjang. Salvatore menontonnya sendirian, di Roma, di gedung studio filmnya. Ciuman-ciuman yang hilang dari masa kanaknya itu, oleh lonceng Pastor Adelfio, kini kembali ke masa tuanya melengkapi kisah hidupnya yang kini tak lagi mencari-cari apa yang pernah hilang itu. Ciuman dan cinta.

Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 16 September 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home