Wednesday, September 27, 2006

Tiga Versi Sebuah Pertemuan Malam

Studi Teater Bandung (STB) kembali mentas. Dari sebuah ruang tamu, lapis-lapis obsesi dan kesadaran manusia dipertontonkan.

Beberapa hal layak dicatat dari pementasan Tiga Kehidupan karya penulis teater asal Prancis, Yasmina Reza (47) oleh STB, pada 28,29 Juli 2006 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tentu saja tak ada lagi sosok tokoh teater Suyatna Anirun secara langsung. Namun pola penyutradaraan dan kepercayaannya yang tinggi atas akting realisme dipegang teguh oleh Yoto C Durachman yang mengajar teater di STSI Bandung dan IKJ, ketika menyutradarai Elly Martini (Sonia), Anggiat Tornado (Henri/Suami Sonia), Ines (Retno Dwimarwati), Hubert (Suami Ines), dan Genya Anuceni Kurnain (anak laki-laki).

Kisahnya bermula dari niat Henri dan Sonia mengundang makan malam Hubert dan Ines. Hubert adalah atasan Henri. Henri sudah tiga tahun tidak mendapatkan promosi dalam kariernya. Undangan makan malam itu akan dimanfaatkan Henri untuk membujuk Hubert membantunya dalam meningkatkan karier. Tapi apa yang terjadi? Hubert dan Ines datang semalam lebih cepat. Sehingga pertemuan pun berlangsung “kering”. Makan malam tak dapat dilangsungkan, karena yang tersedia di rumah hanya beberapa makanan kecil. Untung saja Henri sudah menyiapkan berbotol-botol anggur. Namun ada pula gangguan dari anak laki-laki Henri dan Sonia yang susah tidur, dan sebentar-sebentar menangis, minta minum, ingin makan cokelat, makan apel, diputarkan musik, ditemani, dll.

Di tengah kekalutan semacam inilah, kedatangan Hubert dan Ines menjadi tidak menyenangkan bagi Henri dan Sonia. Obrolan pun berkembang menjadi ketergopohan. Makan dan minum apa adanya, perilaku anak yang menangis dan memanggil pun menjadi penghias perbincangan. Henri rikuh karena situasi keluarganya yang ia anggap mengundang antipati dari Henri dan Ines. Sementara Sonia kurang puas melihat perilaku anak mereka, juga perbuatan suaminya yang merendahkan diri di hadapan Hubert.

Dalam pertemuan yang lebih dulu semalam dari undangan makan malam itu, tak terhindarkan, beberapa kali terjadi ketegangan antara Sonia dan Hubert, Ines dan Hubert, Henri dan Sonia, juga Henri dan Hubert. Sonia merasa Hubert adalah atasan yang sombong dan tak layak “dijilat” suaminya. Bagi Hubert, perilaku istrinya, Ines, yang suka mencampuri pembicaraan tentang teori ilmu pengetahuan alam sudah keterlaluan, karena hanya menunjukkan kebodohannya sebagai ibu rumah tangga. Hubert kelihatannya lebih kagum kepada Sonia yang bekerja sebagai pengacara. Sementara Henri kesal melihat Sonia mendebat tamu yang dihormatinya, lalu pada saat yang sama juga merasa terganggu oleh kabar yang dibawa Hubert bahwa karya tulis yang dikerjakannya selama tiga tahun sudah dipublikasikan lebih dulu oleh orang lain.

Lalu, sesekali anak lak-laki Henri-Sonia mengambil peran. Ia menangis dari dalam kamar yang tak kelihatan, memaksa Henri atau Sonia keluar masuk kamar, dan juga menyertakan Ines yang ingin mengenal sang anak yang menurut Hubert “kolokan”, karena permintaannya selalu dituruti Henri dan Sonia.

Kisah pun berkembang menarik ketika adegan selanjutnya dimulai. Penonton dapat menyaksikan bagaimana kru panggung ikut menata meja, mengeluarkan gelas dan botol minuman, mempersiapkan seting minimalis untuk adegan berikutnya. Lalu, adegan yang sama pun berlangsung: kunjungan yang lebih dulu semalam itu berulang kembali. Namun kali ini mengalir sebagai kisah berbeda. Meski dalam kunjungan yang sama, ke tempat yang itu-itu juga.

Kini, tanpa sepengetahuan Henri dan Sonia, Hubert sesekali beradegan mesra dengan Sonia. Sementara, dialog antarmereka tak banyak berubah. Masih soal Henri yang ingin “menjilat” Hubert, Hubert yang melecehkan Henri, Ines yang selalu tidak dihargai oleh Hubert, sampai permainan bawah sadar Hubert dan Sonia yang terkesan saling membenci di adegan sebelumnya, ternyata melakukan perselingkuhan pada adegan berikutnya. Hingga, bisa kita sinyalir bahwa tiga versi adegan yang kemudian terjadi, dua di antaranya adalah bagian dari obsesi bawah sadar beberapa tokoh cerita itu, yang kini ditampilkan sebagai kenyataan.

Mabuk berlebihan menjadi logika pendukung untuk penerjemahan arus bawah sadar semacam ini. Seolah dalam kehidupan seseorang di atas panggung, secara bersamaan kita melihat kehidupan nyatanya, dan juga berbagai angan yang diharapkan berlangsung dalam kehidupannya. Henri “menjilat” karena ingin mendapat promosi, namun ketika mabuk mampu meremehkan kesombongan Hubert, dan mengatasi persoalan harga dirinya di depan Sonia. Ia beberapa kali bersama Ines masuk ke kamar anaknya. Apa yang mereka lakukan? Tidak mustahil, ia bersama Ines pun memiliki obsesi berselingkuh sebagai pria dan wanita yang sama-sama diremehkan pasangan masing-masing.

Sementara, logika pendukung lain bagi tumpang-tindihnya adegan tiga versi ini, adalah si tokoh anak laki-laki yang sukar tidur, meskipun sudah diberi makanan, ditemani, diperdengarkan musik. Si anak bisa dibayangkan sedang timbul tenggelam dalam ambang sadar dan kantuk, berkali-kali, dan setiap kali selalu mengulang-ulang adegan yang sama dengan arah perkembangan berlainan di benaknya, bergantung tingkat kesadaran dan daya serapnya atas tema perbincangan.

Sebab, pintu kamar memang selalu dibuka, hingga ia bisa mendengar setiap perbincangan dari sana. Artinya, para penonton yang menyaksikan kisah Tiga Kehidupan karya Yasmina Reza, bisa diandaikan sedang menonton isi benak seorang anak yang sedang melamunkan berbagai adegan di ruang tamu rumahnya.

Teknik adegan berulang dengan berbagai versi ini tidak mengejutkan lagi dalam dunia teater dan film. Judul yang langsung teringat adalah Rashomon karya Ryunosuke Akutagawa yang kemudian difilmkan oleh Akira Kurosawa. Kisah seorang samurai yang ditemukan mati di dalam hutan oleh seorang penebang kayu, sementara istrinya kabur setelah diperkosa oleh seorang bandit. Ketika terjadi pengusutan, persoalan terbunuhnya si samurai tak kunjung terungkap. Si istri, si bandit, hantu si samurai yang dipanggil leat medium, bahkan si penebang kayu, saling mempertahankan versi masing-masing. Hingga, mana cerita yang sesungguhnya, dibiarkan menjadi bahasan penonton.

Demikian pula Tiga Kehidupan. Lamunan si anak yang sukar tidurkah, atau arus bawah sadar para tokoh yang sudah mabuk berat yang dipertontonkan itu? Terserah penonton. Yoyo C. Durachman hanya menyuguhkannya dengan apik.

Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 6 Agustus 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home