Wednesday, September 27, 2006

Wahyu Turun di Hutan Vietnam

Apocalypse Now menjadi film terbaik Coppola tahun 1979. Kontroversial dan menyengat – membongkar sisi hitam petualangan Amerika di Vietnam.

Kapten Benjamin L. Willard (Martin Sheen) mendapat tugas baru untuk memburu Kolonel Walter E. Kurtz (Marlon Brando). Dari berbagai laporan yang berhasil dikumpulkan sejawat Kurtz (Harrison Ford) dari markas besar tentara pendudukan Amerika di Vietnam, yang kini menugaskan Willard, Kurtz telah menjadi seorang pemimpin gerombolan para tentara desersi di pedalaman hutan Vietnam, di perbatasan Kamboja. Keberadaan Kurtz yang “gila” jelas kurang menguntungkan bagi tegaknya citra Amerika sebagai tentara pembebasan di Vietnam Selatan. Maka, tugas Willard adalah menonaktifkan Kurtz, alias menghukum mati.

Willard tak bisa menolak, karena ia sendiri sudah tidak menemukan cara hidup lain kecuali bergentayangan di hutan-hutan Vietnam. Perang telah mengubah pola pikir dan kesadarannya. Willard menjadi ‘mesin pembunuh’, yang baru merasakan hasrat dan semangat hidup hanya dalam perburuan. Willard memulai perburuannya dengan kapal kecil menyusuri sebuah sungai ke pedalaman hutan Vietnam. Dalam perjalanan ini ia ditemani beberapa prajurit Amerika, dan harus mampir ke pos-pos pengisian bahan bakar dan makanan, juga mengambil beberapa berkas penugasannya ke sebuah pos yang berada di tepi pantai, di bawah komando Letnan Kolonel Bill Kilgore (Robert Duvall) yang nyentrik.

Willard menambah catatan pengalamannya ber-Vietnam di lingkungan pos komando Kilgore, tentang kesia-siaan yang menghantui sebagian prajurit Amerika. Perang telah menjadi pekerjaan keseharian yang menyita perhatian dan menimbulkan stres bagi mereka. Para prajurit itu tak memiliki tujuan lain kecuali membunuh atau dibunuh. Maka di antara kedua kemungkinan itu, mereka selalu menyempatkan diri berselancar di tepi pantai, menunggang ombak, di antara desingan peluru yang dimuntahkan pasukan Vietcong dari balik hutan. Sementara Kilgore sendiri, sambil mengobrol gembira dengan seorang peselancar nasional Amerika yang menjadi tentara dan anggota rombongan Willard, dengan santai menyampaikan perintah-perintah pembumihangusan kepada pasukan helikopter dan pesawat pembom Amerika yang berseliweran di atas mereka.

Di antara ombak berdebur di pantai, di layar pun terpampang rentetan bola api yang ditembakkan pesawat-pesawat pembom Amerika, membumihanguskan hutan-hutan di bawahnya. Efek suara baling-baling helikopter, deru pesawat pembom, menghasilkan suara yang mendebarkan diselingi nyanyian yang mengalunkan kesedihan tentang kematian dan kesementaraan hidup. Willard menyaksikan hal itu, seraya berlalu dengan kapal dan pasukan kecilnya menyusur sungai, melanjutkan perburuannya. Willard kini telah mendapatkan seluruh berkas tentang Kurtz, agar ia mengetahui berbagai hal tentang musuh yang harus dinonaktifkannya.

Selama dalam perjalanan, Willard semakin mengenali sosok Kurtz. Kurtz ternyata adalah seorang tentara teladan Amerika yang selalu mendapatkan nilai terbaik dalam setiap pelatihan atau pendidikan angkatan darat yang dilaluinya. Kurtz bahkan pernah mendapatkan peluang menjadi seorang jenderal angkatan darat, namun seperti sengaja menghindarinya dengan menempuh pendidikan tentara penerbang dari awal. Kurtz terkesan mencari sesuatu yang lebih tinggi dari sekadar puncak karier militer sebagai jenderal. Kurtz agaknya memiliki persoalan penting dengan kebijakan perang Amerika, dan ia ingin mendapatkan jawabannya di Vietnam.

Maka Kurtz pun segera dikirim sebagai tentara penerbang ke Vietnam, dan selanjutnya berhasil mendapatkan sukses dari berbagai penyerangan yang dilakukannya. Namun tiba-tiba ia raib di tengah rimba Vietnam, dilanjutkan dengan berbagai isu tentang sosoknya yang telah menjelma menjadi seorang “raja” di tengah hutan. Raja dari suku-suku pedalaman, dan juga para tentara Amerika yang melakukan desersi karena tidak tahan oleh kejamnya perang.

Perang menghancurkan manusia

Tak pelak lagi, Apocalypse Now memang bukan sekadar film perang hitam putih yang ingin membenarkan Amerika dan menyalahkan Vietnam Utara atau Vietcong. Francis Ford Coppola menjadikan filmnya sebagai esai filsafat dengan bahasa sinematik. Coppola mempertanyakan apa makna hidup bagi seorang prajurit, di mana batas-batas kekuasaan negara atas individu, masyarakat atau bangsa lain, dan apakah seorang prajurit dibenarkan membunuh sesama manusia. Coppola juga menyampaikan pikiran-pikiran kritisnya tentang kebijakan militer Amerika yang “royal” peralatan militer, dan terkesan membuang-buang uang yang dikumpulkan dari pajak masyarakat Amerika. Terpampang pula dalam bentuk gambar-gambar impresif, bagaimana perang telah mendehumanisasikan para prajurit hingga berperilaku “gila”.

Maka, ketika akhirnya terjadi pertemuan Willard dengan Kurtz mendekati ujung film, suasana mencekam muncul secara khas dan menjadi salah satu kekayaan film. Gambar sering kali gelap, dengan lintasan potongan-potongan puisi yang sedang dibacakan Kurtz. Kurtz mengetahui persis tugas Willard adalah mengahiri hidupnya. Ia bisa saja menghancurkan Willard lebih dulu, namun ia juga mengagumi keberanian Willard yang secara terbuka masuk ke sarangnya. Terjadi dialog intens antara keduanya, yang telah ‘ditakdirkan’ negara sebagai musuh meski sebangsa. Kurtz mengejek Willard yang menjadikan hidupnya hanya “alat” negara kapitalis Amerika. Sedangkan Willard mengatakan Kurtz cuma manusia biasa, bukan negara apalagi Tuhan yang bisa menentukan hidup-mati orang lain di luar hukum.

Kurtz tidak membantah, tapi balik menuding Willard sedang menipu diri sendiri bila dengan membunuhnya merasa sedang melaksanakan tugas mulia dari negara. Willard menegaskan, ia memang hanya seorang prajurit, bukan manusia istimewa; dan itu sudah cukup. Lalu secara unik, adegan kemudian memperlihatkan bagaimana Kurtz seperti sengaja menyiapkan dua pilihan bagi Willard: menjadi pengikutnya, atau menuntaskan tugas membunuhnya.

Willard ternyata menolak menjadi pengikut. Ia mencari peluang mendekati Kurtz yang selalu dikelilingi pengawal. Willard kemudian berhasil mendekati dan menyerang Kurtz dengan sebilah golok telanjang. Kurtz tersungkur oleh bacokan Willard, setelah Kurtz membacakan sebuah puisi dan bersiap memimpin sebuah upacara pemotongan hewan. Para pengikut Kurtz hanya mematung mengetahui hal itu. Sebagaian dari mereka dapat menduga bahwa Kurtz sudah dibunuh, namun mereka tidak mengetahui akan berbuat apa kepada Willard. Mereka sudah terlalu lama terbiasa hanya menerima perintah dari Kurtz. Willard pun dibiarkan berlalu dengan wajah was-was, kembali ke kapal kecilnya. Namun, sosok Kurtz yang berwibawa, tegas, berkarakter, memiliki visi mendalam tentang kehidupan tanpa perang, dan mungkin juga agak gila karena tekanan perang – tetap membayang meski film sudah usai. Kurtz dimainkan baik sekali oleh Marlon Brando.



Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 19 Agustus 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home