Tuesday, September 26, 2006

Wayang Padang Wisran Hadi

Menangisi Tanah Pusaka yang Dijarah

Perubahan tak terbantahkan, tapi identitas wajib dipertahankan. Karena identitas adalah senjata kebudayaan; awal, proses, dan akhir hidup seseorang.

Bumi Teater Padang kembali menggeliat. Itulah yang menyosok dari pertunjukannya di TIM, 14-16 Juli 2006. Kali ini dengan naskah Wayang Padang, ditulis dan disutradarai sang “kepala suku” Wisran Hadi. Sutradara yang juga novelis terkenal dari Padang ini, kembali memperlihatkan kapasitasnya sebagai penggiat teater kenyang pengalaman dan cerdas menggarap panggung.

Keistimewaan langsung tampak dari pemanfaatan bilah-bilah bambu seperti angklung yang digantungkan berjajar di langit-langit pentas, terlihat oleh penonton dan digarap artistik, sesekali ditarik dari luar dan menghasilkan bunyi-bunyian seperti gemuruh pepohonan bambu di pojok kampung, atau desau angin, kicau burung-burung, suara orang-orangan pengusir burung-burung di sawah, juga sesekali dimanfaatkan mempertegas penggantian adegan atau memuncaknya sebuah perbincangan.

Lalu batang pisang. Belasan batang pisang dibiarkan tergeletak di lantai menjadi petak-petak persawahan, sekaligus menjadi gedebok tempat wayang orang-orangan pengusir burung ditancapkan, juga wayang para petani, dan nantinya formasi dan fungsi batang-batang pisang itu dapat diubah mengikuti arah cerita. Suatu saat ia menjadi batang-batang pemikiran suku bangsa di Indonesia yang susah berdiri menyatu, karena tidak saling menopang (baca: bahaya disintegrasi). Saat lain batang-batang pisang itu diubah menjadi rakit bagi para petani, mencari tanah baru di hulu sungai, karena tanah pusaka yang dulu ikut mereka garap telah dijual kepada orang lain (baca: ancaman pembangunan fisik).

Dan kini, ceritanya. Alkisah, seorang Penghulu (Ade Lukas) menjual tanah pusaka persawahannya untuk mendapatkan uang “pembeli” pria bagi keponakan perempuannya yang dalam cerita ini juga menjadi Perempuan Penunggu tanah pusaka. Peran dimainkan oleh penyair senior asal Padang, Upita Agustine, yang sepanjang pertunjukan hari pertama tak bisa menggerakkan tangan kanannya yang terpaksa dibebat. “Dia terjatuh saat latihan,” kata Darman Munir, Pimpinan Produksi kepada Jurnal Nasional.

Begitulah. Adat mengharuskan wanita Minang “membeli” pria, namun adat mengharuskan tanah pusaka tak boleh dijual. Di sini para wayang orang-orangan pengusir burung (terbuat dari kerangka bambu dibungkus kemeja dan diberi kepala balon), burung-burung (para aktris dengan kostum daun-daun pisang), dan para petani (kerangka bambu terbungkus kemeja yang bersampirkan sarung dengan kepala balon) ikut mengalirkan kisah menjadi sebuah pertunjukan satu setengah jam yang tidak membosankan. Para wayang dimainkan aktor-aktor yang bertindak selaku dalang, atau pemeraga wayang, baik itu saat menjadi orang-orangan pengusir burung ataupun petani.

“Aneh, orang-orangan ini tidak mengetahui bahwa tanah pusaka akan dijual,” kata seekor burung, ketika para burung menggunjingkan para orang-orangan pengusir burung yang ketinggalan berita.

“Kita hanya orang-orangan, tak bisa mengendalikan situasi. Keberadaan kita hanya digerakkan, didalangi,” demikian orang-orangan pengusir burung menerima kenyataan.

Sementara para petani dicekam bimbang, bahkan kemudian perpecahan. Mereka harus memihak Penghulu yang mau menjual tanah pusaka, atau sang Perempuan Penunggu yang mau mempertahankan tanah pusaka. Para petani kemudian mengikuti anjuran Penghulu agar mereka berakit-rakit ke hulu mencari kehidupan baru, tanah pusaka baru.

Namun dalam perjalanan para petani menyadari eksistensi mereka yang selalu terombang-ambing pengharapan akan tanah baru, juga panggilan kehidupan lama. Hingga mereka menyadari, bahwa sepanjang masa mereka selalu berakit-rakit ke hulu, berakit-rakit ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersakit-sakit berkepanjangan. Sebuah sindiran pahit untuk janji-janji kemakmuran dari setiap gagasan pembangunan yang tak pernah sampai kepada petani.

Masuknya lagu-lagu dalam berbagai irama pop minang, jazz, dengan kata-kata repetitif: menjauhlah, menjauhlah para penjarah, para pemecah belah, menjauhlah, menjauhlah menjadi penyampai pesan sekaligus penyegar pertujukan, ketika didukung komposisi gerak, mengayun, kaki dan tangan, seperti randai. Sayangnya permainan cahaya terasa kurang menyatu. Tertolong oleh musik yang mampu menjaga irama pertunjukan, sekaligus menyiapkan imajinasi penonton menjangkau makna setiap gerak dan dialog para aktor dari satu topik ke topik lain. Wayang Padang memang mencoba menginventarisir berbagai persoalan sosial-politik-budaya di Indonesia saat ini.

“Ini repotnya kalau para pemimpin pedagang semua,” kata orang-orangan pengusir burung dan orang-orangan petani dalam sebuah adegan.

“Siapa kau? Siapa kita? Di mana kita sekarang?” begitulah pertanyaan para petani saat mereka tercerabut dari tanah pusaka yang terjual. Sebuah pertanyaan dasar bagi siapa saja yang kehilangan identitas.

Tak pelak, Wisran Hadi masih berada dalam pertempuran lamanya sebagai seniman yang berusaha mempertahankan nilai-nilai tradisional, dalam hal ini adat Minang. Baik itu saat berbenturan dengan budaya nasional, juga digempur budaya luar yang semakin mengasingkan manusia-manusia Minang dari tanah pusakanya.

Tapi tanah pusaka dalam Wayang Padang bisa melebar sebagai metafora untuk kemandirian adat-istiadat suku, rasa kebangsaan, kedaulatan ekonomi dan politik, kepribadian individual, maupun kelektivitas kelompok yang semakin tergerus perkembangan zaman, juga perubahan konstalasi politik regional dan global, maupun serbuan bahkan jarahan industri budaya pop di Indonesia.

Hanya saja, siapa mampu melepaskan diri dari semua gesekan itu? Wisran barangkali tak mempertanyakannya. Karena ia hanya mengingatkan, bahwa kebudayaan suku, kolektivitas tradisional – masih menunggu untuk dihidupkan terus oleh para pemeluk – yang tidak ingin kehilangan identitas.

Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 23 Juli 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home