Tuesday, October 10, 2006

Biografi yang Memperkaya Teks Fiksi

Kaum formalis mengembalikan penilaian mutu sastra semata-mata ke semua unsur intrinsik karya yang diteliti. Namun dalam kasus Raoul Schrott, cara itu agak merugikan.

Adakah kaitan langsung antara biografi seorang sastrawan dengan karya yang diciptakannya? Umar Junus pernah jenuh dengan pendekatan biografis, ketika sastra Indonesia terjerembab pada gunjingan biografi seniman dan semakin jauh dari pencapaian karyanya. Namun ketika mengamati karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Prof Dr A Teeuw dalam Citra Manusia Indonesia dalam Karya Pramoedya Ananta Toer secara meyakinkan menunjukkan, betapa eratnya kehidupan keseharian (biografi) Pram dengan karya-karya terbaiknya, seperti Perburuan, Bukan Pasar Malam, Midah si Manis Bergigi Emas, termasuk tetralogi Pulau Buru. Dari sini, seorang sastrawan dalam pengamatan Teeuw, sedikit banyak ternyata menjadikan kesehariannya sebagai bahan reflektif untuk menghidupkan karya-karya fiksinya. Dengan begitu, interpretasi atas karya, dapat pula dilakukan dengan bercermin pada kehidupan pengarangnya.

Dalam kasus lain, keterikatan biografi dengan hasil karya dapat juga disimak pada karya Raoul Schrott, khususnya Die Wuste Lop Nor (The Desert of Lop Nor) yang terjemahan bahasa Indonesianya Gurun Lop Nor dibacakan di GoetheHaus, Jakarta, pada 28 September 2006. Schrott membacakannya dalam bahasa Jerman, sedangkan Arswendi Nasution (Aktor Teater Mandiri) membacakannya dalam bahasa Indonesia. Mereka ditemani Nirwan Arsuka yang bertindak selaku moderator. Disponsori Goethe Institut Jakarta, Schrott sengaja datang ke Indonesia dalam rangka mengikuti festival seni di Ubud, Bali, dan menyempatkan mampir mengisi acara di GoetheHaus malam itu.

Gurun Lor Nop merupakan kisah cinta 112 halaman, yang ditulis dalam bentuk prosa liris. Menguraikan ingatan atas berbagai negara dan kota yang pernah dilalui si tokoh cerita, Raoul Louper. Kisah pria dengan tiga wanita, sebuah kota kecil di gurun pasir, dan tentang perjalanan ke berbagai benua. Suatu kali, selama seminggu Raoul Louper mengambil bus menuju Kairo; tiba di sana, cerita pun dimulai. Tentang hasrat yang membuatnya selalu pergi dari tiga wanita dalam kehidupannya, Elif, Fransesca, dan Arlette. Disinggung juga pengalaman-pengalaman unik di gurun pasir, ketika mendengar “nyanyian pasir”, badai pasir, dan panasnya gurun. Selama itu, si tokoh utama selalu teringat kepada tiga wanita yang ditinggalkannya di negeri mereka masing-masing.

Demikianlah di bab awal (bab II) Schrott memulai pengembaraan tokohnya:

Rumah itu terletak di atas bukit. Dia menyewa lantai atas, yang bisa dicapainya melalui tangga di samping rumah.

Di dalam kamar yang satu-satunya itu ada sebuah meja dari kayu ek dan sebuah peti; di ceruk jendela tergeletak satu buah pinus, sebuah jimat, dan sebuah batu.

Hanya itu yang mengingatkannya kepada ketiga perempuan yang pernah bersamanya.

Pemilik rumah menyuruh anak perempuannya mengantarkan makanan ke atas. Anak itu meletakkannya dalam mangkuk di atas meja.

Laki-laki itu bernama Raoul Louper, ia berusia 43 tahun, setengah Yahudi, dan lahir di Pulau Porquerolles di Teluk Toulon.

Dari desa itu tidak jauh ke Alexanria.

Pertemuan darat dan laut terasa monoton

Sebuah penceritaan puitis yang menggabungkan deskripsi, monolog interior, juga semangat mendongeng. Indikasi bentuk penceritaan yang banyak dilakukan Gabriel Garcia Marquez dan Milan Kundera. Menggabungkan kenangan dan fantasi secara sejajar, didukung fakta yang bisa ditemukan siapa pun yang kebetulan berpeluang mengulangi pengalaman yang sama. Kisah “nyanyian pasir” gurun, tentu sering kita dengar. Bagaimana pada malam-malam tertentu, para pelintas gurun tergoda suara-suara “mirip manusia” yang ternyata hanya akibat gesekan pasir-pasir yangs sedang diputar dan diterbangkan angin kencang secara berulang di tempat yang sama. Dengan anasir ini, jelas sudah, bahwa Schrott sedang menyoroti kenyataan yang dibentuk oleh teks. Ontologi dipertanyakan.

Tapi sebelum itu, inilah biografi Schrott yang menurut saya ikut memperkaya tulisannya. Penulis Austria ini lahir pada 1964 di Sao Paulo, Brasil; dibesarkan di Tunisia dan Landeck (Tirol), dan kini menetap di Irlandia. Ia mempelajari filologi dan sastra di Norwegia, Paris, Berlin dan Innsbruck. Mendapat gelar Master bidang filsafat tahun 1986 dan PhD tahun 1988. Kini ia termasuk pengarang berbahasa Jerman terpenting: dikenal sebagai penerbit, penyair, novelis, esais, dan terutama penerjemah. Karyanya “Die Erfindung der Poesie” (Penemuan Puisi), yang berisi terjemahan puisi-puisi dari seluruh dunia selama kurun waktu 4000 tahun terakhir, menggemparkan jagat sastra Jerman khususnya. Penghargaan demi penghargaan pun terus diperolehnya. Di antaranya: penghargaan sastra dari Salzburg, beasiswa Robert Musil, penghargaan dari pameran buku Frankfurt, dll.

Dan penting dikemukakan, Schrott menguasai berbagai bahasa yang tidak biasa, a.l. Provencalis, Okzitanis dan Galisch (bahasa Skotlandia kuno). Sejak tahun 1994, hampir setiap tahun ia menerbitkan: kumpulan puisi, kumpulan esai, novel, dan juga karya-karya terjemahan. Membekas dalam karyanya, khususnya Gurun Lop Nor – yang tersaji sebagai prosa liris dengan aspek filosofis yang kaya – nuansa cakrawala sastra lintas budaya dan negara. Dan mencuat juga, betapa batas-batas geografis yang dilalui Schrott membuyar dalam teksnya, hingga ketika mengikuti kisah pelukis Raoul, protagonis Gurun Lor Nop, kita seperti sedang bertamasya menikmati cakrawala sastra China klasik, Eropa, maupun Afrika secara bersamaan. Hal ini dimungkinkan oleh kebebasan Schrott mengolah teksnya, secara liris dan lentur, tidak terjerat kaku oleh aturan puisi maupun formalitas prosa.

Pendekatan posmodernisme yang membebaskan karya dari keharusan ontologis, bisa dimanfaatkan menyoroti operasionalisasi teks yang dilakukan Schrott. Tapi lihatlah kelincahan imajinasi dan kekayaan suasana yang serentak dihadirkannya dalam Gurun Lor Nop, tak cukup tertangkap oleh kategorisasi relatifnya epistemologi ataupun terbelahnya ontologi kalangan posmodernisme. Sebab terbuka pula peluang, menikmati kekayaan teks Lor Nop sebagai jaring semiotik dengan musikalisasi dan visualisasi pemaknaan yang terangkat bersamanya.

Longgarnya ontologi kenyataan dalam Lor Nop, dengan gamblang dapat disimak dari cara Raoul menganyam teks di dalam kisah percintaan Bulan Sabit dengan Sha-shan-ze. Kisah kasih tak sampai Sha-shan-ze yang miskin dengan Bulan Sabit putri seorang kaya itu, muncul sebagai cerita di dalam cerita; teks di dalam teks. Bulan Sabit dan Sha-shan-ze dipisahkan oleh takdir sosial; Bulan Sabit dikawinkan dengan seorang jenderal, dan Sha-shan-ze putus asa. Akhir cerita mudah ditebak, kematian tragis Sha-shan-ze dan Bulan Sabit. Namun kemenangan cinta kemudian dikonkretkan melalui metafora alam, menyatunya danau dengan bukit pasir; danau air mata Bulan Sabit dan bukit pasir kuburan Sha-shan-ze.

Ceritakanlah sebuah kisah untukku, Arlette berkata. Apa kisah paling bagus yang kau tahu? Karanglah sebuah kisah untukku, tidak masalah apakah kisah itu benar atau tidak.(bab XVII)

Ceritakanlah sebuah kisah untukku, Elif berkata. Dan pastikan kisah itu akan menjadi kenyataan.(bab LVII)

Si tokoh utama, Raoul pun berkisah kepada gadis-gadisnya tentang juru tulis di Dun Huang, yang mempunyai anak perempuan bernama Bulan Sabit yang mencintai pemuda Sha-shan-ze. Uniknya (sebagai gambaran kebebasan mengoperasikan teks sekaligus diragukannya ontologi), gadis-gadis Raoul ternyata mendapatkan alur dan akhir cerita yang tidak sama; meski pesannya senada: memenangkan cinta tragis di atas ketidakadilan.

Schrott juga sengaja melakukan hubungan interteks antara Bulan Sabit – Sha-shan-ze dengan kisah China yang lebih populer, Sampek – Engthai, yang juga bermotif cinta tragis. Berkat pergaulan Schrott dengan banyak teks, terjadilah teks melahirkan teks, yang akan terus pula menemukan tokoh cerita dan para pembaca baru. Itulah kemenangan teks sastra, yang kali ini, menurut saya, hanya dapat lahir akibat lekatnya biografi Schrott yang menekuni beragam bahasa dan kebudayaan, sebagai modal kreatifnya melahirkan karya.

Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 8 Oktober 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home