Tuesday, October 10, 2006

Leila, Luka Eksistensial Perempuan

Tradisi mengharuskan seorang suami memperoleh keturunan dari istrinya. Bila itu tidak berhasil, tradisi mendukung suami mendapatkannya dari istri yang lain.

Apa yang salah dengan poligami? Mengapa orang tertentu mendukungnya, dan orang lain menolaknya? Lalu, apa pula tujuan berumah tangga? Semata-mata melanjutkan keturunankah, atau cukup dengan membahagiakan mereka yang melakoninya? Berdua sampai tua, bila tidak ada atau malah tidak membutuhkan keturunan? Mengapa pula seorang ibu (dan mertua) demikian berperan mengatur rumah tangga anak-anaknya?

Dengan tempo lambat namun enak disimak, Dariush Mehrjui mengurai filmnya Leila dengan bayang-bayang berbagai pertanyaan di atas. Beberapa jawaban dan kemungkinan sempat ditawarkan Dariush atas beberapa persoalan. Namun secara keseluruhan, para tokoh menjalani kehidupannya secara wajar, tanpa dicekoki ide-ide besar Dariush.

Tersebutlah Leila, putri sebuah keluarga modern Iran, yang diperkenalkan kepada Reza, teman kakaknya Hossein. Dari perkenalan ini, orangtua Leila memutuskan akan menikahkah Leila dengan Reza. Dan Leila setuju.

Pernikahan mereka berlangsung bahagia. Paling tidak ini diperlihatkan gambar-gambar, bagaimana keduanya menjalani keseharian dengan terbuka, mesra, saling memberikan perhatian. Reza terkadang membawakan hadiah-hadiah untuk Leila, di antaranya sebuah boneka binatang berekor panjang (marsupaliami), yang secara semiotik menunjukkan bahwa Iran tak terasing dari kemodernan. Marsupaliami adalah sebuah tokoh komik Hollywood yang laris dan dikenal di seluruh dunia.

Leila dan Reza juga terkadang mengisi malam mereka dengan menonton video, dan yang kebetulan mereka tonton dalam film adalah Dr Zhivago yang diperankan oleh Omar Shariff. Artinya, kehidupan mereka memang aman-aman saja, meskipun belum dikaruniai anak.

Anak. Itulah pangkal persoalan yang menunjukkan, bagaimana seorang individu di Iran adalah bagian dari keluarga sebelumnya, mengusung pula keinginan ayah-ibu. Dari hasil tes laboratoium, kandungan Leila dianggap kurang produktif untuk pembuahan. Untuk pembuahan di luar kandungan Reza tak setuju. Sementara, ibu Reza menginginkan cucu dari Reza, dan sangat keberatan bila tidak adanya keturunan Reza akan ditafsirkan sebagai kegagalan Reza memberikan keturunan. “Kami tak memiliki anggota keluarga yang tak mampu memberikan keturunan, semuanya normal,” kata Ibu Reza kepada Leila.

Ibu Reza pun meminta dan bahkan menekankan agar Leila mendukung Reza menikah lagi, agar mendapatkan keturunan langsung. Dukungan Leila akan sama saja dengan mempertahankan kemuliaannya sebagai istri yang mengerti kebutuhan dan kehormatan suami. Dan Leila sendiri tak ingin keluarganya mengetahui, bahwa rumah tangganya bergejolak karena ketidakmampuannya memberikan keturunan.

Dengan berat hati Leila menerima permintaan ibu mertuanya. Ia teramat mencintai Reza dan menghormati mertuanya. Itulah nilai-nilai keperempuanan yang dikenalnya, meskipun ia seorang perempuan Iran modern. Padahal Reza sudah berkali-kali menegaskan lebih menginginkan Leila daripada anak. Namun Leila memilih harus menahankan perihnya luka, ketika harus membantu Reza memilihkan istri kedua.

Tragis. Itulah yang disampaikan Dariush Mehrjui yang menyutradarai dan juga menulis skenario film ini. Diperagakan melalui perilaku para pelakon yang tenang, tidak banyak mengobral senyum maupun kata-kata, “anak” menyosok sebagai keturunan yang sangat didambakan sekaligus mencuatkan teror mental dalam keseharian Leila dan Reza.

Doa menawar takdir

Untuk itulah Leila rajin berdoa, salat tahajud, meminta kepada Tuhan agar ia diberikan kekuatan menghadapi cobaan. “Begitu banyak anak-anak di dunia, mengapa tak satu pun yang datang dari rahimku,” tanya Leila dalam satu doanya.

Lalu dalam dialog bersama Homeyra, adik Reza, yang memandang sedih kepada Leila, Leila berucap, “Tak ada yang perlu disesalkan. Mereka sudah menggariskan nasib di keningku sebelum saya lahir,” kata Leila lirih mempersoalan takdir yang tidak adil.

Dan tentu saja mengundang simpati luar biasa ketika garis hidup yang dijalani Leila adalah, bagaimana ia harus membantu Reza mencarikan istri kedua baginya. Mereka berangkat dalam satu mobil ke dalam kota, lalu Leila diturunkan di sebuah taman, dan bersembunyi di antara pepohonan atau di balik papan iklan, mengintai ke tikungan jalan. Dari tikungan itulah, setiap kali Reza akan muncul membawa calon istrinya, bersama calon mertuanya. Reza akan melambatkan mobil sehingga Leila dapat mengintai jelas ke arah calon “madunya”.

Dari beberapa orang gadis yang diperkenalkan, ada saja penolakan yang muncul dari Reza. Kalau bukan soal fisik, tata bahasa, minat yang tidak sama, juga keengganan meninggalkan Leila. Namun selama ini, Leila sendiri selalu mengatakan mendukung.

“Kali ini ia sudah tahu bahwa perkawinan tujuannya untuk mendapatkan keturunan,” cerita Reza tentang suatu calon kepada Leila.

“Gadis itu berkata, seorang anak tak mungkin didapatkan tanpa cinta. Dan mustahil seorang suami dapat membagi cinta secara adil kepada dua orang wanita dalam waktu bersamaan. Untuk itu saya meminta kamu menceraikan Leila. Begitulah permintaannya,” lanjut Reza.

“Kamu menjawab apa?” tanya Leila.

“Saya katakan, hal yang paling mustahil saya lakukan adalah menceraikan Leila yang sangat saya cintai,” jawab Reza.

Mendengar itu Leila merasa bahagia, namun wajahnya langsung muram, karena ia menyadari persoalan mereka belum juga selesai. Telepon demi telepon dari ibu mertuanya akan kembali datang, menanyakan hasil perkenalan itu. Dalam film ini, Dariush menggambarkan ibu Reza bergerak agresif dengan kerinduannya mendapatkan cucu dari Reza, dan sebaliknya dengan ayah Reza yang lebih bersimpati kepada Leila, namun kelihatannya tak berdaya oleh kebudayaan atau tradisi keluarga yang memberikan harga tinggi bagi hadirnya keturunan dari seorang anak.

Ibu Reza pun meminta tolong kepada adiknya, bibi Reza, agar mencarikan perempuan lain. Dan ditemukanlah seorang janda yang ditinggal mati suaminya. Kali ini, Reza bersedia. Ia menyukai keperibadian janda itu, dan juga bersimpati atas kehidupannya. Maka semakin lengkaplah penderitaan Leila.

Namun film kemudian memperlihatkan, bagaimana Leila adalah pribadi kuat dan tabah menjalani tradisi. Ia membersihkan rumah, mengepel lantai, mengganti semua seprei, membereskan lemari utama, dan menyiapkan kamar tamu untuk dirinya sendiri. Ia menyiapkan bunga-bunga segar di kamar tidurnya, yang nantinya akan menjadi kamar pengantin bagi Reza dan istrinya yang baru.

Dan malam pesta perkawinan pun usai. Reza membawa istri keduanya ke rumah, diikuti keluarga dan teman-teman istri keduanya, berpesta di rumah Reza. Semua barang dan makanan sudah menanti, siap digunakan dan dimanfaatkan. Semuanya sudah dipersiapkan oleh Leila. Namun ketika malam pengantin dimulai, Leila tak dapat lagi menahankan penderitaan batinnya. Ia kabur, kembali ke rumah orangtuanya, dan menceritakan semua yang terjadi.

Leila pun teringat, akan ucapan seorang bibi Reza, bahwa Reza pastilah sama saja seperti pria-pria lainnya – tak akan menolak berpoligami bila kesempatan untuk itu memang tersedia. Namun, Dariush Mehrjui mengangakan kenyataan lain, bahwa luka-luka banyak Leila bisa jadi terus mengucurkan darah perih untuk poligami itu.

Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 7 Oktober 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home