Tuesday, October 10, 2006

Perjalanan Berbahaya ke Kandahar


Bermaksud menyelamatkan saudarinya yang mau bunuh diri karena putus asa, seorang wartawati dari Kanada berusaha menyelusup ke Afghanistan.

Kandahar adalah karya istimewa Mohsen Makhmalbaf, sutradara Iran terkenal, yang segera mendapatkan berbagai penghargaan internasional ketika disertakan di beberapa festival perfilman bergengsi lima tahun lalu. Kandahar, itulah kota di bagian utara Afghanistan yang menjadi tujuan Nafas, seorang wartawati keturunan Afghanistan yang sudah berhasil meninggalkan Afghanistan dan menetap di Kanada. Nafas ingin kembali ke Afghanistan, untuk menyelamatkan saudarinya yang mau bunuh diri. Kabar itu didapatnya melalui surat yang dikirimkan tiga bulan sebelumnya. Dari tangan ke tangan, surat itu sampai ke tangan Nafas dua bulan kemudian. Nafas hanya memiliki batas waktu sebulan untuk menyelamatkan saudarinya tersebut.

Masalah menghadang. Nafas adalah seorang jurnalis yang banyak terlibat dalam gerakan swadaya masyarakat memperjuangkan nasib wanita di Iran, Pakitas, Kazakhstan, Turkmenistan, hingga kesulitan mendapatkan visa kunjungan ke Afghanistan. Untuk itulah ia menumpang sebuah helikopter yang menerbangkannya ke gurun pasir di bagian utara Iran. Dari sana, melalui perjalanan darat, ia akan menuju Kandahar. Sebuah jalan pintas yang diharapkannya dapat ditempuhnya agar ia sempat menolong saudarinya.

Selama dalam perjalanan, Nafas merekam peristiwa dan pengalaman yang dilaluinya ke dalam taperecorder. “Ini black box saya. Yang akan dapat menceritakan apa yang sudah saya lalui, bila sesuatu terjadi pada saya,” kata Nafas kepada pilot helikopter yang menerbangkannya.

Nafas kemudian mendapatkan sebuah keluarga keturunan Mongol yang mau dikembalikan pemerintah Iran ke Afghanistan. Nafas diizinkan ikut rombongan itu dengan membayar 200 dolar, harus mengenakan burga, dan menyamar sebagai istri keempat si pria Mongol. Masa itu pemerintah Iran berusaha mengembalikan para pengungsi yang datang dari Afghanistan dan telah merepotkan Iran. Dengan bantuan PBB, pemerintah Iran mengembalikan setiap pengungsi Afghanistan, dengan bekal 1 dolar per orang.

Nafas tentu saja tidak menerima 1 dolar jatahnya, malah ia membayar kepada si pria Mongol yang menjadi kepala rombongan itu. Mereka menuju Kandahar dengan menumpang sebuah bajay. Si pria Mongol dengan tiga istrinya, lima putrinya, ditambah Nafas. Dan nasib sial menimpa. Sopir bajay bersama keneknya membajak mereka di tengah jalan. Harta benda mereka dirampas, dan mereka ditinggalkan begitu saja di tengah gurun pasir.

Kemudian, dengan menumpang pedati yang lewat dari tempat itu, si kepala rombongan kemudian membawa keluarganya kembali ke Iran, meninggalkan Nafas sendirian. Nafas pun melanjutkan perjalanan ke desa terdekat. Kali ini, Nafas berkenalan dan mendapatkan bantuan dari seorang anak bernama Khak. Khak pandai mengaji hanya dengan menirukan bunyi, tanpa bisa membaca. Kemampuannya ini dipergoki Mullah, guru mengaji mereka, hingga Khak dikeluarkan. Tempatnya digantikan anak lain yang sudah antri mendapatkan pendidikan agama dan pelatihan militer gratis dari pemerintah Iran.

Khak pun menjadi seorang pembaca doa di kuburan dan bertemu Nafas. “Mari saya nyanyikan doa penguburanmu,” katanya kepada Nafas.

“Saya masih hidup,” kata Nafas, “untuk apa didoakan seperti orang mati?”

“Tidak ada salahnya mempersiapkan doa sebelum mati,” kata Khak bertahan.

Nafas tak bisa menghindari Khak, karena ia perlu bantuannya untuk memandunya ke Kandahar. Khak bersedia bila dibayar 50 dolar. Nafas pun ditemani Khak dalam perjalanan darat melintasi gurun pasir. Di tengah jalan, mereka kehausan, dan Khak memberikan air dari sebuah sumur untuk Nafas. Ini membuat Nafas sakit perut dan kemudian dibawa Khak ke seorang mantri desa kecil di tengah gurun pasir.

Menemukan Tuhan dengan menolong sesama

Mengejutkan bagi Nafas, si mantri desa yang berusaha mengobatinya ternyata bisa berbahasa Inggris, dan lebih mengejutkan lagi, ia ternyata seorang negro beragama Islam dari Amerika Serikat. “Apa yang kamu cari di sini?” tanya Nafas.

“Tuhan,” kata Talib Bin Sahib, nama baru si mantri negro yang menyamar sebagai orang Iran itu. “Ketika tentara Amerika datang ke Afghanistan, kami membawa nama Tuhan. Ketika Rusia kemudian datang, tentara mereka juga berjuang atas nama Tuhan. Dan tentaran Afghanistan juga berjuang atas nama Tuhan. Saya frustrasi dan kecewa. Sampai suatu kali, saya menolong seorang anak yang terkena ranjau darat. Saya pun mengerti bagaimana caranya menemukan Tuhan, yakni dengan menolong orang lain.”

Nafas tak bisa menutupi kekagumannya kepada Talib, apalagi Talib kemudian menawarkan bantuan setelah mengetahui tujuannya menyeberang ke Kandahar.

“Waktu saya semakin sempit, saya harus segera sampai agar sempat menyelamatkan saudari saya,” kata Nafas.

Talib membawa Nafas ke sebuah perkemahan Palang Merah Internasional. Di sana banyak orang cacat tanpa kaki karena korban ranjau darat yang bertebaran di permukaan gurun pasir Iran dan Afghanistan. Palang Merah Internasional setiap kali menurunkan kaki-kaki palsu dengan helikopter, dan tampaklah orang-orang cacat itu mengejar kaki-kaki palsu yang melayang jatuh dengan parasut kecil.

Mohsen Makhmalbaf dengan jeli menyuguhkan adegan-adegan yang mampu menggugah emosi, kemanusiaan, rasa keadilan, khususnya lagi ketidakpuasan atas perang yang hanya mengakibatkan penderitaan. Lihatlah puluhan laki-laki Iran dan Afghanistan yang cacat dan berusaha mengejar kaki-kaki palsu yang diterjunkan helikopter itu. Tanpa diteriakkan, tampaklah sebuah pemandangan simbolik yang mengiris perasaan, menghamparkan kekejaman ranjau darat yang memusnahkan kaki-kaki manusia tak bersalah, yang tak selalu berkaitan dengan perang, arah politik, ataupun kebenaran Tuhan.

Sebab, bagi Makhmalbaf, di mana Tuhan berada, kepada siapa Tuhan berpihak, sudah menjadi relatif ketika ia hanya dijadikan pembenaran melakukan suatu pembunuhan. Namun begitu berbeda, ketika Tuhan dijadikan alasan menolong sesama, seperti yang dilakukan Talib Bin Sahib. Ia meninggalkan negaranya, pasukannya, untuk tinggal di desa Iran dan menolong masyarakat kecil.

“Saya bukan dokter, tapi manusia tak selalu menjadi korban penyakit rumit. Banyak yang hanya karena ketidaktahuan, tak bisa mengatasi deman, flu, sakit perut, disentri, atau keracunan makanan. Untuk penyakit sederhana ini, saya mengetahui pengobatannya. Jadi, saya mampu menolong orang lain. Itu sudah cukup,” begitulah si pria negro Talib, menjelaskan kepada Nafas.

Selanjutnya Nafas ditolong seorang Afghanistan yang bersedia dibayar dua ratus dolar untuk menemaninya ke Kandahar. Si pria Afghanistan membantu Nafas dengan menyaru sebagai keluarga pengantin yang berjalan berombongan menuju Kandahar. Namun di pintu masuk Kandahar, mereka dicegat patroli, dan tidak berhasil meloloskan diri. Nafas pun ditangkap dan dipenjara di Afghanistan. Dari mana taperecordernya kemudian menjadi bahan cerita untuk film ini. Itulah logika fiksinya.

Namun yang tetap bergaung adalah, betapa rasa kemanusiaan ternyata menjelujur ai antara manusia, lintas bangsa, lintas negara, dan tidak meributkan atas nama Tuhan yang mana seseorang berjuang. Nafas hanya ingin membantu saudarinya yang merasa putus asa karena pemerintah Afghanistan yang represif terhadap perempuan, begitu pun Talib hanya ingin membantu siapa saja yang mengalami penyakit sederhana dengan cara sederhana pula.

Dengan latar belakang lanskap gurun pasir yang panas, angin melambai-lambai menggoyang burga dan jubah, digambarkanlah sekelompok manusia padang pasir hidup dengan masalah mereka, dan berusaha mengatasinya. Akal dan keberanian, menjadi modal penting mereka untuk melanjutkan hidup yang paling sederhana sekalipun!

Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 14 Oktober 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home