Wednesday, October 04, 2006

Ziarah Politik pada Kenangan

* Pembicaraan atas cerpen-cerpen Sides

Sebuah cerpen bagi Sides Sudyarto adalah untaian biografis tokoh cerita, dalam periode waktu tertentu, dengan latar belakang sosial-politik yang menyeret bahkan mengorbankannya (baca: membuatnya menjadi korban). Maka setiap kali para tokoh ini mengalami petumbuhan karakter atau penegasan sikap secara eksistensial, pastilah itu berkaitan dengan perkembangan peristiwa sosial-politik. Sebab para tokoh hidup demikian dekat dengan situasi sosial-politik, karena si pengarang memang menjadikan cerpennya sebagai media reflektif menyoroti kecenderungan sosial-politik tersebut. Bagaimana tokoh-tokoh (baca: manusia kecil) ternyata hanya menjadi permainan “nasib” karena perubahan politik.

Inilah sebagian gambaran yang saya dapatkan dari pembacaan atas kumpulan cerpen Salat Lebaran di Kamp Konsentrasi karya Sides Sudyarto (2006). Memuat cerpen-cerpen: Bulan Kian Hitam Matahari Kian Hitam, Surat untuk Orang Mati, Ziarah Maya Kepada Dia, Pelarian, Poliandri, Terdakwa, Salat Lebaran Kawanan Tahanan Politik dalam Sebuah Kamp Konsentrasi, Sang Pemberontak. Dengan kesalahan cetak yang fatal, Ziarah Maya Kepada Dia dimuat dua kali, dan Pelarian juga dimuat dua kali.

Lalu, paparan di atas pun menjadi dasar saya memperbincangkan Ziarah Maya Kepada Dia, yang menurut saya paling kuat memperlihatkan tendensi reflektif itu. Lebih khusus lagi, tendensi reflektif atas peristiwa sosial politik yang masih tersimpan di dalam kenangan naratornya. Dan cerpen ini menurut saya, bahkan sebagian besar cerpen dalam kumpulan ini, memang berlalu-lalang di seputar kenangan naratornya, entah itu si pengarang langsung atau tidak. Artinya, ada tendensi membangun kesadaran sejarah dari teks fiksi yang dioperasikan dengan perangkat artistik tertentu. Meskipun Terdakwa dan Bulan Kian Hitam Matahari Kian Hitam, bisa dikatakan menempuh jalur penceritaan berbeda, yang menurut saya memiliki kemungkinan terus dikembangkan sebagai jenis cerita-cerita simbolik.

Tersebutlah Ciwa, dalam Ziarah Maya Kepada Dia, seorang pemuda yang mengenyam kuliah pada tahun 1960-an di Yogyakarta. Tahun 1962 ia bertemu dengan Tatiek Hardiningsih, tahun 1964 mereka berpisah. Ciwa, nama baru yang diambil dari Kecewa, terkesan sedang menceritakan masa lalunya. Bagaimana ia dan Tatiek menjadi sepasang kekasih, dan sama-sama aktivis kiri di kampus yang terbagi-bagi ke dalam kelompok politik agama, nasionalis, dan Marxis. Lalu hubungan mesra mereka berakhir karena alasan sepele bagi Tatiek memiripkan model rambutnya seperti perempuan Jepang, adalah persoalan serius bagi Ciwa. Ciwa tidak setuju Tatiek memotong rambutnya, karena Ciwa mencintainya rambut panjang Tatiek. Akibatnya: Ciwa dan Tatiek putus cinta. Putus cinta ini dilanjutkan dengan tindakan Ciwa pulang kampung.

Geger peristiwa 1965 melanda kampus-kampus di Yogyakarta. Para mahasiswa kiri ditangkapi termasuk Ciwa yang diadukan oleh Lurah. Ia diinterogasi, ditahan, dan kemudian dilepas setelah 9 bulan menjalani hukuman yang tidak begitu jelas benar-salahnya. Kemudian tergambarlah chaos 1965, ketika orang-orang yang dituduh kiri tiba-tiba diperlakukan sebagai orang asing di lingkungan rumah sendiri, ditolak dalam pergaulan, bahkan dihindari oleh sesama eks tapol.

Yang juga unik, meski dipaparkan secara tak langsung – bagaimana para simpatisan kiri yang semestinya atheis itu ternyata rajin sholat. Lalu peristiwa interogasi pun berlangsung antara teman-teman sepermainan yang menjadi lawan karena pilihan politik yang berbeda. Ini memperlihatkan bagaimana arah politik demikian mengikat sampai ke tingkat praksis (sosial); namun demikian cair di tingkat individu (psikologis); sebab seorang kiri toh menunaikan ibadah sholat.

Cerpen kemudian melanjutkan plot sebagai benang-merah biografis Ciwa. Ditolak di kampung, tak menemukan Tatiek di Yogyakarta karena sudah meninggal dunia, lalu memendam kecewa, ia berangkat ke Jakarta. Hiduplah ia sebagai tukang becak dan nyaris mengawini seorang janda tauke kaya. Namun, ia kemudian memilih pergi ke kota lain, masih di Jawa Tengah, kali ini menjumpai Palupi, temannya sesama aktivis kiri yang kini melanjutkan hidup sebagai pelacur. Ketika Ciwa mencoba melamar, Palupi menolak. Ciwa pun melanjutkan perjalanannya. Kita tak pernah tahu akan ke mana lagi Ciwa menziarahi Tatiek yang dicintainya, namun sudah meninggal dunia itu. Sebab cerpen berakhir pula.

Lalu ada cerpen Terdakwa, yang menokohkan Rukmini, seorang perempuan buta. Kali ini tidak ada kenangan, tapi absurditas. Rukmini hamil dan di pengadilan desa ada tiga tertuduh. Rukmini yang buta tidak mendapatkan pelayanan hukum yang normal karena dalam pengadilannya tidak ada jaksa penuntut. Plot berkembang aneh, ketiga tertuduh ditemukan mati dengan tubuh penuh luka dan bekas pukulan, demikian juga si Lurah yang memimpin sidang di balai desa. Selanjutnya, Rukmini menggelandang, lalu diciduk petugas dan ditempatkan satu sel bersama para pelacur. Kemudian Rukmini buta dibebaskan, diculik lagi, lalu ditemukan meninggal.

Cerpen ini, seperti tokohnya yang buta, benar-benar hanya memperlihatkan kegelapan arah bagi saya. Terlalu banyak bintik-bintik putih kemungkinan semiotik yang dapat ditarik, namun serentak pula kurang berhasil mengarahkan makna. Misalnya: hukum ternyata buta. Manusia buta atas nasibnya. Banyak manusia buta nurani atas nasib orang lain apalagi si buta, dan seterusnya, dan seterusnya. Namun, cukup unik pula bagaimana Sides juga mengisi ceritanya dengan kehidupan orang-orang buta (Bulan dan Matahari) dalam cerpen Bulan Kian Hitam, Matahari Kian Hitam. Alur percintaan disusun dengan dramatis dan liris, memuat kritik tajam atas perlakuan kurang manusiawi terhadap orang-orang buta, yang dijodohkan sejak kecil dengan sesama si buta. Namun cerita berakhir kurang istimewa, ketika modal kebutaan yang sebenarnya unik itu tak kunjung menampilkan kejutan; malah dipaksakan berakhir dengan masuknya ayah Bulan ke panti jompo dan ayah Matahari ke rumah sakit jiwa.

Lalu sebuah cerpen yang menurut saya digarap penuh perhitungan dari sisi artistik dan matang secara emosional adalah Salat Lebaran Kawanan Tahanan Politik dalam Sebuah Kamp Konsentrasi. Seorang hukuman yang rajin menulis catatan harian merekam secara detail berbagai kejadian penting di kamp tempatnya ditawan. Mulai dari cara bergaul sesama tahanan, dengan para penjaga, dan juga berbagai kegiatan penting seperti menerima kunjungan pembesuk dan saat sholat Idul Fitri yang mengharukan. Semua dipaparkan runtut dan jelas. Dialog dan afirmasi filosofis dimunculkan wajar, seperti mempertanyakan dari mana asal manusia dan akan ke mana, apa makna sejarah dan bagaimana sejarah pecah menjadi revolusi yang tak selalu menghasilkan apa yang dicita-citakan bersama.

Dan terakhir, setelah kehilangan si tokoh cerita pemilik catatan harian itu akibat hukuman mati yang ditimpakan kepadanya, sebuah kejutan ditinggalkan. Si tawanan yang tertanam di kuburan dangkal tersebut, tangannya mencuat dari tanah. Dan kematiannya didoakan seorang Pastor. Artinya, si tawanan bukanlah seorang Islam. Namun kemanusiaan telah membuatnya mampu melintasi batas-batas agama di kamp tawanan itu, hingga isi catatan hariannya menunjukkan keterharuan atas jejak-jejak kemanusiaan di kamp tawanan tersebut.

Arie MP Tamba, disampaikan di Meja Budaya, 15 September 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home