Tuesday, December 26, 2006

Menafsir dan Memperagakan Ionesco

Eugene Ionesco kelahiran Rumania, 12 November 1912 adalah seorang penulis naskah teater yang digolongkan penganut teater absurd bersama Samuel Becket. Ionesco menghabiskan masa kecilnya di Prancis dan pada masa remajanya kembali ke Rumania. Di mana ia kemudian menjadi seorang guru bahasa Prancis dan menikah. Lalu kembali lagi ke Prancis tahun 1938 menyelesaikan studi doktoralnya. Selama Perang Dunia II ia berada di Prancis menjadi seorang korektor dan editor di beberapa penerbitan.

Ionesco menekuni dunia teater secara tak sengaja. Ia harus belajar bahasa Inggris, dan memulainya dengan menuliskan naskah teater. Hasilnya beberapa kalimat yang tak lazim pun ia susun menjadi naskah teaternya. Tampak misalnyal pada The Bald Soprano (1950) yang merupakan kisah satiris tentang kehidupan lugu dan penuh formalitas tak berarti dari kalangan borjuis. Ionesco kemudian merasa kaget, karena naskah teaternya ternyata mendapat sambutan publik.

Ionesco pun memutuskan berkarier di dunia penulisan naskah teater, yang ia sebut sebagai penulisan naskah antiteater. Sebab, karena karakter-karakternya adalah paduan dari bermacam mimpi buruk, impian, keajaiban, fantasi, dan humor-humor aneh. Di mana ia juga membiarkan tragedi bercampuraduk dengan kejenakaan.

Lalu dalam karya lainnya, In The Lesson, ia mengisahkan seorang guru yang dengan sengaja memanfaatkan keuntungan dominatifnya terhadap murid-muridnya melalui pelajaran bahasa, dan kemudian membunuhnya. Naskah ini, kemudian disadur oleh Afrizal Malna menjadi Ujian Doktoral Bidang Umum (UDBU), dan dipentaskan oleh Teater Ema pada 8/12 di Teater Kecil, TIM, sebagai bagian dari Festival Teater Jakarta 2006.

Apa yang membekas dari Ionesco, dan apa yang sudah dilakukan Afrizal Malna? Lalu, bagaimana pula Teater Ema mementaskan atau memperagakannya? Pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan yang ingin saya jawab, ketika saya sengaja memulai sorotan ini dengan pengantar memperkenalkan siapa Ionesco, dengan sedikit latar-belakang pergaulannya dengan bahasa Inggris, yang ternyata secara tak sengaja telah menjadi ladang eksplorasinya kemudian dalam menuliskan naskah-naskah teater absurdnya.

Secara tematik, satu ciri khas menonjol dari naskah-naskah Ionesco adalah menguatnya absurditas, kesia-siaan hidup, ketika kebosanan harus dilakoni dengan peran-peran remeh ataupun penting yang acap kali tanpa tujuan. Hidup hanya untuk hidup sehari-hari, apakah itu sekadar keanehan atau bahkan bayang-bayang ketakutan semata. Ingatlah dialog-dialog kesepian dan penuh kenangan sepasang suami-istri, dalam The Chairs (1952) yang disadur Rendra dengan liris menjadi Kereta Kencana. Sebuah kehidupan rawan, kosong, yang harus dijalani dengan gigih oleh dua orang tokoh cerita, sampai usia mereka 200 tahun, dengan kepastian bahwa di ujung perjalanan panjang itu sudah menganga lubang kematian untuk mereka.

Berhadapan dengan kenyataan absurd, sebagian tanpa harapan atau bahkan mengerikan secara filosofis ini, seseorang bisa saja menjadi putus asa, anarkhis, atau mungkin menjadi seorang maniak. Itulah sebagian impian buruk, sebagai kemungkinan psikologis yang terus membayangi manusia, dalam kesehariannya yang tak bertujuan. Namun bagi Profesor (Joind Bayuwinanda), tokoh utama UDBU, peluang psikologis berwarna ekstrem sebagai manusia maniak ini tidak lagi sekadar impian yang menakutkan, tapi sudah menjadi kenyataan yang menggairahkan. Ia menjadi seorang pengajar sekaligus pembunuh.

Di atas panggung, dalam keremangan, ada sebuah kubus tiga dimensi setinggi 1,5 m. Di atas kubus itu, tampak Profesor berdiri hening di kalung jerat yang tergantung pada sebuah tiang di pojok kubus. Di kaki si Profesor, menggeletak sebuah boneka, mengesankan mayat seseorang yang baru saja tewas. Lalu, di sebuah kotak yang selanjutnya menjadi kursi, duduk Afri ( Afri Rosyadi) si pelayan Profesor.

Sebuah misteri langsung mengundang. Siapa yang mati dan kenapa? Dan penonton tak dibiarkan berlama-lama dengan pemandangan “diam” itu. Si pelayan Afri (sang sutradara pertunjukan, Afri Rosyadi)) segera turun dan mempersilakan mahasiswa yang mau ujian naik ke panggung kubus. Nama si mahasiswa yang diharapkan kedua orangtuanya itu agar bermasa depan sukses, adalah Kozaza (Kozaza).

Karena naskah saduran, selain si penyadur berkesempatan memasukkan ide-idenya, sang sutradara pun ikut memanfaatkan peluang bereksplorasi. Dalam pementasan UDBU tampak penggunaan nama langsung Kozaza tanpa mengubahnya sebagai pemeran, sementara dalam In The Lesson, sang murid ini adalah seorang mahasiswi, bukan mahasiswa.

Menikmati kebahagiaan karena mendapatkan kembali seorang korban, si Profesor maniak tak henti-hentinya menampilkan tawa dan senyum kemurahhatian, meskipun ia tak begitu puas dengan tingkat kecerdasan Kozaza. Kozaza kemudian diuji ilmu berhitung dan berbahasa oleh si Profesor. Terjadilah keanehan. Si Kozaza ternyata begitu cerdas untuk mengalikan dan menjumlahkan, tapi selalu gagal dalam mengurangi. Selanjutnya, Kozaza juga setiap kali kerepotan dalam pelajaran berbahasa.

Apa yang menjadi “campurtangan” Afrizal Malna pun segera tampak jelas. Persoalan-persoalan kepandaian menambah atau mengalikan untuk keuntungan pribadi, adalah ciri khas sebagian besar manusia Indonesia; namun setiap kali gagal ketika mengurangi milik mereka untuk diberikan kepada orang lain.

Begitupun ketika pada adegan-adegan tertentu, di bawah kubus, sambil menyapu, Afri meneriakkan angka-angka jumlah lulusan SD pada suatu tahun, jumlah lulusan SMP tiga tahun kemudian, jumlah lulusan SMA tiga tahun selanjutnya, dan juga jumlah mereka yang diterima di perguruan tinggi di Indonesia dalam tiga tahun berikutnya. Kesimpulan dari hitung-hitungan Afri, ternyata selalu terjadi penurunan jumlah. Hingga Afri (atau Afrizal Malna) pun bertanya-tanya, “Ke mana mereka yang tidak diterima masuk SMP, masuk SMA, dan masuk perguruan tinggi. Apakah mereka hilang ke dalam kegelapan? Atau seperti saya menjadi seorang pelayan?”

Afrizal Malna memang membumikan atau memasukkan konteks dunia pendidikan Indonesia, yang menarik perhatiannya, ke dalam naskah In The Lesson-nya Ionesco. Hasilnya adalah, naskah kemudian tidak saja memuat persoalan absurditas dan psikologi kebuntuan hidup seorang Profesor – yang kemudian mendapat pembenaran sebagai seorang Nazi – tapi juga memuat pertanyaan mendasar tentang dunia pendidikan Indonesia sampai saat ini.

Dan Teater Ema, bagi saya, ikut memperkaya naskah In The Lesson-nya Ionesco dengan permainan Joind Bayuwinanda yang berisi, hidup, taktis, berlapis dengan penyutradaraan Afri yang intens. Kalau boleh memberikan catatan negatif, yang terasa mengganggu adalah vokal Kozaza yang seringkali dipaksakan, namun tetap tanpa irama. Tidak seimbang dengan vokal Joind yang bertenaga dan teatral.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home