Tangisan Kelaparan dari Afrika
Pameran fotografi di Antara memperlihatkan perkembangan mutakhir dunia. Kelaparan, bencana alam, pertentangan politik, masih mendominasi permukaan bumi.
Sesorot sepasang bola mata hitam di wajah kulit hitam seorang wanita Afrika, memandang ke arah kiri. Sementara di bibirnya,
Sebuah foto yang diabadikan bersamaan dengan berlangsungnya KTT G8 (negara-negara terkaya dan termaju di dunia) yang mendapat perhatian dan kritik dari konser musik Live 8, yang bertujuan mengingatkan negara-negara termaju dan terkaya itu agar menghasilkan kebijakan yang membantu negara-negara miskin di dunia, khususnya orang-orang kelaparan di Afrika.
Foto hasil jepretan O’Reilly, yang menjadi pemenang dari kontes World Press Photo tahun 2006, seperti menegaskan betapa benarnya peringatan yang disampaikan Live 8 tersebut. Dunia sekarang ini telah berjalan tidak adil. Negara kaya semakin makmur, sementara negara miskin terus tersaruk-saruk mengusung beban kemiskinan dan kepalaran masyarakatnya.
Karena itulah, bagi Live 8, negara-negara miskin harus menjadi perhatian negara-negara kaya dalam menelurkan kebijakan-kebijakan kerjasama ekonomi mereka. Jangan hanya memperkaya negara-negara kaya itu semata, tapi menyediakan ruang dan peluang bagi negara miskin untuk mengurangi beban penderitaan masyarakatnya. “Ribuan anak-anak di Niger mati kelaparan karena kekurangan makanan yang hanya bernilai beberapa sen saja,” kata Finbarr O’Reilly memberikan gambaran tentang persoalan yang diusung oleh karya fotografinya.
Sekitar satu lusin ibu dengan bayi yang menderita malnutrisi parah diberi perawatan di pusat penampungan orang-orang kelaparan
Bagi kita yang semakin terbiasa berpikir dalam bentuk image, foto O’Reilly bukan lagi mendeskripsikan sebuah peristiwa tunggal dan menyedihkan (dan sebenarnya, tidak menjadi persoalan mengenai siapa sebenarnya orang tersebut, maupun informasi apa yang diberikan foto untuk membantu mengidentifikasikan orang tersebut): tapi, foto O’Reilly sudah menjadi argumen filosofis yang dipilih sang fotografer menyampaikan keprihatinannya. Dan argumen O’Reilly tersebut ternyata berfungsi. Audiens yang diharapkan sebagai tujuan argumentasinya akan mengetahui karya foto dan persoalan yang diusungnya tersebut. Terlebih lagi, setelah argumentasi visual itu disampaikan dari sebuah forum dunia yang memiliki kekuatan sosial: World Press Photo.
World Press Photo merupakan sebuah organisasi independen yang didirikan di Belanda pada tahun 1955. Tujuan utamanya adalah mendukung dan memajukan karya para pewarta foto profesional di tingkat internasional. Pada perkembangan selanjutnya
World Press Photo berkembang menjadi sebuah landasan independen bagi foto jurnalistik serta arus pertukaran informasi yang bebas. Dan setiap tahun World Press Photo juga menyelenggarakan kontes foro jurnalistik terbesar dan bergengsi. Foto-foto pemenangnya kemudian dipamerkan berkeliling, yang setiap tahunnya dikunjungi oleh lebih dari dua juta orang di empat puluh negara.
Pada tahun 2006, di Indonesia, pameran World Press Photo berlangsung di Galeri Antara (15 Desember 2006 – 6 Januari 2007), Jakarta Pusat. Puluhan foto-foto para kontestan dari seluruh dunia yang terpilih pun ikut dipamerkan. Bermacam angle dipertontonkan, beragam ekspresi dan figur disosokkan, bermacam motif wacana ditawarkan. Namun secara umum, semua hasil kerja keras para wartawan foto itu menggarisbawahi secara tebal sebuah tema dasar yang terus berulang: mempertanyakan kembali kedalaman simpati kemanusiaan kita secara universal.
Demi otentisitas gagasan yang disampaikan, persoalan untuk mengetahui apakah foto O’Reilly ini rekayasa (dan karenanya, palsu), atau apakah foto tersebut merupakan kesaksian atas suatu aksi yang dilaksanakan dengan kesadaran dan pengaturan penuh, atau apakah foto ini merupakan hasil karya seorang fotografer profesional yang disarati pertimbangan momentum, cahaya, frame, atau apakah foto ini diambil secara virtual, atau dijepret secara tidak sengaja oleh tangan yang tidak ahli dan hanya berbekal keberuntungan – tidak lagi relevan diperbincangkan.
Sebab, pada saat momentum yang lebih besar, yakni “nilai kemanusiaan” muncul dan didapatkan oleh O’Reilly, kekuatan komunikatifnya pun dimulai dan tak akan terhentikan oleh penyangkalan apa pun yang mungkin. Kepentingan politik sosial maupun tendensi moral pribadi – telah menyatu sebagai kesatuan simbolisme nilai – memperjuangkan nilai kemanusiaan yang tinggi. Ini dihasilkan oleh sebuah kenyataan sosial dari suatu masyarakat di Afrika, yang telah membuktikan dirinya sebagai produser realitas yang menyakitkan – karena hal itu selalu terjadi di Afrika – dan terjadi pula di pojok-pojok dunia lainnya.
Di tingkat perbincangan seperti ini, sebuah karya fotografi telah menjadi ideologi perlawanan global terhadap kemiskinan, salah urus pemerintahan, ketimpangan pergaulan antarnegara, dan juga kealpaan kemanusiaan (disengaja atau tidak) atas manusia-manusia lain di sekitar.
Secara paradigmatis, karya fotografi memperbesar diri menjadi citra sebuah gagasan: sebentuk dunia lain bersamanya, juga perlambang-perlambang lain, seperti halnya tradisi naratif yang tidak saja memiliki kaitan dengan tradisi proletar, tapi juga dengan ide pemberontakan atau perjuangan
Sebab, O’Reilly hanya mengetuk pintu hati umat manusia, yang masih menyediakan ruang dan waktu untuk meringankan beban penderitaan sesama. Kemenangan O’Reilly, menjadi kemenangan kemanusiaan yang masih terus diperjuangkan seiring berputarnya dunia ini ke arah yang kita harapkan bersama semakin baik. Bahwa kelaparan seperti dialami Fatou Osseini dan anaknya Alaassa Galisou, mudah-mudahan tidak terjadi lagi esok hari, di mana pun.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home