Tuesday, December 26, 2006

Teater Mandiri Kembali Menggedor

Menggarap teater visual sebagai ciri mutakhirnya, berbagai tema sosial-politik berkelebat membongkar ingatan.



Panggung Graha Bhakti Budaya, pukul 20.00 WIB, 7/12. Mengawali Festival Teater Jakarta 7-17 Desember 2006, Teater Mandiri bersama pertunjukan Zero kembali meneror. Skrenario dan sutradara digarap Putu Wijayai; musik, Harry Roesli; didukung para pemain, Yanto Kribo, Cok Ryan Hutagaol, Alung Seroja, Vien Herman, Bambang Ismanto (BI), Umbu Tangela, Agung, Kardi, Rino, Dias, Klenmg, dan Putu Wijaya.

Kali ini, Zero memanfaatkan visualisasi adegan hasil efek cahaya dan permainan gelembung kain, ditambah kecanggihan mengolah gerak dan irama tubuh maupun sosok-sosok aspiratif yang dikehendaki mengusung tema. Protes sosial-politik terasa begitu kental, khususnya menyangkut nama-nama yang dianggap masih menjadi korban permainan politik dan hukum tingkat tinggi sampai kini.

Dua nama langsung mencuat ke permukaan kesadaran saya: Munir dan Marsinah. Dua nama yang menerangjelaskan, betapa penanganan hukum di Indonesia sebenarnya masih gelap, mengkuatirkan, terutama menyangkut kasus-kasus yang bermuatan politik. Setiap kali upaya penegakan telah disusun, berbagai pihak bekerjasama, dan orang-orang yang bertanggung jawab menunggu waktu pengadilan. Tapi, setiap kali pula upaya itu selalu berakhir dengan antiklimaks. Proses hukum yang dilalui membentur tembok. Dan bangunan keadilan yang hendak ditegakkan, serentak rubuh, berantakan, dan kasus yang tadinya ingin dibongkar menjadi gelap kembali. Nol. Zero.

Dua wajah yang mirip dengan dua orang itu, muncul sebagai refleksi cahaya ke langit-langit pertunjukan yang dilapisi gelembung layar. Dua wajah itu pastilah disorotkan melalui sebuah proyektor dari sudut panggung, diarahkan ke (dan selanjutnya dipantulkan dari) arah gunungan kain putih yang dipermainkan (baca: digarap) dari dalamnya oleh para aktor – menjadi bentuk atau sosok tematik yang sedang dipertunjukkan.

Terkadang yang muncul adalah sebuah dinosaurus raksasa di atas panggung, ditunggangi seseorang. Dinosaurus itu terbentuk oleh penggarapan interior gunungan kain menjadi tubuh dinosaurus, sementara aktor yang menunggangi “binatang” tersebut duduk di bahu seorang aktor yang berada di dalam gulungan. Untuk mengesankan “binatang” itu sedang berjalan mengusung penunggangnya, para aktor di dalam gunungan menggerak-gerakkan kain dari dalam, seirama dengan gerak dan liukan hewan raksasa empat kaki sedang melangkah lamban.

Sementara, di luar gunungan dengan bebasnya pemain yang sekaligus menjadi penata lampu bermain-main mengitari gunungan dinosasurus itu. Mereka menyorot-nyorotkan cahaya, warna-warni, seiring dengan suasana dan gerak yang ingin dipertegas, didukung suara-suara mereka menirukan auman hewan raksasa yang sedang bergerak lamban dengan tubuhnya yang besar, sedang berburu mangsa.

Gunungan itu lain saat diolah juga menjadi arena pertempuran, kekerasan, yang muncul membias ke dinding gunungan, tampak dari luar, akibat permainan lampu sorot dari bagian dalam gunungan, membentuk sosok-sosok yang meraung kesakitan karena tertutuk tombak, sementara aktor lain tampak mengacung-acungkan tombak mengancam ke sekelilingnya di bawah gelebung kain putih itu.

Maka, panggung keseluruhan pun menjadi alam fana, gelap, sesekali diterangi cahaya yang mengerjap di kejauhan, dari berbagai penjuru panggung, memperlihatkan “pembantaian” yang terjadi di alam gunungan. Sebuah kehidupan di dunia antah-berantah, terpampang sebagai kerjap-kerjap kekerasan, berdarah-darah, di antara merajalelanya kebuasan manusia terhadap sesama.

Dalam periode teater visual gaya Mandiri ini, peranan musik yang menggedor tentu saja lebih berperan besar lagi. Bagi saya, dari sisi inilah Teater Mandiri kali ini agak kedodoran. Di katalog disebutkan, musik memang masih ditangani Harry Roesli. Tapi saya kira penanganan musik tersebut adalah untuk pertunjukan pertama. Sementara pada malam pembukaan Festival Teater Jakarta 2006 lalu, (alm) Harry Roesli sudah tidak ada. Meskipun Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) yang bermain, gelora yang selalu mampu dilontarkan Harry Roesli mendukung dan mengimbangi power-nya Putu Wijaya, malam itu tak terasakan.

Sebagai pengantar, di katalog disebutkan, Zero dibuat pada 2003 dan telah dipentaskan di Taipei (Asia Meets Asia), Jakarta, Bandung dan Malang. Zero adalah sebuah esai visual (saya lebih suka menyebutnya teater visual Putu Wijaya) mengenai dunia dan manusia yang sikap-lakunya berubah menjadi sangat aneh di milenium ke-3. Setiap orang berteriak bahwa mereka mencintai perdamaian, tapi nyatanya jalan menuju kedamaian tersebut ditempuh dengan cara liar dan kontradiktif.

Dengan mengatasnamakan perdamaian dan kemanusiaan, manusia melakukan peperangan. Dunia menjadi sebuah mesin perang. Zero adalah suara, tangisan, doa, bisikan yang mengajak orang-orang kembali ke kekosongan. Mungkin tanpa mengharap sesuatu, tanpa mencari sesuatu, dengan melulu hidup dan mengontol perasaan secara alamiah, maka dunia yang lebih baik bisa menjadi kenyataan.

Sebuah pengantar yang menurut saya kontradiktif, dengan apa yang dikonkretkan sebagai pertunjukan seni teater di atas panggung. Sebab, yang muncul adalah kondisi nol, Zero, sebagai hasil yang mengecewakan atau bahkan menyakitkan dari setiap perkembangan sosial-politik yang terjadi dan disoroti pertunjukan. Hingga, pertunjukan Zero sayup-sayup terdengar pula meneriakkan perlawanan, penolakan, ketidakpuasan, menggugat hasil akhir serba negatif tersebut.

Sementara di dalam pengantar, disebutkan nol atau Zero adalah sebuah pilihan etikal kalau tidak filosofis, yang diharapkan menerbitkan kesadaran atau kekuatan baru untuk melanjutkan hidup secara lebih berkualitas dari kehidupan buruk sebelumnya. Semacam sikap tawakal yang diajarkan agama, tentang “takdir” menuju nol, ketiadaan, agar dari sana seseorang melahirkan dirinya secara baru, dengan penerimaan atau pandangan hidup yang lebih terbuka dan fleksibel. Lebih berani dan tercerahkan. Sebuah efek yang selalu menjadi tendensi teater “terlibat”, meskipun tidak bersibuk-sibuk dengan wacana dan defenisi perjuangan, melainkan langsung meneror emosi dan ingatan penonton.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home