Friday, May 19, 2006

Kisah Sastra dan Tiga Kota

Esai Arie MP Tamba

Kota Pertama: Medan

Di Medan, pada tahun 1970-an, di sebuah kelas tiga esempe Katolik, seorang anak dengan “biasa” saja tunjuk tangan di antara tangan-tangan teman-temannya yang teracung penuh semangat. Siang itu, jam terakhir mata pelajaran adalah Bahasa dan Sastra Indonesia. Si anak tunjuk tangan ingin mendapat giliran membaca sebuah buku yang diacungkan sang guru. Jumlah siswa ada 40-an orang. Maka buku sastra yang setiap kali diacungkan sang guru untuk ditukarpinjamkan pun berjumlah 40-an. Ke-40-an buku sastra tersebut, berupa novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, kumpulan kritik dan esai, masing-masing adalah milik semua murid. Yang dikumpulkan dan dipertukarkan setiap minggunya oleh sang guru, menjelang jam pelajaran usai. Bila bersungguh-sungguh, maka setiap pelajar pun akan berhasil membaca 40-an buku sastra sepanjang tahun.

Kembali kepada si anak, yang kali itu mengacungkan tangan dengan “biasa” saja, ternyata berlangsung kejadian yang tidak biasa. Siang itu ia memperoleh novel Siti Nurbaya. Sebuah novel tebal, dibandingkan sebuah kumpulan puisi Surat Kertas Hijau yang dikumpulkannya. “Untuk apa kalimat-kalimat panjang ini?” begitulah sang anak bertanya-tanya, dengan agak menyesal. Namun sudah terlanjur. Ia sudah tunjuk tangan dan memperoleh pinjaman novel. Ia harus bertanggung jawab. Suatu saat akan membuat rangkuman.

Tetapi, sang anak tetap saja merasa kurang puas. Sebab, dalam benaknya, sastra yang nyaman adalah lintasan-lintasan pemandangan, pemikiran, emosi, ataupun suasana, yang sudah sering ia goreskan di halaman belakang buku-buku tulisnya, berupa puisi. Puisi adalah sastra. Prosa, berupa novel atau cerita pendek? Mereka mungkin bukan sastra, tapi cerita! Cuma cerita!

Begitulah sang anak memahami dunia sastra masa itu, ketika ia kemudian hanyut selama bermalam-malam mengarungi imajinasinya yang saat itu dihidupi oleh Syamsul Bachri, Siti Nurbaya, teman-teman mereka, dan Datuk Maringgih. Novel tebal itu, ternyata adalah cerita yang tak adil! Kisah tidak menyenangkan yang dilalui oleh sepasang kekasih yang harus menanggung akibat dari kelengahan orang tua dan keculasan orang lain. Mengapa pengarang menulis cerita yang demikian tak adil itu? Mengapa si pengarang menyakiti Syamsul Bachri dan Siti Nurbaya?

Sayup-sayup, sang anak merasa tersiksa oleh sastra yang tak nyaman itu, yang didatangkan oleh novel Siti Nurbaya ke dalam pemahaman sastranya. Sastra, ternyata, bukan sekadar lintasan pemikiran dan suasana yang tergoreskan lewat kata-kata minimal dan bertenaga seperti dalam puisi. Tetapi sastra atau prosa adalah dunia imajinasi yang mampu meniru atau menciptakan kenyataan lain, yang ternyata menawarkan juga perenungan dan gejolak emosi yang tak pernah sudah. Kenyataan lain yang dapat digunakan sebagai bandingan untuk mengenali kenyataan keseharian?

Begitulah, sang anak kemudian terdorong untuk setiap kali mengacungkan tangan dengan bersemangat, apabila sang guru Bahasa dan Sastra Indonesia itu mengacungkan novel yang hendak dipinjamkan. Hanya novel atau kumpulan cerpen. Hanya novel atau kumpulan cerpen yang kini menggugah minat dan imajinasinya tentang dunia sastra. Terkadang ia memang kalah dari teman-temannya, terpaksa harus menerima kumpulan puisi, atau kumpulan esai. Namun ia tidak mengikutinya lagi seserius dulu. Apabila ia mendapat tugas membuat rangkuman, ia pun akan menyimpulkan sekadarnya, sekenanya, seumumnya. Tidak ada kesungguhan khas, sebagaimana yang terjadi bila ia mendapat tugas menyarikan sebuah novel atau kumpulan cerpen.

Dan pemahamannya terhadap novel atau kumpulan cerpen pun semakin variatif, ketika seorang guru bahasa dan sastranya di sekolah menengah atas, dengan santai, suatu siang, menandaskan bahwa Datuk Maringgih boleh jadi adalah seorang patriot, seorang pejuang masyarakat, berhadapan dengan penjajahan Belanda waktu itu.

Sang anak terperangah. Betapa ganjilnya. Seorang Datuk Maringgih yang kejam dan menghancurkan cinta Syamsul Bachri dan Siti Nurbaya, ternyata dianggap sebagai sosok seorang pahlawan oleh sang guru. Sang anak protes. Mengacungkan tangan. Dan berapi-api menandaskan bahwa Datuk Maringgih adalah tipikal seorang pengusaha licik, mabuk harta dan nafsu. Dan sang guru, seakan tak begitu terkejut dengan bantahan sang murid, hanya menggeleng sesaat. Lalu, kembali dengan santai mengingatkan, bahwa ia sedang membicarakan Datuk Maringgih, “mungkin” digunakan sebagai sosok yang disemangati nasionalisme yang hendak disosialisasikan oleh pengarang novel Siti Nurbaya.

“Mungkin”? Nasionalisme? Tak pernah terbayangkan oleh sang anak, bahwa dalam novel Siti Nurbaya ada nilai-nilai nasionalisme. Dan ada istilah “Mungkin”. Yang terbayang di benaknya selama ini adalah sebuah kota Padang, dengan sepasang tokoh cerita Siti Nurbaya yang gagal mewujudkan percintaan mereka. Dan Datuk Maringgih adalah sosok pengacau, sumber kegagalan percintaan sepasang remaja itu. Tapi, nasionalisme? Benarkah si pengarang novel sengaja menyebarkan semangat nasionalisme melalui novelnya? Bukankah itu hanya semacam keharusan peran sosial bagi tokoh-tokoh cerita yang sedang disusunnya?

Dan “Mungkin”? Kalau hanya untuk “mungkin”, untuk apa menuliskan sebuah cerita sampai ratusan halaman? Dan untuk apa menikmati dunia “mungkin”? Lalu, kalau isi novel tersebut adalah dunia “mungkin”, maka betapa kayanya penafsiran yang dapat dilangsungkan terhadap sebuah novel atau cerpen. Sebanyak minat dan pemahaman yang dapat dioperasikan terhadap novel atau cerita pendek yang dibaca. Betapa kayanya nilai atau pemahaman yang dapat ditarik dari sebuah karya sastra. Nilai-nilai atau pemahaman yang boleh bertolak-belakang, tumpang tindih, yang boleh jadi saling tak menyangka satu sama lain? Sebagaimana sang anak tak pernah membayangkan, Datuk Maringgih sebagai sosok yang menebarkan semangat perlawanan nasionalisme, terkuakkan oleh pemahaman sastra sang guru yang saat itu tentu saja lebih luas dibanding pemahaman sastra sang anak?

Sastra sebagai dunia “mungkin”, terutama dalam prosa, cerpen ataupun novel, menjadi cara pendekatan yang dilakukan sang anak dalam pembacaannya sampai bertahun-tahun kemudian. Cara pembacaan yang sampai kini, ternyata tidak berubah.

Kota Kedua: Bandung

Di Bandung, tahun 1980-an, sang mahasiswa yang dulu sebagai pelajar mengacungkan tangan agar memperoleh pinjaman novel Siti Nurbaya itu, mencari-cari buku di kaki lima alun-alun Bandung. Kala itu, buku-buku yang menjadi buruannya bukan lagi cuma buku sastra seperti novel, kumpulan puisi, kumpulan cerpen, kumpulan esai, tetapi juga buku-buku lainnya mengenai bidang studi filsafat, sejarah, sosiologi, psikologi, politik, dan juga agama. Bermacam-macam bidang studi menarik minatnya, meskipun secara khusus ia tetap menjadikan sastra sebagai kajian utama, karena ia memang menjadi mahasiswa di fakultas sastra sebuah perguruan tinggi negeri (di samping secara bersamaan menjadi mahasiswa di sebuah sekolah tinggi ilmu ekonomi).

Pemikiran-pemikiran “kiri” menyemangatinya untuk memburu bacaan sejenis dalam berbagai bidang studi, khususnya filsafat, ekonomi, dan sosiologi. Dan saat itu, “bacaan kiri” memang sedang laris-larisnya menjadi bahan diskusi di rumah-rumah kos. Buku-buku Pram sedang dilarang dan beredar dari tangan ke tangan. Sang mahasiswa merasa beruntung karena berhasil memperoleh pinjaman dari seorang teman. Jadilah novel-novel Pram itu mengenyangkan imajinasinya tentang dunia “mungkin”. Tetapi, sang mahasiswa sebenarnya merasa kurang puas, karena dunia “mungkin” dalam novel-novel Pram tampak lebih minimal, karena telah disajikan secara telanjang. Sang mahasiswa merasa tak memerlukan begitu banyak tenaga penafsiran, terhadap novel-novel Pram, dibanding yang harus dilakukannya ketika berhadapan dengan novel-novel Iwan Simatupang, cerpen-cerpen Budi Darma, Danarto, dan Putu Wijaya.

Dan pada masa yang sama, sang mahasiswa juga sedang menggeluti sebuah teori tentang cerpen dan novel yang benar. Secara deduktif, sang mahasiswa terajak mempercayai kata-kata HB Jassin atau entah siapa, bahwa novel yang bagus adalah gaya Doetoyevskian, sedangkan cerpen yang baik adalah gaya (Anton) Chekovian. Bagaimana detailnya, uraiannya, sang mahasiswa masih terus meraba-raba dan menyusun ulang setiap kali ia melakukan pembacaan atas karya-karya mereka.

Bahwa dalam prosa, yang diperlukan adalah kejelasan karakter, jatuh bangun nasibnya, turun naik emosinya, utuhnya konflik, sebagaimana terdapat dalam cerpen-cerpen Chekov dan novel-novel Dostoyevski – melebihi suspensi plot cerita yang sering dijadikan acuan para penulis cerpen dan novel umumnya. Begitulah sang mahasiswa berpegang teguh, dan berusaha membanding-bandingkan karya sastra bacaannya. Maka ia pun mencoba membuat klasifikasi, bahwa pengarang kelas satu adalah Dostoyevski dan Chekov, sementara yang lain-lainnya, seperti Pasternak, Tolstoy, Mauriac, Camus, Mishima, Hemingway, Faulkner, Updike, Boll, Kawabata, Tagore, Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Danarto, Budi Darma, dll., adalah pengarang kelas dua. Meskipun beberapa pengarang kelas dua itu menjanjikan eksperimentasi bentuk yang tak jarang luar biasa. Namun, kemampuan membangun karakter yang khas ala Doctoyevski dan Chekov, lebih memukaunya. Sementara dalam puisi, saat itu sang mahasiswa kurang memiliki banyak referensi, kecuali beberapa buku terjemahan puisi dunia dan puisi-puisi yang diikutinya di majalah Horison. Entah kenapa, masa itu, bagi sang mahasiswa, penyair hebat agaknya tak sepenting pengarang kelas satu yang diakuinya.

Namun masih teringat satu peristiwa di benak sang mahasiswa, di suatu senja, sang mahasiswa baru saja usai berburu buku di kaki lima alun-alun , ketika menampak para penyair Bandung, di antaranya yang teringat, Acep Zamzam Noor, membaca puisi-puisinya dengan bersemangat, di kaki lima Jalan Asia Afrika yang ramai, di bawah temaram lampu jalanan yang mulai menyala satu per satu. Kenangan itu, bagi sang mahasiswa, seperti keindahan dan ketragisan yang serentak dikuasai oleh puisi yang baik – gagal memasuki ruang-ruang sosial yang (memerlukan dan) ditujunya. Di jalanan, puisi-puisi reflektif Acep hanyalah “keanehan” seniman.

Kota Ketiga: Jakarta

“Ternyata puisi-puisimu dulu banyak ya,” kata Afrizal Malna suatu ketika. Kami masih bertetangga di Bekasi. Ketika itu kami pulang bersama dari Balai Budaya, markas lama majalah Horison. Sehari-harinya kami banyak menghabiskan waktu di sana. Afrizal merasa terkejut, karena sebelum pulang, ia sempat membaca daftar lama naskah-naskah yang masuk dalam setahun, aku ternyata mengirim puisi hampir sekali seminggu. Dan sampai saat itu, baru dimuat tiga biji oleh Bang Tardji.

Saya telah meninggalkan Bandung, beberapa tahun di belakang, dan sudah berkeluarga.

“Dulu aku memang terus menulis puisi, kukirimi ke Harison. Tapi kemudian lebih banyak menulis cerpen yang kusebarkan juga ke mana-mana di samping ke Horison,” kataku.

“Kenapa cerpen?” tanya Afrizal.

“Karena cerpen lebih laku dijual, Zal,” jawabku.

Ya, alasan saya menjadi lebih produktif menulis cerpen dan kemudian cerbung, skenario, biografi, iklan, dll, tentu saja karena faktor ekonomi, seraya sesekali mensosialisasikan pencapaian bentuk yang terkadang secara pribadi sengaja saya tekuni, paling tidak melalui cerpen. Seorang teman mengatakan, dengan menuliskan sebuah cerpen di Kompas, sekali dua bulan, seseorang segera menjadi cerpenis karena namanya langsung dikenal bagi kalangan peminat sastra di Indonesia, dibanding hanya menulis cerpen sekali setahun di majalah Horison. Kata-kata si teman, Aant S Kawisar, yang dulunya seorang cerpenis yang juga produktif, dan kini sebagai pelukis di Bali, saya kira ada benarnya. Koran memang telah menjadi elemen kesusastraan yang luar biasa dampaknya, dua daswarsa belakangan ini. Berbagai kumpulan cerpen diterbitkan, perorangan, ataupun melembaga, novel-novel diterbitkan, yang dulunya berupa cerbung di koran-koran, dan berbagai kegiatan sastra memasyarakat karena koran. Koran menjadi wadah sastra koran, sekaligus media sosialisasi sastra itu sendiri.

Namun, sementara itu, pergaulan saya dengan Nirwan Dewanto menguakkan cakrawala lain lagi tentang karya-karya sastra yang saya kenali. Perkenalan Nirwan yang agak serius dengan sastra dunia, khususnya sastra Amerika Latin, menambah luas wawasan saya, tidak sekadar terpaku ke Eropa Barat, Rusia, Amerika Serikat, Cina, India, dan Jepang. Dan pergaulan dengan Nirwan yang penyair dan juga Afrizal yang penyair itu, membuat saya mengakrabi lagi puisi dan juga teori sastra. Dunia sastra Jakarta memang bergejolak oleh kehidupan berdiskusi, di samping banyaknya publikasi karya sastra lewat koran dan terbitnya buku-buku.

Maka saya pun kini merasa berbahagia dengan karya-karya puisi Oktavio Paz, Seamus Heany, Wislawa Zimbiorska, Bei Diao, Walcott, Afrizal Malna, Dorothea Rosa Herlyani, Nirwan Dewanto, Radhar Panca Dahana, Arif B Prasetyo, Joko Pinurbo, Acep Zamzam Noor, juga karya-karya novel Milan Kundera, Garcia Marquez, Carlos Fuentes, Mario Vargas Lhosa, Ben Okri, Salman Rusdhi, Toni Morisson, Naipaul, Umberto

Eco, dll. Bergembira ria dengan semiotik, oh semiotik, yang menggaungkan adanya penanda dan petanda, hingga sebuah pembacaan tak perlu dirisaukan lagi oleh perebutan esensi, melainkan kebebasan persepsi, selamat datang para pembaca, rayakan kemerdekaanmu sebagai “denyut” yang dimiliki sekaligus mampu memiliki dunia. Dan betapa cerdasnya teori-teori sastra para pemikir postmodernis seperti Derrida, Barthes, Foucault, dll. Sastra adalah permainan, kata Derrida, dan segalanya “boleh jadi” diberi tanda petik. Selalu dalam tanda petik. Selalu dalam kesepakatan penafsiran yang dipertandingkan dan saling dipertahankan atau saling dihapuskan. Dan tentu saja, saya pun menikmati acara-acara pembacaan puisi atau diskusi yang dilangsungkan di berbagai komunitas yang sempat ramai di Jakarta, seperti Gorong-gorong Budaya, Oncor, Utan Kayu, dll., dan yang paling mutakhir: Meja Budaya. Perayaan kemerdekaan para pembaca masih terus bergulir.

Sementara itu, pergaulan saya dengan Radhar menyemangati saya untuk lebih mengikuti lagi irama pergaulan kesenian di Jakarta, jalan-jalan ke berbagai kota, seperti halnya pergaulan saya dengan Sutardji Calzoum Bachri, Hardi, Mualim Sukethi. Hanny Hendrata, Sides Sudyarto, Adek Alwi, Ramadhan Pohan, Ahmad Nurullah, Endo Senggono, Remmy Novaris, Sitok Srengenge, Martin Aleida, Syahnagra Ismail, Kamsudi Merdeka, dll., yang sengaja atau tidak sengaja selalu bersua di Taman Ismail Marzuki.

Dan hingga saat ini, semua pergaulan itu, semua bacaan itu, pengalaman itu, hari-hari itu, adalah pergaulan, bacaan, pengalaman, dan hari-hari masa datang saya juga, yang masih saya reguk sampai detik ini. Semua itu membuat saya merasa berbahagia menggeluti dunia sastra, prosa ataupun puisi, sebagai dunia “mungkin” bagi siapa saja dan tentang apa saja, sebagaimana telinga saya tak bosan-bosannya mengakrabi kekayaan “kemungkinan” yang ditorehkan alunan tajam trompetnya Miles Davis, di suatu tengah malam, dalam perjalanan panjang naik bus antarpulau, dari Denpasar ke Bekasi Timur.

Salam

Wednesday, May 10, 2006

Percepatan Ruang

Puisi Arie MP Tamba


Sebuah percepatan telah meleburnya menjadi pengulangan-pengulangan.
Menciptakan kebosanan-kebosanan yang sama bagi setiap persetubuhan.

Lukanya kemudian menganga telanjang seperti sejarah orang lain.
Dan sayap-sayap kemarahan melengkapi perhitungannya.

Ia pun merumuskan dirinya sebagai api tengah malam.
Dan memarak tanpa ragu pada gelap-gelap matamu.

Tapi tubuhnya selalu ringan dan berkelompok seperti awan.
Meluas tanpa sebuah puncak sebagai penjelasan.

Ruang apa ini menjulurkan kerisauan-kerisauan.
Suara siapa ini menistakan perlawanan-perlawanan.

Ia pernah membantai sebuah lelucon menjadi kekacauan.
Hingga dinding-dinding saling bergerak dan melukai.
Dan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab mendesing berupa ratapan sayup.

Tubuh siapa telah memilih ia menjadi persimpangan.

Lalu ia menjelaskan dirinya sebagai lelaki dari tepi pantai.
Mencemburui peradaban yang mengirim kota-kota.

Tapi ruang kemudian menjelmakan ancaman-ancaman tak terduga.
Hingga bikini ia pahami sebagai paradigama-paradigma lunak.
Tentang badai yang lama berkabung di lautan.

Dan para lelaki terlanjur muak atas tonjolan-tonjolan di tubuhnya sendiri.
Dan setiap kali keluar dari kamar tidur di tanah asing.
Mereka mencuci mulut yang semalamam merindukan ibu mereka.

Percepatan ruang telah memadatkan semua kenangan.
Menjadi tanjakan-tanjakan teror dalam pelarian di tubir mimpi.

Maka ia kemudian memaklumi dirinya sebagai logam.
Dan berdentam pada rakitan sebuah mesin pemintal.

Ruang apa ini menisbikan perlawanan-perlawanan.

Maka ia kemudian terbiasa dengan dongeng terbakar.
Memilah-milah segenap ketiadaannya sepanjang hari.

(92)

Hujan Arwah

Puisi Arie MP Tamba


Panah-panah hujan mengirim kami menusuki kulitmu.

Tapi hidup mengalir ke dalam botol tersumbat.
Menangisi pusaran sendiri seperti angin tumpat.

Kota bangkit dan mendengus bersama harimau di pundak.
Mencakar kebekuan yang mendekapmu dalam basah gelap.

Membanjiri mata dengan teriak kenangan terkoyak.
Bersama para arwah meledak dalam gema perjalanan hari ini.

Di puncak-puncak mereka lenyap dari pendakian suara.
Lalu risau menjelma busur yang merentang di benakmu.

Panah-panah pikiran menembusi pendar waktu di tengah hujan yang sama.
Orang-orang menepi untuk kerusuhan-kerusuhan terus dikabarkan.

Tapi mereka adalah mimpi-mimpi terbujur kaku di setiap rumah.
Dan hujan melepas dinginnya kata-kata menjamah resahmu.

Ketika cuaca menjelma keabadian dari setiap mulut arwah.
Tentang kami mengirimkan cahaya dari balik badai.

Mengingkari putus asa dan merebut kembali masa lalu.
Bersama para arwah berbicara seperti petir hitam.

Ketika para diktator melecuti kota dengan kematian.
Lalu memeluk masa kanak sendiri berupa kata-kata kosong.

(95)

Tuesday, May 09, 2006

Tarian Angka

Puisi Arie MP Tamba


Angka-angka mengganggu tidur kau.
Mereka menari berupa kerucut dan segitiga.
Ruang demi ruang dalam mimpi kau ditaburi penjumlahan tak berhingga.

Tapi petiklah angka-angka dari rantingnya.
Biarkan mereka tersesat di lipatan otakmu.

Biarkan kau sendiri menjadi denyutan menghirup bulan.
Biarkan angka-angka menari di pohonnya.

Tapi tidur kau adalah pembagian dari angka perjinahan.
Tapi tidur kau adalah perkalian dari rencana penipuan membesar.

Bila angka terkecoh malu dan mual atas jahatmu maka perhitungan dimulai.
Dan angka-angka segera menari berloncatan bergembira.
Kau boleh ikut serta bahkan sampai mabuk.

Mereka mengoceh tentang masa kanak kau.
Mereta tertawa atas kebodohan kau.
Lalu angka-angka belajar berkhianat dari kau.

Sebab mereka menyimpan rahasia pengurangan berupa kubus atau segitiga.
Sementara kau menjadi angka di dalamnya dan bisa kembali ke mimpi kami.

Tapi angka berapakah kau?


(92)

Lorong ke Pusar Rumah

Novel Arie MP Tamba

1
------------------------------------------------------------
SEBUAH RUMAH terletak di ujung lorong yang membelah sehektar perkampungan kumuh, teronggok seperti sebuah pulau hantu gersang di tengah lautan semak. Tak ada pepohonan kekar di sekitar, tempat bersemayamnya burung-burung elang mengembangkan keturunan; tak ada rerumputan segar, tempat menjejaknya serombongan embun pagi hari. Kecuali kegersangan keras hamparan lalang liar yang sesekali mengombak resah, aroma kehidupan yang serta-merta menye­bar adalah menguapnya gairah; setipis apa pun gairah itu. Memang, ada gejolak kehidupan penuh harapan yang terkadang berusaha menyeruak, ketika rimbunan bunga-bunga dan ilalang liar di sebe­lah kanan rumah, dan menyemaki sisi kali yang menebarkan bau busuk itu -- yang menjadi batas dengan wilayah pabrik di sebelah timur -- sesekali mengombak tergulung hembusan angin siang. Tapi rimbunan bunga-bunga tak dikenal dan ilalang liar itu, hampir sepenuhnya dibercaki debu dan lumpur hasil percikan hujan pada musim-musim lalu. Belum lagi air kali yang permukaannya digenangi tumpukan sampah mengambang itu, acap kali meluap dan membanjiri permukaan tanah sampai ke halaman rumah. Bila air kali yang menebarkan bau busuk itu kembali ke permukaan semula, yang tersi­sa di halaman adalah tumpukan sampah di sana-sini; dengan bau menyengat, bahkan sampai ke dalam rumah. Maka, pulau hantu itu pun akan menyosok sebagai sebuah rumah tua yang tak sedap bila didekati; karena segera tercium satu aroma permusuhan dari sana: bau memuakkan.

Namun, bagi para penghuni rumah di ujung lorong itu, sega­lanya telah menjadi hal biasa; dan semua kekurangan itu, seper­tinya menjadi gugusan kelebihan yang dapat melindungi mereka dari dunia luar. Secara perlahan namun pasti, merekalah yang menye­suaikan diri sedemikian rupa; terhadap alam sekitar yang selalu kering dan bau di luar rumah, terhadap debu-debu yang menempel dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan dan kemudian tahun ke tahun, pada dinding-dinding rumah dan perabotan di dalam rumah. Jendela-jendela sesekali memang dibuka; seolah jendela-jendela itu, sebagaimana jendela-jendela umumnya, masih memiliki kekuatan penting untuk ikut mengatur peredaran udara ke dalam rumah. Tapi karena jendela-jendela di rumah itu memang tak lebih dari sekadar lembaran-lembaran kayu berukuran lebih kecil dari daun pintu, yang dikancingkan ke dinding rumah, maka tak ada tujuan khusus untuk memperoleh udara segar ataupun mengurangi kepengapan di dalam rumah. Jendela-jendela itu dibuka, hanyalah mengikutkan kebiasaan salah seorang penghuni rumah tersebut, yang kini sudah pergi jauh. Kebiasaan lain si penghuni yang telah pergi jauh itu, dan masih diteruskan oleh mereka yang ditinggal­kan: adalah membuka pintu depan lebar-lebar. Membiarkan angin masuk sebebas-bebasnya, dari pagi sampai sore, membawa segala macam bau yang merupakan aroma satu-satunya yang dapat dihirup di sekitar rumah di ujung lorong itu.

Lalu, pemandangan lain di sekitar pulau hantu itu adalah gulungan asap yang terus-menerus disemburkan cerobong-cerobong pabrik di sebelah timur. Kebisingan suara mesin, sayup-sayup terkadang sampai ke telinga para penghuni rumah di ujung lorong itu. Tapi semua itu pun telah menjadi hal biasa; sepele, tak layak mendapat perhatian khusus. Hanya seminggu lamanya, ketika mereka baru saja menghuni rumah di ujung lorong itu; mereka bertanya-tanya, pabrik apakah yang tak pernah berhenti memuntah­kan gulungan asap mengotori kebiruan langit di atas sana; dan sesekali menggelapi juga langit malam mimpi-mimpi mereka. Pabrik apakah yang bangunan-bangunannya memiliki dinding-dinding yang begitu tinggi, berwarna kusam dan kotor; tanpa sedikit pun tanda-tanda adanya kehidupan manusia di sana, kecuali raungan mesin yang tak pernah mengaso. Namun, karena tak seorang pun bisa dijadikan tempat bertanya; ditambah lagi, keingintahuan itu hanya terbetik di dalam hati, maka pada hari kedelapan hasrat ingin tahu itu telah pupus entah ke mana. Hingga sebulan kemudian berlalu, dan akhirnya tahun demi tahun melintas cepat; para penghuni rumah di ujung lorong itu nyaris tak pernah menyertakan pemikiran khusus lagi, ketika terkadang tanpa sengaja menoleh ataupun menengadah memandang langit di sebelah timur. Langit kebiruan yang menjadi gelap oleh gulungan asap yang terus membu­bung pada ketinggian -- sejauh mata memandang di atas sana -- tinggal genangan awan menggantung seperti dalam sebuah kanvas raksasa berjudul "proyek pengotoran alam semesta" -- di depan mata yang memandang tak acuh.


2
------------------------------------------------------------

BARANGKALI sudah menjadi kodrat manusia selalu tercekam kenangan. Manis atau pahit; kenangan selalu datang seperti peru­bahan cuaca di luar sana: meluncur tak terduga. Mendung dan panas acap kali bertukar warna sedemikian cepat, seakan tak terpantau kecepatan kesadaran dan ketepatan penglihatan manusia biasa. Cobalah sesekali mengikuti ramalan cuaca lewat televisi, radio, atau koran. Kecepatan dan perubahan angin, kepadatan dan peruba­han udara panas dan dingin, yang kemudian dijabarkan sebagai titik-titik hujan, cuma segugusan awan tebal, atau malah sekadar terik matahari menyala-nyala; semuanya seperti seperangkat kata-kata yang dapat menjelaskan cuaca apa adanya, sesuai kemauan dan daya tangkap pengetahuan manusia. Padahal, sang Maha Cuaca, dari balik kegelapan langit di atas sana, boleh jadi memandang tertawa dengan mulut menjebi, mencemooh "tumpul"-nya bahasa manusia mengenali alam sekitar, khususnya cuaca. Karena cuaca, tetap saja tersembunyi dengan kehadirannya, yang tak perlu melibatkan "keterbatasan" manusia? Hingga, bila manusia masih juga berharap dapat mengenali secara utuh, maka manusia akan tinggal meraba-raba sebagai peramal cuaca? Yang sering kali salah: meramalkan hujan, ternyata terik; meramalkan panas, ternyata hujan deras; meramalkan lautan tenang untuk dilayari, ternyata berbahaya karena dipenuhi badai; meramalkan penerbangan mulus dilakukan melalui gelombang awan ringan, ternyata berat dihadapi karena harus melalui gelombang awan padat yang terkadang kosong, hingga pesawat seringkali seperti tiba-tiba anjlok ke dalam jurang mengerikan di atas sana? Lalu, bagaimana dengan kenangan?... Adakah manusia peramal kenangan? Mengapa kenangan yang sangat manusiawi itu demikian tak manusiawi, ketika muncul dan menderas begitu saja menjejali kesadaran? Hingga menyesakkan perasaan, melumpuhkan pertahanan, menggoda kelemahan, memancing tumpahnya air mata kepedihan, menimbulkan kemasabodohan luar biasa, karena kenangan terkadang menjejak sampai menggelapi kemauan berpikir? Bagaimana bila ada satu lembaga yang berperan sebagai peramal kenangan? Dengan para stafnya yang sepanjang hari sibuk membuka-buka buku astrologi atau membaca berulang-ulang nujuman Nostrodemus tentang Armageddon? Meramalkan kenangan yang bersifat pribadi itu, sebagai persoalan semesta yang dapat dianalisa, diperdebat­kan, diterima, atau ditolak bersama? Maka, seseorang tak akan pernah lagi menghargai kenangan sebagai milik sendiri, milik pribadi, yang dapat muncul begitu saja, acap kali menyesuaiakn diri dengan gerak perasaannya keseluruhan. Sebagaimana seseorang tak menganggap khusus lagi cuaca yang dialaminya, sesuai dengan "mood" yang sedang menerangi perasaannya; sebagaimana masih dialami manusia-manusia abad 18 dan 19 yang kini masih hidup di desa-desa terpencil, yang tak pernah berurusan dengan ramalan cuaca dari televisi, radio atau koran; tapi lebih mengikutkan tilikan dari dalam hatinya, yang sedang gembira, sedih, atau marah? Artinya, pemahaman manusia atas cuaca, dan mungkin juga atas kenangan suatu saat, telah mengalami perkembangan: dari persoalan pribadi yang nyata, pikiran dan perasaan, konkret, menjadi persoalan umum, angka-angka dan pengetahuan abstraktif?

Begitulah. Ada saja kenangan yang benar-benar nyata secara pribadi, yang tak terhapuskan dari ingatan perempuan tua itu. Kenangan yang bila dibiarkan hadir, akan menjulurkan dan memben­tangkan berbagai peristiwa yang cukup menggoncangkan perasaannya, sebagai seorang perempuan atau ibu muda berpuluh tahun lewat. Itulah suatu masa penting: saat kelahiran anak tunggalnya. Hanya keajaiban alam-lah, satu-satunya penjelasan yang mungkin, yang membuat anak itu berhasil ia lahirkan ke dunia ini. Lalu, inga­tannya akan selalu berujung pada kepastian, bahwa kala itu: suatu siang berpuluh-puluh tahun lewat, ia berguling-guling di lantai dengan perut besarnya. Ia gemetar, meraung, mendesis, menceracau, menangis, menanggungkan rasa sakit yang mengiris-iris berkepan­jangan; yang hanya dapat diatasinya dengan ber-ah-uh-ah-uh-ah-uh-ah-uh, yang ketika semakin dicetuskan, ternyata agak mengurangi rasa sakit. Lalu, suaminya yang pendiam itu menghambur ke arahnya dengan panik, dan serta-merta menampari wajahnya sambil berter­iak-teriak; meminta agar ia bangkit dan mau diajak ke rumah sakit. Memahami permintaan suaminya, kemudian, hanya sekilas kesadarannya dirasuki keinginan untuk bangkit, dan benaknya mulai membayangkan sosok pelataran sebuah rumah sakit yang akan dikun­junginya -- ketika segalanya tiba-tiba menjadi gelap dan asing. Dan ia rasakan kemudian, sepertinya air kali di sebelah rumah tiba-tiba saja meluap dan membanjiri seluruh dataran di sepanjang lorong, dan membanjiri juga rumah mereka yang teronggok seperti pulau hantu di ujung lorong itu. Sementara ia, secara lamat-lamat menyadari keadaannya yang sedang terkapar di lantai, sedang menanggungkan sesuatu yang sangat menyakitkan di perut dan se­langkangannya, yang ternyata segera menyebarkan perih ke seluruh tubuh; hingga selama beberapa saat, begitu sukar baginya, bahkan sekadar menggerakkan ujung jemari. Tapi, saat berikutnya, ia pun tak bisa memastikan apa yang sebenarnya berlangsung di sekitarn­ya, kecuali merasakan, bahwa selangkangnya kemudian telah dige­nangi air kali yang menebarkan bau busuk itu. Entah bagaimana caranya limbahan air hitam itu telah menggenangi selangkangannya. Yang jelas, ia kemudian merasa ketakutan sekaligus sangat jijik. Namun ketika ia menjerit, ia tak mendengar suara apa pun yang keluar dari mulutnya. Lalu, saat ia mencoba bangkit, ia benar-benar tak mampu menggerakkan anggota tubuhnya. Hingga segalanya pun menjadi terlambat; ketika langit-langit rumah di ujung lorong itu seperti tiba-tiba saja ambruk menindihnya. Sementara, ia tak melihat sama sekali, sosok atau pun bayangan suaminya yang pendiam itu di sekitarnya. Ia benar-benar kehilangan harapan akan terselamatkan oleh seseorang yang dikenal dan mengenalnya. Maka, selanjutnya ia pun merasa begitu sendiri, kesepian, sangat kece­wa; serta tak memiliki daya apa pun, untuk meratapi rasa sakit dan kesepiannya yang mencekam itu. Sementara, kesadaran bahwa selangkangnya sedang digenangi air kali yang hitam dan bau itu, turut pula kembali bangkit menyakiti perasaannya dari dalam tubuhnya sendiri. Ia sangat jijik dan kembali menjerit tanpa suara. Hingga segalanya tampak hitam dalam kesadarannya.

Begitulah. Ingatan perempuan tua itu segera menjulurkan dan membentangkan berbagai peristiwa, yang selalu bermula dari pu­pusnya kesadaran itu. Ketika yang tampak terakhir kali di hada­pannya adalah: wajah panik dengan rasa takut yang tak tertang­gungkan dari suaminya yang pendiam itu. Para tetanggalah yang datang menolongnya, begitulah penjelasan yang kemudian dapat disusunnya dalam benaknya, bila teringat masa melahirkan yang sempat menghadirkan pengalaman menjijikkan dan menakutkan itu.

Para tetangga itu tinggal di mulut lorong. Mereka beranak-pinak menjejali rumah-rumah darurat di perkampungan kumuh itu. Hanya Tuhanlah yang tahu, mengapa kehidupan keras dan tak member­sitkan adanya harapan masa depan yang lebih baik, masih saja dipertahankan dan dilanjutkan. Hanya Tuhanlah yang tahu, mengapa Tuhan sendiri membiarkan semuanya itu masih berlangsung, dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun. Begitulah perempuan tua itu, berpuluh tahun lewat, terka­dang dihinggapi pikiran kurang puas ketika merenungkan kehidupan para tetangganya itu. Tapi kemudian, seperti berbagai hal lainnya di sekitar rumah di ujung lorong itu, semua ketidakpuasan itu pun menguap dan menjadi hal biasa. Biasa. Sangat biasa. Atau nyaris tak nyata sebagai persoalan yang perlu disimak dengan perhatian serius. Hingga ia terkadang bahkan lupa, bahwa ia masih hidup tak berjauhan dari para tetangga yang pernah menimbulkan rasa kurang puasnya atas kehidupan itu. Bahwa mereka, masih hidup di sebuah wilayah administratif yang sama. Bahwa mereka, boleh jadi setiap malamnya diserbu oleh nyamuk-nyamuk yang sama. Bahwa mereka, bisa saja menghirup dengan tak acuh, segala jenis bau memuakkan yang sama sepanjang hari. Namun, mereka menghidupi dua wilayah yang sangat berlainan: mulut lorong dan ujung lorong. Bila di mulut lorong, rumah-rumah menghampar seperti kandang-kandang hewan yang disusun secara rapat, berjejal, hiruk-pikuk oleh gaya hidup pinggiran kota, nyaris tak menyisakan sedikit pun ruang terbuka, kecuali lorong panjang yang membelah perkampungan kumuh itu; maka di ujung lorong, seperti pulau hantu yang terasing, teronggok sebuah rumah permanen yang kurang terawat, cukup besar bagi para penghuninya yang memilih hidup tertutup. Pikir si perempuan, bila mereka dapat begitu tak acuh melalui hari demi hari di ujung lorong itu, mengapa para penghuni mulut lorong itu seperti hidup dalam sebuah pacuan hiruk-pikuk mencuci barang-barang pecah-belah setiap hari. Seakan di mulut lorong itu, kekosongan siang hari hanya dapat terdengar utuh di antara gemerincing atau dentang-denting piring, gelas, panci, penggorengan, sendok, suara pompa air, dan desir ikan dilemparkan ke penggorengan yang panas. Dan semua itu, bagi si perempuan, adalah sebentuk kehidupan remeh yang tak layak disimak lebih jauh; kecuali adanya godaan keterpu­kauan pendengaran, ketika baru beberapa kali mendengarnya, dulu.

3
------------------------------------------------------------
MULUT lorong itu dipenuhi enam puluhan rumah yang para penghuninya hidup dari apa saja. Dalam keseharian, sebagian kecil dari para penghuni itu memang memiliki pekerjaan tetap di kota; dan mereka inilah yang menjadi warga terhormat di mulut lorong tanpa pepohonan itu. Sekalipun pekerjaan tetap, di sini, tak lebih dari posisi-posisi terendah dalam beberapa kantor swasta yang memerlukan tenaga kasar mereka. Namun yang menjadi ukuran dalam hal ini bukanlah setinggi atau serendah apa posisi terse­but; melainkan, bahwa si penghuni terdaftar secara resmi pada sebuah jawatan formal. Yang artinya, si penghuni memiliki jalur hidup keseharian yang sudah jelas, yang dilaluinya sejak pagi hingga sore hari, sepanjang minggu, bulan dan tahun, bersama orang-orang yang sudah jelas pula. Berlainan sekali dengan seba­gian besar kepala keluarga di mulut lorong itu, yang pada kese­hariannya, hanya dapat mempercayakan nasibnya pada kecakapan alamiah yang tak jelas; baik itu dalam mengenali orang-orang yang akan dijadikan sumber penghasilan mereka, dan mengupayakan cara apa saja yang paling mudah memperoleh uang dari sumber penghasi­lan tersebut. Dalam hal ini, tentu saja orang-orang ini terkadang berbuat kasar: dengan menipu dan mencuri misalnya. Sebab tujuan utama, atau satu-satunya perhitungan yang masih mengisi benak mereka adalah: bagaimana pulang ke rumah pada malam hari dengan tidak hampa tangan. Bagaimana pulang ke rumah dengan perasaan telah menunaikan satu-satunya tujuan hidup, yakni memberi makan anak dan istri. Ditambah, terlaksananya catatan khusus yang menekankan: bahwa segalanya itu dilalukan di luar atau jauh dari tempat tinggal mereka (jelasnya: kalau tidak mau kena tulah, jangan mencuri di kampung sendiri!). Sebab, memang ada hukum tak tertulis yang bisa menjelaskan hal aneh semacam ini; dan telah pula terbukti kebenarannya bagi para penghuni perkampungan kumuh itu. Bahwa suatu masa, dulu, telah lama sekali, ketika perkampun­gan kumuh itu masih terbilang baru saja berdiri, dengan hanya beberapa penghuni mendiami rumah-rumah yang lebih darurat daripa­da sekarang -- salah seorang penduduk telah mencuri milik tetang­ganya. Dan akibatnya, si pencuri dikeroyok beramai-ramai, sebelum akhirnya diciduk polisi dan kemudian hilang tak tentu rimbanya di sebuah penjara. Lalu, masih menyusul lagi beberapa kejadian serupa, baik itu berupa pencurian, penipuan, penganiayaan, dan perjinahan; segera mendapat tulah "kepergok" dan berujung pada pengusiran ataupun jatuh ke tangan polisi. Hingga para penghuni perkampungan kumuh itu akhirnya yakin, bahwa berbuat jahat di lingkungan sendiri: tak akan pernah berhasil ditutupi. Sebab, selalu saja ada saksi yang tak pernah terbayangkan sama sekali. Selalu saja ada penyebab yang mengakibatkan kejahatan itu tak berhasil disembunyikan dari para tetangga; seperti halnya pada kejadian-kejadian sebelumnya. Sebuah perjinahan misalnya, ter­bongkar karena mulut latah seorang nenek. Si nenek, suatu hari, begitu saja merasa tertarik oleh bunyi derit-derit aneh di bilik tetangganya. Lalu ia mengintip; dan kemudian, sejak hari itu dalam latahnya, selalu saja ia menyebutkan dua nama yang katanya senang bergumul-gumul di siang bolong. Dan sebuah penipuan mis­alnya, terbongkar karena mulut usil salah seorang anak si pelaku, yang mengobral cerita kepada teman-teman bermainnya, bahwa ayahn­ya baru saja berhasil menipu uang ayah salah seorang teman mere­ka. Lalu, kejadian yang paling naas, yang berujung pada kematian si pelaku kejahatan, ketahuan karena pada hari yang sial itu, seorang penghuni secara kebetulan bermaksud berkunjung ke rumah si pelaku. Ketika baru saja si penghuni menguakkan pintu yang tak pernah terkunci rapi itu, ia saksikan si pelaku yang ingin dikunjunginya, sedang masuk tergopoh-gopoh ke dalam rumah membawa barang curian. Si penghuni bermaksud bertamu, namun menjadi panik melihat barang miliknya sedang digotong ke dalam rumah yang dikunjunginya; hingga begitu saja ia kemudian berteriak-teriak kalap: "Maling, maling, maling!" dengan wajah ketakutan. Lupa sama sekali, bahwa si pelaku yang sedang diteriakinya itu adalah calon tuan rumah yang hendak dikunjunginya, dan juga temannya sesama penghuni di perkampungan kumuh itu, yang sehari-harinya mencari hidup di tengah kota.

Begitulah, sebagian kecil lagi dari para penghuni perkampun­gan kumuh itu, merelakan diri sebagai gelandangan yang sehari-harinya bergentayangan di jalan-jalan di kota, mengumpulkan barang-barang bekas dan berbagai jenis pembungkus yang masih bisa dijual secara kiloan. Mereka inilah para penghuni yang nyaris tak mengenal jam kerja secara umum. Mereka mengatur hari-hari keber­angkatan dari rumah, mengikuti musim-musim belanja para penghuni kota. Untuk itu, mereka sudah memiliki perkiraan tersendiri, di wilayah mana kota yang sedang ramai dikunjungi pada minggu ter­tentu, atau pada bulan tertentu. Lalu secara tak tertulis, mereka pun sudah mengatur jadwal dan pembagian lokasi bagi sesama mere­ka. Hingga tak pernah terjadi misalnya, beberapa orang secara berombongan dan bersamaan, akan mengais-ngais tong-tong sampah di sebuah jalan yang sama di kota. Selalu saja ada kesadaran yang tinggi pada masing-masing mereka, agar tetap pada wilayah langga­nannya. Dan hal yang menyenangkan bagi mereka, pada malam-malam tertentu, sambil menikmati sisa-sisa makanan dari tong sampah yang terkadang mereka bawa sebagai oleh-oleh ke rumah, mereka saling mengobral cerita tentang kelebihan-kelebihan maupun keane­han-keanehan para penghuni di wilayah langganan masing-masing. Yang bagi mereka, semua itu: adalah dunia impian yang dihidupi oleh orang-orang lain, yang hidupnya lebih enak daripada mereka; yang terkadang berhasil mereka untai menjadi cerita-cerita kehi­dupan yang aneh, lewat pengamatan secara diam-diam. Bahwa orang-orang itu kini berhasil menjalani kehidupan kaya-raya, pastilah berkat bantuan "roh dari gunung", "babi ngepet", atau "tuyul pen­curi", yang senang mengimbali para pengikutnya kekayaan berlim­pah-ruah, bila "makhluk halus" itu dipelihara, dihormati, dan selalu diberikan sesaji "nyawa" keluarga dekat, pada waktu ter­tentu yang sudah dijadwalkan dan disepakati bersama. Atau, orang-orang di kota itu dapat melalui kehidupan serba cukup, menyenang­kan, makanan lezat, pakaian dan mobil mewah, serta memiliki rumah tinggal besar dan uang yang selalu berlebih, pastilah karena berhasil menggelapkan uang negara yang bukan haknya di kantor. Jadi, orang-orang itu adalah penipu, maling, koruptor, selalu sibuk memikirkan cara memperoleh uang secara tidak halal. Lalu, sebagian lagi pastilah orang-orang yang memperoleh rejeki dari warisan nenek-moyang yang tak habis-habisnya, meskipun dibelanja­kan oleh tujuh turunan yang tak pernah bekerja sama sekali. Mereka ini boleh saja digolongkan bersih; tapi, nenek moyang mereka, siapa yang tahu?

Maka, tak pelak lagi, ada kalanya para penghuni perkampungan kumuh itu, saat membicarakan orang-orang yang hidup atau bertem­pat tinggal di wilayah pekerjaan mereka sebagai pemulung itu -- dengan perasaan iri yang terkadang bergemuruh di dalam hati -- namun tak pernah diberi peluang menyeruak lebih jauh ke permukaan bila mereka sedang bekerja. Tapi, dibiarkan keluar semaunya, sebebas-bebasnya, meluber sebagai fantasi kedengkian dan kemara­han, penuh sesal atas kemalangan sendiri dan penuh sirik atas kehidupan orang lain yang tak dikenal -- ketika mereka saling berbagi cerita pada malam-malam menjelang tidur di perkampungan kumuh itu. Bila cerita-cerita yang dicetuskan dan disimak bersama itu kemudian berhasil membakar emosi kebencian mereka, maka beberapa orang biasanya akan melanjutkan dengan makian-makian, bahwa ia sangat menyesal "terpaksa" telah melalui jalan atau perumahan orang-orang yang sepantasnya dikutuk atau dihindari karena mirip penyakit berbahaya itu. Dan tak jarang beberapa orang itu, kemudian saling memandang dengan perasaan terhibur, bersahabat, dan sama-sama menyerapah, agar orang-orang yang mereka bicarakan itu, dalam waktu dekat akan segera mati disambar petir atau dijarah penyakit mengerikan. Hingga orang-orang itu tak ada lagi, tak hadir lagi, sebagai sosok-sosok jumawa yang setiap hari berseliweran dengan berbagai kendaraan mewah mereka, mengganggu pandangan mata mereka dari balik topi pandan butut, bila mereka bekerja esok harinya dengan peralatan keranjang atau karung dan tongkat pemulung.

Namun, dalam setiap kesempatan saling menguntai cerita dari perjalanan masing-masing itu, tak jarang pula seseorang akan memulai dengan kisah mengharukan, tentang kedermawanan orang-orang di lokasi kerjanya. Misalnya, pada suatu malam, seseorang berkisah bahwa pada siang harinya ia melihat seorang dermawan sedang membagi-bagikan hartanya kepada orang-orang miskin di sekitar rumahnya. Dari bisik-bisik orang ramai ia mengetahui bahwa si dermawan sedang membayar janji yang diikrarkannya ketika sakit: bahwa bila ia sembuh, maka ia akan menghibahkan sebagian hartanya kepada orang-orang miskin yang menjadi tetangganya. Begitulah, hari pembagian itu bersamaan dengan jadwal si pemulung di lokasi si orang kaya yang kini dermawan itu. Maka, si pemulung pun sempat digelimangi harapan akan memperoleh rejeki yang tak disangka-sangka itu. Tenggorokannya kering dan sepasang kakinya gemetar karena tak sabar. Sepasang matanya berbinar merah dan debar jantungnya berdentam-dentam karena sudah terbayang bahwa hidupnya akan segera berubah lebih baik. Paling tidak, hari itu ia akan membawa "sesuatu" yang khusus ke rumah. Tapi sayang, ketika si pemulung bermaksud bergabung di antara orang-orang miskin para tetangga si dermawan, secara beramai-ramai para tetangga itu langsung menghalangi dan mengusirnya: menyuruhnya menjauh dari lingkaran pembagian harta itu, karena ia bukan salah satu dari mereka; karena ia bukan salah seorang tetangga si dermawan. Padahal, si pemulung dapat melihat, bahwa dari kejau­han, dari atas teras rumahnya, si dermawan sebenarnya sedang menggapai-gapaikan tangan ke arahnya, memanggilnya agar mendekat. Namun orang-orang terlalu berisik dan saling menjejal, hingga suara si dermawan tak terdengar siapa pun, dan orang-orang terla­lu sibuk menyisihkan orang lain dari barisan, hingga lambaian si dermawan tak menjadi perhatian orang ramai apalagi para pegawain­ya yang terus sibuk mengatur lingkaran dan membagi-bagikan bung­kusan uang dan barang-barang itu. Maka, dari kenyataan semacam itu, si pemulung yang ditolak oleh tetangga-tetangga si dermawan itu pun mengambil kesimpulan sederhana, bahwa manusia terkejam di dunia ini pastilah orang-orang miskin. Karena, kemiskinan ternya­ta hanya akan mempertebal lagi: harkat kebencian yang pada da­sarnya terdapat pada jiwa setiap manusia.

4
------------------------------------------------------------

PADA siang yang aneh itu, sebagian besar dari para penghuni perkampungan kumuh itu, begitu saja memilih bermalas-malasan di rumah. Sejak pagi hari, seperti ada kesepakatan yang tak terje­laskan oleh masing-masing mereka, yang mengharuskan mereka ting­gal berlama-lama di rumah. Sekilas, mereka sangat sadar, bahwa mereka akan segera pergi ke kota mengais nafkah untuk istri dan anak-anak mereka. Namun, sekilas berikutnya, masing-masing seper­ti diingatkan oleh sesuatu yang tak terpahami: bahwa mereka sedang menunggu-nunggu sebuah kejadian penting, yang tak lama lagi akan sangat melibatkan mereka. Maka, sekalipun mereka telah berbenah seperti hari-hari sebelumnya, selanjutnya mereka hanya berdiam diri di bilik-bilik mereka, atau di ruang tamu darurat mereka. Dengan persiapan khusus: memasang telinga setajam-tajamn­ya, dan menjauhkan apa saja yang mampu menghalangi pandangan mata untuk langsung menatap ke arah lorong. Maka, pada siang yang aneh itu, sebagian besar bilik-bilik di perkampungan kumuh itu, yang secara kebetulan menghadap ke arah lorong yang membelah dua perkampungan tersebut, mengangakan pintu dan jendela-jendela selebar mungkin. Sementara suasana sekitar, benar-benar hening dari suara maupun gerak sekecil apa pun.

Lalu, begitu saja siang yang aneh itu dipecahkan suara langkah seseorang yang sedang berlari. Seseorang dengan langkah cepat dan lebar, terburu-buru, dengan kepanikan yang menekan, yang tersimak dari dengusan nafasnya yang terputus-putus, sedang mengubah keheningan menjadi keriuhan. Dan secara ajaib, serentak saja perhatian para penghuni yang sejak pagi seperti diharuskan sedang menunggu sesuatu yang penting itu, mengarah pada suara-suara langkah dan dengusan nafas tersebut. Maka, ketika mereka beramai-ramai keluar dari bilik masing-masing, adalah sangat mengherankan bagi masing-masing mereka, bahwa yang lainnya masih berada di rumah. Dan, tak pernah terbayangkan oleh mereka, bahwa pada siang yang aneh itu, mereka akan menemukan si pendiam yang tinggal di ujung lorong itu, datang berlarian dan kemudian terka­par kelelahan di hadapan mereka. Dan sebelum si pendiam itu benar-benar terkapar, dengan memaksakan tenaga ia masih sempat mendesahkan sebuah permintaan, "Istriku mau melahirkan, istriku mau melahirkan, tolong dia!..."

Untuk beberapa saat lamanya, suasana siang itu adalah gulun­gan angin panas musim kemarau, di antara kegelisahan wajah si pendiam dari ujung lorong itu, yang begitu membersitkan rasa putus asa -- berhadapan dengan tatapan tak mengerti dari orang-orang yang seperti tersihir oleh sesuatu, agar bersiap dan ting­gal di rumah sejak pagi hari itu. Sementara beberapa orang ibu, yang siang itu ikut juga merubungi si pendiam dari ujung lorong itu selama beberapa saat -- telah pergi tanpa menunggu perintah dari siapa pun. Secara beramai-ramai dan agak bergegas, mereka pergi ke rumah di ujung lorong. Ternyata, seperti suami-suami mereka, mereka pun telah dipaksa oleh sesuatu, agar bersiap dan menunggu sejak pagi hari di bilik mereka. Lalu, menurut mereka kemudian, mereka memang tak bisa memastikan, namun bisa menduga-duga, bahwa hari itu seseorang akan memerlukan pertolongan mere­ka. Dan secara aneh, menurut mereka, ingatan mereka pada hari itu begitu saja tertuju kepada si perempuan di ujung lorong. Mereka memang telah lama memperhatikan perkembangan kehamilan si perem­puan di ujung lorong itu. Tinggal lagi, mereka merasa kurang mengerti, mengapa kehadiran mereka sebagai tetangga, sepertinya kurang dianggap penting oleh si perempuan penghuni rumah di ujung lorong itu. Sementara, mereka sendiri pun tak memiliki cara yang mereka anggap sesuai, sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada si perempuan di ujung lorong. Maka dari hari ke hari, minggu ke minggu, dan bulan ke bulan, hingga akhirnya tiba pada hari mela­hirkan itu; si perempuan di ujung lorong sepenuhnya benar-benar berada dalam perhatian mereka, yang mereka hadirkan dalam perca­kapan-percakapan menyesalkan di antara mereka. Ada kalanya si perempuan dari ujung lorong itu, mereka perbincangkan sebagai perempuan sombong yang tak mampu mengenali kemiskinan dan kekur­angan sendiri. Ada kalanya pula, si perempuan dari ujung lorong itu, mereka reka-reka sebagai seorang siluman perempuan, yang sedang menyaru menjadi manusia miskin seperti mereka. Tak masuk akal bagi mereka, seorang perempuan "manusia", mampu meneruskan kehidupan sendirian saja selama berbulan-bulan, dan kemudian ternyata bertahun-tahun, tanpa pernah sekalipun meminjam bumbu dapur dari tetangganya sesama perempuan "manusia". Adalah sangat berlebihan dan tak wajar bagi mereka, seorang perempuan "manusia" mampu menjalani masa kehamilan pertamanya, tanpa pernah bertanya sedikit pun kepada perempuan "manusia" yang lebih tua, tentang cara-cara mengurangi rasa sakit pada saat melahirkan. Karenanya, ada kalanya si perempuan dari ujung lorong itu, hadir di hadapan mereka dalam bisik-bisik yang menakutkan mereka sendiri: bahwa si perempuan di ujung lorong, adalah seorang perempuan gila, yang sedang dirawat secara khusus oleh suaminya; karena rumah sakit dan keluarga sudah menyerah. Bila sedang sibuk dengan prasangka semacam ini, para perempuan itu pun mewanti-wanti kepada anak-anak mereka, agar tidak bermain sedekat mungkin ke rumah di ujung lorong. Tapi tak jarang pula, mereka sendiri menyelipkan pesan khusus kepada anak-anak mereka, agar anak-anak itu mencoba men­cari tahu, apa saja yang dilakukan si perempuan di ujung lorong, melewati hari-hari kesendiriannya. Lalu, laporan-laporan anak-anak mereka ini, akan menjadi bahan perbincangan tersendiri pula, di antara perempuan di mulut lorong itu. Dan sebuah kenyataan yang sangat mengejutkan, sebagai hasil pengamatan anak-anak itu adalah: bahwa penghuni rumah di ujung lorong itu, sejak menjadi tetangga mereka, tak pernah dikunjungi tamu seorang pun, selain orang-orang dari mulut lorong yang terkadang mampir untuk keper­luan administratif lingkungan, atau tanpa maksud khusus sama sekali. Lalu, si perempuan di ujung lorong itu, nyaris tak pernah meninggalkan rumah, kecuali ke halaman depan dan samping. Semen­tara suaminya, sesekali meninggalkan rumah pada pagi hari, dan kembali malam hari dengan bungkusan berisi makanan di tangannya.

5
------------------------------------------------------------
MAKA, malam kelahiran anak pertama di rumah di ujung lorong itu pun kemudian dirayakan oleh para penghuni lorong gersang tanpa pepohonan itu, dengan datangnya hampir semua penghuni dari mulut lorong ke rumah di ujung lorong itu. Rumah itu pun menjadi penuh-sesak oleh manusia-manusia dan keingintahuan. Sebagian besar dari orang-orang di mulut lorong itu, tentu saja baru pertama kalinya menginjak ruang dalam rumah di ujung lorong itu. Selama ini, sudah banyak dari mereka yang sampai di halaman, bahkan mengitari sekeliling rumah; namun belum semua berkesempa­tan masuk ke ruang dalam, ke ruang tengah, dan duduk di kursi tamu. Memang. Tak ada yang mengejutkan. Tak ada yang mengherankan para tetangga itu. Sungguh tak ada yang benar-benar berbeda dari rumah-rumah darurat mereka di mulut lorong; begitulah sebagian dari mereka berpendapat lewat tatapan mereka yang menyelidik. Tak ada alasan khusus bagi si perempuan di ujung lorong itu, untuk membatasi diri dari kehidupan para ibu rumah tangga di perkampun­gan kumuh itu; kalau yang menjadi alasan adalah kekayaan di satu pihak dan kemiskinan di pihak lain. Begitulah para perempuan dari mulut lorong itu berbincang, dengan mulut mereka yang sesekali menjebi dan tatapan sinis yang berulang disambarkan ke sekitar. Hanya kebetulan saja bentuk luar rumah di ujung lorong itu memang sebuah rumah permanen. Kalau isinya, atau di dalam, boleh dikata­kan sama saja dengan rumah-rumah mereka yang nyaris seperti gubuk di mulut lorong itu. Hingga bagi pemerintah daerah, telah sering menjadi bagian dari program penggusuran untuk perluasan dan penataan kota; yang entah kenapa, dari tahun ke tahun kembali tersisih menjadi prioritas kesekian yang tak begitu mendesak dilaksanakan.

Tapi, menjadi kenyataan yang sukar pula bagi para tetangga dari mulut lorong itu, untuk segera dapat menentukan latar bela­kang kehidupan suami-istri yang telah lama menarik perhatian mereka. Suami-istri itu, tidak memiliki perabotan rumah tangga, misalnya, yang dapat menjelaskan posisi kehidupan mereka yang lebih baik atau malah lebih rendah dari mereka. Suami-istri itu, selama ini benar-benar telah hidup dalam rekaan mereka yang boleh jadi berlebihan; dan selanjutnya, rekaan itu agaknya akan masih terus berlangsung atau dipertahankan. Sebab, rekaan itulah satu-satunya penjelasan yang mereka miliki tentang suami-istri terse­but; sementara suami-istri itu, hampir tak pernah memulai pembi­caraan, yang tujuannya akan menjelaskan siapa dan bagaimana mereka sebelumnya. Bahwa mereka sempat terlanjur menganggap suami-istri itu hidup lebih menyenangkan dari mereka, sekalipun hal itu telah lama lewat, sampai suami-istri itu menjadi tetangga mereka yang aneh; bisa jadi benar dan boleh jadi juga salah. Hingga satu-satunya perkiraan ataupun bayangan yang dapat mereka simpulkan kemudian adalah, adanya hal khusus, yakni tinggal berdua saja di rumah yang cukup besar itu -- tak akan berlangsung lama lagi. Sebab, anak pertama baru saja lahir. Dan dari tahun ke tahun, anak demi anak akan datang menyusul, membagi-bagi ruangan demi ruangan, dan menghabiskan semua jatah makanan. Hingga suatu ketika, nanti, di masa depan, yang tinggal hanyalah keterbatasan: tempat yang sempit dan makanan yang kurang, sebagai satu-satunya kenyataan yang tak terhindarkan, yang dengan mudah bisa dilihat pada keseharian, tanpa harus mengangankan rekaan yang berlebihan. Bukankah seperti itu yang telah, dan masih terus berlangsung dari tahun ke tahun, sejak dulu hingga sekarang, di perkampungan kumuh itu? Pastilah tak ada kekecualian bagi si suami-istri penghuni rumah di ujung lorong itu, sekalipun mereka hadir sebagai manu­sia-manusia yang berperilaku aneh, dengan kehidupan mereka yang terpisah dari para tetangga di mulut lorong.


6
------------------------------------------------------------
BERTAHUN-TAHUN kemudian, dalam satu hal, para tetangga dari mulut lorong itu ternyata salah. Tak ada anak yang bertambah di rumah di ujung lorong itu. Lalu, para tetangga itu juga salah perhitungan sejak awal dalam soal makanan. Bahwa kenyataan yang sebenarnyalah: makanan di rumah di ujung lorong itu sudah terba­tas sejak mula. Para tetangga di mulut lorong itu hanya benar atas perkiraan atau rekaan, yang bertahun-tahun kemudian sayang tidak dilanjutkan, bahwa suami-istri pendiam yang menghuni rumah di ujung lorong itu -- dulunya memang berbeda dari mereka. Bahwa para penghuni perkampungan kumuh yang menempati mulut lorong itu, berasal dari desa-desa yang terdesak oleh pertambahan penduduk dan keterbatasan lahan pertanian, lalu berangkat ke kota sebagai wilayah baru yang diharapkan masih memberi peluang bagi kerja dan kemauan keras untuk hidup. Sementara, si suami-istri penghuni rumah di ujung lorong itu, berasal dari dua keluarga kaya di tengah kota; yang oleh karena perkawinan tidak direstui, kemudian memilih kawin lari. Dan berbulan-bulan kemudian, setelah merasa jenuh dan kehilangan harapan dalam pelarian mereka, akhirnya memilih begitu saja: hidup di sebuah rumah tak terurus, yang berlokasi di ujung lorong itu; tepatnya, hidup di sebuah "bangu­nan" berbentuk rumah, yang tak pernah terbetik atau tergambar sekilas pun dalam angan mereka, sebagai manusia berkecukupan pada masa lalu. Rumah itu mereka beli, setelah sebuah perkenalan dan perbincangan tak penting dengan seseorang, dalam pelarian mereka.


7
------------------------------------------------------------
KEDUA keluarga mereka sangat mempertahankan gengsi keluarga, yang telah diwarisi secara turun-temurun, dan telah berhasil pula diupayakan dari hari ke hari sebagai salah satu nilai lebih dalam keberadaan mereka di atas yang lainnya. Hampir di semua sektor kehidupan, kedua keluarga saling memacu dan bersaing. Sebagai warga keluarga besar mereka, masing-masing seperti dikejar kewa­jiban untuk setiap kali menegaskan kebesaran keluarga, lewat berbagai perilaku atau kegiatan hidup yang dilibati. Saling ber­lomba membeli barang-barang baru yang datang dari luar negeri, dan memperlihatkan kepongahan bila tahu yang lainnya belum memil­iki. Saling mendahului mengunjungi tempat-tempat terkenal dan mewah di dalam negeri maupun di luar negeri, yang bagi masyarakat umum dijadikan ukuran kekayaan maupun ukuran tingginya selera hidup. Saling memacu pendidikan bagi anak-anak di sekolah-sekolah mahal dan bergengsi, di dalam maupun di luar negeri. Lalu hampir di semua bidang kegiatan bisnis dan pengembangannya, mereka pun bersaing sengit. Begitulah yang berlangsung antara dua keluarga paling makmur di kota itu, yang diketahui oleh masyarakat luas lewat berbagai pemberitaan koran dan media massa lainnya; terma­suk kabar kabur dari mulut ke mulut, yang terkadang lebih melebar dan lebih tajam ketika semakin lama beredar di tengah masyarakat luas. Hingga suatu ketika, dua keluarga makmur dan paling banyak menjadi bahan gunjingan pers itu harus bertemu di sebuah pengadi­lan, untuk mempertahankan kebenaran hukum surat kepemilikan masing-masing atas sebuah pembelian pabrik yang dilakukan lewat pihak ketiga. Maka, para pengacara dan pewaris kedua keluarga pun, tak terhindarkan harus bersua secara terbuka di pintu penga­dilan. Baik untuk mempertahankan keberlakuan surat kepemilikan masing-masing, maupun untuk mempertahankan citra keluarga di hadapan publik. Dan, terjadilah peristiwa ajaib yang tak pernah terbayangkan kedua keluarga yang selalu bersaing itu. Di mana para pewaris sulung, yang maju mewakili keluarga masing-masing ke pengadilan, secara jujur harus mengakui dan mencatat di dalam hati yang paling dalam, atas ketampanan dan kecantikan masing-masing lawan. Yang tak terhindarkan pula, kemudian dilanjutkan secara sembunyi-sembunyi dengan hubungan cinta. Bahwa di belakang layar permusuhan dan persaingan dua keluarga, sepasang pewaris yang saling mengasihi itu, telah meruntuhkan tembok permusuhan generasi pendahulu mereka secara kasar, telengas, atau bijak (?). Di depan umum, keduanya memang selalu tampil sepenuhnya, dengan wajah dingin, keras, seolah memendam marah: membawa suara keben­cian keluarga masing-masing. Tapi, begitu perhatian umum dan jaringan keluarga tak lagi mampu menjangkau kesendirian keduanya, maka mereka adalah sepasang kekasih yang tak pernah kehabisan waktu dan tenaga untuk saling melampiaskan rasa rindu dan kemes­raan. Bagai telah memendam cinta bertahun-tahun lamanya, terpisah oleh ruang dan waktu, keduanya selalu mengisi pertemuan mereka sebagai hari yang paling istimewa dalam kehidupan mereka. Seper­tinya, tak ada alasan sedikitpun untuk berlengah-lengah membicar­akan persoalan kedua keluarga, yang masa persidangannya telah menjadi berlarut-larut itu. Sebab permusuhan dan kehidupan yang saling berpacu di antara kedua keluarga, yang sejak lama telah menelan banyak biaya uang, pemikiran, kecerdasan maupun kebencian itu -- kini telah tampil sebagai persoalan remeh yang seharusnya tak perlu dilanjutkan atau diada-adakan. Sungguh tak berharga dibandingkan kehidupan mempesona yang mereka reguk berdua, yang hadir sebagai saat-saat mendebarkan yang tak akan pernah terulang lagi, di antara gejolak rindu dan gairah tubuh yang diwujudkan lewat sentuhan, belaian, tatapan, ciuman, gigitan, jilatan, dan bahkan sekadar dengusan di tengkuk yang lainnya.

8
------------------------------------------------------------
TAPI tak semua orang bisa mereka kelabui dengan sorotan dua pasang mata yang seolah-olah membenci itu. Adik-adik mereka, sesama pewaris dua keluarga, setelah pengamatan yang berulang-ulang akhirnya saling meragu, menyimak, memperbincangkan, dan ak­hirnya memastikan. Bahwa saudara sulung mereka, telah membelot ke pihak musuh. Paling tidak, pikiran jernihnya sukar dipertahankan kemurniannya, sebagai cara mempertahankan garis kemenangan keluarga. Karenanya, tak ada jalan lain, kecuali persekutuan yang mengkhianati keluarga itu diungkapkan ke hadapan masyarakat umum secara besar-besaran -- dengan menyuguhkan fakta baru. Bahwa pihak lawan, telah kehilangan harapan untuk mempertahankan surat kepemilikannya, hingga akhirnya mengupayakan cara apa saja. Termasuk, menggunakan "rayuan" cinta murahan sebagai cara terak­hir. Dengan jalan keluar seperti ini, simpati publik tetap dapat dipertahankan; karena keluarga berada dalam posisi yang dirugikan pihak lawan secara curang.

Masalahnya adalah, adik-adik kedua pewaris itu tidak memper­hitungkan, bahwa pihak yang lainnya juga berpikiran dan memilih jalan keluar yang sejenis. Dan mereka juga tak memperhitungkan, bahwa pihak orang tua masing-masing ternyata telah lebih dulu mengetahui peristiwa asmara anak sulung mereka, dari laporan mata-mata masing-masing. Dan secara tak terduga, para orang tua itu ternyata mampu menerima adanya kenyataan baru; sekiranya ada perubahan hubungan keluarga di antara mereka, setelah permusuhan yang telah berlangsung selama puluhan tahun itu. Jadinya, bagi para orang tua itu, yang lebih bergejolak adalah perasaan ternan­ti-nanti, kapan anak sulung mereka mengungkapkan isi hatinya secara berani, dan lebih jauh lagi akan mengabarkan: menjelangn­ya perkawinan. Dengan berdebar-debar, para orang tua itu mem­bayangkan, hubungan besan akan menjembatani jurang permusuhan keluarga, yang telah berlangsung selama beberapa generasi atau turun-temurun itu.

Begitulah permusuhan kedua keluarga yang diekspresikan dengan saling berlomba dan menyaingi itu, telah meracuni para keturunannya sedemikian rupa. Dan kali ini, daripada membakar hati mereka yang sudah tua, ternyata permusuhan itu lebih mem­biakkan sifat iri hati dan kemarahan pada orang-orang yang lebih muda.

Ketika hubungan asmara yang telah berlangsung selama berbu­lan-bulan itu terbongkar di hadapan umum, yang paling terkejut tentu saja adalah sepasang kekasih. Mereka seperti baru saja terbangun dari sebuah tidur panjang yang sangat membius. Keduanya tersadar dengan perasaan perih, menemukan sekitar telah menjadi asing dan tak terpahami. Mereka bagai sepasang pendosa, tertang­kap basah oleh orang-orang yang tidak mereka kenal, ketika mereka sedang melakukan semacam perbuatan yang sangat memalukan dan menghinakan. Dan mereka pun tak bisa lagi memupuskan perasaan yang terus menggayut: bahwa tiba-tiba saja, semua mata di dunia ini sedang menyorot kepada mereka dengan mengejek, mencerca, dan mencemoohkan. Seolah semua orang tiba-tiba saja telah sepakat, bahwa perbuatan paling hina-dina dan terkutuk di dunia ini: adalah mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan atas nama gengsi keluarga. Lalu, yang paling menyakitkan adalah: tak ada jalan lari untuk mereka. Tak ada ruang untuk bersembunyi. Tak ada orang lain yang dapat dijadikan teman berbagi rasa, kecuali mereka berdua yang tiba-tiba saja merasa begitu sendiri di kera­maian. Tak ada tempat mengaso. Sebab, setiap tangan yang mencoba menyalami mereka, dengan mengucapkan selamat atas keberanian mereka memelihara cinta yang bersemi di hati; terlebih dulu telah mereka curigai sebagai basa-basi yang menyembunyikan kelicikan, berupa hukuman penghinaan yang lebih menyakitkan. Bahwa mereka berdua adalah: manusia-manusia lemah, yang tak bisa memilah-milah kepentingan keluarga dan perasaan romantik remaja. Bahwa mereka berdua adalah: jenis manusia yang tidak bisa dijadikan pembimb­ing, bagi adik-adik mereka. Apalagi yang bisa dianggap berharga, dari dua manusia yang telah menyalahgunakan kepercayaan keluarga, dan publik yang mendukung mereka?

9
------------------------------------------------------------
BANYAK cara orang melarikan diri dari masalah yang menjer­atnya. Tapi sepasang kekasih hampir tak memiliki tempat, cara, dan pengaduan. Semuanya begitu tak memberi harapan, tak begitu membantu. Daripada menghadirkan sedikit kenyamanan, semuanya justru memperberat beban pikiran masing-masing. Mereka telah mencoba berdiam di berbagai kota yang jauh. Mereka telah mengu­payakan berbagai hiburan di berbagai tempat. Mereka telah menghu­bungi teman-teman yang dulu mereka anggap sebagai sahabat yang sebenarnya. Tapi tak ada jalan keluar. Tak ada kesempatan untuk melarikan diri. Tak ada peluang memperoleh penghiburan barang sejenak pun. Setiap saat hari-hari mereka tinggal penyesalan, pertengkaran, kecemasan, rasa bersalah, dan keputusasaan, atas tak terhindarkannya penghukuman masyarakat yang diwakili oleh saudara-saudara mereka, yang dulu selalu mendukung dan melingkari sebagai orang-orang terkasih. Lalu, pada malam-malam tertentu, dalam pertengkaran mereka yang selalu dipenuhi kata-kata sesal berkepanjangan itu, mereka pun saling menatap dengan berurai air mata, saling menyampaikan sesal lewat kebisuan, betapa mereka sangat merasa bersalah dan sekaligus sangat menyayangkan sikap membisu orang tua mereka. Tak ada yang lebih menyakitkan, agakn­ya, bagi sepasang kekasih, daripada kehidupan yang harus dilan­jutkan tanpa berkesempatan menyertakan kehadiran orang tua terka­sih, yang sebenarnya tinggal sekota dengan mereka. Tinggal tak begitu jauh, dari rumah mereka yang tersembunyi di sebuah ujung lorong sebuah perkampungan kumuh, yang tak akan pernah dipandang dengan sebelah mata oleh segenap keluarga mereka.

Sepasang kekasih, akhirnya membeli rumah dari seseorang yang belum lama mereka kenal. Sebuah rumah yang kurang terawat dan hanya memiliki bau busuk yang menyebalkan sebagai ciri khasnya. Dan lokasinya yang masih di kota mereka itu juga, sepanjang usia mereka sampai pada pelarian mereka yang menyakitkan itu, benar-benar tak pernah masuk dalam kesadaran mereka: bahwa di tempat yang mereka tahu sebagai wilayah perkampungan kumuh itu, terdapat rumah-rumah darurat yang dijadikan tempat tinggal. Dan lokasi rumah yang mereka beli dengan harga murah itu, kebetulan berada di ujung lorong yang membelah perkampungan kumuh itu. Hal yang semakin mustahil lagi masuk ke dalam perhitungan saudara-saudara mereka, yang masih saja mengganggu dengan teguran-teguran penye­salan dari kejauhan; selama mereka berada dalam pelarian dari kota ke kota dan dari negara ke negara. Mulanya mereka bersembunyi ke ibukota-ibukota negara-negara Asia: Bangkok, Manila, Kuala Lumpur, Rangoon, New Delhi, Seoul, Tokyo, dll. Lalu mencoba pula sembunyi di beberapa kota besar Eropa: Paris, London, Amsterdam, Berlin, Brussels, Copenhagen, Frankfurt, Glasgow, Lisbon. Lalu ke Amerika Selatan: Buenos Aires, Montevideo, Rio De Janeiro, Sao Paulo. Lalu ke Amerika Utara: Miami, Boston, Philadelphia, Chica­go, Dallas, San Francisco, Denver. Bahkan ke Samoa, Honolulu, Tahiti, Melbourne, Fiji, Auckland. Dan akhirnya kembali ke Bali, Ujung Pandang, Biak, Palembang, Solo, Surabaya, Banda Aceh, Medan, Padang, dan...Jakarta.

Ke semua kota-kota di berbagai negara itu, mereka mencoba menyembunyikan diri dari kejaran masa lalu, berupa nistaan sanak keluarga yang tak pernah siap dengan langkah perdamaian yang mereka tempuh secara pribadi dan tanpa rencana segenap keluarga yang biasanya selalu memulai segala gerak kehidupan dengan rapat besar itu. Surat-surat selalu datang mengejek, melecehkan, men­eror, bahkan terkadang cuma menyatakan kebencian kasar dari beberapa adik yang kurang senang atas jalan hidup yang ditempuh saudara tua mereka: "Rasakan, makhluk hina, kemana pun kamu pergi, kami akan terus membuntuti dan mencerca, agar kamu ingat pengkhianatan kamu terhadap keluarga besar yang melahirkan kamu!". Pesan-pesan kilat lewat telegram pagi hari, telepon tengah malam, e-mail siang dan sore hari, selalu menerpa kesadar­an dan membuyarkan setiap rencana masa depan ataupun sedikit ketenangan yang berhasil mereka raih begitu tiba pada sebuah kota di negara lainnya. Hingga nyaris tak ada waktu untuk menghela nafas, melonggarkan dada dari kecemasan dan keterdesakan. Dan yang paling kasar adalah: adanya gangguan-gangguan ketika mereka menyeberangi jalan, entah di kota mana dan di negara manapun -- tiba-tiba saja akan ada mobil yang menyambar -- tidak menabrak tapi jelas menakutkan mereka berdua. Tiba-tiba saja ada batu kecil atau sebongkah lumpur dari arah tertentu, menyerbu dan mengenai kepala atau dada. Juga gangguan-gangguan di lift yang tiba-tiba mati lampu dan berhenti selama beberapa saat, di kamar hotel yang entah kenapa penuh kecoa atau beberapa ekor ular yang menjijikkan, atau di perjalanan dengan kapal laut dan pesawat terbang yang tiba-tiba saja menolak mereka dengan alasan penum­pang sudah penuh. Adik-adik mereka, selalu saja menemukan cara untuk mengganggu, melampiaskan kebencian, atau mengingatkan, seperti istilah mereka. Dan adik-adik mereka selalu saja mengeta­hui, ke mana pun mereka beranjak, membawa beban pikiran mereka yang semakin berat dan mulai menggenangi tidur mereka, dengan mimpi-mimpi menakutkan.

Mereka pun mulai melanjutkan pelarian dengan keraguan dan kecemasan yang semakin besar. Bahwa semua pelarian itu sia-sia. Bahwa mereka memang telah melakukan sesuatu yang tak sepantasnya. Bahwa mereka mulai jenuh dipersalahkan semata. Mereka ingin berhenti. Mereka ingin membiarkan dunia luar mengalir semaunya tanpa mereka hadapi dengan perhitungan serius tentang kepentingan pribadi, atas nama cinta, kebebasan, kemerdekaan, atau apa pun namanya. Mereka ingin melanjutkan hidup apa adanya, dengan kesa­daran seadanya, sebagaimana manusia-manusia "kalah" yang selama ini tak pernah mereka anggap penting keberadaannya, hingga hanya pantas mereka jadikan sebagai korban, budak, ataupun konsumen bodoh bagi produk-produk baru yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik mainan, rokok, permen, dan alat-alat olah raga mereka. Mereka ingin hidup dengan menutup mata, atau melumpuhkan kesadaran dan segenap panca indera; agar terhindari dari segenap persoalan yang masih saja mengejar dari masa lalu. Mereka ingin hidup tanpa adik-adik mereka yang culas!

10
------------------------------------------------------------
BENAR saja. Begitu mereka menghuni rumah di ujung lorong itu, tak sepucuk surat atau telegram pun pernah sampai kepada mereka. Apalagi e-mail. Atau gangguan-gangguan di perjalanan, ancaman-ancaman di telepon, dan timpukan-timpukan batu kecil mapun lumpur di jalanan becek dan gelap. Kini, lokasi baru per­sembunyian mereka, yakni lorong kumuh di daerah kota kelahiran mereka itu -- telah menghilangkan mereka dari kota-kota mana pun yang terkenal di dunia ini, sebagai tempat pelarian sepasang kekasih. Rumah di ujung lorong yang bersebelahan dengan kali berair hitam dan selalu menyebarkan bau busuk itu, telah menyem­bunyikan mereka dari semua mata-mata keluarga yang selama ini ditugaskan membuntuti mereka. Para mata-mata itu tentu saja sudah terbiasa beroperasi di bandar udara dan laut, dan menyebarkan kaki tangan mereka menyelidiki hotel-hotel dan tempat-tempat terkenal yang pernah dikunjungi oleh kedua keluarga. Hingga para mata-mata itu tak pernah membayangkan, sama halnya dengan adik-adik mereka -- bahwa sepasang kekasih yang harus mereka ganggu -- berada satu kota dengan mereka, tanpa hasrat ingin memperlihatkan perlawanan dengan kebahagiaan atas jalan hidup pilihan mereka.

Sepasang kekasih memang tak pernah ingin melawan "keluarga" sejak awal; dengan perhitungan bahwa pilihan mereka lebih mel­uangkan hadirnya kebahagiaan. Mereka hanya disemangati semacam gejolak tak terjelaskan, rasa ketertarikan satu sama lain, yang tiba-tiba saja muncul, lahir, dan kemudian tumbuh membesar seba­gai gumpalan perasaan tak ingin kehilangan yang lainnya. Begitu saja, perasaan mereka kait-mengait; saling mencengkeram dan merangkul, ingin menggelinding leluasa, tak terhalang apa pun. Tak ada di sana hasrat ingin mengakhiri permusuhan keluarga dengan cara menyelinapkan rencana pengkhianatan, yang sama-sama disepakati. Tak ada di sana kesadaran ataupun rencana-rencana matang yang biasanya disusun di benak masing-masing, ketika masih di kamar pribadi, sebelum keluar ke ruang makan untuk sarapan pagi bersama seluruh anggota keluarga. Tak ada di sana perhitun­gan atau kecerdasan berkat pendidikan maupun pengalaman. Yang hadir di benak sepasang kekasih adalah: semata-mata kebodohan, kedunguan, dan keengganan berjauhan dari bau badan yang lainnya. Keduanya terbius suasana; bukan sengaja berkhianat seperti tudu­han saudara-saudara mereka. Sepasang kekasih: benar-benar tak berdaya oleh peristiwa alamiah dan manusiawi yang tak pernah terbayangkan, bahwa sentuhan demikian berpengaruh, bahwa senyuman demikian memikat, bahwa desah nafas demikian merangsang. Sepasang kekasih: bukan malah tegar sebagai sepasang pendosa, yang sengaja menantang kekokohan keluarga seperti dituduhkan saudara-saudara mereka, hingga para saudara itu tega dan malah bersemangat terus melangsungkan gangguan atau balas dendam.

Maka, ketika sepasang kekasih menemukan sebuah tempat per­sembunyian "terakhir" di ujung lorong itu, mereka pun tak pernah membayangkan bahwa untuk hari-hari selanjutnya mereka akan terbe­bas dari kejaran, gangguan, ataupun ancaman. Mereka telah terbia­sa dengan rasa putus asa, kepanikan, kehilangan harapan akan hari esok, dan setiap kali merasa sedang membenturkan nasib ke sebuah dinding waktu yang lembam dan memusingkan. Hingga, bila dapat menyadarinya saja sudah akan membuat perasaan berkecamuk oleh rasa gentar, dan akhirnya kehilangan gairah untuk sekadar mem­bayangkan adanya rasa nyaman di antara keheningan yang setiap kali menyambut hari-hari mereka selepas tidur. Tak ada lagi topik yang layak dibincangkan. Setiap peristiwa kehilangan simpul untuk diurai sebagai jalinan percakapan yang dapat menyegarkan kenan­gan, pengetahuan, ataupun hasrat ingin tahu tentang kehidupan di luar sana. Kebisuan menjadi kenyataan satu-satunya, yang acap kali menimbulkan rasa jemu, namun harus dihadapi sebagai kenya­taan termudah, tanpa bahaya, tanpa cemooh, tentang hari kemarin dan masa kini yang mereka lalui. Tak ada perbincangan, bahkan tentang cuaca, pada masa-masa akhir pelarian mereka, sebelum akhirnya mereka sepakat bersembunyi di rumah di ujung lorong itu.

11
------------------------------------------------------------
BEGITULAH. Hari-hari pertama sepasang kekasih di rumah baru mereka, adalah penyesuaian diri yang dilakukan dengan setengah hati. Bahkan, ada kalanya terlintas dalam benak masing-masing, atau masih ada bayangan kesadaran, bahwa pemilihan mereka untuk mendiami rumah di ujung lorong itu adalah bagian dari pelarian yang masih akan mereka lakukan. Besok atau lusa, pastilah mereka akan pergi lagi ke suatu tempat, menghindari gangguan dari sau­dara-saudara mereka yang selalu usil itu. Karena sudah terbukti selama ini, saudara-saudara mereka seperti tak pernah kehilangan energi untuk melampiaskan kemarahan dan kebencian mereka. Lalu selintas lagi, bila mereka secara kebetulan telah kehabisan bahan perbincangan tentang masa lalu, karena semakin jelas akhirnya bahwa mereka memang hanya memiliki masa lalu -- maka kesadaran yang menyeruak adalah gairah sumbang, bahwa mereka akhirnya benar-benar telah sampai pada pelarian "terakhir". Dan tempatnya, apa boleh buat: kurang memuaskan dan tak menjanjikan harapan sama sekali.

Hanya seminggu mereka bertahan dengan tubuh dan pakaian serta tempat hidup yang bersih. Selanjutnya mereka menjadi tak acuh dan penjorok. Si suami terkadang memang masih berkeinginan sekadar menyapu ruangan rumah yang kurang terawat itu; yang diwujudkannya dengan menyapu kamar dan ruang tengah yang berisi seperangkat meja tamu dan dua lemari tua yang terbuat dari kayu. Lalu si istri juga terkadang masih disertai ketulusan membawa semua pakaian kotor ke kamar mandi, yang anehnya bersumur dengan air yang bersih; sekalipun hanya berjarak belasan meter dari kali yang airnya selalu hitam dan menyebarkan bau busuk itu. Namun selanjutnya, masing-masing telah melihat pada yang lainnya, bagaimana kemauan hidup, gairah bercinta, semangat kebersihan dan pemikiran jernih -- telah pupus dalam pelarian-pelarian yang mereka lakukan selama berbulan-bulan itu. Sampai suatu saat, persediaan uang dan perhiasan mereka telah habis sama sekali, dan mereka menjadi pendiam satu sama lain, dan si suami tak menjelas­kan lagi, dari mana ia kemudian memperoleh uang untuk bahan-bahan makanan yang selalu dibawanya pulang, dan si istri sendiri telah kehilangan minat untuk mengetahuinya. Maka, kebisuan sempurna pun menjadi pertanda satu-satunya bagi kehadiran mereka, di rumah di ujung lorong itu.

Terkecuali sesekali, bila malam terlalu dingin bagi keduan­ya, maka masing-masing memerlukan kehadiran yang lainnya. Masing-masing sejenak terpesona kembali menemukan keberadaan mereka; bahwa dengan keberanian tertentu, mereka telah memilih sebentuk kehidupan yang sebelumnya tak pernah mereka bayangkan pada masa lalu. Mereka telah menjalani kehidupan itu selama berbulan-bulan. Hanya berdua. Berdua. Tanpa siapa-siapa. Jauh dari rencana-renca­na keluarga yang umumnya di rancang di meja makan besar mereka. Jauh dari kepentingan-kepentingan bisnis yang dulu adalah perhi­tungan utama dalam benak masing-masing, ketika hendak melangsung­kan suatu pilihan atau tindakan. Sekali lagi: kini mereka hanya berdua. Berdua, saling menatap, saling membutuhkan, saling mera­sakan, saling menjamah, saling mengkhayati keberadaan yang lainnya, secara langsung. Dan bila segalanya usai, berganti dengan keringat yang membanjiri tubuh; di antara sehembus rasa kantuk yang bertiup tersendat-sendat di wajah mereka -- maka masing-masing pun sesaat tergetar oleh bangkitnya perasaan malu di dasar hati -- bahwa mereka, baru saja saling memangsa dan saling membaui tubuh yang lainnya dengan rakus. Sesaat, mereka seperti kehilangan semua norma, yang pernah mereka percayai seba­gai ukuran melampiaskan pergaulan dalam bentuk keintiman jasmani orang-orang dewasa. Sesaat, mereka seperti baru menemukan kembali sebongkah kesadaran purba, yang belum meluangkan ruang untuk aturan-aturan tertentu sebagai landasan keberadaannya; kecuali mengikutkan gejolak hasrat dan kemauan tubuh semaunya. Sesaat, mereka dihinggapi kenikmatan: bahwa bertingkah buas seperti hewan-hewan yang sedang "mabuk kawin" itu, ternyata menimbulkan perasaan terbebas dari segala tekanan hidup, yang selama ini telah memburu-buru mereka dengan perasaan bersalah yang tidak semestinya. Dan bangkitnya semacam perasaan malu atas semua ini, membuat mereka kemudian merasa gamang mengenali kehadiran yang lainnya. Lalu, hari kemarin serta hari esok pun segera menjelma sayup sebagai kenyataan yang semakin tidak terpahami. Di antara kekinian, yang mereka miliki; yang mereka kenali, hanya sebagai permukaan tubuh yang sedang dibanjiri keringat yang belum juga mengering. Di antara angin malam pelarian abadi mereka: yang sesekali menghembuskan bau menyengat dari air kali di luar sana; dan tak henti-hentinya menggemakan pula raungan mesin pabrik yang tak pernah lelah menghembuskan asap tebalnya ke angkasa langit malam di sebelah timur.

12
------------------------------------------------------------
PEREMPUAN TUA itu menerima pengalaman pertamanya sebagai ibu muda, berpuluh tahun lewat, dengan penuh rasa kekecewaan atas kemalangannya, dan penuh kebuntuan pikiran atas segala ke-"raha­sia"-an alam, yang menurutnya hanya ingin melukai perasaannya. Kalau kesalahannya mengikutkan naluri keperempuanan yang muncul tiba-tiba, dan kemudian menuntunnya berani meninggalkan rumah keluarga -- memang tak terampuni -- mengapa alam demikian tele­ngas menimpakan akibatnya kepada seorang bocah tak berdaya. Bocah malang, yang memulai kehidupannya, langsung mengemban hukuman yang semestinya ditanggung kedua orang tuanya. Sungguh alam telah berbuat semena-mena, membelokkan kesialan yang harus ditanggung­kannya karena mengkhianati keluarga, seperti diistilahkan sau­dara-saudaranya itu, menjadi nasib buruk: tanpa suara dan bahasa, tanpa kemampuan menyampaikan hasrat dan kedukaan secara normal, seperti yang dilalui dengan berat oleh anaknya itu.

Adalah kenyataan sekaligus kenangan tak terhapuskan dari benak perempuan tua itu, ketika anak yang lahir di rumah di ujung lorong tanpa pepohonan itu, terpaksa tumbuh besar secara liar, tak terawat secara baik, tak sekalipun menimbulkan perasaan gemas seperti halnya bila mengamati anak-anak umumnya; melainkan sema­ta-mata bergejolaknya kesimpulan "anak yang patut dikasihani" bila memandanginya, dan ternyata kemudian: tumbuh gagu. Bisu. Tak dapat mengeluarkan suara yang mengemban makna, seperti anak-anak sebayanya. Tak mampu menyampaikan kata, atau bahasa, dengan muatan pengertian yang membuat diri sendiri dan kehidupan di sekitar, menjadi berharga, dikenali dan dipahami. Sungguh menya­kitkan kemudian, bila menyadari, bahwa dalam silsilah keluarga mereka berdua, tak ada seorang pun yang gagu, bisu, tak dapat bicara atau mengeluarkan suara penuh makna. Tak ada paman-paman atau kakek-nenek dalam keluarga mereka yang tak dapat menyampai­kan isi hati dan pikirannya, karena bisu atau gagu. Apa yang menyebabkan seseorang terserang penyakit bisu? Penyakitkah? Cacat tubuh? Cacat otak? Ah. Apa yang mengakibatkan seseorang tak mampu mengumpulkan gelombang suara di tenggorokan, atas perintah otak, dan kemudian menghembuskannya, mengucapkannya, berupa kata-kata dari mulut? Apa, apa yang terjadi dengan anaknya, hingga anaknya tak dapat menyamai kemanusiaan kedua orang tuanya, bahkan dengan sekadar dapat berbicara, dapat mengemukakan perasaan atau pikir­annya; kalau tidak dapat lagi mengulangi masa lalu yang mewah, lahir di rumah sakit mentereng, dan kemudian menempuh pendidikan di sekolah bergengsi? Mengapa, mengapa anaknya yang harus menang­gungkan tulah kutukan saudara-saudara kedua orang tuanya, yang merasa dikhianati itu? Belum cukupkah siksaan, ejekan, teror, yang telah mereka alami selama dalam pelarian itu, sebagai huku­man karena meremehkan tanggung jawab menegakkan kebesaran nama keluarga?

Sungguh menyakitkan bagi perempuan itu, adegan di suatu pagi, bagaimana anaknya itu ingin menyampaikan sesuatu sambil menunjuk-nunjuk ke depan pintu; sementara ia mengira anaknya itu sedang memberitahukan kedatangan seseorang yang mencari mereka. Ia, membayangkan akan datangnya seseorang, bagai tersengat petir yang menyambar kesadarannya dari masa lalu -- segera berlari ke depan dan menutupkan pintu serta jendela-jendela dengan panik. Hingga seluruh ruangan tiba-tiba menjadi gelap dan agak asing bagi tatapannya. Begitulah yang selalu terjadi, bahkan bila akhirnya yang datang adalah seseorang dari ujung lorong, yang sesekali memang sengaja mampir mencari suaminya. Namun, hari itu, rasa asing karena menemukan ruangan yang tiba-tiba gelap itu, segera hilang tak berbekas, ketika ia kemudian menjadi bingung menyaksikan anaknya yang gagu itu serta-merta telah menangis sesugukan tanpa suara sama sekali. Hanya ah-uh-ah-uh-ah-uh...selama beberapa saat. Begitulah anaknya itu mencoba menjelaskan segenap pikiran dan perasaannya dengan kesal. Sementara ia hanya memandangi dalam kegelapan itu, bagaimana anaknya itu kemudian berguling-gulingan di lantai; pada saat ia sendiri lebih memusatkan perhatian ke arah pintu yang telah ia tutupkan dengan cepat itu. Tanpa sadar, ia tetap saja menunggu-nunggu dengan perasaan tidak sabar, dan sangat mengharapkan seseorang akan segera mengetuk dari sana. Pada saat seperti itu, masa lalu begitu saja membayang dan membentang kembali, mengalirkan semua kenangan yang berisi kehidupan nyaman semasa masih di tengah-tengah keluarga dan teman-teman. Sebuah dunia yang bersih, mewah, dan selalu cerah oleh berbagai rancangan untuk masa depan. Begitu saja ia telah berpindah ke wilayah lain yang sedang menggelombang di benaknya, sekian lama; sementara ia berdiri tak jauh dari anaknya, yang agaknya sedang berusaha menjelaskan ketidakadi­lannya, dengan menangis sesugukan serta berguling-gulingan di lantai.

Prasangka yang tak pernah berhasil diredupkan, atas kenangan yang tak terlupakan oleh perempuan tua itu adalah: anaknya itu pastilah berpikiran, bahwa sang ibu telah berbuat tak adil dengan menutupkan pintu, ketika seekor kucing yang mengikutinya dari permainan, sedang menuju pintu rumah mereka. Begitulah perempuan itu menerjemahkan kebisuan rumah di ujung lorong itu, setelah tangis anaknya yang gagu itu usai. Karena beberapa hari sebelumn­ya, tanpa sengaja ia telah melihat anaknya itu berusaha menarik-narik seekor kucing dari tepi kali yang berair bau itu. Kucing itu bertahan dengan keempat kaki mungilnya yang mencengkeram tanah tempatnya berdiri, sedemikian rupa, sementara anaknya yang gagu itu berusaha menarik dengan sentuhan jemarinya yang diusaha­kan selembut mungkin. Betapa pedih perasaannya ketika melihat, bagaimana anaknya itu kemudian mengisyaratkan dengan memberi petunjuk, agar si kucing mengikuti ke rumah; dan entah kata-kata apa yang disampaikan oleh anaknya itu, sebab yang tertangkap oleh telinganya hanyalah kata-kata tanpa makna ah-uh-ah-uh-ah yang berkepanjangan. Dan betapa pedihnya ketika selintas ia teringat, bahwa ketika ia menutupkan pintu dengan panik itu, sekilas ia sempat melihat sang kucing sedang menghampiri pintu -- dan agakn­ya, sebelumnya telah mengikuti si anak, sementara si anak telah berlari gembira ingin menyampaikan kabar baru itu kepadanya. Kabar gembira, bahwa sang anak baru saja berhasil mengajak teman barunya memasuki rumah? Kabar gembira, bahwa sang anak memiliki sebuah kepandaian yang patut diacungi jempol, yakni menjinakkan kucing liar? Kabar gembira, yang seharusnya disambut dengan tawa gembira dan pujian; bukan sebaliknya, dengan kepanikan yang sukar dimengerti, lalu menghempaskan pintu dan menutupkan semua jende­la?

Ketika tahun demi tahun kemudian berlalu, perempuan tua itu hanya dapat menghukum dirinya dengan pengandaian-pengandaian, yang semata-mata menempatkan kehadirannya sebagai seorang ibu yang kurang cepat menanggapi bahasa sandi anaknya. Yang semuanya, berangkat dari rasa bersalah, karena ia tanpa sadar telah memilih menjadi saksi yang kejam, ketika sang anak menangis sesugukan di lantai; sementara ia masih bersempat-sempat melarutkan diri pada dunia masa lalu, yang telah lama hilang. Karena, ketika berdiri menanti ketukan di balik pintu itu, ia harus jujur mengakui, bahwa ada gairah yang kuat mengorak di dasar hatinya, ingin merasakan kembali kemeriahan masa lalu itu; dan mengibaskan ke belakang, semua kehidupan tanpa gairah di rumah di ujung lorong yang bersebelahan dengan kali berair busuk itu. Maka, sungguh pengalaman yang menyakitkan bagi perempuan itu, ketika menyimak kehadiran anaknya yang gagu itu di sekitarnya; dengan selalu terlebih dulu dilandasi rasa bersalah yang tak termaafkan oleh dirinya sendiri, bahwa ia telah begitu jauh berubah, menjadi tak berperasaan dan tak memiliki kepekaan seorang perempuan yang lahir di tengah keluarga kaya dan terhormat, yang telah disiapkan bersikap welas dan penuh perhatian sebagai bekal kehidupan yang harus diisi; namun ternyata gagal disandangnya, dan tak memiliki harapan memperbaikinya. Dan ia pun jadi terbiasa membiarkan anaknya, tumbuh sepenuhnya, menyesuaikan diri dengan rumah mereka di ujung lorong itu, tanpa kejutan atau perubahan yang berarti untuk dicatat di dalam hati. Bahwa anak itu terus menjadi gagu, penjorok, dan kemudian senang membuka pintu serta semua jendela lebar-lebar -- ia hampir tak memperdulikannya. Sebagaimana ia pun kemudian tak perduli lagi, apakah ia masih mampu atau tidak: memperlihatkan perilaku sebagai seorang perempuan terhormat, yang telah terlatih menularkan perhatian, rasa sayang, dan kehangatan, ke sekitar.

Sampai si gagu itu, kemudian menghilang suatu hari dan tak pernah kembali lagi. Meninggalkan si perempuan tua penguni rumah di ujung lorong itu, bersama suaminya yang pendiam itu, bersama kenangan-kenangan yang terkadang berkelebat di kejauhan kesadaran mereka. Ketika mereka semakin tak melihat lagi, sebuah titik kemungkinan pun, untuk kembali ke sana. Kecuali menyadari semua itu, pada saat-saat tertentu -- sebagai sebuah pengalaman yang pernah mencatat kehadiran mereka dengan kebahagiaan seorang anak, seorang saudara, dan seorang anak hartawan yang memiliki banyak kemungkinan bentuk hidup dibanding orang lain. Kalau kemudian kemungkinan itu, ternyata hanya masa-masa menjemukan tanpa hara­pan di rumah di ujung lorong itu -- memikirkan siapa yang harus disalahkan, atau siapa yang bertanggung jawab -- terkadang mem­buat kesadaran suami-istri itu seperti terbakar di antara kebi­suan mereka, dan menghadirkan perasaan putus asa yang tak terki­baskan bahkan di dalam mimpi. Terlebih bagi si istri, bila secara kebetulan tatapannya hinggap pada anaknya yang gagu itu, yang kesehariannya berlanjut sebagai kehidupan tanpa jejak dan tanda-tanda khusus sebagai anggota keluarga. Si gagu itu, begitu luwes menjalani hidupnya, dengan segala keterbatasannya sebagai seorang anak yang menghabiskan hari-harinya sendirian saja. Si gagu itu, begitu ringan melambungkan angan-angannya, ketika ia menengadah ke langit sebelah timur, dengan tangannya yang dekil mengusap-usap perutnya yang buncit. Si gagu itu, begitu tak membutuhkan siapa pun di dunia ini, kalau hanya untuk melalui hidup kesehar­ian dengan membukakan pintu serta jendela-jendela lebar-lebar. Si gagu itu, begitu mampu tak memperdulikan apa saja di sekitarnya, ketika menghilang dari pagi hari, dan pulang larut malam berse­limutkan embun, dengan perut yang berulang-ulang berkeroncongan. Si gagu itu, begitu kejam memaknai kehadirannya dengan segala kebisuan dan ketakperduliannya akan dunia kedua orang tuanya, yang kemudian hanya semakin membiakkan rasa bersalah tak berkepu­tusan di benak perempuan itu -- ketika si gagu itu kemudian pergi tanpa membawa apa pun -- dan benar-benar tak pernah kembali lagi.

14
------------------------------------------------------------
DUA orang yang telah hidup bersama, bahkan selama beberapa tahun, tak terhindarkan: suatu kali tetap saja membiarkan sesal yang menggeliat di dasar hati, menyeruak ke permukaan kesadaran. Bahwa mereka telah bertemu dan memilih hidup bersama, bukanlah persoalan yang dengan mudah dijabarkan pelik-peliknya atau dapat dipungkiri begitu saja. Karena acap kali, pada saat-saat "jatuh cinta" yang lebih banyak berperan mengatur hidup mereka adalah perasaan, guncangan emosi, getar-getar naluri atau semacamnya, yang memperlihatkan betapa semua tindakan itu sangat jauh dari nalar, penjelasan logis, ataupun perilaku yang dapat diperhitung­kan untung ruginya. Tapi, sebelum proses "jatuh cinta"; bukankah terbentang satu alur kehidupan yang sepenuhnya dikontrol oleh kesadaran berpikir, perkiraan matematis, atau seluruhnya berada dalam genggaman akal? Yang semestinya dapat ditunda memilih A, lalu mengikutkan B atau C atau D? Dalam kasus si suami; daripada memilih mewakili keluarga ke sidang pengadilan itu, dalam waktu yang sama sebenarnya ia dapat saja memilih mengikuti pertemuan dagang tingkat internasional di Jepang itu? Dalam kasus si istri; daripada menerima tawaran menanggungjawabi langsung perebutan hak kepemilikan perusahaan yang tidak begitu besar itu, bukankah sebaiknya ia memilih menghabiskan masa cutinya yang sebenarnya masih tersisa seminggu perjalanan ke Eropa bersama teman-teman wanita pengusaha itu? Dan dalam kasus keduanya: mengapa tidak menyerahkan saja kesempatan membela nama keluarga itu, kepada pasukan pengacara mereka, yang tentu saja dapat dengan mudah mengatasi persoalan sesuai keahlian mereka. Mengapa? Mengapa harus melibatkan diri pada bidang pekerjaan yang bukan keahlian utama itu? Keduanya memang praktisi hukum lulusan luar negeri; tapi selama mereka telah kembali ke dalam negeri, mereka lebih banyak mengisi hidup mereka dengan memanfaatkan latar pendidikan bisnis yang juga mereka peroleh di luar negeri. Mereka lebih banyak berperan sebagai eksekutif di berbagai perusahaan keluar­ga, daripada mengurusi bidang hukum di grup perusahaan. Lalu, mengapa dalam sebuah kasus sepele itu, mereka memilih peran sebagai orang-orang yang mengerti liku-liku hukum? Mengapa? Seandainya mereka dapat memutar mundur ruang dan waktu! Mengapa? Mengapa harus ada pertemuan kilat yang berujung pada kejadian menggemparkan itu? Mengapa? Mengapa? Begitulah keduanya terkadang membiarkan sesal bergulir di hamparan ke sadaran mereka; membuat keduanya termangu memandangi sosok yang lainnya, dan tergoda untuk segera melengos kasar, ketika yang lainnya berusaha melirik sungkan.

Jadi sesungguhnyalah, suami-istri penghuni rumah di ujung lorong itu, selama bertahun-tahun, telah sama-sama memiliki rasa sesal yang kemudian meningkat menjadi rasa bersalah dan sekaligus menyalahkan yang lainnya sebagai penyebab semua kemalangan hidup masing-masing. Dan bila perasaan menyalahkan sedemikian besar, maka para penghuni di perkampungan kumuh itu pun akan disuguhi sebuah adegan aneh lainnya dari penghuni rumah di ujung lorong. Para penghuni itu kemudian mencatat, bahwa sang suami ada kalanya pulang ke rumah pada larut malam, tanpa membawa apa-apa di tan­gannya. Ibarat seorang pemburu yang gagal, ia pulang ke rumah hanya membawa letih dan kesalnya dengan kedua tangan kosong menggantung berat di bahu. Lembing dan kantung anak panah meng­gantung tanpa isi di pinggang, sementara belasan anak panah yang dipersiapkan sebelum berburu, telah dilepaskan percuma; mungkin mengenai hewan buruan namun tidak mematikan hingga anak panah itu dibawa lari, atau mungkin juga anak panah itu benar-benar melun­cur sia-sia hanya melukai angin. Atau, ibarat seorang pemulung, seperti kebanyakan suami-suami mereka, maka sang suami dari mulut lorong itu adalah pemulung yang sial, berangkat dan pulang ke rumah masih dengan keranjang kosong yang sama; padahal seluruh pakaian dan tubuh telah kucel dilapisi debu dan keringat, karena panjangnya perjalanan. Hingga, bila memandang berlama-lama, akan menimbulkan rasa kasihan dan keharuan beberapa orang penghuni, dengan terbetiknya simpati di dalam hati, bahwa keesokan paginya, mereka akan mengirimkan makanan apa saja yang kebetulan masih tersisa di dapur mereka.

Tapi simpati atau niat baik seperti ini, hingga bertahun-tahun kemudian tak pernah diwujudkan dengan tindakan. Seperti sebuah kiasan di suatu tempat: niat baik berseliweran sepanjang malam, tapi selalu dilupakan di bawah terik matahari. Karena kebetulan, orang-orang yang memergoki si suami dari ujung lorong itu pulang dengan hampa tangan -- adalah orang-orang yang sudah terbiasa -- hanya mampu membisikkan janji-janji di dalam hati, namun kemudian lupa setelah angin tidur melelapkan mereka. Semen­tara, keesokan harinya, mereka selalu terbangun di dunia yang keras, yang menuntut segenap kesadaran untuk terlebih dulu memikirkan diri sendiri dan keluarga masing-masing. Adalah peker­jaan yang terlalu mewah, bila melibatkan keseharian yang mereka isi dengan kerja keras -- dengan menepati janji yang dikuakkan di dasar hati menjelang tidur. Bagi mereka, saat-saat menjelang tidur, adalah saat di mana kondisi tubuh dan segenap pikiran dan perasaan manusia mengangankan segala kebajikan; dengan kata lain, situasi terlemah dari kondisi manusia; jadi, maklum saja, bila apa yang sempat berlangsung pada saat-saat lemah tersebut, se­baiknya diabaikan dari kenyataan esok harinya. Mereka, lebih sering merasa sudah cukup, dan merasa wajar bila menggunjingkan kemudian: bagaimana perilaku si suami dari ujung lorong itu terkadang menimbulkan tanda tanya berkepanjangan -- ketika mereka sudah berkali-kali memergoki keanehannya. Bukan sekali dua kali mereka saksikan, si suami itu, sambil melangkah di mulut lorong -- dengan tidak sabar memakan habis makanan yang dibawanya. Tanpa cuci tangan seperti orang kelaparan, tangannya akan segera meraup makanan dari bungkusannya, memasukkan ke mulut berulang-ulang, mengunyah tergesa-gesa dengan mulut dijejali makanan, sementara ia terus melangkah, namun kali ini dengan langkah lebih kecil dan lambat, seperti khawatir terlambat namun tak semestinya pula sampai terburu-buru di rumah. Atau, kalau si suami itu melihat upayanya memakan habis semua makanan yang dibawanya tidak berha­sil, maka ia pun akan melemparkan sisa makanan yang sengaja dibawanya itu ke rimbunan semak-semak kering di kiri-kanan jalan lengang, yang memisahkan mulut lorong dan rumah di ujung lorong itu. Seolah si suami itu, ingin menyatakan kepada dunia, bahwa ia bebas membuang apa saja yang dimilikinya; karena ia sendirilah yang mengupayakannya, meng-ada-kannya, dengan bekerja keras di tengah kota sana. Dan juga, si suami itu seperti ingin memperli­hatkan kepada malam yang melingkupi di sekitarnya -- adalah berlebihan -- bila ia masih harus membawa makanan sisa itu sampai ke rumah; karena dengan pulang saja, ia sudah menunaikan sebagian kewajibannya sebagai seorang suami. Meskipun, dalam beberapa peristiwa, si suami itu sebenarnya telah sengaja membawa makanan itu dari tengah kota dengan bungkusan yang terkadang sangat rapi; karena lamat-lamat kesadarannya pernah dihinggapi semacam keti­daktegaan, untuk mengulangi perbuatan mubajir itu. Tapi, si suami itu seperti tak ingin membiarkan pertentangan batin berlarut-larut mempermainkan dirinya. Pada akhirnya ia selalu memilih melakukan perbuatan kasar dan telengas: membuang makanan yang tidak sanggup dihabiskannya; sekalipun ia kemudian melangkah dengan perasaan sakit tercabik-cabik.

Keanehan ini, tentu saja melahirkan bermacam-macam prasangka bagi para penghuni rumah di mulut lorong. Beberapa orang ibu tanpa tedeng aling-aling menandaskan, bahwa si suami di ujung lorong pastilah seorang lelaki yang memiliki jiwa tak terpuji. Kalau bukan seorang suami yang culas, pastilah ia seorang suami yang memiliki penyakit aneh -- senang menyakiti keluarga sendiri -- dengan cara sembunyi-sembunyi dan tak terpuji. Bukankah ia telah berlelah-lelah mengupayakan berbagai cara di tengah kota sejak pagi hingga sore harinya, untuk mendapatkan uang pembeli makanan, yang akan dibawanya pulang ke rumah itu? Yang boleh jadi dilakukannya dengan cara mengemis-ngemis pekerjaan, kepada orang-orang tak dikenal yang bisa saja bersikap kurang ramah, di kota sana? Mengapa pula ia kemudian harus memakannya sendirian saja, dengan cara rakus dan semberono, atau malah membuangnya ke rimbu­nan semak-semak, mengenyangkan anjing malam? Kalau ia sendiri sebelumnya telah membawa makanan itu dengan penuh tanggung jawab dan perhatian? Menghargai hasil keringat sendiri dan kelanjutan hidup keluarga? Pastilah jiwanya telah rusak: peragu, penuh niat busuk dan kebencian, dan tak memiliki pendirian kokoh dan jelas; sebaliknya, kepribadiannya gampang berubah, plintat-plintut seperti orang yang tak berani berpendirian, lain pagi ketika meninggalkan rumah, lain pula malam ketika kembali ke rumah. Sungguh sebuah jiwa yang boleh jadi telah berkarat, retak-retak, dan boleh jadi telah pecah-pecah oleh maksud-maksud tak senonoh, yang terkadang boleh jadi dipahaminya sebagai satu-satunya kenya­taan batin yang ingin dikenalinya, dan lain saat dipahaminya sebagai gejolak batin yang akan mengkhianatinya. Hingga sebagai manusia normal, ia tak sanggup lagi untuk sekadar mempertimbang­kan -- bahwa angin malam yang selalu dipenuhi udara kering dan menyebarkan aroma bau di perkampungan kumuh itu -- bukanlah saksi bisu satu-satunya, yang dapat menceritakan kembali adegan-adegan kasar yang sangat melukai hati para ibu-ibu di mulut lorong itu. Sebab, kesunyian yang selalu beringsut bersama angin malam di sepanjang lorong yang membelah perkampungan kumuh itu, adalah gugusan kegelapan yang menyembunyikan berpasang-pasang mata, dari mereka yang tak pernah terlena ke dalam tidur yang menghamparkan mimpi. Sebaliknya, keheningan yang menjelmakan diri berupa kibar­an angin mengejar pagi itu, adalah kerumunan mata-mata para ibu yang selalu menatap dan mengintai ke luar sana, agar tak keting­galan atau terlambat membangunkan para suami; bila keluarga mereka memerlukan pertolongan dan bantuan mendesak dari kekuatan para lelaki. Para ibu itu, adalah kewaspadaan rumah tangga yang berdiri tegak di tengah malam, dengan para suami yang tertidur di samping mereka, namun selalu siap meloncat terjaga bila dibangun­kan. Maka, celakalah bagi seseorang, seperti halnya si suami dari ujung lorong, yang merasa sendirian saja di kegelapan malam ketika menapaki lorong perkampungan kumuh itu. Ia sungguh tak menyadari, bahwa begitu ia melangkahkan kaki ke mulut lorong, maka serentak berpasang-pasang mata akan mengikuti setiap gerak-geriknya dari setiap rumah. Entah mata-mata itu menyorot dari kegelapan dari balik pintu, dari balik jendela, dari balik dind­ing, atau malah dari langit terbuka kamar mandi darurat berupa empat lembar dinding tepas yang ditegakkan berupa bujur sangkar mengelilingi sumur timba di belakang rumah itu. Bahkan, boleh jadi, bila para ibu itu kemudian tenggelam ke dalam tidur dan membiarkan malam di sekitar beringsut bebas mengejar pagi di kejauhan -- kalau untuk mengamati setiap perilaku aneh si suami dari ujung lorong -- maka para ibu itu akan sanggup mengintai dari dalam mimpi mereka.

Sementara bagi para suami di mulut lorong itu, adalah tak masuk akal: perilaku si istri yang membiarkan pakaian suami dan anaknya yang gagu itu, benar-benar kumal dan memalukan. Semen­tara, mereka melihat si perempuan itu terkadang berdiri di depan pintu rumahnya dengan pakaian sederhana, namun terlihat cukup resik. Dan terkadang timbul ejekan di dasar pati para suami penghuni rumah di mulut lorong itu, betapa kurang ajarnya si perempuan di ujung lorong itu, membiarkan suaminya sendirian saja mengupayakan makanan. Padahal, ia kelihatannya cukup sehat untuk menyusuri jalanan dan tong-tong sampah, dengan sebuah pengait untuk mencari bungkus bekas di tangan kanan dan karung plastik di pundak kiri. Terlebih lagi, dengan adanya kenyataan, bahwa ia kelihatannya tidak merawat anaknya yang gagu itu dengan telaten. Maka, kalaupun si suami memang melarang, agar ada salah seorang yang bertanggung jawab di rumah, termasuk mengurus anak; sudah sewajarnyalah si istri harus menanggapinya hanya sekadar basa-basi. Yang sepatutnya segera ditanggapi dengan perilaku langsung: menyingsingkan lengan, melupakan sejenak perlunya bersolek, sebaliknya siap tampil apa adanya, lalu sesekali ikut ke kota. Sebab, dalam kasus mereka, yang memenuhi tuntutan hidup lebih banyak mengandalkan tenaga kasar dan kecerdikan sekadarnya, bagaimanapun hasil kerja dua orang kemungkinan besar akan lebih baik daripada dikerjakan satu orang. Karenanya, adalah lajim bagi para suami di mulut lorong itu, bila sesekali istri mereka ikut turun tangan mengerjakan apa saja di kota sana. Daripada mengha­biskan waktu seharian di perkampungan, dengan bergunjing dan melamun tanpa arti, atau memamerkan tubuh sehat dan pakaian resiknya di depan pintu seperti si perempuan di ujung lorong.

Lalu, perempuan apakah yang hanya memiliki kesadaran -- semata-mata mengisi kesehariannya dengan memuaskan hasrat mura­han: kebersihan dan kecantikan untuk diri sendiri? Sementara ia adalah bagian nyata dari sebuah rumah tangga yang begitu terbatas secara materi? Maka, seperti para ibu atau istri-istri mereka, para suami di mulut lorong itupun sempat memperkirakan, bahwa si perempuan di ujung lorong itu pastilah semacam penjelmaan silu­man: yang menikmati hidupnya, dengan sengaja menyaksikan orang-orang terdekatnya hidup kotor dan kumal. Sebab, kepuasannya adalah bila menyadari, bahwa ia mampu mengibaskan tanggung jawab yang sebenarnya kewajibannya, memanipulasinya menjadi hak berbuat semaunya tanpa sedikit pun keperdulian. Semacam kemenangan yang dipertahankan oleh kekerasan hati, yang hanya mengenali cara menyiksa sebagai satu-satunya gaya hidup. Semacam kepongahan yang lahir dari kesadaran berlebihan, atas kecantikan, hingga merasa kotor bila sedikit saja meneteskan keringat. Sekalipun keringat itu adalah sumbangan mulia, untuk menciptakan kebersihan bagi pakaian sang suami dan anaknya yang gagu. Bagaimana mungkin mengharapkan ia akan merawat rumah dan sekitarnya, yang cuma memiliki kegersangan dan bau busuk sebagai satu-satunya aroma kehidupan di ujung lorong itu, kalau yang ia miliki hanyalah sebentuk rasa tinggi hati seorang perempuan tak tahu diri? Yang akan membiarkan segalanya tinggal dalam kekotoran, asalkan ia sendiri merasa bersih dan memiliki waktu untuk memperlihatkannya kepada dunia? Sekalipun dunia itu cuma beberapa pasang mata lelaki pemulung, yang terkadang sengaja berjalan-jalan sore hari dengan pengait dan kantung plastik di tangan, mencari-cari sesua­tu yang berharga, yang tanpa sengaja dihanyutkan air kali berwarna hitam di ujung lorong itu dari hulu, atau dari tengah kota lain? Sementara, rasa puas dirinya yang tinggi, sebagai seorang perempuan yang masih memperhitungkan pentingnya kebersihan bagi tubuhnya -- sebenarnya tidak pernah terimpikan sedikit pun, sebagai hal yang terlalu penting di antara keseharian para perem­puan tetangganya -- yang tak pernah digaulinya sebagai sesama penghuni di lorong perkampungan kumuh itu?

Para suami di mulut lorong itu, khususnya para pemulung yang sehari-harinya bekerja di wilayah hiburan di tengah kota, memang sering menemukan perilaku aneh seperti diperagakan si perempuan di ujung lorong itu. Beberapa kali, sebagian besar dari mereka telah melihat, bagaimana para perempuan penghibur di pintu-pintu klab malam, dengan menonjolkan kecantikan serta bersihnya tubuh mereka di balik pakaian yang minim dan menebarkan harum, mencoba menarik perhatian para lelaki berduit dan kesepian di depan klab malam mulai sore hari. Dan tak jarang pula, sebagian dari mereka, masih menemukan para perempuan itu esok siangnya, keluar atau kembali ke klab malam, dengan penampilan kumuh seperti manusia lain sama sekali. Para pemulung itu seperti melihat dua kehidupan yang saling bertolak belakang, baru saja diperagakan di hadapan mereka, oleh berbagai perempuan dengan tubuh yang sama. Bedanya dengan si perempuan yang di ujung lorong, bagi para pemulung itu, adalah kurangnya polesan kosmetik dan parfum di tubuh tetangga mereka yang selalu mengangkat wajah dengan pongah itu. Dan bedan­ya lagi, bila para perempuan penghibur di tengah kota sana menam­bah hiasan tubuh mereka dengan berbagai alat "kecantikan buatan" adalah untuk mempertahankan hidup, sebagaimana mereka para pemu­lung harus mempunyai pengait, karung plastik, topi lebar, sandal jepit, dan mantel plastik yang akan dikenakan bila hujan turun -- maka si perempuan di ujung lorong mempercantik penampilan wajah dan tubuhnya -- adalah tidak untuk apa-apa. Kecuali sekadar mempertahankan satu kebiasaan masa lalu, yang sangat pribadi, yang tak banyak manfaatnya lagi untuk kehidupan sekarang?

Lalu, bagi para ibu di mulut lorong itu adalah kenyataan yang sangat ganjil, ketika menyadari, bahwa pasangan suami-istri dari ujung lorong itu tak pernah kelihatan jalan bersama, berpa­sangan, layaknya suami-istri normal, sebagaimana yang mereka lakukan di mulut lorong pada saat-saat tertentu bila berkunjung ke rumah tetangga yang lain, atau pada saat bepergian ke luar perkampungan bersama anak-anak. Suami-istri di ujung lorong itu, jangankan ke luar dari lorong meninggalkan rumah dan perkampungan -- jalan berduaan di sekitar rumah mereka di ujung lorong saja nyaris tak pernah kelihatan "akrab". Sebagian dari para ibu itu "rasanya" memang pernah melihat suami-istri itu mengitari rumah mereka, beberapa kali dalam sebulan, pada pagi atau sore hari, apalagi setelah kelahiran anak mereka. Namun, kemudian, pemandan­gan seperti itu: tak seorang pun berani memastikan kebenarannya, ketika mereka menggunjingkan kembali. Sebab, setiap kali seseor­ang mencoba mengingat-ngiat, kapan dan bagaimana ia melihat suami-istri itu mengitari rumah mereka, maka seseorang itu akan terpana oleh membuyarnya kesadarannya. Ia, sekalipun telah beru­saha keras, tetap saja tak menemukan kenangan apa pun di benaknya yang menggambarkan sosok suami-istri itu sedang melangkah bersa­maan, "mesra", mengitari rumah mereka. Atau, bila ia memang berhasil membayangkan sepasang manusia yang berjalan bersama di dalam angannya, maka ia pun tak akan berani memungkiri pikirannya sendiri, yang segera menandaskan bahwa sepasang manusia di dalam angannya itu adalah orang lain, di suatu tempat, entah di mana; bukan si suami-istri dari ujung lorong.

Tentu saja, bagi para suami di mulut lorong, menggunjingkan hal seperti itu terasa remeh. Mereka tak perduli apakah si suami-istri dari ujung lorong itu pernah berjalan berpasangan, saling mendahului, atau saling tak mengacuhkan. Mereka lebih bernafsu memuaskan diri dan angan-angan dengan perbincangan yang menyerempet ke masalah "seks" secara langsung. Tepatnya: lebih mengarah­kan perhatian kepada si perempuan dari ujung lorong, sebagai "perempuan", yang memang berusia lebih muda dibanding kebanyakan istri-istri mereka di rumah. Hingga, beberapa dari mereka tidak merasa bersalah ketika berkomentar, bahwa si ibu muda di ujung lorong itu tampak lebih cantik, dibanding sebelum melahirkan, atau ketika baru tiba di ujung lorong itu. Sayang, kecantikan itu, bagi para suami di mulut lorong itu, tidak diimbangi peran­gai bahkan perilaku yang layak dilakonkan seorang perempuan dari "kalangan" seperti mereka. Ketika si perempuan di ujung lorong itu, melirik seseorang dari mereka misalnya, bila tanpa sengaja berpapasan mata di ujung lorong: seseorang itu memandang dari tepi kali berair kotor dan bau itu, dengan tangan kanan menggeng­gam pengait dan tangan kiri menggotong karung plastik, sementara si perempuan melemarkan tatapannya dari pintu atau jendela rumah di ujung lorong itu -- adalah kurang pantas -- bila tak mengang­gukkan salam atau senyum bertetangga. Memandang seseorang seperti orang asing yang membawa ancaman -- adalah perilaku yang tidak adil bagi seorang tetangga yang tak pernah mengganggu; sebalikn­ya, akan siap menyingsingkan lengan dan meringankan hati serta langkah menyumbangkan pertolongan. Sebagian besar dari para suami di ujung lorong itu sependapat, bahwa kehadiran mereka acap kali diawasi dengan tatapan ketat, seakan seorang musuh yang sedang menyamar. Padahal mereka merasa tak pernah memerlukan penyamaran dalam kehidupan mereka. Mereka selalu tampil apa adanya, terbuka dengan kemiskinan mereka. Karena, kehidupan mereka memang tak memiliki banyak hal untuk disamar-samarkan. Tak ada belang yang harus disembunyikan dari orang lain dalam hidup mereka. Ketelan­jangan adalah satu-satunya modal nyata, yang menjadi kebanggaan dan sumber keberanian mereka menghadapi hari ini dan masa datang. Ketelanjanganlah yang membuat mereka berani menerima kehadiran mereka selama ini, dengan segala kekurangan yang terkadang memang membuat beberapa dari mereka sempat mengangankan bermacam keajai­ban menimpa hidup mereka. Dan kini, ketelanjangan itu, disambut oleh tatapan penuh selidik, prasangka, seolah mengandung potensi ancaman yang mengerikan, berbahaya, sangat tidak bersahabat, yang datang dari masa lalu. Betapa tak adilnya cara penerimaan berte­tangga seperti itu. Membayangkan mereka sebagai musuh masa lalu yang sedang menyamar?


15
------------------------------------------------------------
ADALAH anak-anak yang memiliki dunia dan kehidupan ini tanpa tendensi khusus; kecuali sebentuk wilayah kesadaran yang menyaji­kan permainan demi permainan. Bangun pagi hari, lalu menghabiskan waktu seharian dengan menyimak alam sekitar yang kering dan bau itu, merupakan kegiatan rutin si gagu dari ujung lorong. Ia selalu memperlihatkan tanda-tanda keterpukauan, keterharuan, dan keinginan berdiam diri secara bersamaan. Paling tidak, begitulah anak-anak dari mulut lorong mengenali teman sebaya mereka yang memiliki cacat itu. Dan sangat menggembirakan bagi anak-anak dari mulut lorong itu, bahwa si gagu tidaklah merepotkan sebagai teman bermain. Dan mereka sendiri nyaris tak pernah membesar-besarkan, bahwa si gagu itu mempunyai kekurangan fisik dibanding mereka. Bila mereka terkadang kehabisan permainan di mulut lorong, atau kebosanan begitu saja meruyak di antara mereka, maka mereka pun akan teringat si gagu di ujung lorong. Lalu begitu saja, tanpa jelas siapa yang menapak terlebih dulu, mereka akan mengarahkan langkah ke ujung lorong. Dan seperti sudah sewajarnyalah kemu­dian, si gagu itu akan berdiri atau siap menunggu di sana, membe­lakangi kali berair hitam -- dan mereka kemudian akan bergabung tanpa sapaan tertentu, kecuali wajah mereka yang begitu jelas membersitkan hasrat bermain yang menggebu -- agar segera tengge­lam bersama si gagu dalam keasyikannya.

Si gagu itu paling senang memandang berlama-lama, genangan air kali yang kotor dan berwarna hitam itu; sambil sesekali tangannya yang memegang sebatang kayu itu, akan menjolok-jolokkan sampah yang mengambang di permukaan air itu. Ketika sampah yang dijolok itu bergerak atau bergeser, maka akan terlihatlah di permukaan air kali yang kotor itu: gelembung-gelembung air bersih yang membiaskan aneka warna pelangi di bawah sorotan matahari. Gelembung-gelembung air yang akan segera terurai menjadi air kali yang kotor kembali, ketika tertiup angin siang. Dan menyaksikan proses perubahan dua wajud air ini, si gagu pun akan terkesima dengan sepasang mata berbinar, tubuh tegang tanpa sedikit getaran pun -- yang kemudian akan segera diakhiri dengan helaan nafas panjang. Yang setiap kali ditandaskan oleh anak-anak dari mulut lorong itu di dalam kesadaran mereka, bahwa pada saat menghela nafas panjang itu -- si gagu baru saja memperlihatkan rasa puas yang tak terceritakan dan sangat membahagiakannya, atas pengala­man kecilnya yang khusuk itu. Lalu lain saat, si gagu juga akan tertawa-tawa menyaksikan kesibukan mereka saling berkejaran di sepanjang kali. Dengan kesadaran yang aneh pula, bahwa mereka kemudian secara beramai-ramai, begitu saja bersepakat di dalam hati, dan diwujudkan dalam perilaku, akan menyenangkan perasaan si gagu dengan segala macam gaya lari mereka yang meniru-niru cara berlari hewan itu. Dan anak-anak dari mulut lorong itu tak pernah menceritakan kepada siapa pun, kecuali mengakui di dasar hati masing-masing -- bahwa mereka sangat berbahagia ketika menyaksikan tawa si gagu. Bahwa kegembiraan si gagu, adalah kegembiraan mereka juga. Bahwa mengisi waktu bersama sepadat-padatnya, adalah keinginan mereka bersama. Hingga, bila senja kemudian mulai membuyar, dan kaki-kaki malam mulai menjejak nyata di sekitar mereka -- acap kali anak-anak itu pun merasakan kerawanan di hati mereka, atas hadirnya sosok perpisahan yang harus dijelang sebentar lagi. Bahwa mereka akan kembali ke mulut lorong, dengan keramaian mereka -- meninggalkan si gagu sendirian saja, dengan kedua orang tuanya, yang kelihatannya tak pernah memperdulikan dunia sekitar. Maka, benak mereka pun berlomba-lomba meletupkan kekurangpuasan lewat cara mereka memandang dengan tatapan dan mulut merengut ke sekitar. Mengapa si gagu harus hidup terpisah dari mereka? Mengapa kedua orang tua si gagu tidak membangun saja biliknya di mulut lorong? Mengapa kedua orang tua si gagu, itu, tidak pernah membawa si gagu berkunjung ke ujung lorong? Bukankah lajim di antara orang tua mereka di mulut lorong, saling mengunjungi, dan mereka mengintil di bela­kang orang tua mereka, dan kemudian bergabung bersama teman yang rumahnya dikunjungi? Lalu, mengapa rumah di ujung lorong, yang lebih besar dari rumah-rumah mereka di mulut lorong -- hanya memiliki penerangan sebuah lampu semprong? Sementara rumah-rumah mereka di mulut lorong, sebagian besar sudah diterangi listrik yang dicuri dari gardu di mulut lorong itu? Mengapa? Mengapa? Begitulah anak-anak dari mulut lorong itu bertanya-tanya di dalam hati, di antara kebisuan mereka, ketika melangkah pulang menuju rumah-rumah mereka di mulut lorong. Dengan kesepakatan aneh yang secara serentak pula mereka sadari, agar tak perlu berlelah-lelah menoleh kembali ke rumah di ujung lorong itu. Karena segala pengalaman permainan mereka hari itu, yang mereka lalui bersama si gagu penghuni rumah di ujung lorong itu, akan menjulur dan membentang kembali di dalam tidur mereka, sebagai mimpi yang mengasyikkan. Hingga, ketika mereka terbangun keesokan harinya, dan sebagian dari mereka berangkat ke sekolah yang letaknya cukup jauh dari mulut lorong itu -- maka pengalaman bermain bersama si gagu -- masih membekas dalam benak mereka, sebagai pengalaman-pengalaman manis yang sangat berharga untuk terus dikenangkan dalam perjalanan. Sebagai sebuah pengalaman yang menghilangkan batas antara mimpi dan kenyataan. Sebuah pengalaman yang akan abadi, sampai kapan pun, yang bisa dengan bebas dijenguk dan dialami kembali dalam kenangan. Sangat menggairahkanlah, bila mengulanginya nanti, pada siang atau sore harinya. Dan tentu saja
akan memimpikannya kembali dalam tidur pada malam berikutnya. Hingga hari-hari yang dilalui pun, tak akan pernah lepas dari keriuhan permainan. Bukankah hidup adalah permainan, yang setiap kali mengasyikkan, dengan terbitnya rasa senang, ketika berbagai hal menyenangkan dapat diulang-ulang, dan berbagai hal baru dapat digapai dengan perasaan takjub mendebarkan?

Para orang tua penghuni rumah di mulut lorong itu, barangka­li adalah saksi-saksi yang akan mampu bercerita lebih banyak tentang si gagu dari ujung lorong. Tentu saja, dengan berbagai ketaklajiman yang bila dipersoalkan lebih jauh, hanya akan menim­bulkan sebuah diskusi aneh dan boleh jadi akan melenyapkan dunia sekitar sebagai kenyataan yang dapat digambarkan. Ini, karena hadirnya keanehan-keanehan yang ditemukan secara sendiri-sendiri oleh si pencerita, dan kemudian mengembang menjadi penggambaran yang terkadang berlebihan; yang diwarnai perasaan kagum dan ketakutan yang serta-merta hadir, ketika si pencerita mengulangi kesaksiannya. Dan, ya, semua ini, akhirnya hanya dapat terjadi dalam perbincangan di antara mereka, sesama penghuni rumah di mulut lorong itu saja. Yang kerap berlangsung pada malam-malam tertentu, dalam acara ngobrol-ngobrol mereka, sambil menikmati sisa-sisa makanan yang terkadang masih ada untuk disuguhkan atau saling dipertukarkan. Sebab, bila mereka memang diharuskan ber­cerita kepada orang lain, atau kepada orang yang tinggal di luar perkampungan kumuh itu -- mereka sangat mempercayai, bahwa mereka tak akan pernah mampu mengeluarkan sepatah kata pun tentang keanehan-keanehan itu. Terlalu sukar bagi mereka, harus memulai dengan apa dan dari mana; berupa kata-kata dan kalimat-kalimat yang bagaimana; atau menggunakan ungkapan seperti apa sebagai isyarat untuk menjelaskan atau menggambarkan apa. Yang pasti, sejak lama mereka dihinggapi kesadaran, bahwa mereka semua para penghuni perkampungan di mulut lorong itu, khususnya lagi mereka yang sempat menceritakan pengalaman-pengalaman pribadi mereka bersama si gagu itu, akan banyak terlibat dalam kehidupan si gagu yang lahir di rumah di ujung lorong itu. Lebih jauh lagi, bahwa mereka akan menjadi saksi hidup atas berbagai hal yang secara aneh telah menyergap benak mereka, berupa kesadaran yang tak dapat dilekangkan, tentang "banyak hal" yang kelak akan menjelma dalam kehidupan mereka, setelah hadirnya sepasang suami-istri di ujung lorong. Itu, secara nyata, telah dimulai dengan kesepakatan aneh yang memaksa mereka agar tinggal di rumah sejak pagi hari, dengan kesadaran sepenuhnya bersiap dan menunggu -- ketika si gagu itu dulu dilahirkan. Adalah kejanggalan yang tak terungkap­kan, oleh mereka, bahwa sejak hari itu, ketika mereka akhirnya kembali ke kediaman masing-masing -- mereka diingatkan oleh sesuatu yang berdenyar dalam diri mereka sendiri -- bahwa mereka baru saja menyaksikan satu dari berbagai keajaiban alam yang kelak akan memaknai banyak hal dalam kehidupan mereka. Namun, mereka sendiri tak mampu menjelaskan kepada yang lainnya, apa, kapan, dan bagaimana, semuanya itu berlangsung. Kecuali masing-masing dapat mengakui secara tersirat, bahwa mereka sudah terbe­baskan dari sesuatu yang masih gelap dalam kehidupan manusia umumnya; dan pembebasan itu hadir ke dunia ini di tengah-tengah mereka, sebagai seorang anak gagu, yang kelahirannya dulu sangat bergantung dari keterlibatan mereka.

Lalu, bila sudah sampai pada pembicaraan-pembicaraan serius dan hening, yang sebenarnya sarat oleh ketakjuban pada hari demi hari dan bulan demi bulan serta tahun demi tahun kemudian -- masing-masing pun akan melontarkan pengalaman unik mereka dengan si gagu dari ujung lorong. Pengalaman yang boleh dikatakan, sebenarnya sepihak saja. Sebab pengalaman yang diceritakan itu, kemudian, ternyata adalah penyaksian-penyaksian yang dialami secara kebetulan, sendirian saja -- yang kemudian sangat mereka percaya sebagai penyaksian yang dipersembahkan khusus untuk masing-masing dari mereka. Sebab adalah kenyataan pula, bahwa penyaksian-penyaksian itu kemudian saling berbeda; yang anehnya, bila disusun secara runut, akan terurai panjang namun utuh seba­gai sebuah perjalanan panjang seorang anak manusia yang penuh makna dan keajaiban baru. Yang di dalamnya, seakan tersimpan segala jawaban atas keingintahuan yang bagaimana pun, yang telah pernah dan masih akan menghinggapi benak mereka di perkampungan kumuh itu. Yang secara keseluruhan menghadirkan pula semacam kesadaran dalam benak terdalam orang-orang yang menceritakan pengalamannya itu: kelahiran kembali, hidup baru sebagai pribadi lain, lebih bersemangat, lebih bergairah, lebih berani dan lebih memiliki harapan memandang masa depan. Bahwa dengan penyaksian masing-masing, pastilah masing-masing telah menjadi manusia-manusia terpilih, khusus, memperoleh berkat menakjubkan, dari sekian banyak manusia "biasa" di dunia ini. Keterpilihan mana, sejak masa kelahiran si gagu, sampai terjadinya penyaksian-penyaksian mereka itu -- telah mengingatkan, bahwa dalam kesehar­ian mereka selanjutnya, telah menyongsong di hadapan mereka -- sebuah tugas lain yang begitu luhur, namun akan jauh lebih berat dari sekadar tanggung jawab sebagai kepala keluarga selama ini. Namun tugas-tugas itu, secara bersamaan akan memberikan pemaknaan yang lebih luas dan sangat melegakan dalam batin mereka. Melampau semua kelegaan, kebebasan, kebahagiaan, kebermaknaan, yang pernah merasuki benak dan segenap kesadaran mereka pada masa lalu.

Begitulah, salah seorang dari penghuni rumah di mulut lorong itu, yang sehari-harinya bekerja mengais-ngais tong sampah di sebuah kompleks perumahan mewah -- memulai pengalaman ajaibnya -- bahwa suatu hari ia pernah menyaksikan si gagu dihinggapi cahaya berwarna-warni, yang menyorot dari langit pagi yang berwarna abu-abu oleh semburat asap dari pabrik di sebelah timur itu. Si gagu bukan lagi seorang bocah kumal yang pada pandangan pertama lang­sung menimbulkan rasa kasihan. Sebaliknya, si gagu telah tumbuh menjadi seorang pemuda tampan berwajah bijaksana. Tentu saja si gagu sedang berada di sebuah tempat lain, yang agaknya sangat jauh dari perkampungan kumuh itu. Yang kemudian, dapat dijelaskan lagi oleh si pengais tong sampah itu dengan sepasang mata berbi­nar -- bahwa tempat itu adalah sebuah bukit yang seluruhnya disaput emas, dengan banyak sekali manusia berdiri berkerumun sedang memandang terkesima di kaki bukit tersebut. Betapa berun­tungnya ia, begitulah si pencerita melanjutkan, bahwa ia ternyata hadir di antara orang-orang yang memandang dengan tatapan terke­sima itu. Dan sangat mengejutkan pula, bahwa ia ternyata tampil sebagai manusia dengan pakaian yang mewah dan menyebarkan bau harum ke sekitar. Tak ada keringat yang membasahi tubuhnya saat itu. Tak ada kecemasan yang membebani benaknya. Tak ada keraguan di benaknya, bahwa si pemuda tampan berwajah bijaksana itu adalah si gagu yang kelahiran di ujung lorong, dulunya, ikut ia bantu. Sepenuhnya, perasannya saat itu adalah kebahagiaan yang amat sangat, yang tak terjelaskan oleh kalimat yang sangat panjang sekalipun. Dan ia pun menyaksikan, bahwa ternyata istri dan anak-anaknya pun hadir di sana dan berdiri di belakangnya, dengan pakaian baru yang juga menyebarkan bau harum. Sementara wajah mereka, di antara keterkesimaan yang jelas begitu memerahkan wajah mereka, tersungging senyum yang sangat manis pada wajah istri dan anak-anaknya. Tatapan mereka sesekali mengerling ke arahnya, dengan penuh rasa berterima kasih yang belum pernah dilihatnya pada wajah siapa pun di dunia ini. Betapa beruntungnya ia. Betapa bahagianya ia. Betapa ringannya hari-hari esok yang akan dijalani. Dan betapa anehnya, bahwa si gagu yang berdiri di puncak bukit sana, yang tubuhnya sepenuhnya terbungkus berkas-berkas cahaya yang berwarna-warni itu -- sekilas memandang ke arah mereka sekeluarga -- dengan penuh rasa penghargaan seorang manusia pilihan. Sementara, dalam keseharian di perkampungan kumuh itu, ia sendiri agak jarang melihat ke arah si gagu, yang kelahirannya dulu, dihadirinya itu. Karena hari-harinya memang lebih banyak dilaluinya di sebuah kompleks perumahan mewah di tengah kota, atau di jalan-jalan yang menjadi wilayahnya, mencari kardus-kardus bekas dan plastik-plastik pembungkus yang tak terpakai lagi; yang nantinya akan ia rapikan, dan kemudian di­jualnya secara kiloan kepada seorang agen yang telah lama menjadi langganannya. Kalaupun terkadang ia mendengar perkembangan si gagu, itu adalah dari mulut anaknya, yang acap kali berkasak-kusuk dengan teman-teman sepermainannya, tentang si gagu yang aneh dan mengagumkan ketekunannya, dan sangat menyenangkan cara tertawanya. Selanjutnya, sesekali ia mendengar pula tentang suami-istri penghuni rumah di ujung lorong itu, dengan masing-masing perilaku mereka yang memang pantas dijadikan perhatian. Bahwa suami-istri dari ujung lorong itu, lebih sering tampak seolah-olah hidup berdua saja di rumah mereka -- seakan si gagu hanyalah sehembus angin siang yang kebetulan berlalu dari hadapan mereka. Sehembus angin yang membawa aroma busuk dari kali di sebelah rumah; atau selintas suasana kering yang membosankan, yang terbawa dari sekitar yang gersang. Bagi keduanya, si gagu seolah makhluk tanpa daging, yang bebas berseliweran, karena tak terganggu oleh perubahan cuaca yang bagaimanapun buruknya atau perubahan kondisi tubuh yang bagaimanapun beratnya. Begitulah yang ia pahami tentang si gagu dan kedua orang tuanya. Cuma sebentuk kisah hidup tiga manusia dengan keanehan tertentu, yang sebenarnya tak perlu menyita banyak perhatian; karena kehidupan mereka sendiri di mulut lorong itu, adalah aneh bagi orang-orang di tengah kota sana. Tapi, bagi si pemulung yang sedang mengalami penyaksian tentang dunia ajaib berwarna-warni emas yang diperli­hatkan si gagu itu, semua gambaran di mulut lorong itu sirna sudah. Begitu saja ia bersama keluarganya berada di puncak bukit bersaput emas itu, bersama si gagu yang sudah menjelma menjadi pemuda tampan dengan senyum keringan yang selalu tersungging di wajahnya. Si pemuda tampan itu kemudian menyalami mereka seke­luarga; tentu saja pertama-tama menyalaminya, dan ia pun merasa­kan sebentuk sentuhan maha lembut dalam genggaman tangannya, yang kemudian mengalirkan kehangatan dan keriangan ke seluruh tubuhn­ya, meringankan geraknya, mencerahkan pandangannya, menghapuskan seluruh sesal dan duka yang pernah teronggok di dasar kesadar­annya, dan menjernihkan segenap pikiran serta perasaannya -- untuk lebih siap lagi -- mengarungi kehidupan "biasa" yang selama ini telah dijalaninya dengan perjuangan keras. Lalu, segala bayangan warna-warni itu sirna, dan ia kembali menemukan dirinya di perkampungan kumuh; dengan benak dipenuhi bayangan, bahwa suatu saat semua bentuk kehidupan di perkampungan kumuh itu akan berubah menjadi lebih baik.

Lalu penghuni lainnya, berkisah tentang perjalanan ke sebuah danau yang dialaminya ketika tidur. Sebuah danau kebiruan dengan para penangkap ikan berperahu di atasnya. Sangat mengherankan bagi si penyaksi, yang kemudian mengisahkan pengalaman uniknya dengan suara terputus-putus, bahwa di danau tersebut sangat banyak sekali ikan. Para penangkap ikan itu melemparkan jalanya dengan wajah suka cita, kemudian menggulungnya dengan berseman­gat, dan selanjutnya tersenyum bahagia ketika menampak banyaknya ikan yang menggelinjang-gelinjang di jaring jalanya. Lalu, si penyaksi yang sehari-harinya adalah seorang pesuruh di sebuah kantor swasta itu pun melihat si gagu yang telah menjadi seorang pemuda berkumis tipis, berdiri khusuk di tepi danau. Seluruh tubuh si gagu yang lebih tua beberapa tahun dari si gagu yang disaksikan pertama oleh temannya itu, terbungkus cahaya biru yang menyorot dari permukaan danau. Sementara kedua tangannya yang kecil dijulurkan ke arah danau, dan ajaib! Ternyata si gagu itu sedang memegang sebuah lingkaran cahaya berupa bejana keemasan sebesar bola kaki, dan di dalam lingkaran cahaya tersebut, tampak sepasang ikan sedang menari-nari saling berkejaran. Dan si pen­yaksi pun kemudian terpesona ketika melihat dirinya sendiri; ternyata sedang berdiri di salah satu perahu dan sedang melem­parkan jala ikannya. Kemudian, seperti para nelayan lainnya, ia pun berwajah cerah, tanpa sebentuk beban pun menekan perasaannya. Adalah sangat aneh bagi si penyaksi, mengapa ia bisa hadir di tengah danau itu sebagai seorang penjala ikan, yang dapat berdiri dengan tenangnya di atas perahu yang digoyang-goyangkan air danau -- sementara selama hidup dalam kesehariannya, ia belum pernah sekalipun hidup di sekitar danau, apalagi berperahu dan menjadi nelayan penjala ikan. Maka, pastilah ia telah terpilih oleh sebuah kekuatan maha dahsyat, sebuah rencana maha besar, yang membuatnya harus hadir dan mengalami peristiwa unik dan mengagum­kan itu. Dan pasti pula, semuanya itu berhubungan dengan hadirnya si gagu yang telah menjadi pemuda dewasa, di tepi danau sana, yang sekilas menolehkan tatapannya yang bercahaya lembut ke arahnya. Tapi, mengapa ia sampai mengalami pengalaman unik bersama si gagu yang berdiri di tepi danau sana? Si gagu, si bocah dari ujung lorong, yang menurut salah seorang anaknya, hidup dalam keseharian yang benar-benar memprihatinkan; jorok, dengan pakaian yang tak pernah diganti. Dan menurut anaknya itu kemu­dian, satu-satunya hal yang menyenangkan dari si gagu adalah, bahwa dengan kekurangannya dari anak-anak lain yang senang ber­main bersamanya -- ia adalah seorang periang di balik kega­guannya. Seorang periang atau penggembira yang aneh, yang nyaris tak pernah melontarkan sepatah kata pun; namun dengan kesunggu­hannya tertawa tanpa suara, telah mampu menebarkan kegembiraan yang melegakan di dasar hati teman-temannya bermain. Seorang periang atau penggembira yang mampu mengilhami anak-anak lainnya, agar secara tekun mengisi waktu dengan permainan yang menyenang­kan, di sekitar rumah di ujung lorong itu. Sementara ia sendiri, sebagai seorang pesuruh kantor yang di perkampungan kumuh itu termasuk salah seorang warga terhormat -- sehari-seharinya sangat jauh dari dunia permainan kanak-kanak. Sekalipun harus ia sadari, bahwa dibandingkan para orang tua di mulut lorong itu, barangkali ia sendirilah yang lebih sering mengunjungi rumah di ujung lorong itu. Karena ia-lah yang mengurusi segala surat-surat yang men­yangkut urusan kependudukan para penghuni di perkampungan kumuh itu. Karenanya, terkadang ia pun harus mengunjungi rumah di ujung lorong itu, dua atau tiga kali dalam setahun. Dan pada kunjungan-kunjungan itu, si gagu nyaris tak pernah menjadi perhatian khusus baginya. Kecuali bila ingatannya berkelebat ke suatu siang, bahwa kelahiran si gagu itu, dulu, telah membuatnya absen dari kerja, dan mendapat teguran keesokan harinya. Namun, setelah pengalaman penuh tanda tanya yang telah dialaminya dalam tidur itu, di mana si gagu tampak hadir sebagai seorang pemuda ajaib terbungkus cahaya berwarna-warni -- setiap kali berurusan dengan si suami-istri di ujung lorong, ia menyempatkan diri sesekali mengamati si gagu. Dan sering merasa terperangah dengan perasaan terpesona dan takut sekaligus, ketika si gagu itu membalas menoleh dengan sepasang matanya yang lembut seperti dalam mimpi itu. Maka, dengan cepat ia pun akan menoleh ke arah lain dengan wajah memer­ah. Seperti orang yang baru saja diperingatkan oleh sebuah kekua­tan, yang dimiliki oleh seorang kanak-kanak -- agar jangan berbi­cara apa pun tentang peristiwa yang sudah dialaminya, kepada kedua orang tua si anak, yang saat itu kebetulan sedang meneri­manya dengan kebisuan mereka yang tak pernah pergi itu. Betapa pun, sebagai tetangga yang terkadang teringat batas-batas hak dan kewajibannya melibatkan diri dalam kehidupan tetangganya -- ia memang merasa wajar saja ketika akhirnya menyimpan segalanya itu, sebagai peristiwa-peristiwa aneh dalam batin sendiri. Namun, ketika para tetangganya di mulut lorong mengungkapkan pengalaman-pengalaman aneh mereka, yang telah melibatkan mereka dalam kera­hasiaan yang tak terjelaskan dengan si gagu dari ujung lorong itu -- tak bisa lain, ia pun akhirnya mengisahkan mimpi aneh yang membawanya ke danau, yang menghadirkannya sebagai seorang penja­la ikan itu. Betapa gembiranya ia di dalam mimpi itu, ketika berlabuh ke tepi danau, dengan perahu dipenuhi ikan. Ikan-ikan berlompatan di lunas perahunya. Ikan-ikan memercikkan air danau ke wajahnya. Ikan-ikan itu, dengan kelincahan mereka yang terka­dang dapat melompat sampai setengah meter, secara ajaib, tak pernah melompat ke luar dari dinding perahu. Ikan-ikan itu, dengan kegembiraan mereka, dan juga dengan kegembiraannya, sama-sama berlabuh di pasar tepi danau. Dan ketika perahunya merapat dengan ikan-ikan yang berlompatan, para pembeli pun berebutan dan merubung. Ia, bersama istri dan anak-anaknya yang ternyata telah menunggu di pasar tepi danau itu, tinggal tertawa gembira ketika ikan-ikan mereka disenangi dan menggembirakan para pembeli. Sepasang matanya pun kemudian mencari-cari ke arah si bocah gagu di kejauhan, dengan bola emas di tangannya. Si gagu yang telah tumbuh besar menjadi pemuda berkumis tipis itu, memandang hangat ke arahnya. Segalanya begitu mungkin di antara mereka. Segalanya akan menjadi lebih baik dalam hidupnya di perkampungan kumuh itu. Begitulah si penyaksi itu merasakan getar-getar pikiran dan perasaan bahagia menerangi benaknya.

Seorang penghuni lainnya, suatu malam mengisahkan perjala­nannya yang aneh pada suatu pagi. Sehari-harinya ia bekerja sebagai pengumpul barang-barang bekas alumunium. Dan karena barang-barang bekas alumunium lebih banyak kemungkinannya ditemu­kan di perkampungan penduduk biasa -- maka lokasi yang selalu ia kunjungi adalah perkampungan-perkampungan penduduk biasa yang ada di kota itu. Untuk memudahkan pekerjaannya -- terkadang ia memang harus membeli. Dan para penjualnya, umumnya adalah anak-anak yang membutuhkan sedikit uang untuk tambahan jajan mereka sehari-hari. Karenanya, si penghuni ini pun selalu mengupayakan cara, agar anak-anak yang dilihatnya tergoda menjual bekas peralatan dapur yang terbuat dari alumunium di dapur ibu mereka. Caranya, sambil berkeliling, si penghuni ini pun membawa makanan-makanan kecil yang sangat disukai anak-anak; sambil tetap menyediakan uang receh di kantungnya. Begitulah, terkadang ia berhasil menukarkan sebuah panci bekas dengan sebungkus kacang goreng. Atau lain saat, ia berhasil memperoleh sebuah botol bekas dari seorang anak dengan hanya memberikan lima biji permen. Namun pada suatu pagi yang kemudian ia anggap khusus -- ia terbawa oleh langkahnya ke sebuah perkampungan penduduk yang aneh sekali. Berkali-kali ia mengucak-ngucak kedua matanya, karena benar-benar tak percaya oleh apa yang dilihatnya. Dan berkali-kali pula ia harus terper­anjat -- karena setiap kali kemudian ia membuka matanya -- wajah pertama yang ia lihat adalah wajah si gagu dari ujung lorong. Si gagu telah menjadi banyak dan memenuhi setiap belokan gang yang ia susuri pagi itu. Dan yang membuatnya gemetar ketakutan di samping rasa takjub yang amat sangat tentu saja -- adalah apa yang disodorkan setiap anak yang telah menjadi si gagu pada pagi yang aneh itu. Si gagu-gagu itu, atau tepatnya, anak-anak yang secara tiba-tiba saja telah menyerupai si gagu itu di matanya -- semuanya menyodorkan barang-barang alumunium bekas. Kedua keran­jang besar yang tergantung di kedua ujung pikulannya, anehnya, tak mendatangkan beban tambahan di bahunya. Segalanya begitu ringan, seringan hatinya yang sesekali tanpa sadar telah bernyan­yi-nyanyi gembira. Padahal ia telah berjalan dengan barang-barang bekas berbahan alumunium di sekeliling tubuhnya. Maka suara klontang-klonteng-klontang-klonteng pun mengiringi langkahnya dan memenuhi semua keheningan pagi hari di setiap jalan yang ia lalui. Namun anak-anak itu masih saja bermunculan dan menyerahkan barang-barang bekas mereka. Dan satu hal yang sama dari mereka semua -- tak seorang pun dari anak-anak itu menuntut ganti keru­gian; yang biasanya berupa permen atau kacang goreng itu. Semua anak-anak yang pagi itu berwajah si gagu dari ujung lorong itu -- tampak tersenyum ramah menyerahkan barang-barang yang mereka ambil dari dapur rumah mereka. Seakan pemberian itu adalah per­buatan yang paling wajar yang pernah mereka lakukan dalam kehidu­pan mereka sebagai anak-anak, tanpa harus khawatir bahwa ibu mereka akan melarang atau memarahi. Karena begitulah yang terkadang berlangsung: seorang anak, demi beberapa butir permen atau sebungkus kacang, secara nekat telah mengambil barang-barang dapur dari bahan alumunium, yang sebenarnya masih dapat dipergu­nakan ibunya untuk memasak. Selanjutnya, si penyaksi itu mengi­sahkan -- semakin jauh ia berjalan memasuki perkampungan pendu­duk yang pagi itu tampak sunyi -- tak bisa tidak, ia jadi merasa was-was dengan pengalamannya tersebut. Dan secara aneh, timbul begitu saja niatnya untuk memutar langkah dengan perasaan takut yang tak ia kenal di benaknya. Ia dihinggapi perasaan telah memasuki sebuah dunia rahasia, yang dihidupi oleh anak-anak yang menyerupai si gagu, dan secara diam-diam ternyata sangat menya­dari keberadaannya yang sangat membutuhkan barang-barang bekas. Sejumput rasa bersalah dan rasa panik mulai mengorak di dadanya, dan membuatnya nyaris kehilangan kendali ketika menjumpai langga­nannya dengan barang-barang yang lebih banyak dari hari-hari sebelumnya, selama bertahun-tahun ia menjadi pengumpul barang bekas. Dan sungguh aneh baginya, sambutan si agen yang menjadi langganannya itu. Si agen merasa heran, mengapa hari itu ia mampu mengumpulkan barang-barang sedemikian banyaknya. Dan mengapa pula ia tidak memilih sebagian dari barang-barang itu -- yang beberapa di antaranya, jelas baru saja dikeluarkan dari plastiknya. Maka begitulah hari itu, ia pulang ke rumah dengan uang yang lebih banyak dari hari-hari sebelumnya, ditambah lagi dengan beberapa peralatan dapur yang masih cukup baru, yang karena tak pernah terpakai oleh istrinya memasak bermacam-macam makanan yang musta­hil terbeli, seterusnya pun tak pernah terpakai kecuali menjadi pajangan di dapur istrinya. Namun, setiap kali mengingat hari ajaib itu, terkadang ia pun dihinggapi angan-angan yang sangat kuat dibebani harapan -- mudah-mudahan keajaiban bertemu dengan banyak anak-anak menyerupai si gagu dari ujung lorong itu teru­lang lagi. Terutama, bila sepanjang hari ia telah berjalan demi­kian jauh; dengan keranjang yang masih saja terasa ringan di kedua ujung pikulannya. Tapi sekilas kemudian, angan-angan serta gejolak harapan seperti itu pun segera dihalaunya dari benaknya -- bila membayangkan bahwa untuk itu -- ia harus bersua dengan banyak anak-anak yang memandangnya dengan wajah tertawa tanpa suara kecuali ber-ah-uh-ah-uh-ah-uh-ah-uh yang berkepanjangan. Sebuah pengalaman yang menakutkan dan melelahkan, karena tak satu tanda-tanda pun yang dapat dijadikannya sebagai penjelasan. Kecuali hadirnya semacam kesadaran aneh, bahwa semua itu bersang­kut-paut dengan keikutsertaannya yang tak terhindarkan dalam kehidupan si gagu di ujung lorong. Paling tidak -- ia terlibat membantu kelahirannya ke dunia ini. Hingga si gagu itu kemudian tumbuh dengan liar, sebagai anak yang sehari-harinya mengisi hidupnya dengan kesendirian; dan tertawa dari ujung lorong sana sambil membelakangi kali dan memandang kelucuan dunia permainan teman-teman sebayanya. Apa maknanya? Entahlah. Si pengumpul barang-barang alumunium itu tak bisa meraba-raba apa yang tersim­pan di balik semua pengalaman itu, kecuali menjelmanya kesadaran yang khusus: bahwa seorang anak pun, dapat mengetahui maksud-maksud tersembunyi dan terdalam manusia manapun yang berlalu lalang di hadapannya. Begitukah yang terjadi? Ia dengan keinginan bawah sadarnya, suatu kali berlalu lalang tanpa sadar di halaman rumah di ujung lorong itu, disaksikan si bocah gagu? Tapi, cukup­kah mencari penjelasan dengan menggulirkan kesadaran demikian? Tidak. Tidak cukup. Masih banyak hal yang harus dikaji dari sana; yang untuk sementara hanya bisa dihayatinya dengan penuh ketak­juban seorang anak pula. Begitulah, dengan pikiran seperti itu, si pengumpul barang-barang bekas itu pun selalu mengakhiri kisahnya dengan wajah memendam keingintahuan yang amat sangat, namun serentak dengan rasa takjub dan penasaran yang tak tersem­bunyikan: karena seorang anak yang sejak lahirnya telah gagu, ternyata dapat menyulap dirinya menjadi banyak anak-anak.


16
-----------------------------------------------------------
TAK ada yang paling menggelisahkan bagi kedua suami-istri yang telah menjalani masa pensiun itu, ketika mengetahui suatu pagi, bahwa selanjutnya -- mereka akan hidup tanpa putra sulung mereka. Tak akan ada lagi senyum penuh pengertian dan sapaan-sapaan akrab dari si putra sulung, yang sehari-harinya tak pernah menyembunyikan sesuatu pun di hadapan mereka. Hal yang tak pernah sekalipun mampu diperlihatkan anak-anak lainnya, yang perilakunya selalu bermuka-muka menyembunyikan akal licik mereka yang selalu keranjingan mewujudkan kemauan sendiri itu. Namun tak sesuatu pun yang dapat dilakukan suami-istri itu selanjutnya mengatasi kege­lisahan mereka. Bagaimanapun, merekalah yang telah terlanjur, akhirnya harus memenangkan tuntutan anak-anak lainnya, agar menyalahkan si putra sulung yang secara sembunyi-sembunyi menja­lin hubungan dengan putri kesayangan dari keluarga lawan mereka. Perhatian umum telah menjerat dan menyorot mereka, dan akhirnya harus mereka layani agar keharuman keluarga sebagai salah satu keluarga terkaya di kota itu tidak tercemar. Yang dapat mereka lakukan kemudian adalah mengirim mata-mata, agar tetap mengikuti setiap gerak-gerik si putra sulung yang telah memilih kawin lari itu. Dan kemudian menjadikannya berita, yang tentu saja dengan "kebohongan" yang sifatnya akan merugikan pihak lawan. Namun, agak mengejutkan bagi suami-istri itu, bahwa keluarga lawan pun ternyata tidak merestui perkawinan karena cinta pertama di penga­dilan itu; sebaliknya, memanfaatkan pula setiap perkembangan dari pelarian itu untuk keuntungan mereka. Hingga kemudian, laporan-laporan yang dapat mereka terima dari mata-mata mereka, tentang kehidupan dua anak manusia yang benar-benar bergulat memperta­hankan cinta itu; dengan bersembunyi ke kota-kota terjauh, yang tak terjangkau lagi oleh masyarakat mereka yang lama -- menjadi senjata baru -- dengan membumbuinya dengan fakta-fakta fantastis yang tak terbayangkan pihak lawan. Tentu saja, yang berlangsung kemudian adalah perang tanding mata-mata mengorek kenyataan-kenyataan paling tersembunyi, yang bisa dibelokkan menjadi hi­naan, pelecehan, tudingan sekaligus makian kepada pihak lawan. Lalu karena berita kemudian lebih cepat berkembang dibanding fakta yang sebenarnya berlangsung, maka yang terjadi selanjutnya adalah pengungkapan fakta-fakta palsu yang disuguhkan oleh mata-mata masing-masing, karena kedua keluarga sehari-harinya memang hidup di lingkaran mata-mata sebagai pengumpul informasi tentang apa saja yang mereka perlukan dan ingin paksakan di koran-koran.

Namun suatu ketika, tepatnya setahun setelah pelarian yang selalu mereka ikuti itu, suami-istri itu akhirnya harus menerima kenyataan pahit. Tak ada lagi berita tentang si putra sulung. Si putra sulung bersama pasangannya, bagai hilang ditelan bumi, setelah selama berbulan-bulan seperti sengaja "kucing-kucingan" dengan mata-mata mereka -- dengan setiap hari berganti hotel; dari yang paling murah sampai paling mahal. Dan di situlah, di situlah: di sebuah hotel yang paling murah, di sebuah ujung jalan yang ramai; karena keengganan para mata-mata yang telah membiasakan diri dengan kemewahan majikan mereka, hingga mereka merasa sakit bila harus ikut menginap di hotel yang paling murah itu -- akhirnya harus dibayar mahal. Mereka kehilangan buruan mereka. Mereka tak dapat lagi mengendus gerak intaian mereka. Mereka ditinggalkan dengan mudah; dibiarkan pulang dengan hampa tangan, hingga akhirnya harus rela menerima pemecatan dari daftar anggota orang-orang yang setiap bulannya harus dibiayai dalam keluarga kaya itu. Mereka pun kembali ke pojoknya sebagai manusia biasa, yang harus memulai kehidupan dari nol -- dengan membawa ijasah dan referensi pekerjaan dan prestasi kelembagaan lainnya -- melamar pekerjaan apa saja agar dapat melanjutkan kehidupan yang selanjutnya benar-benar terasa sakit. Mereka, tentu saja harus kembali ke bidang-bidang pekerjaan lama mereka; karena kegiatan "memata-matai" yang mereka perankan di tengah keluarga kaya itu, hanyalah pekerjaan dadakan yang terpaksa harus dilako­ni, agar dapat gaji setiap bulannya; setelah bertahun-tahun menjadi pelayan, penjaga malam, atau sopir pribadi salah seorang dari tuan-tuan muda mereka.

Suami-istri itu terpikir juga, bahwa tindakan pemecatan kepada beberapa orang mata-mata yang telah menyumbangkan sebagian kehidupan mereka demi kepentingan keluarga kaya itu -- akan menyakitkan. Namun, rasa sakit dan kecewa suami-istri itu pun sangat besar -- atas hilangnya jejak si putra sulung -- yang bila semakin dipikirkan, ternyata lebih kuat lagi mengeraskan hati dan meruncingkan kemarahan mereka atas keteledoran yang tak sepan­tasnya dilakukan para mata-mata itu. Pikir mereka, adalah tidak wajar bahwa para mata-mata yang dulunya mereka angkat dari kehidupan serba kekurangan itu -- suatu ketika akan memperlihat­kan rasa jijik -- untuk menginap semalam saja di sebuah hotel yang paling murah, yang telah diinapi putra sulung mereka, boleh jadi selama bermalam-malam. Dan sangat lancanglah meremehkan tugas yang telah dipercayakan suami-istri itu, yang setiap hari harus berjuang melawan kegelisahan mereka; karena hilangnya si putra sulung dari keseharian mereka, sama saja dengan hilangnya gambaran masa depan yang masih dapat dijangkau dan dialami. Mengapa pula mereka harus merasa telah berbuat kasar, bila para mata-mata yang tak tahu diri itu, kemudian menjadi para pengang­gur di jalanan di tengah kota sana? Sementara mereka sendiri, suami-istri itu, benar-benar telah kehilangan harapan sama sekali atas setitik terang dalam kehidupan, karena ulah edan para mata-mata yang teledor dan memilih sikap tak tahu diri? Begitulah rasa marah suami-istri itu terkadang berkecamuk bila teringat para mata-mata itu, dan kemudian mereka pun semakin menyadari hari-hari mereka yang kian pendek dan tak terjelaskan. Di tengah anak-anak mereka yang lainnya, yang selalu sibuk berseliweran dengan rencana-rencana dan tindakan mereka. Setiap hari perbin­cangan kembali ramai oleh gagasan yang akan membawa kemenangan bagi keluarga, selalu ditawarkan oleh salah seorang dari mereka. Saat-saat di meja makan itu pun lebih ramai oleh perkiraan-perk­iraan tentang apa yang akan dilakukan oleh lawan, daripada menik­mati makanan yang selalu tersuguh dengan berbagai menu mahal itu. Sementara, suami-istri itu tak lagi bergairah melibatkan diri, karena sepanjang pagi dan siang yang mereka lakukan adalah ber­diam diri di kamar; hingga benar-benar tak mengikuti lagi perkem­bangan, dan akhirnya terbengong-bengong mendengar apa yang dibi­carakan anak-anak mereka tentang berbagai perusahaan dan bidang bisnis mereka. Dan di pihak lain, bagi anak-anak itu, yang mene­mukan kebebasan mereka sepenuhnya sebagai seorang anak keluarga terkaya di kota mereka -- setelah kepergian si putra sulung yang buta oleh cinta itu -- keberadaan ayah-ibu mereka itu semakin hari kian tak nyata dalam ingatan mereka. Tak jarang misalnya, bahwa mereka teringat, baru saja makan malam di rumah bersama kedua orang tua mereka; setelah mereka menemukan diri mereka tertidur di pelukan kekasih-kekasih mereka sehabis acara perte­muan bisnis yang melelahkan. Lalu dengan malas-malasan, mereka pun berjanji di dalam hati, agar esok mereka jangan sampai lupa menyapa kedua orang tua yang menjadi sangat pendiam setelah menghilangnya si putra sulung itu. Tapi begitulah selalu. Janji yang dicetuskan dengan kemalas-malasan itu akan tersapu dengan mudah dari benak mereka. Esoknya mereka kembali sibuk berbincang tentang perkembangan terakhir di meja makan yang sama, dan meninggalkan kedua orang tua itu dengan ketidakperdulian yang sama, seperti kemarin, minggu kemarin, bulan kemarin, dan tahun-tahun kemarin.

Suami-istri itu pun akhirnya harus menerima kenyataan pahit, bahwa selanjutnya mereka berdua semakin diasingkan oleh anak-anak mereka. Anak-anak itu semakin percaya diri dan berani bersikukuh di hadapan mereka. Tak ada lagi kata-kata saran yang dapat mema­suki benak mereka; bila itu menyangkut petunjuk yang lahir karena pengalaman dan usia yang lebih banyak makan asam garam kehidupan. Anak-anak itu semakin sering mengungkapkan pikiran-pikiran mereka yang terkadang tak masuk akal, tentang dunia perdagangan nasional maupun internasional. Padahal semua orang tahu, di kota itu, suami-istri itu adalah sepasang pengusaha yang telah sukses menjaga kebesaran dan bahkan lebih memperbesar lagi pohon perusa­haan keluarga secara turun-temurun. Sementara anak-anak mereka itu, adalah duplikat tak sempurna dari si putra sulung yang baru saja dipercayakan mengurus pohon perusahaan keluarga itu; yang ternyata, baru berjalan dua tahun -- telah berujung pada keper­giannya yang tak tentu rimba itu. Maka dengan kenyataan yang kini terpampang di hadapan mereka, suami-istri itu pun semakin sering mengulang-ulang kehidupan mereka yang telah lewat -- sebagai kenangan yang sangat berharga -- karena dengan kenangan itulah mereka merasa bermakna kembali; sekaligus dapat sedikit melupakan keseharian mereka yang menyakitkan, di tengah kehidupan anak-anak mereka.

Dalam masa perkawinan mereka selama tiga puluh tahun, suami-istri itu sepakat, bahwa masa terindah dalam kehidupan percintaan mereka -- adalah ketika pertemuan pertama mereka dulu, telah lama sekali, dalam sebuah pesta keluarga yang diadakan di sebuah peristirahatan di luar kota. Keluarga-keluarga yang berkumpul saat itu adalah keluarga dekat dari ayah si suami itu. Namun di antara undangan, ternyata ayah si suami itu sengaja menyelipkan sebuah nama aneh bagi keluarganya. Yakni nama seorang teman kuliahnya yang masa itu telah berkeluarga dan hidup sebagai seorang politikus di kota itu. Maka suasana keluarga yang sudah berlangsung dari tahun ke tahun itu pun agak berubah pada pesta kali itu -- karena hadirnya si politikus bersama keluarganya, yang terhitung sebagai orang luar. Dan perubahan itu ternyata sangat menyenangkan si suami, yang pada masa itu masih seorang pemuda yang baru menyelesaikan kuliahnya. Si suami itu jatuh cinta untuk pertama dan terakhir kalinya dalam pesta itu, kepada putri sulung si politikus. Lalu tiga bulan kemudian mereka sangat bersyukur, ketika mendengar rencana perjodohan telah dijajaki dan kemungkinan besar akan diwujudkan ke perkawinan. Dan sangat menyenangkan bagi sang suami itu, ketika mendengar pengakuan si istri kemudian, bahwa si istri pun ternyata langsung jatuh cinta begitu melihatnya pertama kali. Dan perbincangan mereka, tentang seorang pangeran dan seorang putri, ketika mereka menyusur sungai buatan yang membelah rumah peristirahatan mereka yang luas itu, pun kerap menjadi bahan kenangan ketika mereka terbangun pada malam-malam penantian kelahiran putra sulung mereka. Lalu lain saat, peristiwa-peristiwa remeh namun mengesankan selama di peristirahatan itu, sering diurai kembali sebagai peristiwa yang tak akan terlupakan kelak sampai masa tua mereka yang pastilah akan membahagiakan. Karena, bukankah kebahagiaan telah ditentukan untuk mereka miliki dan kemudian mereka nikmati? Ketika kedua keluarga mereka yang sama-sama berhasil di mata masyarakat luas itu bergabung dalam sebuah rumah tangga anak-anak sulung mereka yang cerdas? Keluarga hartawan yang sukses di bidang bisnis, bergabung dengan keluarga ternama yang sejak lama dikenal sebagai keluarga politikus yang disegani?

Namun, ketika mereka akhirnya selalu terbangun di ambang kenyataan mereka yang sekarang, kenangan-kenangan yang sangat mengesankan dan mempesonakan ini pun secara pasti terkadang hadir malah sebagai tusukan pisau ke punggung mereka, yang datang dari masa lalu yang tak akan pernah terulang lagi. Karenanya, suami-istri itu pun ada kalanya sangat khawatir, bila yang lainnya sampai pada kenangan-kenangan manis mereka. Karena bagaimanapun usaha yang dilakukan untuk menutup-nutupinya, bila yang muncul adalah kekecewaan atau penderitaan yang dialami atas tusukan pisau masa lalu yang tak akan terulang itu -- maka masing-masing pun tak akan berhasil menyembunyikannya dari yang lain. Yang akhirnya, akan memaksa yang lainnya agar segera menghibur dengan harapan-harapan, bahwa semua kenangan manis itu tentu saja dapat mereka ulang bila mereka mau; yang artinya, sama saja dengan menyiapkan punggung sendiri untuk kembali menerima tusukan pisau kekecewaan dan penderitaan yang sama. Sampai keduanya kemudian saling memandang dengan mata berkaca-kaca di tengah kesunyian kamar mereka yang mewah dan resik itu. Mereka sangat tahu, bahwa masa lalu telah terkubur sebagai kenangan; yang tak akan pernah lagi menjadi kenyataan siapa pun dari mereka. Mereka sangat tahu, bahwa yang tersisa untuk mereka tinggallah sejumput harapan hampa, di antara hari demi hari yang mereka lalui berdua saja, tanpa siapa-siapa, tanpa dunia luar, di kamar mereka yang luas hingga terasa sangat kosong.

Maka, sedikit melegakanlah bila salah seorang dari mereka masih sanggup memulai sebuah kisah "keberanian, kecerdikan, kekejaman", tentang apa saja yang pernah mereka upayakan untuk mempermalukan musuh keluarga. Apa saja tingkah konyol keluarga lawan, yang pantas ditertawakan dengan rasa bahagia yang amat sangat. Sebab mereka berdua, ternyata, sebagai pasangan, sangat berhasil merancang berbagai cara yang cukup ampuh mempermalukan keluarga musuh itu. Misalnya, ketika mereka masih berbulan madu, mereka sengaja menyewa sebuah hotel besar di kota lain -- yang mereka ketahui akan dikunjungi seluruh anggota keluarga musuh besar itu. Maka sangat luculah bagi suami-istri itu, ketika mereka terdaftar sebagai pasangan muda terkaya -- yang telah memborong semua kamar setahun sebelumnya. Sementara dari jendela kamar, mereka melihat seluruh keluarga musuh besar itu kalang kabut di halaman hotel; saling menyalahkan suruhan masing-masing yang dianggap bekerja kurang becus. Hingga mereka akhirnya memu­tuskan dengan pahit, agar menyewa hotel yang di sebelah, yang tentu saja sangat murah bagi kantung keluarga mereka. Lalu adegan yang paling berhasil dan terus terang dari suami istri itu, adalah ketika malam harinya -- keluarga musuh besar itu merayakan ulang tahun kelahiran cucu pertama mereka -- suami-istri itu membiarkan hotel yang mereka sewa itu dalam keadaan gelap sepanjang malam. Dan esoknya, semua itu mereka sambungkan dengan sebuah berita bulan madu di koran-koran, yang menggam­barkan bagaimana mereka sepanjang: malam main petak umpat di kamar-kamar hotel yang seluruh lampunya dimatikan. Dan koran-koran gosip itu pun menambahkan dengan kalimat-kalimat mengharu­kan: tentang perjalanan gulita sepasang kekasih kaya, menuju perkawinan terang benderang oleh kekayaan dan kekuasaan. Berlai­
nan sekali dengan sebuah pesta kelahiran seorang cucu pertama keluarga lain, yang dirayakan secara berlebihan di sebuah hotel sempit; dan karena sempitnya, para tamu akhirnya hanya datang sekadar mengantarkan kado, lalu menggerutu selama pesta berlang­sung, dan kemudian pulang dengan mulut berbusa penuh makian. Para tamu merasa tersiksa oleh ruang pesta yang sempit, dan akhirnya menumpahkan rasa kesal ke koran-koran, dengan mencemooh sikap berlebihan keluarga kaya itu, yang tak seharusnya begitu memerlu­kan merayakan kelahiran seorang cucu pertama yang baru berumur beberapa hari. Cucu pertama perempuan, yang setiap kali menjerit­kan tangisnya, ketika tangan-tangan gemuk para tamu menyentuh pipinya yang halus seperti kapas itu.

Dan suami-istri yang sedang berbulan madu itu tak pernah menyangka, bahwa si cucu dari keluarga lawan itu, kelak akan saling jatuh cinta dengan putra sulung mereka di ruang pengadi­lan. Lalu keduanya memilih meninggalkan keluarga masing-masing -- ketika cinta yang tumbuh dan segera mekar di hati masing-masing pada pandangan pertama itu -- tak direstui kedua keluarga.



17
------------------------------------------------------------
SETELAH kunjungan para penghuni rumah-rumah di mulut lorong ke rumah di ujung lorong itu, boleh jadi rumah di ujung lorong itu kemudian hanya lahir dalam imajinasi masing-masing penghuni rumah-rumah kumuh di mulut lorong itu. Setidaknya, para bapak itu tak pernah mampu memastikan, atau memang tak pernah sepakat, ketika masing-masing selalu tergoda untuk memulai pembicaraan tentang rumah di ujung lorong itu; pada malam-malam perbincangan mereka di perkampungan kumuh di mulut lorong itu. Bahkan, men­yangkut hal-hal yang paling sederhana saja: seberapa luas areal tanah dan bangunan rumah tersebut -- nyaris tak pernah ada kepu­tusan yang diakui bersama. Berdinding tembok atau setengah tem­bok: tak ada kesepakatan; mereka terbagi ke dalam dua kelompok yang berbeda-beda pada setiap kali malam perbincangan itu dilaku­kan. Masing-masing seperti membayangkan sebuah rumah dengan keluasan areal dan bangunan tertentu, berbeda-beda satu sama lain; sejauh mana seseorang itu mampu membayangkan, dan seperti apa seseorang itu sedang menggambarkan di dalam benaknya. Hingga, bila ia seorang yang hanya memiliki sedikit kemampuan melambung­kan imajinasi saja, tak banyak yang dapat diharapkan bila ia kemudian cuma membayangkan rumah di ujung lorong itu sebagai sebuah gubuk reot kecil, terpojok di dataran kering dilebati semak-semak, di sisi belakang areal luas sebuah pabrik yang cerobongnya tak henti-hentinya memuntahkan asap tebal ke langit sana. Atau, bila ia seorang pemulung yang terlanjur beranggapan, bahwa setiap bangunan rumah di luar perkampungan kumuh itu, adalah bangunan yang sama dan sebangun dengan bangunan-bangunan yang sering dilihat dan dilaluinya di tengah kota -- maka ia pun akan membayangkan atau menggambarkan rumah di ujung lorong itu sebagai sebuah bangunan berdinding beton, kekar, tegak, jumawa, di antara alam sekitar yang meranggas rapuh, mudah terbakar, penat dan tak berdaya digilas terik matahari siang. Namun, di antara semua ini, yang paling merepotkan adalah mereka yang tak pernah membiarkan imajinasinya tumbuh wajar menyergap setiap bentuk dan rupa di luar sana. Mereka ini akan mendengarkan dan mengakui kebenaran imajinasi siapa pun, tentang sosok rumah di ujung lorong. Namun mereka juga serta-merta akan terilhami untuk membantah, mempersoalkan, bahkan mengejek dan menolak gambaran apa pun yang dimunculkan orang lain di hadapannya. Hingga selan­jutnya, dari komentar yang dilontarkan seseorang di perkampungan kumuh di mulut lorong itu, segera dapat dikenali, apakah ia seor­ang pemilik imajinasi terbatas atau biasa-biasa saja, liar dan membiarkan imajinasinya tumbuh alamiah, atau ia adalah seorang yang tak pernah rela mengikutkan imajinasinya sekali pun.

Sebagaimana dari perbincangan yang berlangsung pada suatu hari ini, misalnya: siapa, dan bagaimana para penghuni perkampun­gan kumuh di mulut lorong itu memanfaatkan imajinasinya, segera dapat dirasakan atau diketahui berdasarkan tanggapan atau bahkan lewat cerita yang dapat mereka rangkai di hadapan pendengarnya. Saat itu, salah seorang penghuni bercerita tentang rumah di ujung lorong itu sebagai sebuah rumah bertingkat. "Di sekeliling rumah bertingkat itu terdapat pagar tinggi yang terbuat dari besi perak yang bercahaya sepanjang musim. Dari kejauhan, rumah itu seperti istana mungil yang dihuni oleh para dewa bersayap mungil. Jauh namun sangat dekat di dalam kesadaran, terpencil namun berada di dalam keramaian pikiran yang paling miskin khayalan sekalipun. Di bawah langit siang, rumah itu ibarat matahari lain di tengah alam semesta yang dapat menerangi sekitar dari kegelapan jenis apa pun. Dan di pagi hari kalian akan terpukau, karena ternyata di dunia ini ada rumah seperti itu... Tentu saja, penghuninya adalah dewa perempuan dan dewa lelaki bersayap mungil dan lucu itu. Lalu, seorang anak dewa yang sayap mungilnya sedang tumbuh dari hari ke hari, juga terlihat kadang-kadang mengitari halaman rumah. Ia mungkin sedang berjemur matahari atau malah diam-diam sedang mengintip matahari sedang berjemur di sebuah pantai di atas sana. Tapi yang pasti, sungguh indah merasakan pusaran keheningan yang mengiringi mereka bertiga ketika mengelilingi rumah berpagar tinggi itu; seakan seluruh semesta alam ikut sengaja menahan nafas dan mengatur langkah, agar tak sekalipun menerbitkan suara berisik sekecil apa pun setiap kali ketiga pasang kaki itu menjejak dan melangkah, menjejak dan melangkah. Hening. Hening. Hening. Mereka sedang menciptakan keheningan dengan langkah-langkah mereka. Ya. Benar-benar hening. Keheningan milik para dewa dan keluarganya..."

“Kau sebenarnya bercerita tentang apa?" tanya salah seorang pendengarnya kelihatan sudah tak sabar.

"Ya tentang rumah di ujung lorong!"

"Wah, wah?"

“Kok menyerempet ke kehidupan para dewa?"

"Wah, wah?"

"Cek...cek...cek...hebat!"

"Begitulah!"

"Masa'?"

"Hahahahaha!..."

Maka yang bertanya dan pendengar lainnya pun segera tertawa bersamaan, dan masing-masing tak sabar ingin menjelaskan pencapaian imajinasi ataupun bantahan kesadarannya, atas kenyataan rumah di ujung lorong itu.

"Di sana tak ada pagar. Cuma ada semak-semak rimbun tak terurus yang hampir mati oleh polusi pabrik di dekat situ. Tak ada pagar besi dari perak. Tak ada keheningan. Di sana segalanya berisik oleh deru mesin pabrik yang sampai ke tempat itu, dan aku belum pernah melihat suami-istri serta anaknya berjalan-jalan mengitari rumah mereka. Mereka bertiga hidup dalam pikiran dan kesendiriannya masing-masing. Dan menikmati dengan masa bodoh dunia yang mempertemukan mereka di dalam rumah di ujung lorong itu. Kalau aku tak salah duga, mereka, ya, suami-istri itu, pastilah dua orang buronan polisi yang sedang bersembunyi dengan harta rampokan mereka. Sementara mereka sengaja berpura-pura hidup kere, menunggu saatnya tiba mengambil hasil rampokan dari tempat persembunyiannya. Dan yah, seperti mudah dibayangkan oleh pikiran yang paling dungu sekalipun -- karena yang satu seorang lelaki dan yang lainnya seorang perempuan, dan mereka tinggal berdua saja -- aku kira wajar-wajar saja kalau setahun kemudian ada seorang anak yang menyeruak di antara mereka. Dan suatu hari, kitalah yang menolong kelahiran anak itu... Hahahaha, dari mana saja kau seharian ini, hingga bisa mengigau tentang rumah berpa­gar besi dari perak? Rumah dewa-dewi dan seorang anaknya yang sedang tumbuh sayap mungil?... Hahahaha!..."

Lalu kembali terdengar tawa ramai saling bersahutan.

"Hahahahaha!..."

"Hahahaha!..."

"Wah, wah!"

"Salah itu, salah!" potong seseorang dengan kesal.

"Apanya yang salah?"

"Iya, apanya yang salah?"

"Di ujung lorong hanya ada sebuah rumah kosong yang tak pernah dihuni lagi oleh siapa pun. Ya, dulu kabarnya rumah itu pernah dihuni oleh sepasang suami-istri dan seorang anak mereka. Sepasang suami-istri itu adalah pelarian dari dua keluarga harta­wan yang saling bermusuhan. Dua keluarga yang akhirnya tak bisa menghindari kenyataan, bahwa masing-masing anak sulung mereka saling mencintai dan memilih kawin lari. Dan dalam pelarian itu, si anak pun dilahirkan. Namun, karena kondisi hidup mereka yang kemudian sangat melarat, si anak pun hidup liar dan kekurangan. Seperti semak-semak di sekitar rumah mereka, yang hampir mati oleh polusi pabrik di dekat situ, si anak pun tumbuh tak sehat dan tak terdidik. Tepatnya: si anak menjalani hidupnya nyaris tanpa adanya perhatian dari kedua orang tuanya. Ia, boleh jadi karena takdir nasibnya memang demikian: telah menjalani hidupnya sendirian saja, secara alamiah, di bawah perhatian sekadarnya dari sang ibu atau sang ayah yang sesekali teringat untuk member­ikannya makan dan pakaian sekadarnya pula. Dan sebagai reaksi untuk semua "keterbatasan" yang diterimanya dari kedua orang tuanya, si anak pun nyaris tak memiliki bahasa "berlebih" untuk mengungkapkan segala pikiran dan perasaannya. Ia hidup dengan bahasa "terbatas", tak memiliki banyak kosakata atau pun ungkapan bahasa kecuali menyemburkan bunyi-bunyian tak jelas, atau ber-ah-uh-ah-uh-ah-uh...dengan sepasang matanya yang liar, menyorot tajam di wajahnya yang kurus dan tak terawat. Lalu, di sana tak ada penjahat atau buronan yang sengaja bersembunyi dari kejaran polisi, dan tak ada rumah berpagar perak... Yang ada adalah sepasang manusia yang ingin mempertahankan cinta di satu pihak, lalu dua keluarga yang saling teracuni dendam turun-temurun di pihak lain, dan seorang bocah yang tumbuh "terbatas" di antara keduanya. Sepasang kekasih memilih hidup menyendiri ingin melupa­kan masa lalu, namun bingung karena di antara mereka kemudian lahir seorang anak yang tak bisa mereka urus dengan benar; hingga sepasang kekasih akhirnya memilih masa bodoh terhadap dunia. Sementara, dua keluarga yang bermusuhan terus melanjutkan permu­suhan mereka; lebih curang dan lebih kejam daripada sebelum-sebelumnya. Hingga, suatu saat akan muncul keluarga ketiga, sebuah keluarga baru, yang dengan licik memanfaatkan permusuhan dua keluarga itu sedemikian rupa, mengambil manfaat dari keben­cian dua keluarga itu untuk keuntungan diri sendiri, yang kemu­dian berlanjut pada runtuhnya dua keluarga hartawan. Lalu, selan­jutnya muncullah banyak keluarga hartawan, yang dulunya adalah para pegawai gajian di dalam dua keluarga hartawan. Nah, persoa­lannya, kemana perginya dua keluarga hartawan? Bagaimana akhir perjalanan hidup mereka, setelah berpuluh tahun malang-melintang sebagai keluarga hartawan dengan proyek permusuhan sebagai moti­vasi hidup mereka? Apakah semuanya bena-benar jatuh miskin? Tak ada yang tahu. Beberapa memang benar-benar jatuh miskin, dan karena sangat miskinnya, tak merasa malu untuk datang mengemis-ngemis kepada para pegawai mereka yang kini sudah menjadi orang-orang kaya baru. Sementara, dua pasang orang tua kepala keluarga kedua keluarga besar itu, yang memang sudah pikun, akhirnya meninggal dunia dalam kemelaratan di jalanan. Sedangkan beberapa anak mereka yang mencoba bertahan, kini tercerai-berai terbawa gaya hidup yang mampu mereka ikuti dan memberi mereka makan. Ada yang jadi penjahat, alias garong. Ada yang jadi pelacur alias perempuan jadah, ada yang jadi pengemis alias makhluk hina yang memanfaatkan rasa kasihan orang lain untuk melanjutkan hidup. Dan tentu saja, ada yang jadi gelandangan seperti...kita..."

"Hahahaha!... Hebat ceritamu! Saking hebatnya -- jangan-jangan esok kamu akan mengaku-ngaku sebagai salah seorang dari mereka!" ejek seseorang tertawa senang, sementara yang lain masih sempat terpukau oleh alur cerita yang baru mereka dengar. Mereka tak pernah menyangka bahwa rumah di ujung lorong itu, bisa jadi sebenarnya tak pernah lagi dihuni. Sudah lama kosong. Artinya, mereka telah meninggalkan pengalaman menolong kelahiran seorang anak yang kemudian gagu itu -- telah lama sekali, bertahun-tahun lewat atau berpuluh tahun lewat -- hingga telah jauh sekali tertinggal di belakang kenyataan, yang terus mereka arungi selama ini.

Namun kemudian kembali terdengar tawa, yang nadanya menyang­kal uraian si orang yang baru saja memaparkan pengetahuannya tentang rumah di ujung lorong itu. Uraian yang untuk beberapa saat membuat banyak pendengar terpukau mendengarkan, dan kemudian saling memandang dengan rasa ingin tahu itu, menjadi hambar kembali, sebagaimana cerita-cerita sebelumnya.

"Di sana masih ada rumah besar yang tak terurus. Dihuni oleh sepasang suami-istri yang sudah tua. Dulu mereka mempunyai seor­ang anak. Kita-lah yang menolong melahirkannya ke dunia ini. Namun kita tak bisa menolongnya, agar si anak bisa menjalani kehidupan ini dengan lebih beradab. Karena kita terlanjur memper­cayakan nasib anak itu sepenuhnya kepada orang tuanya. Padahal, anak itu menurutku adalah seorang anak ajaib, karena aku pernah melihatnya di tepi sebuah danau sedang memegangi sebuah bola emas berisi ikan berenang-renang di dalamnya. Bayangkan. Seorang anak memegang bola emas berisi ikan. Bukankah itu peristiwa aneh? Semua itu, apa lagi penyebabnya kalau bukan karena anak itu adalah makhluk ajaib. Hanya makhluk ajaiblah yang dapat melakukan perbuatan tak masuk akal. Coba, untuk apa bola emas itu? Untuk apa sepasang ikan berenang-renang di dalamnya? Untuk apa ia mempertontonkannya di tepi danau? Begitulah makhluk ajaib, selalu melakukan sesuatu untuk tidak apa-apa, kecuali hanya ingin mem­perlihatkan satu pemandangan aneh bagi manusia-manusia biasa di sekitarnya. Tapi yah, si anak ajaib kemudian pergi meninggalkan rumah di ujung lorong itu. Meninggalkan pintu dan jendela-jendela rumah lebih banyak tertutup, berlawanan dengan ketika ia belum pergi: pintu dan jendela-jendela sering terbuka. Meninggalkan semuanya dalam kehampaan dan kegersangan akibat polusi dan deru pabrik. Sekarang, sepasang suami-istri tua itu hanya dapat menye­sali perilaku mereka pada masa lalu. Tapi yang jelas mereka hanya sepasang suami-istri biasa seperti kita. Dari keluarga biasa saja. Tak ada dua keluarga hartawan. Hahahahaha...enak benar kau mengarang cerita: hanya ada dua orang kaya di sebuah kota dengan kehidupan mereka yang berkecukupan dan menjadi pusat perhatian semua penduduk... Cek...cek...cek...cek...alur ceritamu benar-benar hiburan murahan untuk orang-orang kekurangan seperti kita, heh!"

"Ya, orang-orang di Jakarta akan menyebut cerita semacam itu telenovela impor. Kisah asmara penuh air mata. Perjalanan si miskin menjadi kaya atau si kaya menjadi miskin. Penuh seribu keajaiban dan kebetulan yang mengharukan sekaligus mengenaskan;
karena tak lajim dan tak masuk akal!..."

"Tak lajim dan tak masuk akal? Apa ada yang lajim dan masuk akal dalam hidup ini?"

"Jangan melebar jadi diskusi warung kopi, cuma mengaduk-aduk topik yang sama dengan istilah-istilah baru dan berlainan. Ingat, saat ini kita tidak sedang membicarakan berita koran atau ta­bloid. Kita sedang berada dalam sebuah cerita, sebuah roman, sebuah novel!"

"Benar. Kita tidak sedang berada di Jakarta. Melainkan di sebuah tempat antah-berantah yang di dalam cerita ini disebutkan sebagai 'mulut lorong'!..."

"Dan kita sedang membicarakan si penghuni ujung lorong!"

"Tepatnya, bagaimana sebenarnya bentuk rumah di ujung lorong sana!"

"Sudah, sudah, aku punya gambaran yang belum pernah kuceri­takan... Mau dengar tidak?"

"Tidak!"

"Mau, mau, mau!"

Saling membantah masih berlanjut, tak jelas siapa berhadapan dengan siapa, siapa memihak siapa; dengan perbincangan merembet-rembet ke luar kehidupan mereka yang tergelar sebagai kenyataan keseharian di mulut lorong itu. Seseorang misalnya, tidak menuju­kan ucapannya menanggapi atau mengomentari ucapan yang lainnya, jelas sekali menduga-duga bahwa 'mereka' semua boleh jadi 'tak pernah ada' secara dagingiah atau darahiah. Mereka hanya menyosok sebagai manusia jadi-jadian dalam benak seorang pembaca, yang bersedia membentangkan imajinasinya untuk mengikuti rangkaian sebuah cerita yang cukup panjang. Sebuah kisah berbagai manusia, yang boleh jadi dapat dijadikannya sebagai cerminan mengenali kehidupan kesehariannya sendiri. Namun untuk itu, sekali lagi, si pembaca perlu melapangkan keluasan imajinasinya untuk menampung berbagai hal yang ditemukannya: tidak sekadar berupa jalinan kata-kata bermakna, bertujuan; melainkan juga sebagai lapisan demi lapisan kenyataan dan imajinasi yang ternyata memiliki titik-titik berangkat tertentu, yang semakin dapat diperjelas dengan kesabaran merenungkan.

Namun, di atas semua itu, dari para penghuni mulut lorong yang sedang memperbincangkan keberadaan rumah di ujung lorong dan para penghuninya itu, yang menceritakan alur kisah dengan dua keluarga hartawan sebagai latar belakang suami-istri penghuni rumah di ujung lorong itu, telah cukup lama terdiam dan menunduk, lalu secara perlahan namun pasti menukas jalannya pikirannya sendiri dengan suara perlahan dan seret. "Ya, pikirku juga, tak mungkin ada permusuhan keluarga yang demikian turun-temurun dan mampu menghancurkan cinta. Bukankah cinta, mampu mengalahkan apa saja yang mencoba menghalanginya?"

“Kenapa tidak?" potong salah seorang. "Cinta toh cuma seben­tuk perasaan yang biasanya berbiak pada sepasang remaja yang sedang tumbuh. Sementara, kehidupan yang kita lalui hanya menye­diakan sedikit waktu bagi terwujudnya kehidupan remaja. Yah, kita semua di sini tahu, dunia yang kita hidupi dan menghidupi kita sangat berlainan sekali, dengan apa yang pernah kita perkirakan ketika kita masih remaja? Apalah arti sebentuk perasaan yang pernah dimiliki sepasang remaja, dibandingkan dengan bermacam-macam perasaan lainnya yang harus kita tanggungkan dan kadang membuat kita sangat putus asa dalam kehidupan ini. Seperti pera­saan terhina karena dianggap remeh di jalanan di tengah kota sana. Merasa iri dan marah melihat orang-orang berlalu lalang dengan berbagai kendaraan mewah di jalanan, sementara kita melata dengan keranjang sampah di punggung dan pengait sampah di tangan. Atau, seperti perasaan harus bertanggung jawab atas manusia-manu­sia yang telah kita akui sebagai istri dan anak-anak. Ah. Apalah arti perasaan dua orang remaja di hadapan dunia yang sudah tua dan penuh oleh orang-orang tua pula, dengan sejuta ragam persoa­lan yang mereka urusi dan lalui, di antaranya ya mengurusi para remaja itu sendiri... He-he-he-he!..."

"Remaja? Seperti apa itu? Aku tak pernah menjadi seorang remaja. Aku hanya pernah menjadi seorang anak yang menderita, dan kemudian, sesudahnya terus-menerus menjadi seorang tua yang juga menderita!" kata salah seorang.

"Aku malah merasa tak pernah tua. Sejak anak-anak tetap sebagai kanak-kanak sampai sekarang. Semata-mata menjadi kanak-kanak yang harus memikul nasib keluarga!" kata seorang lainnya.

"Karena kamu menjadi kanak-kanak terus, makanya kamu tak pernah memikirkan kehidupan ini secara serius. Bagimu: hidup cuma permainan memenuhi kebutuhan perut!" kata seorang yang duduk di sebelahnya.

"Tidak juga. Aku pernah memikirkan yang sangat serius ten­tang hidup ini, ketika ikut membantu kelahiran si gagu di ujung lorong sana!" bantah seseorang yang dituduh kanak-kanak itu dengan cepat.

"Hahahahahahaha!..." Yang lain ramai-ramai tertawa. Begitu­lah hari itu, ketika mereka kembali membicarakan rumah di ujung lorong, dengan tak seorang pun berani memastikan kenyataan atau­pun pengetahuan dan pengenalan mereka yang sebenarnya tentang rumah di ujung lorong dan para penghuninya: apa, bagaimana, siapa, kenapa, dan untuk apa. Karena setiap kali mereka sudah terlebih dulu berbicara berdasarkan rekaan yang mereka kembangkan di benak. Dan mereka hanya memiliki rekaan tersebut sebagai satu-satunya pengenalan paling awal terhadap kehidupan asing yang menjangkau merek dari rumah di ujung lorong itu. Kehidupan asing yang menyurukkan sesuatu yang lain ke dalam benak mereka berupa kenyataan yang beragam, di antara kenyataan seragam yang selama ini mereka hidupi dan menghidupi mereka di pusat kota sebagai gelandangan, atau sebagai keluarga urban di perkampungan kumuh di mulut lorong itu, yang sebagian berhasil menempatkan dirinya pada berbagai posisi terendah dalam beberapa instansi pemerintah maupun swasta di kota itu.


18
-----------------------------------------------
SANGAT menyakitkan bagi suami-istri yang sudah bersiap-siap akan pensiun itu, ketika mengetahui suatu pagi, bahwa selanjutnya boleh jadi mereka akan hidup tanpa si putri sulung yang sudah mulai memperlihatkan kemampuannya meringankan beban hidup kedua orang tuanya itu. Selama ini, si putri sulung telah menunjukkan secara langsung, bagaimana kasih sayang seorang anak dapat menja­di hiburan tersendiri, ketika kegusaran terkadang menyeruak di pagi hari yang kurang memuaskan bagi kedua orang tua itu. Si putri akan muncul dengan senyum manisnya, menyapa dan menjenguk ke dalam kamar tidur; karena si putri sulung seperti memiliki energi berlebih untuk selalu bangun lebih pagi, lebih riang, dan selalu lebih optimis dari semua saudara-saudaranya. Sementara kini, tak akan ada lagi senyum hormat dan sapaan-sapaan akrab dari si putri sulung itu; yang sehari-harinya tak pernah menyem­bunyikan sesuatu pun dari kedua orang tuanya. Sejak kecil, si putri sulung itu tumbuh dengan kesiapan membuka diri sepenuhnya, kepada sang ayah maupun sang ibu. Itu, boleh jadi berawal dari kejadian: sejak sang ayah dan sang ibu menyampaikan pujian secara langsung, ketika sang putri mengungkapkan perundingan kakek dan neneknya tentang harta warisan yang sepenuhnya akan diserahkan kepada sang ayah. Sang ayah merasa sangat gembira ketika menden­gar dari sang putri, bahwa sang kakek akan mewariskan semua kekayaan atas nama sang ayah. Sang ayah tak henti-hentinya memu­ji, "benar, benar, jadi putri yang baik memang harus seperti itu! Terbuka. Ingat. Selalu terbuka kepada ayah dan ibu!...". Maka, sang putri sulung itu pun seakan menanamkan di dasar benaknya, bahwa setiap hal yang diketahuinya secara sengaja maupun tidak, bila diungkapkan kepada sang ayah dan sang ibu, akan menimbulkan rasa senang. Ia akan diimbali pujian dengan suara lembut, usapan sayang di kepala, tatapan menyanjung langsung ke arah mata, seraya dilanjutkan dengan kata-kata mesra mengagungkan: betapa sang putri telah mekar pada ruang dan waktu yang tepat; sebagai sang putri sulung yang cantik dan cerdas, yang suatu saat layak memikul tanggung jawab sebagai pimpinan keluarga. Maka, tak pernah ada lagi rahasia di benak si putri sulung, yang tidak diketahui oleh kedua orang tuanya. Semua hal yang diketahuinya, terpikirkan olehnya, akan segera sampai kepada sang ayah dan sang ibu, begitu ada kesempatan bagi ketiganya untuk bertemu. Atau sang putri akan mencari kesempatan menyampaikan apa saja yang terlintas di benaknya, melalui telepon, faks, dan surat kilat, bila ia bepergian jauh melaksanakan tugas-tugasnya sebagai wakil perusahaan keluarga. Keterbukaannya adalah rasa hormatnya. Keter­bukaannya adalah kediriannya sebagai putri sulung yang mulai mengemban kepercayaan sebagai ujung tombak 'keluarga' ke luar rumah. Si putri sulung, sepenuhnya menyiapkan seluruh kehidu­pannya bagi kepentingan pertumbuhan perusahaan keluarga. Suatu hal yang tak pernah sekalipun mampu diperlihatkan dalam perilaku oleh anak-anak lainnya, yang selalu bermuka-muka dan penuh akal licik untuk mewujudkan keinginan ikut campur mengurusi perusahaan, yang selalu disertai niat tersembunyi, menjadikan sebuah perusahaan tertentu, meskipun cuma beraset kecil, sebagai milik pribadi mereka.

Maka, tak satu hal pun yang dapat diperbuat oleh suami-istri itu, ketika akhirnya si putri sulung yang selama ini terbentang sebagai layar terbuka di depan mata itu, tiba-tiba menggulung di bagian tertentu untuk menyimpan sesuatu untuk dirinya sendiri. Putra sulung musuh telah memukau perasaan si putri sulung. Hingga tak satu rencana dan peringatan apa pun yang dapat mereka sampai­kan di antara kegelisahan mereka itu. Hingga mereka kemudian, dengan berat hati harus memenangkan tuntutan anak-anak lainnya, agar menyalahkan langkah si putri sulung yang secara sembunyi-sembunyi menjalin hubungan dengan putra kesayangan dari keluarga lawan mereka. Perhatian umum menjerat mereka, menyosokkan mereka sebagai berita sehari-hari, dan akhirnya harus mereka ladeni agar keharuman keluarga sebagai salah satu keluarga terkaya di kota itu tidak tercemar. Dan yang dapat mereka lakukan kemudian adalah mengirim mata-mata mereka, agar tetap mengikuti setiap gerak-gerik si putri sulung yang telah memilih kawin lari itu, dan kemudian menjadikannya berita, yang tentu saja dengan "kebohon­gan" yang sifatnya akan merugikan pihak lawan. Namun agak menge­jutkan bagi suami-istri itu, bahwa keluarga lawan pun ternyata tidak merestui perkawinan karena cinta pertama di pengadilan itu; sebaliknya memanfaatkan pula setiap perkembangan untuk keuntungan mereka. Hingga kemudian laporan-laporan yang dapat mereka terima dari mata-mata mereka, tentang kehidupan dua anak manusia yang benar-benar bergulat mempertahankan cinta itu; dengan bersem­bunyi ke kota-kota terjauh, yang tak terjangkau lagi oleh masyarakat mereka yang lama -- menjadi senjata baru dengan membumbuinya dengan fakta-fakta fantastis yang tak terbayangkan pihak lawan. Tentu saja, yang berlangsung kemudian adalah perang tand­ing mata-mata mengorek kenyataan-kenyataan paling tersembunyi yang bisa dibelokkan menjadi hinaan kepada pihak lawan. Yang terjadi adalah fakta-fakta palsu yang disuguhkan oleh mata-mata masing-masing, karena kedua keluarga sehari-harinya memang hidup di lingkaran mata-mata sebagai pengumpul informasi tentang apa saja yang mereka perlukan.

"Sebuah keluarga hartawan menengah di kota ini, dengan cara licik sengaja menggunakan putra sulungnya untuk menjerat putri sulung maha cerdas dan cantik sebuah keluarga hartawan terpan­dang. Jeratan cinta sangat licik dan murahan itu, secara kasar telah dipergunakan untuk memperdaya sang putri, yang kemungkinan besar pastilah merasa 'diculik tanpa ampun' di bawah todongan pisau atau pestol, ke sebuah kota pantai di Spanyol. Sungguh perbuatan barbar yang selayaknya ditangani oleh polisi secara tegas dan masyarakat secara langsung. Dalam hal ini, menunggu terbentuknya opini umum lewat koran atupun televisi hanya memper­lambat perbuatan mempertahankan keadilan di tengah masyarakat..."

Atau, "Ke mana mata hukum jelalatan ketika seorang putri cantik maha cerdas dari keluarga kaya terhormat diperdaya oleh seorang putra sulung keluarga kaya kurang terhormat, yang membuat sepasang orang tua yang semula memandang kehidupan dengan lapang dada dan sudah bersiap-siap pensiun, meninggalkan semua urusan perusahaan kepada anak-anak tercinta mereka menjadi tertunda bahkan mmenyebabkan sakit-sakitnya sepasang suami-istri yang malang itu?"

Atau, "Marilah bersatu, wahai masyarakat pecinta kedamaian di antara berita-berita koran yang semestinya dapat menggerakkan batin dan kemarahan kita menuntut keadilan agar keluarga hartawan tanggung Anu dibawa ke pengadilan karena dengan sengaja telah mempersiapkan putra sulungnya untuk memperdaya putri sulung cantik dan cerdas keluarga hartawan yang kita sayangi..."

Begitulah sebagian para mata-mata itu bekerja sama dengan koran-koran yang dapat mereka beli, bersama-sama merangkai kali­mat-kalimat serangan tersembunyi kepada musuh majikan mereka yang telah menanggung kehidupan keluarga, kebutuhan sekolah dan segala keperluan hidup anak-anak mereka. Yang dengan ringan tangan selalu menuliskan angka sekian-sekian di kertas cek, sebagai biaya perjalanan memburu sepasang kekasih ke berbagai kota di berbagai negara, agar setiap perkembangan sepasang pelarian yang menimbulkan malu bagi keluarga itu, tak lepas dari pantauan sepasang suami istri yang kini dengan berat hati harus kembali mengurusi keseharian perusahaan keluarga yang sangat menyedot banyak perhatian itu.

Namun, suatu ketika, tepatnya setahun setelah pelarian yang selalu mereka ikuti itu, suami-istri itu akhirnya harus menerima kenyataan pahit. Tak ada lagi berita tentang si putri sulung. Si putri sulung bersama pasangannya bagai menghilang ditelan bumi, setelah selama berbulan-bulan melakukan "kucing-kucingan" dengan mata-mata mereka -- dengan setiap hari berganti hotel; dari yang paling murah sampai paling mahal. Dan di situlah, di situlah: di sebuah hotel yang paling murah, di sebuah ujung jalan yang ramai; karena keengganan para mata-mata itu, yang telah membiasa­kan diri dengan kemewahan majikan mereka, hingga mereka merasa sakit bila harus ikut menginap di hotel yang paling murah itu -- akhirnya harus dibayar mahal. Mereka kehilangan buruan mereka. Mereka tak dapat lagi mengendus gerak 'makhluk' intaian mereka. Mereka ditinggalkan dengan mudah; dibiarkan pulang dengan hampa tangan, hingga akhirnya harus rela menerima pemecatan sebagai anggota yang terdaftar sebagai orang yang harus dibiayai dalam keluarga kaya itu. Mereka pun kembali ke pojoknya sebagai manusia biasa, yang harus memulai kehidupan dari nol -- dengan membawa ijasah dan referensi pekerjaan dan prestasi kelembagaan lainnya -- melamar pekerjaan apa saja agar dapat melanjutkan kehidupan yang selanjutnya benar-benar terasa sakit.

Suami-istri itu terpikir juga, bahwa tindakan pemecatan kepada mata-mata yang telah menyumbangkan sebagian dari kehidupan mereka untuk keluarga kaya itu -- akan menyakitkan. Namun rasa sakit dan kecewa mereka yang sangat besar atas hilangnya jejak si putri sulung, bagi mereka, ternyata lebih kuat mengeraskan hati dan meruncingkan kemarahan atas keteledoran yang tak sepantasnya itu. Pikir mereka, adalah tidak wajar, para mata-mata yang dulunya mereka angkat dari kehidupan yang serba kekurangan itu -- suatu ketika akan memperlihatkan rasa jijik untuk menginap semalam saja di sebuah hotel yang paling murah, yang diinapi putri sulung mereka. Dan sangat lancanglah meremehkan tugas yang telah dipercayakan oleh suami-istri yang setiap hari harus ber­juang melawan kegelisahan mereka, karena hilangnya si putri sulung dari keseharian mereka sama saja dengan hilangnya gambaran masa depan yang masih dapat dijangkau dan dialami. Mengapa pula harus merasa telah berbuat kasar, bila para mata-mata yang tak tahu diri itu kemudian menjadi para penganggur di jalanan di tengah kota sana? Sementara, mereka sendiri, suami-istri itu, benar-benar telah kehilangan harapan sama sekali: setitik terang masa beristirahat menikmati hari-hari pensiun, tanpa pekerjaan, hanya bersantai-santai dalam kehidupan; gagal diwujudkan karena ulah edan para mata-mata yang teledor dan memilih sikap tak tahu diri? Begitulah suami-istri itu kemudian menyadari hari-hari mereka yang semakin pendek dan tak terjelaskan, ketika dengan berat hati kemudian memutuskan untuk beristirahat, tanpa seman­gat, menyerahkan semua urusan kepada anak-anak mereka sepenuhnya. Hingga, mereka kemudian lebih banyak menemukan diri sendiri teronggok tak berguna, di antara anak-anak yang berseliweran dengan berbagai rencana-rencana dan tindakan-tindakan bisnis mereka. Setiap hari, perbincangan ramai tentang gagasan yang akan membawa kembali kemenangan bagi keluarga, berlomba-lomba ditawarkan oleh salah seorang dari mereka. Maka, saat-saat di
meja makan pun lebih ramai oleh perkiraan-perkiraan tentang apa yang akan dilakukan lawan, daripada menikmati makanan yang selalu tersuguh dengan berbagai menu mahal. Sementara, suami-istri itu tak lagi bergairah melibatkan diri, karena sepanjang pagi dan siang yang mereka lakukan adalah berdiam diri di kamar; hingga benar-benar tak mengikuti lagi perkembangan, dan akhirnya terben­gong-bengong mendengar apa yang dibicarakan anak-anak mereka tentang berbagai perusahaan dan bidang bisnis yang mereka geluti. Dan di pihak lain, bagi anak-anak itu, yang kini menemukan kebe­basan sepenuhnya sebagai seorang anak keluarga terkaya di kota mereka -- setelah kepergian si putri sulung yang buta oleh cinta itu -- keberadaan suami-istri itu semakin hari semakin kabur dalam ingatan mereka. Tak jarang misalnya, bahwa mereka teringat, baru saja makan malam di rumah bersama kedua orang tua mereka; setelah mereka menemukan diri mereka tertidur di pelukan kekasih-kekasih mereka sehabis acara pertemuan bisnis yang melelahkan. Lalu dengan malas-malasan mereka pun berjanji dalam hati, agar esok mereka jangan sampai lupa menyapa kedua orang tua yang menjadi pendiam setelah menghilangnya si putri sulung itu. Tapi begitulah selalu. Janji yang dicetuskan dengan kemalas-malasan itu akan tersapu dengan mudah dari benak mereka. Dan esoknya mereka kembali sibuk berbincang tentang perkembangan terakhir di meja makan yang sama, dan meninggalkan kedua orang tua itu dengan ketidakperdulian yang sama.

Suami-istri itu akhirnya harus menerima kenyataan pahit, bahwa selanjutnya mereka berdua semakin diasingkan oleh anak-anak mereka. Anak-anak itu semakin percaya diri dan berani bersikukuh di hadapan mereka. Tak ada lagi kata-kata yang dapat memasuki benak mereka; bila itu menyangkut petunjuk yang lahir karena pengalaman dan usia yang lebih banyak makan asam garam kehidupan. Anak-anak itu semakin sering mengungkapkan pikiran-pikiran mereka yang terkadang tak masuk akal tentang dunia perdagangan. Padahal semua orang tahu, di kota itu, suami-istri itu adalah sepasang pengusaha yang telah sukses menjaga kebesaran dan bahkan lebih memperbesar lagi pohon perusahaan keluarga turun-temurun. Semen­tara anak-anak mereka, adalah duplikat tak sempurna dari si putri sulung yang sudah mulai dipercayakan mengurusi pohon perusahaan keluarga itu; yang ternyata, baru berjalan beberapa tahun -- telah berujung pada kepergiannya yang tak tentu rimba itu. Maka dengan kenyataan yang kini terpampang di hadapan mereka, suami-istri itu pun semakin sering mengulang-ulang kehidupan mereka yang telah lewat -- sebagai kenangan yang sangat berharga -- karena dengan kenangan itulah mereka merasa bermakna kembali; dan sekaligus keseharian mereka yang menyakitkan di lingkaran anak-anak mereka, sedikit terlupakan.

Namun ketika mereka terbangun dalam kenyataan mereka yang sekarang, kenangan-kenangan yang sangat mengesankan dan mempesonakan seperti apa pun, secara pasti akan hadir sebagai tusukan pisau ke punggung mereka, yang datang dari masa lalu yang tak akan pernah terulang lagi. Karenanya, suami-istri itu sangat khawatir bila yang lainnya sampai pada kenangan tertentu yang baru saja dilamunkan. Karena, bagaimanapun usaha yang dilakukan untuk menutup-nutupinya, penderitaan yang dialami atas tusukan pisau itu -- tak akan tersembunyikan dari yang lainnya. Yang akhirnya, akan memaksa yang lainnya agar segera menyiapkan pung­gungnya menerima tusukan pisau yang sama. Sampai keduanya kemu­dian saling memandang, dengan mata berkaca-kaca, di tengah kesun­yian kamar mereka yang mewah dan resik itu.


19
------------------------------------------------------------
BANYAK hal mengerikan yang selalu menggenangi kesadaran sang suami yang pendiam itu. Sebagai seorang putra sulung dari keluar­ga kaya, ia memiliki banyak tanggung jawab di pundak, yang terka­dang tak pernah lekang bahkan sampai ke dalam mimpi. Maka ia pun sudah terbiasa menghadapi masalah-masalahnya, kecuali dalam keseharian, juga di dalam tidurnya. Mimpi dan kenyataan, terka­dang sukar di bedakan dalam kehidupannya. Ketika sudah mengemban tugas menjadi orang pertama dari berbagai perusahaan keluarga yang dipercayakan kepadanya, berkali-kali ia menyelesaikan per­soalan yang dihadapi perusahaannya -- suatu kali, misalnya, ia seakan sedang berada di dalam sebuah mimpi panjang -- yang mema­suki tidurnya dalam sebuah istirahat akhir minggu di sebuah kota 
pantai. Di antara debur ombak yang sesekali menggema ke telinga terdalamnya, kesadarannya lamat-lamat juga sedang menyosokkan sebuah petualangan pantai singkat yang sedang dilakukannya: mengemudikan sebuah speedboat dengan kecepatan tinggi di antara air tersibak dan butiran-butiran air kencang menerpa wajahnya. Sementara, di hadapannya, entah di dalam mimpi atau dalam kese­harian nyata ia tidak begitu memperdulikan, duduk beberapa orang 'pemuda idealis' yang bersedia dibayar untuk mengerahkan 'massa' meneror para penduduk di sebuah daerah kumuh yang enggan mening­galkan tanah hunian mereka. Padahal, tanah itu, menurut proposal seorang calon rekanan yang bersedia menjadi pelaksana, sangat ideal bila dijadikan pusat perbelanjaan dan perkantoran. Di tengah lancarnya kredit bank-bank pemerintah untuk dunia proper­ti, bisnis yang ditawarkan calon rekanan itu sungguh menggiurkan si putra sulung, yang kini, sebagai si suami pendiam, mengenang­kan semua itu dengan menggeleng-gelengkan kepala penuh keraguan. Kampung kumuh yang hendak mereka gusur itu, seperti di dalam mimpi atau dunia keseharian yang terkadang memboyakkan itu, kalau tak salah mirip dengan perkampungan kumuh di mulut lorong sana, yang kini menjadi tetangganya. Dan pada saat kelahiran putranya yang gagu itu, yang sangat berjasa menolongnya adalah para pendu­duk kampung kumuh yang dulu tak pernah masuk ke dalam benaknya sebagai manusia nyata itu; kecuali sebagai 'penduduk liar yang nekat mempertahankan tanah pemda yang mereka duduki begitu saja'. Dan kini, mereka kembali menyosok sebagai sekelompok kenyataan abstrak yang mengganggu, ketika yang terbayang dari kehadiran mereka adalah 'cemoohan para tetangga' terhadap kemalangan ke­luarganya yang berputrakan seorang gagu.

Sungguh mengesalkan bagi si suami pendiam itu, menyadari kenyataan yang terkadang mirip mimpi itu, bahwa ia masih harus berurusan dengan seberkas citraan masa lalu yang tidak diketa­huinya dengan pasti. Ia tidak dapat memastikan, apakah di antara para nenek moyangnya, ada seseorang yang gagu. Sehingga gen cacatnya terbawa secara turun-temurun dan akhirnya sampai kepa­danya, yang kemudian menetes secara nyata sebagai cacat yang disandang putra tunggalnya itu. Kalaulah Tuhan mau bersikap adil, pikirnya, tak seharusnya gen itu menetes ke dalam keluarganya; melainkan ke tengah keluarga adik-adiknya, yang saat itu pastilah dapat melalui kehidupan mereka dengan sangat menyenangkan, serba berkecukupan, dilimpahi rejeki dan petualangan-petualangan hidup yang serba 'wah', karena semuan harta kekayaan kini jatuh ke pangkuan mereka, setelah si sulung memilih jalan murtad dan meninggalkan lingkaran keluarga? Si sulung, yang untuk sekian lama telah mereka ganggu dengan teror, gurauan-gurauan, kutukan, ucapan selamat berupa ejekan, hingga tak pernah merasa nyaman paling lama dua hari dalam sebuah kota yang baru saja mereka masuki secara diam-diam namun kemudian terpaksa harus mereka tinggalkan dengan tergesa-gesa, cemas, dan nyaris tanpa harapan akan hari esok yang tenang?

Maka, si suami yang pendiam itu secara perlahan namun pasti telah mengembangkan perhitungan-perhitungan kebencian tertentu, yang sengaja ditujukan untuk menguakkan jarak antara ia dengan sang anak yang setiap kali memandangnya dengan takut-takut, kurang bersahabat, di antara wajahnya yang memandang kebingungan atas setiap gerak isyarat yang dilakukan ayahnya itu. Si suami pendiam itu setiap kali merasa putus asa apabila hendak menyata­kan sesuatu kepada sang anak, sehingga setiap kali pula hanya mampu mengacung-acungkan jemari telunjuknya, mengangguk-anggukkan kepala seraya mengerutkan kening atau membelalakkan mata, atau bila benar-benar tak sabar lagi, sesekali menendangkan kaki ke dinding atau ke lantai dengan kesal. Sementara si anak balas memandang dengan terbengong-bengong, menatap tak mengerti, dengan dada berdebar kencang, karena tak dapat menghalau bayangan men­gerikan, bahwa suatu kali tendangan-tendangan itu akan mengarah ke dada atau ke punggungnya.

Dan tendangan itu suatu hari akhirnya memang mengenai pung­gung si bocah gagu. Itu, akibat dari kebiasaan si bocah gagu yang senang menguakkan semua jendela dan mengangakan pintu rumah bila siang hari. Sementara si suami itu, selama bertahun-tahun, tak mengetahui kenyataan ini. Hingga suatu kali ia pulang siang hari, karena tak menemukan apa pun di kota sana, yang dapat diubahnya menjadi uang pembeli makanan, yang nantinya dapat dibawanya pulang. Maka, sambil membayangkan hari-hari kelaparan yang kemba­li terulang sebagai kenyataan keseharian mereka sebagai satu-satunya keluarga penghuni ujung lorong itu - si suami itu merasa terperanjat menemukan rumahnya dalam keadaan terang benderang, tembus pandang dari luar rumah. Sebenarnya tak ada yang harus disembunyikan dari luar rumah, hingga semua jendela dan pintu lebih sering dalam keadaan tertutup. Hanya saja, si suami yang pendiam itu, sebagaimana sang istri pada mulanya, tetap saja merasakan rumah yang tertutup itu sebagai tempat persembunyian yang lebih baik dari dunia luar daripada rumah yang terbuka. Dan si suami yang pendiam itu, sejak mereka menghuni rumah di ujung lorong itu, cukup merasa wajar bila kemudian mengikutkan kemal­sannya membuka pintu maupun jendela, kait-mengait dengan alasan 'keamanan' yang selalu mendesak bila masa lalu sejenak terbayang di benak. Masa lalu yang pernah mereka alami ketika masih sebagai dua orang pelarian, yang mencoba sembunyi di kamar-kamar tertutup setiap losmen, hotel, ataupun penginapan-penginapan tepi pantai yang mereka tuju sebagai tempat persembunyian dari kejaran teror dan hinaan adik-adik mereka.

Lalu, si suami pendiam itu pun mendengar penjelasan dari sang istri, bahwa jendela-jendela dan pintu-pintu memang selalu dibuka oleh si gagu. Dan si suami pendiam itu pun kemudian me­manggil si bocah gagu yang saat itu sedang bermain dengan seekor kucing kumal di sisi kali. Sebuah pemandangan menyebalkan dan sebuah kenyataan di luar perkiraan baru saja menghampar di depan mata si suami pendiam. Dua hal yang sangat mengejutkannya, semen­tara ia sudah tidak begitu sanggup lagi berurusan dengan kejutan-kejutan. Si bocah gagu menghampiri dengan enggan, seraya memang­gul kucing kumal kesayangannya di pundak. Si suami pendiam seper­ti menyaksikan sebuah kehidupan liar yang sangat menyakitkan di depan mata, dan kemudian menghunjam tajam ke benaknya. Bahwa si bocah gagu, yang kini berakrab-akrab dengan seekor kucing itu, yang seharusnya datang takut-takut karena hendak dituntut per­tanggungjawaban atas kebiasaannya membuka jendela-jendela dan pintu-pintu itu -- menjadi sebuah abstraksi dari hadirnya kenya­taan keras -- yang tak lagi berada di dalam pengenalan dan penge­tahuannya. Si suami, secara kasar kemudian membiakkan di dalam kesadarannya, sebentuk kesadaran perlawanan, semacam kesadaran ingin menaklukkan, menguasai, menggenggam dan mengenali luar dalam, seluruh kenyataan hidup anaknya. Tentu saja, pertama-tama, mengalahkan setiap kehadiran yang menyimpang itu dengan...kekera­san. Maka, begitu saja kakinya menendang punggung si bocah yang tak dapat berdiri berhadapan dengannya, karena sesaat tetap saja sibuk 'bercanda' dengan kucing kesayangannya, sambil memenuhi panggilan sang ayah agar datang mendekat.

Ngekh! Buukh! Terdengar dua cetusan bunyi menghentak keko­songan siang. Tak ada teriakan kalap atau jerit kesakitan sebagai dua ungkapan yang menjelaskan kondisi emosi si suami pendiam yang sedang di puncak marah dan si bocah gagu yang sedang di landa kesakitan. Ngekh! Itulah suara keluhan menahan sakit yang menyen­tak tiba-tiba dari mulut si bocah gagu, yang kemudian tanpa daya terdorong ke pintu dan terlempar ke halaman. Bukh! Itulah bunyi tendangan kaki yang mengenai punggung si bocah gagu yang menggema belakangan, karena di dahului oleh rasa sakit yang menggumpal sebagai keluhan tertahan dari mulut si bocah gagu. Lalu tiga pasang mata saling memandang takjub, kasihan, memelas, terpana, kesal, marah, jijik, dengki, muak, dan berbagai perasaan lainnya, yang memancar dari si suami pendiam, si istri pendiam, dan si bocah gagu. Ketiganya seakan menemukan keberadaan masing-masing di sudut masing-masing yang saling berjauhan jaraknya, dengan sudut-sudut perasaan dan kesadaran masing-masing tertutup kepada yang lainnya. Padahal, ketiganya demikian dekat, berdiri saling memandang. Padahal, ketiganya begitu dekat, dihubungan oleh darah; dan bila salah seorang mau melangkahkan kaki serta men­jangkaukan tangan menggapai tubuh yang lainnya. Dan si istri-lah yang kemudian menghambur ke arah si bocah gagu, memeluk dan memapah agar si bocah gagu dapat segera bangkit dengan tegak, lalu mengelus-elus punggungnya yang baru saja merasakan ungkapan kekasaran perasaan si suami pendiam atau sang ayah yang setiap kali memandang dengan tatapan penuh selidik ke arah si bocah gagu itu. Namun, si bocah gagu, dengan sudut perasaannya yang kini jelas semakin tertutup kepada dua orang dewasa yang selama ini berseliweran di sekitarnya yang tenang itu -- menolak tangan sang ibu, lalu bangkit sendiri, mengusap punggung sendiri, lalu bergerak mengejar si kucing yang kini berlari ke luar rumah. Si bocah gagu, seperti bocah ajaib yang kebal terhadap rasa sakit, dengan mudahnya mengibaskan kenyataan kejam yang baru saja menghunjam ke dalam dunianya, menjadi kenyataan hampa yang dengan gampang diterjang, ditiadakan, ditinggalkan, dengan berlari cepat mengejar kucing kesayangannya yang kini mengeong di belakang rumah.

Maka, tak ada ampunan bagi perasaan si suami pendiam, ketika menyaksikan si bocah gagu terlempar ke halaman oleh kekejian perasaannya yang bergejolak secara tiba-tiba, karena kemarahan yang tak jelas atas kebiasaan si bocah gagu menguakkan jendela-jendela dan pintu-pintu rumah. Tak ada toleransi bagi kemuakan yang dapat menyorot dari sepasang mata si suami pendiam ke arah si bocah gagu yang semestinya menimbulkan rasa kasihan di benakn­ya, bila ia mau mengakui dirinya sebagai seorang ayah, yang dulunya lahir dan besar di tengah keluarga kaya yang akrab dengan tata krama pergaulan hidup dan berbagai ukuran kebajikan dalam kehidupan bermasyarakat itu. Tak ada tenggang rasa bagi diri sendiri yang masih dapat melepaskan kemarahan murahan, kepada seorang bocah gagu yang cuma memiliki teman seekor kucing kumal. Tak ada ruang dan waktu yang layak bagi nurani seorang lelaki tiga puluhan, bila ia masih tak dapat menahan diri dari bakaran emosi gelap yang ingin melampiaskan kedengkian -- karena seorang bocah gagu dapat begitu bebasnya -- menertawai dunia dan kehidu­pan sebagai kenyataan maya tak berharga dan tak patut dipusing­kan.

Si suami pendiam mengibaskan semua kenyataan menyakitkan itu di belakang, ketika ia melihat dengan tatapan terperanjat ke arah si bocah gagu yang bangkit dengan sigap dan dengan sudut mata meremehkan memandang sekilas ke arahnya, lalu berlari mengejar kucing kesayangannya; tak perduli pada gapaian tangan sang ibu yang mencoba merangkul, tak perduli pada tatapan sang ayah yang melunak dan ingin mendekat dengan deraian air mata yang mulai tak tertahankan. Maka, air mata si suami pendiam itu pun terpaksa ditelan dengan paksa, dijejalkan kembali ke saraf matanya, hingga gerak saraf-saraf lainnya terganggu dan mengeras berupa kening yang mengerut, ketika sepasang kaki berlari tak tertahankan, tak terjelaskan, membawa diri ke tengah kota yang mulai terbayang sebagai kenyataan senja yang masih dapat menyejukkan. Si suami pendiam itu sudah memastikan, bahwa untuk berhari-hari ia tak akan menemukan alasan untuk pulang ke rumah. Dan lamat-lamat, timbul kegentaran di dasar jiwanya, setiap kali membayangkan si bocah gagu yang demian 'tegar' menghadapi segala kekerasan yang datang menghempas ke arahnya. Si bocah gagu, demikian perkasa menerima keberadaannya, hingga menimbulkan rasa kecut di dasar hati sang ayah, si suami pendiam, yang dalam pelariannya ke tengah kota itu, tak pernah membayangkan bahwa hari itu adalah hari terakhir baginya 'berurusan' dengan si bocah gagu, anak tunggalnya itu.


20
------------------------------------------------------------
SI BOCAH GAGU sudah berkali-kali meninggalkan rumah, sepen­getahuan ataupun tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, si perempuan dari ujung lorong dan si suami pendiam itu. Pada suatu kali, pelariannya terjadi karena ia tak dapat menahankan rasa sakit yang mengoyak-ngoyak dadanya, ketika kucing kesayangannya tidak diperbolehkan masuk ke dalam rumah oleh sang ibu. Ia lari meninggalkan rumah menjelang malam. Dan ia sebenarnya tidak pergi jauh, meskipun dalam pelarian itu -- karena ia memang benar-benar berlari seolah dikejar sesuatu atau mengejar sesuatu -- ia sangat letih dengan seluruh tubuh dikucuri keringat. Ia lari dan bersem­bunyi di tengah keluasan perladangan kering sekitar dua kilometer di hulu kali berair kotor di sisi rumah itu. Ia, sore itu, tanpa sadar memang lari menyusuri sisi kali ke arah hulu. Dengan bayan­gan harapan yang tiba-tiba menyosok semakin nyata di benaknya: bahwa air kali hitam yang selama ini sering ia pandangi dalam permainannya itu, dan telah menimbulkan perasaan yang sangat akrab dalam kesadarannya -- sore itu terkesan akan memberikan jalan keluar yang menyenangkan baginya. Dan begitulah, sesampain­ya di hulu, di tengah kekosongan malam yang mulai menjejak berupa kegelapan bertaburan suara-suara serangga malam dan gemuruh mesin pabrik yang masih terdengar sayup-sayup dari kejauhan, ia pun memandangi kali berair hitam itu dengan perasaan hampa karena keletihan. Beberapa saat ia menangis tanpa air mata. mencoba membayangkan sosok wajah sang ibu yang memandang cemas ketika menutupkan pintu dengan cara menghempaskannya, sehingga sang kucing yang telah rela' mengikutinya ke dalam rumah itu, tiba-tiba terperanjat panik dan menghambur gentar meninggalkan halaman ke arah semak-semak di sisi kali berair hitam itu. Lalu terbayang pula di matanya, bagaimana ia kemudian menangis dan bergulingan di lantai, dengan perasaan tak puas, tersinggung, marah, namun benar-benar tak berdaya menjelaskan kekesalan dan kemauannya kepada sang ibu. Berjuta kata-kata siap meluncur dari tenggoro­kannya, dari mulutnya; namun berjuta kata-kata itu seperti menga­lami gangguan atau kehilangan penghubung makna di benaknya, hingga tumpukan kata-kata itu membeku percuma di pojok kesadar­annya. Ia hanya mampu berah-uh-ah-uh-ah-uh dengan sepasang mata dibanjiri air mata.

Begitulah, dengan lintasan kenangan yang baru saja ia ting­galkan wujud nyatanya di belakang sana, ia kemudian menghentikan tangisnya, dan mencoba memusatkan perhatiannya ke sekitar. Ia ternyata hanya mampu merasakan dan mendengarkan, karena ia tak dapat melihat apa-apa, dalam kegelapan yang melingkupinya. Dan ia pun sudah nyaris tertidur, ketika lamat-lamat sejumput perasaan gentar menyelinap dan mengganggu di ruang kesadarannya. Bagaima­napun, pikirnya, saat itu ia berada jauh dari kedua orang tuanya, berada cukup jauh dari rumah di ujung lorong, yang selalu mendatangkan kenyamanan dalam dirinya bila ia telah mengangakan semua jendela dan pintunya sepanjang hari itu. Dan begitu saja, pikir­annya kemudian bergemuruh oleh keinginan pulang ke rumah, segera. Ia tak ingin berlama-lama lagi di tengah kegelapan, yang baru pertama kali dikunjunginya di hulu kali berair hitam itu. Sekali­pun sekilas benaknya seperti tersayat perih, ketika terbayang kembali perilaku ibunya yang tidak mengijinkan kucing kesayan­gannya memasuki rumah itu. Namun, ia kemudian dapat meredam rasa sakit dengan bangkitnya hasrat ingin segera mencari kembali kucing itu. Seolah seuntai pikiran tiba-tiba menyala di dalam dirinya, bahwa hal terbaik yang dapat dilakukannya saat itu adalah: ia harus segera menemukan kucing itu, dan membawanya ke dalam rumah. Sebab kalau ia sampai terlambat, maka kemungkinan besar kucing itu akan meninggalkan semak-semak, lalu pergi jauh, atau kembali ke perkampungan di mulut lorong. Dan sejak lama, ia beranggapan, bahwa kucing itu memang berasal dari perkampungan di ujung lorong.

Lalu dalam beberapa kali pelariannya kemudian, si bocah gagu mulai meluaskan wilayah baru yang menjadi daerah harapan baginya menenteramkan pikiran dan perasaan. Ia berkali-kali telah lari ke perkampungan kumuh di mulut lorong itu. Dan suatu kali, dalam pelariannya, ia pun telah sampai ke tengah kota. Dalam hal ini, apa yang diperbuatnya sebenarnya kurang tepat bila disebut pelar­ian. Karena kali itu, yang menjadi persoalan adalah: gejolak perasaannya sendiri. Ia tiba-tiba saja merasakan kekosongan yang tidak menyenangkan ketika menemukan dirinya sedang termangu-mangu di sisi kali berair hitam itu, pada suatu siang selepas tengah hari. Sementara dari arah perkampungan di mulut lorong, cukup lama ia sudah mendengar suara-suara anak-anak sedang bermain bola atau berkejar-kejaran. Ia menunggu-nunggu saat anak-anak itu merasa bosan dengan permainan mereka di mulut lorong dan teringat kepadanya, lalu secara beramai-ramai datang ke ujung lorong, dan mereka akan bermain bersama sepuasnya hingga sore tiba. Namun, penungguannya di bawah terik matahari yang menikam keras ke sekitar, semakin lama tampak seperti perbuatan sia-sia yang sepatutnya hanya pantas mendatangkan rasa kasihan bagi siapa pun. Pikiran bocahnya, di antara kegalauan perasaannya yang tiba-tiba tumpat karena tak mampu mengurai segenap perasaannya berupa kata-kata -- tiba-tiba saja dilanda rasa cemas yang mengerikan. Betapa malangnya ia, bila sampai sore, ia hanya termangu-mangu di sisi kali berair hitam itu. Tak ada teman, seperti yang diharapkannya!

Maka, keengganan mengalami kekosongan siang hari itu sendir­ian saja, menggerakkan hasrat dan sepasang kakinya untuk beran­jak, melangkah, melangkah, melangkah, mengikuti sisi kali berair hitam itu ke arah hilir, yang akan melewati tengah kota. Jalanan memang cukup sukar, banyak semak-semak setinggi orang dewasa. Namun karena hasratnya semata-mata ingin melangkah, melangkah, melangkah menjauhi rumah di ujung lorong itu, ia tak perduli oleh kondisi jalan yang sukar dilalui itu. Dan lagi, ia baru pertama kali melalui semua itu. Hingga tak ada kenangan tentang kesulitan yang menggayuti benaknya. Ia cuma melangkah menyusuri wilayah baru yang belum pernah dilaluinya sama sekali. Hingga, selama beberapa saat ia malah asyik menyusuri semak-semak yang sebenarya banyak dihuni ular, lintah, kalajengking, dan binatang melata lainnya. Yang secara aneh, tanpa sepengetahuan si bocah, semuanya menyingkir ketika si bocah gagu menapakkan kaki mungilnya yang terbungkus daki dan debu.

Si bocah gagu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sampai di tengah kota. Kota, dengan bangunan-bangunan tinggi berjajar di sebuah jalanan besar yang ramai oleh berbagai jenis kendaraan dan pejalan kaki. Raungan kendaraan untuk beberapa saat membuatnya ketakutan dan takjub ingin tahu. Namun setelah memandangi selama beberapa saat, ia kemudian mulai merasakan keakraban, seolah semua itu bukan barang aneh atau baru bagi dirinya. Ia kemudian mencari-cari di antara berbagai kendaraan yang berlalu lalang itu, apakah ada wajah-wajah yang dikenalinya. Dan ia terpana: betapa banyaknya manusia, yang jauh berbeda dengan manusia-manusia yang dikenalnya selama ini. Betapa jauhnya ia telah meninggalkan ujung lorong: dengan semua keserbalainan penampilan, cara hidup, dan berbagai barang-barang yang menjadi prasaranan dan sarana untuk hidup itu. Di ujung lorong, mereka bertiga: ia, sang ibu dan sang ayah, nyaris tak memiliki perhatian serius terhadap penampilan. Sementara di depan matanya siang itu, tampak berbagai manusia dengan penampilan yang lain sama sekali. Tak ada ungkapan yang terlintas di benaknya, ketika memandang semua itu, kecuali terbitnya semacam kesimpulan perih: bahwa selama ini mereka telah hidup dengan sangat kotor dan tak perduli kepada dunia luar. Tapi, sesaat berikutnya, denyaran pikiran aneh yang menimbulkan rasa sedih itu -- mengabur dari benaknya. Dan ia pun terperanjat, ketika akhirnya mengenali sesosok wajah di antara wajah-wajah yang terhampar di hadapannya itu. Nun, di seberang jalan, di depan sebuah pertokoan bertingkat -- di bawah topi pandan yang sudah tak utuh lagi -- tampak sang ayah sedang meman­du sebuah kendaraan mundur dari halaman pertokoan dan kemudian ke luar ke jalanan. Sang ayah, sebelum kendaraan itu berlalu, mener­ima selembar uang dari si pengemudi. Si bocah tak mengerti kalau saat itu sang ayah sedang menjadi tukang parkir, namun si bocah sudah tak sabar ingin berteriak memanggil; tapi, segera pula ia sadar, bahwa sekalipun ia berteriak sekuat-kuatnya, agar dapat mengatasi gebalau dan hiruk-pikuk di sekitar, namun tak akan ada satu suara pun akan keluar dari mulutnya. Ia hanya akan ber-ah-uh-ah-uh-ah-uh berkepanjangan. Karenanya, secara reflek ia pun kemudian melambai, melambai; tapi segera kembali sadar, bahwa sang ayah tak akan melihat lambaiannya, karena lambaiannya tera­lingi orang-orang dan berbagai kendaraan yang berlalu lalang di jalan besar di hadapannya. Maka, untuk beberapa saat ia pun terbengong-bengon di seberang jalan itu, hingga kemudian tak dapat berbuat apapun -- selain mengikuti dorongan orang-orang yang berlalu lalang ataupun bergegas di sekitarnya; orang-orang yang sengaja hendak berbelanja di beberapa pertokoan di kiri kanan jalan, ataupun orang-orang yang sedang mencari atau baru saja keluar dari retoran, dan lain-lain. Hingga beberapa saat kemudian, ia pun menyadari, bahwa ia telah kehilangan sang ayah dan sosok gedung pertokoan bertingkat dengan halaman luas dipenu­hi berbagai kendaraan itu. Lalu sesaat ia merasa nanar, karena kehilangan sosok sang ayah dari jangkauan matanya, ternyata membuatnya merasa panik dan lamat-lamat tercekam rasa khawatir, bahwa ia tidak akan bertemu lagi dengan sang ayah. Kemudian, sesaat berikutnya, rasa nanar itu hilang dan berganti dengan perasaan nyaman, karena dapat mengikuti gerak langkah bergegas orang-orang di sekitarnya. Tiba-tiba, ia seperti menemukan dirin­ya di tengah kehidupan ramai yang menyenangkan; yang selama ini belum pernah terasakan olehnya, kecuali sesekali ketika ia ber­gembira bersama anak-anak yang datang dari mulut lorong. Merasa­kan kegembiraan berada di antara orang ramai; betapa nikmat dan tak terjemahkan rasanya.


21
------------------------------------------------------------
DAN kali ini, dalam pelariannya membawa segumpal rasa putus asa di dada dan rasa sakit di sekujur tubuhnya, si bocah gagu tanpa sadar mengulangi pelariannya menuju ke tengah kota. Bedan­ya, kali ini, ia benar-benar melakukan pelarian karena merasa disakiti, diremehkan, dilecehkan, dihina, diluluhlantakkan -- sebagai seorang anak -- yang sepatutnya berhak memiliki kemerde­kaan, di antara dunia orang-orang dewasa, yang menganggap kebera­daan kanak-kanak cuma selembar kehidupan yang kurang penting dibanding kehidupan mereka menguasai dan mengubah dunia. Dan kali ini, si bocah gagu sungguh tak pernah menyangka, bahwa setelah meninggalkan rumah di ujung lorong siang itu, ia sebenarnya sedang meninggalkan masa lalunya -- dan sedang menapaki awal masa depannya -- di sebuah halaman rumah seorang kaya di kota itu. Ibarat seorang penjudi, ketika ia melangkah dengan rasa ingin tahu di antara kedua pintu pagar yang bergerak otomatis itu, lalu mengitarkan tatapannya ke sekeliling halaman luas ditumbuhi
bunga-bunga; ia juga sedang menutup jalan kembalinya ke arah semula, atau menolak kemungkinan-kemungkinan "nasib" lain dalam kehidupannya. Hingga, bila suatu saat ada seseorang yang mencoba merenungkan kaitan takdir dengan perjalanan hidup si bocah gagu; maka, seseorang itu akan sampai pada peristiswa penting di tengah pagar yang terbuka tersebut -- di mana tangan takdir memperlihat­kan diri secara langsung -- dalam mengatur jalan hidup seseorang. Mengapa mesti si bocah gagu yang secara kebetulan memasuki hala­man terbuka itu? Mengapa si bocah gagu mesti memasuki halaman rumah tersebut; bukan ke halaman rumah lain? Mengapa si bocah gagu tidak merasa canggung sedikit pun, memasuki halaman luas sebuah rumah besar, milik keluarga kaya -- padahal sebelumnya ia cuma hidup "miskin" di ujung lorong sebuah perkampungan kumuh? Mengapa tak ada rasa minder sama sekali; bahkan rasa takut, yang lajim membebani benak seorang anak, terutama akan diperlihatkan bila berurusan dengan sesuatu yang belum pernah dikenalnya: seperti rumah besar berhalaman luas itu? Mengapa? Mengapa? Banyak pertanyaan akan memberondong permainan takdir atas nasib seseor­ang. Mengapa A dan bukan B. Mengapa begini dan bukan begitu? Mengapa harus sekarang dan bukan esok? Mengapa sendirian dan bukan berdua? Mengapa si C menang dan Si D kalah? Mengapa? menga­pa? Begitulah pertanyaan datang beruntun setiap kali kenyataan takdir coba dilepaskan dari "ajaibnya" peristiwa kebetulan. Seolah ada sesuatu yang telah berlangsung secara semena-mena atas perjalanan manusia, dan sebenarnya dapat dihindari bila disadari lebih dulu. Padahal, yang berlangsung adalah bertemunya dua arus kenyataan secara tak terduga; dua arus kenyataan yang sebelumnya bergerak alamiah secara sosial, namun kemudian mengalami goncan­gan, perbenturan, oleh dua arus kenyataan lainnya yang menggejo­lak secara tiba-tiba. Dalam hal ini, arus kenyataan yang menjadi pendorong bagi berubahnya arus kenyataan yang dialami si bocah gagu: adalah kemarahan yang memuncak secara tiba-tiba dari sang ayah. Sementara dari arus kenyataan lainnya, yang membuat perben­turan kedua arus kenyataan kali ini benar-benar ajaib, hingga wajar-wajar saja diberondong oleh berbagai pertanyaan: mengapa dan mengapa -- lihatlah, arus kenyataan siapa yang sedang berger­ak menghampiri arus kenyataan si bocah gagu siang itu.

Dari arah beranda rumah, siang itu, seorang ayah muda datang menyongsong si bocah gagu. Semula, si ayah muda merasa terganggu, oleh kemunculan si gagu yang "menyelonong' ke halaman rumah mereka yang luas. Terbayang di hadapan si ayah muda: sebentuk kekurangajaran dan ketidaktahuan, sedang menyosok bersamaan secara kasar melalui wujud nyata si bocah gagu. Pintu pagar otomatis yang dapat digerakkan dengan "remote controle" itu memang sedang terbuka perlahan, tapi bukan untuk si bocah gagu; melainkan untuk si ayah muda yang bermaksud keluar dengan mobil mewahnya. Maka, ketika melihat seorang bocah "nyasar", si ayah muda segera membatalkan maksudnya masuk ke dalam mobil, melainkan mengalihkan arah langkahnya menuju pagar dan bermaksud 'memberi pelajaran' kepada si bocah kurang ajar itu. Tapi satu arus kenyataan sosial si ayah muda tiba-tiba bergejolak di dalam benaknya, mengingatkan si ayah muda tentang adanya rencana pertaruhan mereka sekeluarga: membuat si miskin menjadi seorang kaya. Sau­dara-saudaranya yang lain sepakat, bahwa si miskin yang dijadikan seorang kaya hanya akan menjadi seorang manusia: yang tidak baik maupun tidak buruk; tapi akan menjadi sangat royal dan pongah kepada lingkungan pertamanya. Namun, akan menjadi seorang penggu­gup, canggung, berjiwa penjilat, di tengah lingkungan barunya yang serba mewah dan dipenuhi orang-orang percaya diri, yang memamerkan keberadaan mereka secara alamiah. Nah, si miskin yang muncul di hadapannya memang cuma seorang bocah, tapi bagi si ayah muda, yang beranggapan bahwa seseorang hanya akan tumbuh mengiku­ti karakter bawaannya, tak perduli ia miskin atau kaya -- tiba-tiba terpikir dan tergoda ingin "membesarkan" si bocah gagu di tengah keluarganya. Hingga, secara lebih lengkap dan boleh jadi akan penuh kejutan: ia dan saudara-saudaranya akan dapat melihat secara langsung, teori siapa yang benar, teori yang seperti apa yang belum terpikirkan oleh mereka. Apakah akan berbeda atau sama saja dengan hasil yang sudah tampak dalam sebuah film Amerika dan sebuah novel Inggris yang mereka jadikan rujukan untuk membuat pertaruhan itu. Dalam film Amerika itu, dikisahkan dua orang kaya yang sengaja melakukan taruhan 1 dollar atas teori mereka tentang 'watak si miskin', dengan cara menculik si miskin, memberinya identitas baru, kehidupan baru, rumah besar, uang banyak, mobil banyak, pesta-pesta dan pergaulan kelas atas, bahkan peluang mendapatkan seorang putri cantik dan kaya; sementara seorang pemuda kepercayaan mereka, calon menantu mereka, mereka "jadikan" orang miskin, tak dikenal di mana pun, hingga nyaris kehilangan identitas dan gambaran masa depan, berupa karir yang sukses dan menumpuknya kekayaan. Lalu, apa yang kemudian terjadi? Kedua sau­dara akhirnya 'gigit jari', karena si miskin ternyata menikmati kemewahan dan keleluasaan yang tiba-tiba diperolehnya itu secara wajar-wajar saja, tidak berlebihan, tidak membuatnya menjadi sombong; dan ia dengan mudah dapat kembali secara alamiah ke lingkungannya semula, ketika mengetahui adanya semangat 'pertaru­han' tentang harga diri dan karakter si miskin, di balik semua kemewahan yang tiba-tiba melambungkan hidupnya. Bahkan, terjadi hal yang mengejutkan, ketika si putri cantik dan kaya yang semula hendak mereka jodohkan dengan si pemuda kepercayaan mereka -- malah berbalik -- meninggalkan kehidupannya yang serba 'wah', dan mengikutkan kekasihnya yang cuma seorang miskin. Lalu, dalam novel Inggris yang terkenal itu, dikisahkan tentang seorang pemuda miskin yang tiba-tiba memperoleh kekayaan dari seorang penjahat yang sedang buron ke Australia. Si pemuda mengira ia sedang memperoleh warisan dari seorang 'bibi baik hati', yang sehari-harinya kelihatan sekali sering menaruh simpati kepadanya. Namun, yang kemudian menonjol dari halaman demi halaman novel selanjutnya adalah bagaimana si pemuda miskin dan menderita itu berubah tiba-tiba menjadi manusia baru, dengan kebiasaan-kebia­saan baru pula; seolah, dalam dirinya sedang berlangsung "kebang­kitan" satu karakter baru, yang selama ini tenggelam di dasar hatinya oleh kemiskinan dan penderitaan. Bahwa ia, si pemuda miskin itu, seolah tak mengetahui dan tak ingin menyadari sama sekali, bagaimana ia berubah menjadi jumawa, semberono, terkadang kasar, dan acap kali canggung bila hendak mengungkapkan pera­saannya yang sebenarnya tentang seseorang. Hingga, terkadang ia terkesan senang menjilat, berpikir sebagai seorang pecundang, bila orang itu 'lebih kaya, lebih ningrat, lebih berpendidikan' dibanding dirinya; atau sebaliknya: menghina, bila orang itu 'kurang dalam segala hal' dibanding dirinya? Karena ia' sedang membawa kenyataan material seorang lain -- yang bukan tempatnya lahir dan tumbuh? Karena ia sedang memerankan identitas buatan -- yang lama menjadi impiannya? Hingga ia sebenarnya sedang hidup bersama impiannya? Bukan bergerak dengan arus kenyataan yang sebenarnya? Lalu, siapakah dia, dengan peran "pemuda kaya" yang perlente, jumawa, namun sering merasa kikuk itu?

Begitulah, kedua kisah dalam film dan novel itu, suatu kali mengilhami si ayah muda dan saudara-saudaranya, yang sama-sama pengusaha mengurusi berbagai perusahaan keluarga besar mereka itu -- untuk melakukan taruhan, secara unik -- sebagai hiburan menje­lang akhir tahun. Berbagai macam pertaruhan, sebelumnya telah mereka langsungkan, dan mereka telah menjadi bosan karena pertar­uhan selama ini bersifat 'umum' saja. Artinya: pertaruhan itu tidak terlalu istimewa, karena dapat dilakukan siapa saja. Tak harus seorang kaya atau pengusaha besar, seperti mereka, yang dapat melakukan taruhan di pacuan kuda, taruhan lewat telepon atas berbagai pertandingan sepak bola di seluruh dunia, balap anjing di Macao, judi formasi angka dari Singapura, rolet dan poker di Las Vegas, dan aneka judi lainnya di dalam negeri, seperti sabung ayam dan karapan sapi, hingga yang mereka lakukan sendiri di rumah keluarga besar mereka: bermain kartu sepanjang malam, dengan taruhan yang terkadang membuat ayah dan ibu mereka memandang kesal, lalu menggerutu, meninggalkan anak-anaknya yang semakin 'kurang ajar' itu, dan kembali ke kamar tidur yang luas namun senyap dan kosong dari bayangan masa depan.

Begitulah, dua arus kenyataan yang menggejolak dengan latar masing-masing: penganiayaan seorang ayah dan semangat berjudi sekelompok keluarga -- menjadikan perbenturan dua arus kenyataan yang dialami si bocah gagu dan si ayah muda -- membentangkan satu arus kenyataan baru yang dalam hal ini menjadi takdir mengejutkan dalam kehidupan si bocah gagu selanjutnya. Atau, apapun yang akan terjadi dari pertemuan tak sengaja si bocah gagu yang memasuki begitu saja halaman rumah seorang kaya-raya di kota itu, dengan si ayah muda yang sedang keranjingan pemikiran adanya 'keaslian' dalam diri manusia -- yang pasti adalah, di antara mereka, tanpa setahu keduanya: terhampar sebuah kenyataan yang boleh jadi akan tersembunyi selamanya. Bahwa si bocah gagu, sungguh tak tahu, kalau si ayah muda yang sedang menyongsongnya, dan keluarga yang akan menerimanya dengan semangat permainan itu: adalah keluarga sang ayah, si putra sulung, atau si suami pendiam, yang beberapa jam sebelumnya menendang punggungnya, menganiayanya secara kasar. Dan si ayah muda sungguh tak pernah menyangka, bahwa si bocah gagu yang sedang memasuki halamannya dengan semberono itu, adalah keturunan si sulung, yang beberapa tahun silam telah mempermalu­kan keluarga dan akhirnya lenyap ditelan bumi, karena tak tahan lagi menanggungkan teror ejekan dan hinaan dari adik-adiknya. Maka, bila si gagu mengetahui halaman rumah siapa yang sedang dimasukinya, atau dia mengerti akan adanya makna dari kata 'famili' dalam kehidupan ini; atau bila si ayah muda itu tahu, bahwa ia sedang menyongsong keponakannya, keturunan langsung dari si sulung yang kehadirannya dulu sering membuatnya tidak percaya diri mengurusi bisnis jenis apa pun -- maka, tentu saja cerita akan menjadi lain. Dan permainan tangan takdir, kurang begitu mendapat pertanyaan atau berondongan reaksi. Mengapa? Mengapa? Mengapa?


22
------------------------------------------------------------
BERPULUH TAHUN kemudian, para tetangga di mulut lorong itu ternyata masih saja tak bisa memastikan sejauh mana pengetahuan dan pengenalan mereka, tentang rumah di ujung lorong maupun para penghuninya. Hingga, tak seorang pun berani menuturkan kisah yang mereka ketahui kepada anak-anak mereka, tentang si gagu dan suami-istri yang sejak menjadi penghuni di ujung lorong itu telah menjadi pasangan aneh -- dengan penggambaran tertentu sebagai kenyataan mereka satu-satunya. Dan itu, sekali lagi -- tentu saja tak perlu. Akan menjadi penjelasan percuma atau semacam usaha menyodorkan pengenalan yang sia-sia dan berlebihan. Karena pada dasarnya, anak-anak mereka sendiri sudah memiliki pemahaman atau perkiraan sendiri tentang rumah di ujung lorong dan para penghu­ninya. Lebih jauh, anak-anak itu memiliki pengalaman unik masing-masing, yang mereka kecap maupun endapkan ke dalam kenangan, ketika bersinggungan secara langsung dalam permainan bersama si bocah gagu, bertahun-tahun lalu dalam kehidupan mereka. Sekalipun si bocah gagu hanya muncul dan menyosok beberapa tahun saja ke dalam masa kanak-kanak mereka, para anak-anak di mulut lorong itu acap kali merasakan: bahwa kenangan akan si bocah gagu juga bertumbuh seperti mereka, mekar dan mengembang bersama keluasan ingatan dan imajinasi mereka. Hingga, si bocah gagu selalu mem­perbaharui diri dalam ingatan masing-masing, sebagai seseornag yang pernah hadir dengan penampilan sangat mengesankan -- pada masa lalu -- yang sayang bila dilupakan atau ditenggelamkan begitu saja di pojok kenangan. Maka, bila semua itu ikut memper­tebal keraguan para penghuni perkampungan di mulut lorong itu -- tentang kehadiran rumah di ujung lorong menjadi kehadiran yang tak bisa ditolak, sekaligus tak bisa ditelusuri lebih jauh latar belakangnya kecuali sebagai kehadiran semata-mata; yang terkadang menyeruak dalam pergunjingan, mimpi-mimpi, dan segala keinginan siapa pun mereka-reka keanehan di ujung lorong yang selalu ger­sang berbau busuk air kali hitam dan bergemuruh oleh suara pabrik yang tak pernah tidur di sebelah timur kota -- itu menjadi per­soalan wajar saja bagi mereka. Sebab, bagi mereka, tak semua hal di dunia dan dalam kehidupan ini dapat dijelaskan oleh kenangan, ingatan, analisa, bahkan keliaran imajinasi. Ada saja berbagai hal di dunia ini, lebih menjejak sebagai kehadiran -- ketika ia tinggal tetap sebagai rangkaian misteri -- atau mewujud berupa berbagai kenangan, ingatan, imajinasi, yang dapat terus berkem­bang, tumbuh, mekar, membesar, dengan beraneka kejutan yang akan terus membiak, bila setiap kali diperbincangkan secara sungguh-sungguh ataupun main-main saja.

Misalnya saja, sungguh tak ada yang menggerakkan para ayah di perkampungan kumuh di ujung lorong itu, ketika beberapa orang dari mereka, berlomba-lomba menceritakan berbagai keajaiban yang mereka temukan dalam keseharian imajinasi ataupun kenangan impian dalam tidur mereka: tentang seorang bocah yang muncul dengan aneka penampilan dan keajaiban, seperti dalam kitab-kitab suci maupun buku-buku dongengan yang pernah mereka baca secara serius atapu cuma sekadarnya, selintas, hingga tak lengkap alur dan awal serta akhirnya. Dan juga, tak ada yang menuntun para ibu di perkampungan kumuh di ujung lorong itu, untuk sepakat dalam beberapa hal: tentang kebiasaan buruk si suami yang pendiam dari ujung lorong itu. Bahwa si suami pendiam itu, berlawanan dengan penampilannya sehari-hari, ternyata dapat tampil sangat telengas, kejam, keji, di bawah kegelapan malam, dengan menghabiskan semua makanan yang dibawanya atau membuangnya ke balik semak-semak begitu saja; padahal ia sudah bekerja keras mengupayakannya di tengah kota sana, dengan mengerjakan apa saja secara serabutan. Dan tak ada yang mengingatkan para bocah di mulut lorong itu, agar sepakat: tentang kegembiraan dan kebiasaan si bocah gagu, yang mempunyai kebiasaan aneh memandangi air kali berwarna hitam pekat di samping rumah di ujung lorong itu. Namun, tak ada pula yang menghasut, bila para ayah, para ibu, dan para anak di mulut lorong itu, serentak akan menyangkal cerita apa pun yang dikisah­kan seseorang tentang para penghuni rumah di ujung lorong, bila mereka memang ingin membantah. Mereka secara bersamaan, seperti sepakat, akan menyembunyikan setiap kenyataan unik yang mereka ketahui menjadi milik paling rahasia sekaligus paling bergharga, bagi masing-masing. Mereka berhak dan bahkan berkewajiban, mem­pertahankan kisah rumah dan para penghuni rumah di ujung lorong, menjadi kenyataan paling unik dalam diri mereka, sebagai perlam­bang adanya hak mereka mengarungi keunikan imajinasi masing-masing dalam kehidupan ini.

Begitulah, ketika seorang ibu, dengan penyakit latah yang ia warisi dari ibunya yang telah meninggal, tiba-tiba saja mencetus­kan satu kenyataan baru dari mulutnya; langsung menimbulkan kekacauan yang kurang menyenangkan bagi si ibu maupun bagi para tetangganya di perkampungan kumuh itu. Si ibu memastikan, bahwa suatu sore ia melihat salah seorang dari para suami di mulut lorong itu, pergi berkunjung, untuk kesekian kalinya, ke rumah di ujung lorong. Bukan untuk menyelesaikan urusan RT seperti biasan­ya, bila ada dari para suami itu yang pergi ke sana, mewakili 'Pak RT' ataupun melaksanakan tugasnya langsung sebagai pengurus RT. Kali ini, nyaris secara rutin, sekali dalam dua minggu, salah seorang dari para suami itu sengaja melakukan kunjungan 'pribadi' yang kelihatannya sengaja dijauhkan dari jangkauan pengetahuan umum. Lalu, tanpa dirunut secara berkepanjangan, pun, para ibu yang mendengar langsung dapat memperlebar persoalan dengan berba­gai dugaan dan tudingan. Terlebih lagi, si ibu yang meniupkan kabar busuk 'perselingkuhan' itu, bukan saja menyulut api ejekan tapi juga kecurigaan, karena ia tetap saja tak mau memastikan siapa yang pergi mengunjungi si perempuan dari ujung lorong itu. Hingga yang terjadi selanjutnya adalah: saling tuduh berbiak di benak masing-masing penghuni, dan secara khusus menimbulkan persoalan cukup serius bagi beberapa para ayah di mulut lorong itu. Mereka, para ayah yang kali ini seperti mendapat bala tak tertanggungkan ini, kerap merasa diwasi oleh sepasang mata yang mengintai serius, dari setiap sela dinding rumah mereka, dari setiap pojokan gang di mulut lorong itu; bahkan dari setiap sudut mimpi-mimpi yang terkadang melambungkan mereka ke dalam kebaha­giaan semu di tengah tidur mereka. Kebahagiaan-kebahagiaan semu, berupa denyaran ketulusan bahwa mereka telah berhasil melaksanakan kewajiban sebagai suami dan ayah yang baik bagi keluarga masing-masing -- yang dulu menjadi semacam hiburan selingan di antara kekerasan hidup yang harus mereka renangi dengan kerja keras -- kini menjadi hambar dan terkadang berubah menjadi siksaan, ketika kesadaran juga mengertapkan rasa curiga mengingatkan, bahwa ada sepasang mata 'tuduhan' yang sedang mengawasi dari sudut tertentu keluasan mimpi itu. Tuduhan sepa­sang mata dari istri-istri mereka!

Para ayah itu tak dapat berbuat apa pun yang nyata sebagai ungkapan kekurangsenangan mereka. Mereka, paling jauh, hanya memperbincangkan di antara sesama mereka, yang sama-sama mengala­mi 'kecurigaan' yang terus mengintil detak-detik kehidupan mereka di perkampungan kumuh itu. Hingga akhirnya mereka tahu, bahwa pengawasan yang mereka alami bersumber dari kecurigaan istri-istri mereka, akan adanya hubungan khusus antara mereka dengan perempuan dari ujung lorong. Takjub dan nyaris marah; itulah sebagian perasaan yang berdenyar dalam gejolak batin para ayah itu. Namun, sehembus kesadaran yang dilapisi rasa senang, bangga, seakan makhluk asing yang tak terhindarkan kehadirannya, segera hinggap di tepi kesadaran sebagian dari mereka. Bahwa 'perseling­kuhan' itu, sekalipun cuma kabar bohong, sedikit banyak menimbul­kan perasaan manis tertentu, yang belum pernah mereka alami sepanjang hidup mereka. Alangkah 'beruntungnya' mereka, bila memang benar-benar berkesempatan 'bersama' si perempuan dari ujung lorong? Namun bagi sebagian lagi, kabar bohong itu benar-benar sangat mengganggu. Mereka sadar, bahwa kabar itu hanya 'isapan jempol' semata, yang akan segera mengabut seperti asap yang berurai dan raib di udara luas. Namun dalam kenyataannya, mereka tak dapat lagi mengikutkan kebiasaan lama: selalu terlibat maksimal dalam setiap acara mengobrol semalam suntuk, yang menja­di kegiatan rutin bagi para ayah di mulut lorong itu. Mereka tak dapat berbicara banyak lagi, sebagaimana dulu; karena masing-masing kini merasakan, bahwa setiap suara yang keluar dari mulut, boleh jadi akan berupa 'keterlanjuran' mengucapkan sesuatu, yang sebenarnya tak pantas diumbar di depan umum; karena sebaiknya harus dirahasiakan, disimpan rapat-rapat di dasar benak -- karena menyangkut 'nama baik seorang perempuan' di sana?

Serba salah, itulah perasaan berkecamuk yang untuk beberapa bulan lamanya, menghantui para ayah yang terganggu dengan kabar bohong 'perselingkuhan' itu. Dan perasaan bersalah ini, ternyata ikut pula membebani perasaan si ibu yang pertama kali meniupkan kabar bohong itu dalam latahnya. Si ibu merasa kurang ajar, telah mengikutkan begitu saja secara culas: sekelebat gagasan liar yang menjelma menjadi kata-kata tuduhan dari mulutnya. Padahal, pada saat itu, atau beberapa saat sebelum ia mencetuskan kata-kata berpengaruh yang akhirnya menyebarkan rasa curiga bagi sebagian para ibu di perkampungan kumuh itu: si ibu sedang teringat kepada si perempuan dari ujung lorong, si ayah pendiam dari ujung lor­ong, dan si bocah gagu dari ujung lorong, yang telah menghilang selama beberapa bulan. Dan yang tak terhindarkan, ketika mem­bayangkan wajah si perempuan dari ujung lorong, yang bergejolak di benak si ibu adalah kesadaran, bahwa si perempuan dari ujung lorong tetap berhasil mempertahankan kecantikannya, meskipun tak ada upaya berlebihan untuk mempertahankan keindahan tubuh dan kecantikan wajah itu. S ibu, terbebani rasa bersalah karena merasa telah mengikutkan sebentuk rasa cemburu yang sebenar tak layak untuk manusia seperti dia. Si ibu, terobsesi oleh perasaan bersalah, akhirnya tak dapat mengendalikan dirinya suatu kali, ketika mencetuskan tuduhan lain dalam latahnya: bahwa si suami pendiam dari ujung lorong itu, beberapa kali sebenarnya telah mengunjungi salah seorang ibu muda di mulut loron itu. Maka, sehembus angin buruk kekacauan, kembali menerjang-nerjang berba­gai kesadaran para penghuni perkampungan kumuh di mulut lorong itu. Kali ini, para ayah-lah yang saling berlomba menyambungkan kabar bohong itu dengan berbagai keliaran imajinasi mereka untuk menghina seseorang. Sementara para ibu muda, serentak mengendali­kan diri, menahan nafsu-nafsu mereka, untuk ikut bergunjing seperti biasanya. Karena setiap kata yang mereka ucapkan, kini, boleh jadi akan menjadi 'keterlanjuran' yang dapat merusak nama baik seseorang di sana?

Dengan cara-cara seperti inilah, sebagian hubungan para penghuni mulut lorong perkampungan kumuh itu, terjalin aneh dengan rumah di ujung lorong dan para penghuninya. Berbagai kabar kabur terus berkembang setiap saat, atau setiap musim, memperoleh bentuk aneka kenyataan bahasa yang selalu dipertukarkan dalam kehidupan mereka sehari-hari, sebagai para tetangga yang sebe­narnya tak tahu banyak tentang siapa, apa, bagaimana, dari mana, mau ke mana para penghuni rumah di ujung lorong itu. Sebab mereka berdua, dulu bertiga, bagi para penghuni perkampungan kumuh di mulut lorong itu, sepertinya hanya 'melarutkan' diri dalam kenya­taan mereka yang seadanya, sehari-hari. Hampir tak ada perkemban­gan dari ujung lorong yang layak dibicarakan sebagai perubahan semakin baik'; sebagaimana sesekali dapat disimak melalui ber­tambahnya barang-barang rumah tangga, di salah satu rumah di mulut lorong itu. Kalau bukan televisi yang diganti dengan ukuran yang lebih besar, maka salah seorang dari mereka pastilah meng­ganti perabotan ruang tamunya suatu saat, atau menambah ranjang tingkatnya suatu kali, atau mengundang para tetangga untuk mela­kukan semacam 'selamatan' karena keberhasilan memperoleh rejeki tertentu atau sedang melangsungkan acara sunatan, bagi salah seorang anak mereka yang mulai meninggalkan masa bocahnya.


23
------------------------------------------------------------
KENYATAAN bahwa si bocah yang akan mereka jadikan sebagai 'alat' taruhan itu adalah seorang gagap, sukar mengeluarkan kata-kata, sehingga lebih senang memilih diam dan memandangi sekitarn­ya yang baru dengan tatapan takjub menerawang -- selama beberapa tahun telah menimbulkan pro-kontra yang tak jelas. Sebentar berlangsung perdebatan bahwa si bocah gagu kurang ideal dijadikan 'alat' karena perkembangan karakternya tak akan pernah dapat dinilai lewat bahasa yang diucapkannya. Bukankah bahasa adalah cerminan keperibadian, kecerdasan, dan seluruh kesadaran si pemakai bahasa? Demikianlah alasan berkembang sebagai bahan bantahan untuk menolak kehadiran si bocah gagu. Jadi, si bocah gagu, sebaiknya dikembalikan ke jalanan, dan segera diperingat­kan, agar lain kali tidak sembarangan menyelonong lagi ke halaman rumah-rumah tertentu yang pintu pagarnya kebetulan sedang terbu­ka. Tapi, tanggapan segera datang. Bahwa kepribadian seseorang hanya dapat dinilai lewat tindakan langsung, perbuatan nyata, bukan cuma lewat kata-kata yang dapat saja digelembung-gelembung­kan namun dalam tindakan tak pernah diwujudkan. Tambahan lagi, yang menjadi pertaruhan adalah perubahan karakter; bukan kepan­daian berbicara atau menyusun kata-kata. Tapi, bagaimana kita akan tahu perkembangan wataknya, bila dalam keseharian kita hanya menangkap berondongan bunyi ah-uh-ah-uh-ah-uh; di antara tindakan yang secara keseluruhan adalah hasil petunjuk si pegawai yang kita tugaskan membimbing sekaligus mengawasinya? Sabar, sabar saja dulu. Baru berjalan beberapa tahun. Pasti ada perkembangan yang menarik, suatu saat, yang akan memperlihatkan perkembangan wataknya, lewat tindakan alamiahnya. Saling bantah pun terhenti. Dan keberadaan si bocah gagu, untuk beberapa bulan kemudian terselamatkan dari jalanan. Lalu, karena para anggota keluarga kaya itu hanya dapat berkumpul penuh dalam beberapa bulan sekali, maka, tahun demi tahun pun berlalu seperti laju kereta api malam. Si bocah semakin jauh dari masa lalunya, semakin mekar dengan kehidupan barunya, dan nyaris tak pernah memikirkan lagi: seorang perempuan, yang dulu ia anggap sebagai salah seorang pelindungn­ya; karena pada malam-malam tertentu di ujung lorong itu, si perempuan akan datang ke pembaringan, memeluk atau mengusap-usap kepalanya, dengan sentuhan perasaan yang sukar dipahaminya. Seingatnya, ia hanya merasakan dan mengalami hal yang menyebarkan kehangatan itu, ketika kegelapan benar-benar membungkus mereka di rumah yang kosong dan gersang di ujung lorong itu. Lalu, si bocah juga mulai merasa sukar membayangkan wajah sang ayah yang dulu beberapa kali masih menyosok sesekali, berupa wajah seseorang yang memandang marah dan melampiaskan kemarahan itu dengan ten­dangan kilat ke punggungnya; hingga ia kemudian melenguh kesaki­tan, merasa pusing, terjengkang, dan bangkit serta berlari ken­cang dengan sepasang kaki yang sesaat masih goyah.

Hingga suatu saat, keajaiban pun benar-benar terjadi. Ketika segenap anggota keluarga yang sedang melakukan taruhan itu berkumpul, mereka menyaksikan si bocah gagu yang dulu sangat kumal, kurus, dan memang lebih pantas hidup di jalanan atau di kolong jembatan itu -- kini berdiri di hadapan mereka sebagai seorang anak yang bersih, memiliki tatapan bercahaya, mengesankan harga diri dan kehati-hatian seorang anak yang lahir dan tumbuh di tengah keluarga kaya. Wah, wah, wah. Dia-kah itu, dia-kah itu, dia-kah itu? Tak henti-hentinya terdengar seruan kaget, heran, takjub, senang, di tengah perasaan bertanya-tanya yang serentak berkecamuk di dada para ayah muda di rumah besar itu. Sebagian dari mereka, terutama sang ayah dan sang ibu di rumah besar itu, dan juga para saudara-saudara tua dari kakak-beradik keluarga besar itu -- masih mengingat jelas sosok wajah si sulung -- pada masa kanaknya! Wajah itu, kini sedang menatap tenang di hadapan mereka, lewat si anak gagu yang kini mulai terbiasa mengucapkan beberapa kata dasar untuk kehidupan sehari-hari, seperti: makan, tidur, salam, terima kasih, selamat pagi, selamat malam, saya, kamu, baik, tidak, dll., tanpa merasa terbebani lagi oleh 'hi­langnya' semacam penghubung kesadaran dari benaknya, yang dulu membuat benaknya terasa kosong, ketika beberapa kali di ujung lorong ia berusaha berbicara seperti bocah-bocah dari mulut lorong yang datang menemaninya bermain.

Maka, ketika menemukan adanya perkembangan menakjubkan di sekitar mereka, yang lepas dari perhatian mereka karena sehari-harinya mereka lebih banyak memusatkan perhatian pada dunia bisnis, taruhan pun diperbaharui: akan dilangsungkan secara sungguh-sungguh, sampai si anak 'temuan' tak sengaja itu hidup dewasa di tengah mereka. Tidak sekadar tumbuh dan mereka kenali perkembangan wataknya dari berbagai laporan si pegawai yang menjadi pengasuh si bocah gagu itu. Jadi, mereka akan memilih maju beberapa langkah dari film Hollywood dan novel Inggris yang mereka jadikan latar belakang pertaruhan itu. Mereka akan mengi­kuti perkembangan, tidak saja pada satu momen: ketika si tokoh cerita memperoleh kekayaan -- melainkan -- sepanjang hidupnya, bila perlu. Dengan catatan: si anak hanya akan dibiarkan 'berse­liweran' di rumah besar mereka, sebagai seorang anggota keluarga yang dapat memanfaatkan fasilitas apa pun yang menjadi milik keluarga; kecuali mengoperasikan perusahaan secara langsung. Dan tentu saja, status sebenarnya tetaplah sebagai 'tamu' yang dapat diusir atau disuruh pergi setiap saat; karena ia memang bukan siapa-siapa, bagi keluarga besar mereka. Sekalipun perkembangan yang diperlihatkannya, mudah membuat orang-orang simpati dan boleh jadi akan mendukung pendidikannya, mengingat bakat dan kecerdasannya yang besar. Namun, bagi sang ayah dan sang ibu di rumah besar itu, kehadiran si anak yang dulu muncul pertama kali cuma sebagai seorang bocah gagu yang kumal itu, kini dengan sosok barunya, diam-diam telah menimbulkan perasaan bersyukur tak terhingga di batin tua mereka. Mereka merasa berterima kasih atas keajaiban alam: bahwa pada penghujung masa tua, mereka masih berkesempatan menemukan 'seseorang' yang ternyata dapat mengibas­kan sebagian duka dan kekesalan masa lalu mereka, yang terkadang masih menyelinap ke tengah kesunyian kamar, seperti hantu yang memuakkan.

Maka, sekali lagi, tahun demi tahun pun berlalu kencang seperti kereta api malam melengkingkan jeritnya di kejauhan, terkadang berkelok menembusi hutan, meliuk melalui tepi laut kenangan -- mengarungi kesunyian dan meninggalkan kesenyapan di belakang -- menembusi kegelapan masa datang di bukit-bukit waktu. Dan si bocah gagu, tumbuh cepat sebagai manusia baru sama sekali. Tak setitik pun noda jembel dan kekalahan mental yang terbayang dari penampilan barunya, bahkan bila salah seorang dari para ayah muda itu berniat menyelidiki perubahan karakternya seraya menyu­dutkan asal usulnya sebagai manusia gelandangan secara halus lewat sindiran ataupun lewat pernyataan langsung. Si anak gagu hanya memandang tenang dan mendengarkan dengan sopan. Ia seperti sedang mendengarkan sebuah riwat hidup orang lain sedang dibaca­kan di hadapannya. Ibarat bunga, ia kini benar-benar mekar dengan berbagai kelopak baru, dengan keharuman dan kesegaran baru yang dapat ditebarkan ke sekitar; setelah kelopak-kelopak lama, layu dan bergururan dimakan musim. Ia kini, benar-benar tumbuh dan mekar sebagai seorang pemuda cemerlang, tanpa seberkas pun masa lalu yang masih membekas di benaknya; apalagi masa lalu yang 'gelap' yang sesekali coba disampirkan para ayah muda itu untuk mengganggunya. Lamat-lamat, ia memang menyadari bahwa ia bukan keturunan langsung' keluarga hartawan yang telah berbuat baik kepadanya itu. Namun ia juga tak dapat lagi mengada-adakan seben­tuk masa lalu sebagai sejarah awalnya, ketika yang lebih menye­nangkan baginya adalah: sepenuhnya memusatkan diri pada kenyataan terbaru yang dialaminya secara total. Maka, 'cucu pewaris' si hartawan di kota itu, begitulah koran-koran mulai meliriknya lewat pemberitaan-pemberitaan kecil tentang kegiatannya -- seakan secara alamiah -- selalu mampu menempatkan diri secara unggul di tengah posisi yang bagaimanapun mendesaknya. Dalam sebuah perte­muan keluarga misalnya, ketika seluruh anggota keluarga tampil mewah dan memperlihatkan rasa percaya diri yang tinggi karena berada di lingkungan sendiri, si pemuda cemerlang dengan cara wajar menampilkan diri dengan pakaian sederhana namun resik, lalu dengan sigap menemani siapa pun yang datang menghampirinya, atau mencari kesibukan yang produktif, seperti bermain piano atau membereskan meja biliyard, ketika yang lain tak menghampiri atau malah sengaja menghindarinya. Ia hadir seolah tanpa ganjalan perasaan apa pun yang dapat menggoyahkannya. Ia mengisi ruang dan waktu seakan ia-lah pemiliknya. Sekilas ia memang terlihat sedang mengandalkan kemampuannya menyesuaikan pikiran, perasaan dan perilakunya dengan sekitar yang telah 'berjasa' memberinya kehi­dupan baru yang menyenangkan; namun bila disimak lebih jauh, ia sebenarnya sedang berada di lingkungannya yang sebenarnya. Ia berdiri dengan kokoh, duduk dengan mantap, sekaligus santai dan sangat jauh dari gerak-gerik yang memperlihatkan kesombongan ataupun kecanggungan tersembunyi. Tak ada sikap yang dibuat-buat dari lirikan dan senyum itu; sekalipun ia tampak jelas akan siap mengalah, bila salah seorang anggota keluarga hartawan yang 'menampung'-nya itu menginginkan sesuatu miliknya atau meminta sesuatu darinya. Bahkan, agaknya ia akan rela melepaskan bakat musiknya yang seperti menemukan muara kegemilangannya di rumah itu, bila salah seorang ayah muda itu menginginkan bakat tersebut jatuh ke pundak putra-putrinya. Tapi, dapatkah bakat yang telah mengisi ketajaman penalaran dan keluasan perasaan seseorang, dialihkan secara kasat mata -- seolah memberikan kado pada per­ayaan ulang tahun seorang remaja tanggung? Seandainya bisa! Begitulah para ayah muda itu terkadang dihinggapi harapan aneh, ketika bersama puluhan pasang mata lainnya memandangi si pemuda cemerlang itu memainkan tuts-tuts piano di hadapannya dengan rileks, tanpa beban, namun mengalirkan serangkaian komposisi nada yang memukau ke seluruh ruangan di rumah besar itu.

Dan yang membuat para ayah muda itu akhirnya terpaksa berpi­kir ulang tentang taruhan' mereka, adalah perkembangan nyata, bagaimana si pemuda cemerlang kemudian ikut mengurusi perusahaan, dan dapat memacu diri sedemikian rupa, sehingga hari-harinya semakin jauh melibati segala liku-liku hidup perusahaan. Tak ada lagi dari berbagai penyakit perusahaan yang belum terkena sentu­han perbaikannya. Ia memang tidak duduk secara struktural dalam berbagai perusahaan keluarga besar itu; namun berdasarkan dialog dengan para ayah muda yang semakin hari semakin menempatkannya seperti 'keponakan' itu -- ia telah mengupayakan berbagai jalan keluar yang ternyata cukup jitu menyehatkan perusahaan. Ia menja­di konsultan tak langsung bagi semua perusahaan; dan beberapa dari nasehatnya ternyata manjur melincahkan gerak perusahaan di tengah persaingan yang semakin ketat. Dan semua itu, hanya ber­sumber dari semangat otodidak yang tinggi si pemuda cemerlang. Karena ia memang tak pernah bersekolah. "Kemewahan" yang dihibah­kan kepadanya sebagai 'alat' taruhan, tidak termasuk pendidikan. Ia hanya diberi kesempatan 'bersenang-senang' menikmati apa saja yang ada di rumah, dan sesekali memanfaatkan nama keluarga besar itu untuk memesan barang-barang keperluannya. Namun, kesempatan-kesempatan itu ternyata banyak dimanfaatkannya untuk memesan buku-buku yang dibutuhkannya. Bukan memesan barang-barang mewah, seperti perkiraan para ayah muda yang sejak awal mengharapkan munculnya seorang 'pemboros tak tahu diri' di hadapan mereka; seperti yang pernah mereka baca dalam novel Inggris karangan Charles Dickens itu. Sementara, masa-masa selanjutnya adalah kenyataan-kenyataan yang sangat menyenangkan bagi si ayah muda, yang menemukan si bocah gagu pertama kali -- karena teorinya tentang karakter 'dasar' manusia akan menjelma dalam kehidupan setiap manusia -- semakin menemukan wujud nyata. Si bocah gagu yang kini mereka terima sebagai si pemuda cemerlang, ternyata mengikutkan arus bakat dan karakter 'baik hati' yang selama ini tenggelam dalam dirinya, tergenangi kemiskinan. Karakter ba­waannya bukanlah 'seorang jahat' yang boleh jadi akan menjadi ancaman bagi keluarga; hingga ketika taruhan baru dimulai, per­soalan kemungkinan 'seorang jahat' ini sempat menjadi perbincan­gan serius di rumah besar itu. Hingga akhirnya, semuanya berani menghadapi risiko, dengan syarat; sejak awal, dilakukan pengawa­san ketat atas setiap gerak-gerik si bocah gagu oleh salah seor­ang pegawai khusus. Dan setelah berjalan beberapa tahun, pengawa­san itu ternyata harus dilepaskan, diabaikan. Si bocah gagu tumbuh menjadi remaja terpuji, dan akhirnya mekar sebagai si pemuda cemerlang. Lalu, ia juga bukanlah seorang pemuda cemerlang yang jumawa, royal, tak memandang sebelah mata atas pendapat orang lain, namun sangat menjilat kepada para ayah muda yang ‘memeliharanya'. Sebaliknya, ia tumbuh sebagai seorang 'baik hati', dengan segala kemewahan di sekitarnya, dibiarkan pada tempatnya. Dan kalaupun ia memanfaatkan kemewahan itu, ia menggu­nakannya sebagai sarana untuk mengembangkan diri agar semakin 'baik' lagi. Yang kemudian teruji, ketika ia mampu mendampingi para ayah muda itu mengurusi perusahaan mereka yang terkadang menghadapi gejolak tertentu, baik oleh adanya persaingan, maupun karena sakitnya manajemen operasional di dalam perusahaan.

Dengan adanya perkembangan semacam inilah, para ayah muda itu tak dapat lagi mempertahankan kejelasan pertaruhan mereka. Hubungan mereka satu sama lain, bukan lagi sebentuk hubungan bersandiwara, bermuka-muka, basa-basi, karena para pemain sangat menyadari posisi mereka yang jauh lebih tinggi dari si pemuda cemerlang yang cuma 'alat'. Mereka menyadari, tak jauh dari mereka, seseorang telah berhasil menempa dirinya menjadi seorang 'baik'; dan sedikit banyak, seseorang itu layak berterima kasih kepada keluarga mereka. Atau, mereka memang sangat layak merasa bangga; bahwa mereka berhasil 'melahirkan' seorang pemuda cemer­lang berperangai terpuji; meskipun penanganan yang mereka lakukan lebih bersifat tak langsung -- karena seseorang itu tumbuh, selama ini, memang lebih banyak karena kesadaran dan usaha sen­diri. Sementara, si seseorang itu, si pemuda cemerlang yang tak pernah mengetahui adanya semangat pertaruhan di balik rejeki dan nasib baiknya -- diterima serta dipelihara di rumah besar itu -- sejak semula memang tidak mampu berbasa-basi. Ia, selama beberapa tahun pada masa kecilnya, terlanjur hidup gagu; tak dapat menyam­paikan pikiran dan isi perasaannya lewat bahasa. Hal mana kemu­dian menggerakkannya untuk selalu memanfaatkan mimik, gerak tangan, dengan kesadaran sepenuhnya terpusat lewat pancaran mata. Semua perilaku, yang secara alamiah menuntunnya untuk berkesadar­an: bahwa seseorang dapat meningkatkan kehidupannya, hari demi hari, selama ia hidup seadanya, dengan apa yang mengalir dari kesadarannya. Seseorang akan dapat mengandalkan diri sendiri, memenuhi kebutuhannya; hingga berlebihanlah, memanfaatkan 'yang bukan diri sendiri' dalam kehidupan ini. Begitulah, suatu kali ia pun mempersiapkan diri untuk hidup sendiri. Namun, di luar kua­sanya, para ayah muda itu telah melupakan segala macam prasangka, kecemasan, rasa curiga, kegembiraan petaruh, harapan pengusaha -- lalu sepenuhnya mengambil peran sebagai seorang anggota keluarga yang merasa ikut bertanggung jawab mendukung anggota keluarga lainnya -- saling berlomba menawarkan bantuan modal.


24
------------------------------------------------------------
AKHIRNYA mulut lorong yang sudah berkali-kali lolos dari program pemerintah daerah dan setiap kali turun menjadi prioritas kesekian itu -- suatu ketika digusur -- karena pemerintah daerah sudah benar-benar memerlukan tanah segar untuk dibangun sebagai hunian penduduk kota yang semakin banyak memerlukan pemukiman mewah. Dan, sebuah perumahan mewah pun segera berdiri bagai dibangun dalam sekejap atau paling lama satu malam. Sementara para penghuninya yang kebanyakan adalah gelandangan dan para pekerja kelas rendahan itu, tercerai-berai oleh perbedaan nasib yang tak bisa dihindari. Beberapa keluarga yang cukup beruntung dan telah memiliki tabungan, memilih kembali ke kampungnya, dan melanjutkan kembali kehidupan serba pas-pasan dengan tanah perta­nian tak seberapa yang harus dibagi kembali secara beramai-ramai dengan para anggota keluarga, yang dulunya sempat merasakan sedikit kelegaan karena ditinggalkan. Lalu beberapa pegawai swasta rendahan berhasil memaksakan diri mengikuti antrian para calon penghuni rumah mewah yang sedang dipasarkan dan dibangun secara kilat seusai penggusuran itu. Mereka yang memaksa diri ini akhirnya menjadi calon penghuni rumah yang bertipe paling seder­hana, satu-satunya tipe rumah yang masih terjangkau oleh keuangan mereka, baik saat pembayaran uang muka dan memenuhi cicilannya kelak. Namun anehnya, setelah menjadi penghuni di perumahan mewah yang dulunya adalah tempat tinggal mereka, ketika masih sebagai perkampungan kumuh yang jarang diperhatikan keberadaannya; setiap kali para tetangga menanyakan asal-usul mereka, tak seorang pun dari mereka ini berani dan pernah berkeinginan menceritakan bahwa mereka dulunya adalah penghuni tetap perkampungan kumuh di mulut lorong itu. Yang pada saat penggusurannya, sempat diramaikan oleh koran-koran di kota itu, karena kembali bersaingnya dua keluarga kaya sebagai developer yang segera menggembar-gemborkan kesiapan mereka di koran-koran kuning. Sehingga pemerintah akhirnya cukup terganggu dan akhirnya mengambil keputusan dengan menyerahkan proyek tersebut kepada seorang pengusaha baru yang kurang diken­al, namun ternyata mampu membangun perumahan mewah itu dalam jangka waktu yang relatif singkat tanpa bi-bu-ba dan berkoar-koar di koran, sebagai pengusaha sukses yang patut dijadikan cerminan bagi siapa saja yang mau menyongsong peradaban modern dan paling mutakhir dengan kerja keras. Sebagaimana sering terjadi, setiap kali dua keluarga hartawan di kota itu berhasil memperoleh pe­luang memperlihatkan keberhasilan mereka mengerjakan proyek yang dipercayakan pemerintah, dulunya. Dalam hal ini, pemerintah atau para birokrat dari kantor walikota, merasa tak perlu menyelidiki lebih jauh, apakah seorang pengusaha yang tendernya mereka me­nangkan itu, memiliki hubungan tertentu dengan kedua keluarga kaya yang menjadi langganan lama kantor mereka. Sebaliknya, mereka juga melihat, bahwa besarnya anggaran, rancangan bangunan, jenis bahan-bahan, lama pengerjaan, dan jumlah komisi yang dita­warkan si pengusaha baru, sebenarnya tidak terlalu istimewa dibandingkan kedua proposal yang diajukan kedua keluarga kaya. Hanya saja, para birokrat yang kini duduk di kantor walikota itu -- yang kebetulan sebagian besar adalah orang-orang baru -- mulai berpikir untuk menciptakan jaringan persahabatan 'kolusi' baru bagi masa depan mereka. Orang-orang muda ini beranggapan, bahwa bila mereka terlalu bergantung pada kelompok 'kolusi lama', maka jatah atau komisi untuk mereka tetap saja kecil. Lalu, kapan lagi mereka dapat mengumpulkan kekayaan yang berlebih seperti rekan-rekan senior mereka, yang kini mulai hidup tenang dengan segala kemewahan yang berhasil dikumpulkan selama puluhan tahun duduk di kantor walikota itu? Maka, dengan dimulainya penggusuran atas perkampungan kumuh di mulut lorong itu, yang segera dilanjutkan dengan pembangunan sebuah kompleks perumahan mewah -- di kantor walikota pun mulai berdengung semangat kerja orang-orang baru, angkatan baru, muka-muka baru, kebijakan baru, angin baru... "Selamat tinggal hari kemarin! Selamat tinggal penguasa-penguasa lama! Selamat tidur orang-orang tua!" teriak beberapa pesuruh muda di kantin kantor walikota itu suatu hari.

Sementara, meninggalkan perkampungan kumuh yang kini telah disulap menjadi sebuah kompleks perumahan mewah itu, beberapa bekas penghuni perkampungan kumuh di mulut lorong itu, yang dulunya telah hidup sebagai gelandangan dan nyaris belum pernah mampu membayangkan penghasilan mereka secara rutin dalam perbu­lannya, dengan tak canggung lagi terpaksa tetap meneruskan kehi­dupan lama. Namun kali ini, mereka ternyata tetap saja sangat tersiksa, ketika harus memulai kehidupan keseharian tanpa bilik dan kamar-kamar sempit darurat, yang terlanjur menjadikan mereka sebagai manusia-manusia yang cukup merasakan kehangatan tidur pada malam hari, sekalipun dengan perut terkadang harus berkeron­congan, ketika masih menjadi penghuni gelap di perkampungan kumuh di mulut lorong itu. Kini, mereka, dengan perasaan sakit dan setiap kali masih saja gagap mengenali kenyataan baru mereka: harus menerima nasib -- sebagai penghuni kolong jembatan -- yang semakin sering menjadi buruan para petugas kebersihan, yang dengan senang hati melaksanakan pekerjaan mereka sampai larut malam. Karena gelandangan di tengah kota ternyata semakin banyak berserakan, dan gaya hidup yang mereka tempuh pun semakin bera­gam, di antaranya, munculnya daerah-daerah pelacuran baru yang segera menjadi terkenal dan mulai mendapat tempat di koran-koran gosip, sebagai akibat program pembangunan yang salah. Hal mana kemudian menjadi topik perbincangan pula dalam rapat-rapat kerja para pegawai di instansi pemerintah terkait. Yang kemudian beru­jung pada hadirnya program-program baru, yang mengharuskan para petugas kebersihan harus bekerja lebih giat lagi. Di mana mereka harus lebih bersungguh-sungguh lagi melaksanakan tugas perburuan, bila tidak ingin dipecat -- yang boleh jadi akan berakhir pada nasib yang sama dengan orang-orang yang menjadi buruan mereka -- menjadi gelandangan -- setelah menjadi pengangguran.

Oleh program kerja yang baru itu, para pekerja kebersihan tata kota benar-benar terperangkap oleh tugas dan kehidupan kumuh yang mereka hindari, di mana satu-satunya jalan keluar adalah mengembangkan perasaan 'sebenci-bencinya' terhadap kehidupan kumuh itu -- agar segera lenyap dari hadapan mereka, sehingga setiap kali mereka tak terganggu lagi oleh kecemasan-kecemasan -- bahwa suatu saat mereka boleh jadi akan mengalami kehidupan yang sama buruknya, bila mereka bekerja tanggung-tanggung; hingga dipecat, atau mereka telah menjadi tua, dan tak bisa diandalkan lagi sebagai petugas kebersihan tata kota yang ditakuti dan mampu melaksanakan tugas dengan rapi. Maka, dengan mempersenjatai diri dengan kemarahan dan kebencian, ditambah dengan bekerja serius, akhirnya mereka dapat pulang ke rumah dengan berlega hati, teru­tama saat menyerahkan penghasilan setiap bulannya kepada sang istri, agar diatur secara hemat untuk memenuhi semua kebutuhan hidup sekeluarga, termasuk membiayai anak-anak mereka yang masih bersekolah dengan bertelanjang kaki itu.

Lalu, yang tetap seperti semula adalah rumah di ujung lor­ong, yang hanya memiliki aroma bau air kali hitam dan kegersangan sekitar sebagai perlambang kehadiran satu-satunya di antara semua kebisingan suara pabrik dan kesibukan para pekerja membangun perumahan mewah di sebelah kirinya, yang ternyata rampung dalam waktu singkat itu. Orang-orang merasa wajar ketika dihinggapi pikiran, bahwa rumah itu kali ini seperti sedang mengalami kea­jaiban -- tak tersentuh sedikit pun oleh penggusuran dan pemban­gunan perumahan mewah di sampingnya. Apalagi setelah perumahan mewah itu berdiri dan semakin ramai dihuni para pendatang dari luar kota, dan kemudian menjadi daerah hunian yang mulai mapan sebagai tempat tinggal -- sebagaimana perumahan-perumahan lainnya yang sudah lebih dulu berdiri di kota itu -- rumah di ujung lorong itu tetap menjalani keberadaannya sebagai rumah tua dengan sepasang penghuninya yang aneh, di antara pabrik yang tak pernah tidur dan perumahan mewah berpagar tembok tinggi di sekelilingn­ya.

Dari perumahan mewah itu, beberapa penduduk yang kebetulan membeli rumah yang paling dekat ke tembok di sebelah rumah di ujung lorong, sesekali mengungkapkan perasaan heran di antara sesama mereka atas keanehan itu, di mana mereka sesekali dapat pula mendengar suara-suara percakapan perlahan dari rumah di ujung lorong itu. Dan bila seorang penghuni suatu ketika merasa tertarik memandang ke arah pabrik, dan menampak rumah di ujung lorong itu di antaranya -- maka ia pun akan mengernyitkan ke­ningnya sekilas karena menemukan kejanggalan -- mengapa sebuah rumah di ujung lorong itu, dibiarkan begitu saja terjepit di antara perumahan mewah dan pabrik yang terus-menerus mengepulkan asap itu. Apakah posisi rumah yang dekat kali berair hitam itu, telah mengurangi keinginan si developer untuk membebaskan tanah sampai ke sisi pabrik atau ke kali itu? Khawatir kali itu akan mengganggu keberadaan perumahan mewah, sehingga perlu ditembok cukup tinggi agar tak mengganggu pemandangan calon penghuni, atau menghindari banjir bila air kali hitam itu sewaktu-waktu meluap? Sehingga dengan pengamanan lewat tembok tinggi itu, sepanjang kali, tak mengurangi harga perumahan mewah ketika ditawarkan kepada para calon penghuni yang sangat mementingkan rasa aman dan keindahan?

Tak ada yang bisa menjawab. Mereka yang sempat bertanya-tanya itu tak tahu kepada siapa dapat memperoleh kepastian. Dan lagi, memperoleh kepastian untuk persoalan remeh seperti itu akan memakan waktu dan tenaga. Sementara, kehidupan keseharian yang menggenangi dan kemudian mereka arungi dengan gigih itu, tak menyediakan waktu luang yang banyak untuk memikirkan hal-hal yang tak berharga di sekitar. Pikir mereka, bagi petugas lingkungan hidup atau orang-orang yang mau berlelah-lelah dengan keadilan, boleh jadi posisi rumah di ujung lorong yang seperti sengaja dijepit di antara tembok pagar perumahan mewah dan air kali di sisi pabrik itu, akan dianggap kurang manusiawi. Sehingga perlu diadakan demonstrasi atau menuntut developer perumahan mewah atau pabrik yang lebih dulu berdiri itu -- karena telah merampas keberadaan sebuah perkampungan penduduk dan mempersempit lingkun­gan sebuah rumah penduduk di ujung lorong. Tapi, apa artinya, dan bagaimana batasan "manusiawi" dan berlingkungan sehat? Mereka tak perduli lebih jauh lagi, sekalipun rumah itu benar-benar 'terje­pit' di antara air kali berair hitam dan polusi yang terus dite­barkan pabrik yang tak pernah tidur. Yang penting bagi mereka, dengan pilihan baru mereka, mereka telah cukup aman dengan menem­pati perumahan mewah itu, terutama dengan adanya pagar tembok yang cukup tinggi mengitari atau melindungi mereka dari 'jepitan' air hitam dan polusi itu.


25
------------------------------------------------------------
SI SUAMI PENDIAM dan perempuan dari ujung lorong itu, tentu saja dapat melihat perubahan di sekitar mereka: tembok tinggi memisahkan mereka dari perkampungan kumuh yang kini telah raib, berganti dengan kompleks perumahan mewah itu. Namun bagi si perempuan di ujung lorong, perubahan itu tak begitu banyak menyi­ta perhatiannya. Sejumput perasaan aman memang segera berdenyar di dasar perasaannya, ketika sehembus kesadaran 'pelarian' sayup-sayup masih menggeliat di benaknya. Bahwa dengan tembok-tembok itu, mereka semakin jauh dari masa lalu, semakin tersembunyi dari pengejaran saudara-saudara mereka. Tapi, perhatiannya kemudian beralih pada kenangan demi kenangan tentang si gagu, yang setelah puluhan tahun berpisah, tak jelas mati hidupnya. Lalu, kesibukan lainnya adalah merenungkan ketuaan yang rasanya begitu cepat memisahkannya dari berbagai kenangan manis masa kanak-kanak: sebagai bocah perempuan sulung, kebanggaan dan kesayangan ayah ibunya yang hartawan itu; dengan segala keriangan yang selalu menemani kesehariannya, di rumah, di sekolah, maupun di tengah permainan bersama beberapa teman perempuan yang sengaja dibawa ke rumah agar mereka aman bermain sambil belajar seharian. Kemudian kenangan masa remaja yang sesekali berkelebat berupa angan-angan yang terisi oleh berbagai wajah bintang-bintang film pria; betapa wajah-wajah itu menjadi idola yang terkadang mampir ke mimpi, dan sepertinya akan berada di pembaringan yang sama ketika terbangun esok harinya. Lalu, memasuki masa-masa kuliah dan mulai ikut mengurusi perusahaan keluarga. Sungguh masa-masa yang padat oleh pekerjaan dan belajar; karena pendidikan bisnis yang terbaik ternyata adalah mengurusi langsung kegiatan bisnis itu di lapan­gan. Dan terakhir, pertemuan dengan si suami pendiam itu; yang dulu ketika melihatnya untuk pertama kali di gedung pengadilan; telah membuat jantungnya berdebar kencang, wajahnya memerah terbakar kegembiraan dan kerinduan yang tiba-tiba merasuki kesa­darannya. Betapa wajarnya semua itu. Betapa mudahnya semua itu. Mereka hanya saling memandang dan tersenyum di sudut bibir, lalu saling mengintai dengan sudut mata selama persidangan. Lalu, telepon itu pun datang menyentakkannya dari dunia keluarga yang selama ini memanjakan dan dilaluinya dengan kegembiraan dalam bekerja dan menumpahkan tanggung jawab. Kemudian mereka bertemu diam-diam, di sebuah restoran kecil tak terkenal di pinggiran kota. Sungguh ia tak tahu mau menyebutkan nama apa, ketika si sulung dari keluarga musuh itu menanyakan, mereka mau bertemu di mana. Hingga ia kemudian mengangguk begitu saja di depan corong telepon, ketika si sulung keluarga musuh itu menyebutkan satu nama aneh sebuah restoran kecil di pinggiran kota. Mereka pun bertemu dan tak banyak yang dibicarakan. Mereka lebih banyak saling memandang dan menatapi wajah, tangan, dan penampilan yang lainnya. Mereka seperti serentak tersihir oleh kesempurnaan yang lainnya, lewat saling mengawasi dan menikmati, betapa kehadiran yang lainnya terasa sangat menenteramkan dan mendatangkan rasa gembira yang berat bila ditinggalkan. Mereka meninggalkan restor­an pinggir kota itu menjelang tengah malam, namun keduanya menya­dari baru menyampaikan beberapa kalimat tak penting dalam perte­muan yang mendebarkan itu. Selanjutnya, pertemuan demi pertemuan berlangsung mudah dan semakin mendekati kota. Kamar-kamar resik di hotel-hotel termewah di kota menjadi tempat-tempat pertemuan yang tak akan terlupakan, seandainya pertautan kedua hati itu berlangsung mulus-mulus saja. Sebab, ketika hubungan mereka ternyata menjadi kendala bagi tegaknya nama baik masing-masing keluarga; dan saudara-saudara mereka kemudian bertindak kejam dengan mengganggu dan meneror -- maka tempat-tempat yang dulu menyenangkan itu -- menjadi tempat-tempat yang kini menyosok sebagai neraka menyebalkan, karena hanya mempertontonkan perbua­tan tercela mereka, sekalipun itu muncul cuma dalam kenangan.

Begitulah, ketika tembok-tembok itu memisahkan secara nyata, rumah di ujung lorong dengan perkampungan kumuh di mulut lorong -- bagi perempuan itu, kenangan demi kenangan yang kerap meng­ganggu dan menyebalkan tentang masa lalu itu pun, mulai surut. Berganti dengan bayang-bayang masa kanak, masa remaja, yang kemudian berujung pada sesal: betapa cepatnya ketuaan membuat kulitnya kisut dan tulang-tulangnya lunglai tak berdaya. Kecantikan, kebersihan, yang selama beberapa tahun dulu sempat diperta­hankannya selama menjadi penghuni rumah di ujung lorong itu -- rasanya tinggal hari kemarin yang sukar dibayangkan wujudnya. Sementara, bagi si suami pendiam, tembok-tembok itu memang memi­sahkannya semakin jauh dari perkampungan kumuh yang kini tak ada lagi -- namun semakin menjauhkannya dari pusat kota yang sesekali masih harus dikunjunginya dengan cara menyusuri kali berair hitam itu langsung ke tengah kota. Dalam perjalanan-perjalanan menuju tengah kota dan kembali ke rumah di ujung lorong itu, ia sungguh tak pernah membayangkan, bahwa si bocah gagu, puluhan tahun sebelumnya, pernah berlari-lari marah menyusuri sisi kali berair hitam itu, menanggungkan rasa sakit di punggung, dan setiap kali menahankan berat tubuhnya yang tak seberapa, karena sepasang kakinya memang hanya mampu berlari goyah.

Waktu. Waktu. Cakar waktu telah merampas banyak hal dari ingatannya, begitulah si suami pendiam itu menimbang-nimbang, bila ia berkesempatan melayangkan pandangan ke arah tembok tinggi dan memanjang, yang kini memisahkannya dari pemandangan perkam­pungan kumuh yang kini telah berubah menjadi kompleks perumahan mewah itu. Ia tak merindukan seseorang di antara kehilangan yang tak terobati itu; namun lamat-lamat, ia selalu membayangkan, bahwa suatu saat ia akan berjalan jauh meninggalkan semua itu. Ia terkadang digayuti perasaan, bahwa ia sebenarnya bukan penghuni rumah di ujung lorong itu. Ia memiliki sebuah tempat tinggal yang jauh lebih tenang, mewah, resik, dan banyak dihuni manusia-manu­sia lain yang selalu menghormatinya. Di mana ia dapat mengham­parkan waktu di depan matanya, di dalam sebuah buku agenda kerja lima tahunan, yang akan diwujudkan dan ditempuhnya dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun. Dengan begitu, tak akan ada waktu yang tersia-sia percuma dalam kehidupan yang dilaluinya. Segalanya telah diperhitungkan secara ekonomis. Hingga kehidupan begitu jelas, masa depan tergenggam oleh manfaat; karena waktu sepenuhnya berada dalam kendali: tersusun rapi berupa jadwal kerja membesarkan perusahaan keluarga. Begitulah ia terbiasa mengurusi kehidupan keluarga dan dirin­ya sendiri dalam kepastian akan hari esok, dan gambaran hari kemarin yang telah terdokumentasi dengan rapi. Tapi kini, tak sesuatupun yang dapat ia jangkau dengan kepastian. Tak satupun yang sangat ia butuhkan dalam hidup ini, berada di depannya; termasuk hari esok, seakan raib entah ke mana. Bahkan masa depan, seperti tumpat di hadapannya berupa gumpalan waktu berkabut hitam dan lembam; yang akan mementalkan pikiran apa saja, yang sekadar mencoba menyentuhnya. Hingga, ia hanya dapat termangu dengan pikiran kosong; merasa cemas karena tak dapat memastikan, di mana ia sedang berada dan di manakah tempat tinggalnya yang lama itu.

Ruang. Ruang. Cahaya ruang; ia pun mulai kehilangan cahaya ruang, kehilangan satuan ruang. Tak ada lagi sudut-sudut kota yang dulu sering dirambahnya, demi sesuap nasi yang harus dibawa pulang ke rumah, karena sang istri baru saja melahirkan. Tak terlihat lagi panorama tengah kota, yang lamat-lamat membangkit­kannya pada kenangan manis, ketika masih tinggal di sebuah rumah besar sebagai si sulung dari salah satu keluarga terkaya di kota itu. Tak terasakan lagi lengangnya, jalan setapak yang harus dilalui dari mulut lorong sebelum mencapai sebuah rumah tak terawat di ujung lorong, yang telah memberikan rasa nyaman tak berhingga, dibandingkan kecemasan-kecemasan yang merongrong ketika mereka mencoba bersembunyi di hotel-hotel beberapa kota pariwisata di berbagai penjuru dunia ini, dulu. Tak tercium lagi udara bau, yang dikotori uap memuakkan, yang menyebar dari kali berair hitam di sisi rumah kumuh yang akhirnya mereka huni selama puluhan tahun itu. Dan suatu kali, karena rasa penasaran memenuhi benaknya, ia pun mulai menyusuri jalan-jalan yang seakan saling menjulur ke hadapannya, di tengah kota sana, dengan tatapan disiagakan ke kanan dan ke kiri, mencari semua satuan ruang yang hilang itu, dengan berusaha mengenali rumah-rumah ataupun bangu­nan-bangunan yang dilaluinya. Ia sungguh tak sadar, bahwa dengan pakaiannya yang kumal, sobek di sana-sini, tubuh dekil karena jarang mandi, kaki berdebu dan hitam, tatapan liar tanpa fokus -- ia telah membuat beberapa orang yang berselisih jalan dengannya -- buru-buru menghindar. Bahkan, telah membuat seorang bekas penghuni perkampungan kumuh yang kini tinggal di kompleks peruma­han mewah di mulut lorong itu, menggeleng-gelengkan kepala dengan tatapan kasihan, ketika si penghuni itu tak dikenali dan tak ditanggapi saat nyaris berselisih jalan; sekalipun telah menyapa berulang-ulang sambil menghalangi langkahnya, bahkan berusaha menyeretnya ke sebuah restoran. Si penghuni yang puluhan tahun lewat ikut membantu kelahiran si bocah gagu di ujung lorong itu -- tiba-tiba memandang dengan tatapan muram, kecewa, hampir tak dapat menahan air mata -- ketika si suami pendiam itu dengan kalap malah berusaha menendangnya.


26
------------------------------------------------------------
KEBERADAAN rumah di ujung lorong tanpa pepohonan itu pun kemudian dilupakan oleh para penghuni perumahan mewah itu, dengan semakin banyaknya penghuni dan semakin terbentuknya kehidupan mereka yang khas sebagai penghuni sebuah perumahan mewah. Sebagian besar dari penghuni perumahan mewah itu tentu saja segera mengabaikan sama sekali keberadaan rumah di ujung lorong, yang dulu, sesekali menarik perhatian mereka, terutama bagi mereka yang menghuni rumah di sisi tembok pagar yang mengelilingi peru­mahan mewah itu. Tapi bagi mereka yang dulunya adalah penghuni perkampungan kumuh yang kini sudah disulap menjadi perumahan mewah dan terbilang laris itu, keberadaan rumah di ujung lorong itu sesekali masih sering menyelinap ke dalam benak mereka. Tak ada yang mengejutkan mereka lagi dengan segala ingatan yang kerap kali menyeruak dalam kesendirian mereka, karena sejak semula mereka sudah dirundung keraguan bila berpikir lebih jauh tentang para penghuni rumah di ujung lorong itu. Sehingga, tak ada lagi yang benar-benar menyentuh perasaan mereka sekalipun mereka sesekali dapat membayangkan betapa sukarnya kehidupan sang suami penghuni rumah di ujung lorong itu, yang kini harus berjalan memutar mengelilingi tembok pagar perumahan mewah dan muncul di ujung kali berair hitam yang melalui pusat kota, bila si suami ingin ke tengah kota mencari nafkah. Tentu saja si suami harus melalui semak-semak rimbun disepanjang kali berair hitam itu, yang boleh jadi masih dihuni oleh banyak ular dan binatang-bina­tang melata yang berbisa lainnya. Begitulah sebagian dari mereka, bekas para tetangga yang dulu pernah menolong kelahiran si gagu itu, berpikir dengan perasaan gentar -- akan semakin gersang, sempit, dan berbahaya serta terasingnya kehidupan para penghuni rumah di ujung lorong itu -- di antara tatapan mereka yang saling beradu pandang bila mereka berangkat kerja pagi harinya dan pulang kerja sore harinya, lalu bergabung dengan kehidupan te­tangga-tetangga baru mereka yang kini menerima mereka sebagai sesama penghuni perumahan mewah, yang dulunya pastilah belum pernah hidup di perkampungan kumuh mana pun.

Tapi tak ada alasan khusus bagi mereka memikirkan si penghu­ni rumah di ujung lorong, yang kini semakin terkurung oleh tembok perumahan mewah dan tembok pabrik yang terus bergemuruh itu. Karena mereka harus tahu kapan membatasi pikiran akan masa lalu di antara kehidupan bersama tetangga-tetangga baru mereka. Kalau yang menjadi alasan adalah masa lalu yang miskin semata-mata, yang menurut mereka, bila ingin hidup nyaman di antara kehidupan mereka yang baru -- harus disembunyikan serapat mungkin di bilik hati. Tapi, yang menjadi alasan benak mereka setiap kali mengha­dirkan rumah di ujung lorong dan para penghuninya adalah keterke­simaan mereka sendiri, yang semakin hari menjadi bisik-bisik yang tak bisa dibatasi di antara tatapan mereka yang berkelebat dengan rahasia itu -- tentang si developer yang menghadiri hari pertama penyerahan kunci dan surat-surat hak kepemilikan rumah mereka di perumahan mewah itu. Semua yakin atas penglihatan dan kilatan di benak masing-masing, bahwa si developer perumahan yang mereka huni dengan memaksakan diri sampai mengeluarkan segenap tabungan mereka, dan harus bekerja lebih keras lagi agar dapat memenuhi cicilan kelak -- adalah si gagu yang dulu pergi dan tak pernah kembali ke ujung lorong!

Tapi si gagu yang berdiri di hadapan mereka adalah si gagu yang telah menjadi seorang pengusaha bertubuh makmur, sangat pandai bicara, sangat rapi, dan sangat bersih penampilannya, dan sangat pandai menghibur mereka para calon penghuni rumah-rumah mewah yang dijualnya dengan banyolan yang belum pernah mereka dengar sama sekali di lingkungan perkampungan kumuh yang terbatas kosa katanya itu. Si gagu telah membuat para calon penghuni rumah-rumah yang dibangun dan dijualnya itu tertawa-tawa gembira di kursi mereka, sementara bekas tetangganya yang dulu ikut menolong kelahirannya hanya mampu memandang bingung, bengong, sekaligus takjub atas perputaran roda nasib yang menurut mereka pada saat yang bersamaan -- tak terjangkau oleh pikiran manusia mana pun. Begitulah mereka mengambil kesimpulan ketika sesama mereka beradu pandang dengan perasaan kacau dan pikiran tak mengerti. Si gagu yang baru sedang berdiri di hadapan hadirin calon penghuni perumahannya, membelakangi tembok yang mengasing­kan rumah di ujung lorong tempat kelahirannya -- dari kehidupan baru dan bersih di hadapannya, yang telah usai dibangun dan kemudian dijualnya kepada orang-orang yang bersedia memenuhi harga uang muka yang ditetapkannya?

Tentu saja semua ini adalah kenyataan yang sukar diterima akal para bekas tetangga yang dulu pernah menolong kelahiran si gagu. Sehingga mereka kembali tak dapat segera mengambil keputu­san, dengan segera bangkit misalnya, menyalami, menyapa, atau segera berlari dan memanjat tembok, lalu membawa suami-istri penghuni rumah di ujung lorong itu ke tengah-tengah acara penyer­ahan kunci dan surat-surat kepemilikan rumah di perumahan mewah itu, agar suami-istri itu dapat melihat kenyataan aneh tersebut secara langsung dengan mata kepala sendiri. Bahwa si gagu, anak mereka yang dulu senang membuka jendela-jendela dan pintu rumah lebar-lebar, anak mereka yang dulu telah pergi tanpa pamit dan tak pernah memberi kabar entah di mana ia berada, kini telah kembali dan sama sekali tak menjenguk mereka ibu dan ayahnya. Malah mengasingkan mereka, ibu dan ayahnya, dengan dunia ujung lorong yang semakin gersang dan kini terjepit di luar tembok tinggi perumahan mewah dan gemuruh pabrik yang tak pernah tidur itu.

Tak seorang pun dari bekas para tetangga yang dulu ikut gelisah berlari-lari ke rumah di ujung lorong untuk memberikan pertolongan ketika masa kelahiran si gagu itu, bergeming di tempat duduk mereka pada acara penyerahan kunci dan surat-surat kepemilikan rumah itu. Dan tak seorang pun dari mereka berani mengangkat wajah, sekalipun hanya untuk memandang sekilas dengan jarak begitu dekat -- ketika menerima kunci dan surat-surat di dalam map merah langsung dari tangan si gagu yang kini menye­barkan harum minyak wangi itu. Sehingga dengan mengetahui segala latar belakang kehidupan si gagu, sebagai anak tunggal suami istri penghuni rumah di ujung lorong, yang kini terkucil di balik tembok tak jauh dari mereka berserah terima kunci dan surat-surat itu, telah menjadi beban perasaan yang sangat berat namun sekali­gus tak bisa mereka campuri sedikit pun. Sehingga dengan hanya mengetahui lalu menutup mulut rapat-rapat saja, telah menjadi nasib malang yang tak bisa mereka kibaskan dengan mudah. Sebab, secara bersamaan mereka sendiri pun sedang membungkus rapat-rapat masa lalu mereka, yang dulunya adalah penghuni rumah di perkam­pungan kumuh yang kini tergusur dan telah menjadi daerah hunian mereka yang baru -- sebagaimana mereka pun datang sebagai manu­sia-manusia dengan masa lalu dan masa kini yang baru sama sekali.

Sehingga, mereka menjadi sangat khawatir bahwa sedikit saja sapaan kepada si gagu yang kini berpakaian rapi dan pandai bicara itu, akan menarik perhatian calon penghuni lainnya dan dapat mengganggu keberadaan hidup bermasyarakat yang akan mereka jalani dan pelihara bersama secara menyenangkan kelak. Dan lagi, sangat kuat kekhawatiran di benak mereka, bahwa mereka boleh jadi sedang terpana oleh tipuan penglihatan mereka semata-mata, yang dengan mudah mereka-reka apa saja yang sifatnya ajaib -- seperti menya­makan kemiripan wajah si gagu yang menghilang sejak kanak-kanak itu dengan si pengusaha berpakaian rapi -- sebagai satu kelenga­han manusia yang tak termaafkan oleh siapa pun. Yang bila dice­tuskan ke permukaan, malah akan menimbulkan perasaan marah dan aneh bagi si pengusaha yang tersenyum lebar ketika menyerahkan kunci dan map merah berisi surat-surat kepemilikan rumah itu, dan menyalami mereka dengan hangat; tanpa sekalipun pernah menoleh ke belakangnya, ke arah tembok yang kini membatasi keberadaan dan kehadirannya dengan masa lalunya yang aneh di tepi kali berair hitam, yang setiap kali menjadi bahan perbincangan bagi penghuni perkampungan di mulut lorong yang kini telah lenyap dan berganti dengan perumahan mewah dan bersih, mentereng, penuh lampu-lampu pada malam hari itu.

Para tetangga yang dulu pernah menolong kelahiran si gagu itu, tiba-tiba saja dihinggapi perasaan enggan karena akan dia­nggap lancang telah dengan mudah mengikutkan rekaan angan-angan mereka, mengawinkan dua dunia yang sangat berjauhan jaraknya -- ke dalam satu sosok pengusaha baru, hanya karena kesamaan wajah dan denyut-denyut kecurigaan yang sedang berdenyar di benak mereka dan menimbulkan rasa takjub atas keajaiban kehidupan mempermainkan perjalanan hidup seseorang. Mereka pun, akhirnya menutup mulut sepanjang acara yang berlangsung ramai dan penuh tawa itu. Kecuali sesekali beradu pandang sesama mereka, tanpa menyertakan tanda-tanda khusus di antara perilaku mereka, bahwa mereka sedang diresahkan oleh sesuatu yang sangat penting dan mengganggu perasaan. Kecuali adanya keyakinan yang tak terhalau­kan, bahwa mereka sebenarnya sedang tersihir oleh satu kenyataan yang pernah menyosok menjadi keanehan hidup seorang anak gagu, yang pernah mengambil bentuk berbeda-beda pada pengalaman dan mimpi-mimpi teman-teman mereka yang hidup menggelandang, dulu, dulu, lama sekali.


27
------------------------------------------------------------
PADA saat tak terduga perempuan tua itu memiliki cara ter­tentu untuk melarikan diri dari kenyataan-kenyataan pahit yang menjeratnya. Tapi pada saat tak terduga lainnya, perempuan tua itu hampir tak memiliki gairah lagi untuk memikirkannya berlama-lama, apalagi berkeinginan menyampaikannya kepada sang suami -- yang bertahun-tahun belakangan hampir tak pernah lagi menyentuhn­ya sebagai sesama penghuni rumah di ujung lorong itu, baik seba­gai istri maupun teman; yang dulu kerap mereka perlihatkan dengan saling menyalami dan memandangi tangan yang lainnya berlama-lama, lalu mengendus-endusnya dengan khusuk, dan kemudian menjilatinya dengan bernafsu seperti manusia kelaparan yang sedang menemukan makanan pengganjal perut yang sederhana namun sangat berharga bila segera disantap, karena demikian sukarnya memperoleh maka­nan. Atau seperti seekor hewan buas yang baru saja menemukan mangsanya terkapar tak berdaya, setelah melewati pertarungan yang melelahkan dan menimbulkan keringat yang mengucur membanjiri sekujur tubuh. Begitulah mereka ketika saling menjilati itu akan mendengus-dengus, mendesis-desis lirih, dan akhirnya menjerit-jerit histeris seperti hewan tanpa peradaban; kecuali berteriak riuh penuh gairah, yang tak terpahamkan maknanya selain ungkapan kepuasan perasaan semata-mata, yang ingin diperdengarkan atau diperlihatkan kepada diri sendiri dan juga kepada yang lainnya.

Karena dengan memperdengarkan atau memperlihatkan kepada yang lainnya, ternyata secara aneh turut pula menambah kepuasan diri sendiri. Hingga keduanya kemudian terdiam secara bersamaan, lalu menggigil dengan tubuh seperti tersengat oleh arus listrik beri­bu-ribu watt, dengan mata kuyup oleh pesona hidup dan kelelahan sempurna; bagai badai yang usai menggempur pantai di penghujung sore di sebuah pantai yang jauh, atau bagai hujan yang meredup setelah menyirami halaman rumah di ujung lorong itu seharian penuh pada sebuah musim penghujan yang telah lama lewat.

Banyak cara orang untuk melepaskan dirinya, kesadarannya, barang sejenak, dari kehidupan yang mendera dengan berbagai masalah yang tak rampung bila hanya dipikirkan dan dirasakan sendirian. Di antaranya, dengan melamun atau dengan mengada-ngada: seakan mengetahui keberadaan seseorang yang sangat dirin­dukan sejak lama -- sedang berada di sekitar -- dan yang dapat diperbuat adalah menunggu, menunggu dengan perasaan berdebar-debar, saat seseorang itu nantinya akan menoleh dengan kaget, lalu menghampiri dengan bersemangat, dan kemudian mengejutkan dengan menutup mata dari belakang atau mengagetkan dengan teria­kan, hingga kemudian memeluk erat-erat dengan tak sabar, dan berakhir pada: saling memeluk memperlihatkan rasa rindu yang sama.

Hal mana dibayangkan, dilakukan, atau diperbuat dan dialami pula oleh perempuan tua itu suatu siang, ketika ia berdiri di depan pintu rumah di ujung lorong yang kini terjepit oleh pabrik dan perumahan yang baru berdiri itu. Si perempuan tua itu, dengan memaksakan angannya bergerak liar ke berbagai tempat, berbagai peristiwa, berbagai waktu yang pernah ada dalam kehidupannya -- berusaha menghibur dirinya dengan mengada-ngadakan kenyataan fantastis di benaknya -- bahwa tak jauh dari tempatnya berdiri di tengah pintu kusam rumah di ujung lorong itu -- seseorang yang sangat dirindukannya, yakni anak tunggalnya si gagu itu, yang dulu pergi meninggalkan rumah dan tak kembali lagi -- sedang berdiri di hadapan orang ramai dan sedang memikirkannya, sedang merindukan ibu dan ayahnya. Maka perempuan tua itu pun tersenyum diam-diam, khawatir terlihat oleh suaminya yang siang itu sedang tersenyum-senyum khusuk memandangi air kali hitam itu. Perempuan tua itu sangat sadar bahwa setiap kernyit atau perubahan sekecil apa pun di wajahnya, akan segera dapat terbaca dan termaknai oleh suaminya yang pendiam, yang dulu membuatnya sangat tergila-gila ketika sebagai lawan mereka beradu pandang untuk pertama kalinya di pengadilan itu. Maka perempuan tua itu pun membangkitkan angan-angannya dengan was-was dan sesaat merasa rikuh kepada dirinya sendiri -- karena kali ini, ia telah menciptakan angan-angan yang terlalu mahal untuk dirinya sendiri. Ia membayangkan bahwa di antara suara-suara ramai dari arah perumahan mewah di balik tembok itu -- anaknya si gagu itu sedang berbicara dengan lincahnya di hadapan orang ramai, dan sesekali pikirannya mel­ayang kepada ibu dan ayahnya di balik tembok -- hingga si gagu itu kemudian bergetar di antara kata-katanya, karena pikirannya sendiri sedang dikelebati oleh hasrat akan membuat kejutan untuk ibu dan ayahnya, yang pastilah tak pernah menyangka bahwa si gagu kini telah menjadi seorang manusia baru yang tak pernah mereka bayangkan sama sekali; dan kali ini sengaja datang menjenguk dengan segala harapan agar ibu dan ayahnya kembali ke dunia luar, dunia ramai yang dulu melahirkan dan memelihara mereka, dan kemudian membuang mereka karena mempertahankan cinta yang mela­hirkan si gagu ke dunia ini.

Si gagu -- dalam angan-angan semberono perempuan tua itu, pada siang yang gersang dan berbau busuk air kali hitam -- sedang memperlihatkan kemampuannya mewarisi semangat dan kemampuan keluarga ibu dan ayahnya, dan ingin mengucapkan terima kasih dengan membahagiakan ibu dan ayahnya yang telah merelakan diri terasing dari kehidupan demi mempertahankan hadirnya sebuah kehidupan untuk dijalaninya sebagai si gagu, yang tak terurus pada masa kecilnya di rumah di ujung lorong, yang kini telah terkurung oleh pabrik dan perumahan mewah itu.

Benar-benar banyak cara orang putus asa melarikan diri dari kenyataan hidup yang sebenarnya -- karena ketidakpuasan ataupun karena ketakutan untuk menjalaninya berlama-lama dalam kesendir­ian kesadaran yang menggelisahkan. Namun tak pernah perempuan itu sangat merasa mengada-ngada seperti pada siang itu -- bahwa tak lama lagi anaknya yang gagu itu akan kembali kepadanya dan mener­iakkan satu kata yang paling berharga dan sangat ingin didengarn­ya sejak lama, "Ibu, saya pulang!...".*****



S E L E S A I