Wednesday, June 21, 2006

Danau Terbakar (3)

Dengar jerit anjing dan seruling bergegas di bukit pohon mangga.
Rimbunan bambu terjamah angin dan gemetar burung.

Saat si anak menghirup kemurnian usia menebar raib di kakinya.

Bila seseorang tiba-tiba tumbang di keramaian itu.
Sampah-sampah lunak menyisihkannya ke sudut pantai.
Terapung malam-malam di antara gerumbul putri malu.
Wajahnya kaku berwarna-warni pelangi terjauh.

Dan membentangkan selat hitam membelah danau terbakar itu.

Di tanjung kanan orang-orang pergi membakar diri dalam lengang ombak.
Di tanjung kiri menjelma tubuh-tubuh mati tanpa mata.

Lalu danau pun tiba-tiba menyala pada pagi lain.

(94)

Danau Terbakar (2)

Danau membentang tak mempercayai keluasan kata-kata.

Ia meremuknya dalam lentur dan terang kedalaman.

Ketika api menyala di antara nyanyian dan khotbah.

Lonceng gereja berdentang dari hulu sungai tuba.

Arus-arus terdalam dan akar bukit saling mengasah ingin.

Orang-orang berlomba mendirikan altar di lantai danau.

Persembahan suci untuk kelahiran kembali.

Bersama ayah dan ibu bangkit dari bunga-bunga.

Tapi si anak terjaga seperti perahu lama ditambatkan.

Ke mana ia mengusung keraguan membebani anjungan.

Dari mana ia mencari orang-orang tertinggal di buritan.

Sementara tubuh danau terbakar perlahan di sela-sela suara.

Ketika rahasia-rahasia menjelma riak-riak cahaya.

Dan orang-orang mengukur bahagia di lubuk air mata.

(94)

Bambu

Cerpen Arie MP Tamba

Tak ada yang bisa menjelaskan, mengapa Ibu meneriakkan kata-kata yang mengerikan itu. Bahwa aku tidak dilahirkan olehnya. Bahwa aku dilahirkan oleh serumpun bambu betina di belakang rumah. Di hutan bambu yang mengelilingi kampung itu, memang ada serumpun bambu yang tak henti-hentinya melahirkan tunas baru sepanjang tahun. Tapi, bagaimana mungkin serumpun bambu yang tubisnya gatal itu adalah ibuku, atau ayahku?

Kubayangkan, selanjutnya hidupku tidak lagi berhubungan dengan hari-hari kemarin. Aku tidak lagi salah seorang dari rombongan teman-temanku yang selalu mengitari kampung dengan permainan. Aku tidak lagi sebagai kanak-kanak yang kepalanya harus ditulisi setiap hari oleh ilmu hidup di sekolah dan di tengah keluarga dan teman-teman. Aku kini hanya sebagai sebatang bambu kecil, yang hidup bebas di tengah alam hutan bambu itu. Sebatang bambu yang pernah secara kebetulan memiliki sebuah kemaluan dengan sepasar pelernya, sepasang kaki, sepasang tangan, sebuah kepala, sepasang telinga, sepasang mata. Aku hanya sebatang bambu, setinggi satu meter, dengan tangkai-tangkai yang ditumbuhi daun-daun sedang mekar di atas kepala, di punggung, di dada, di perut, dan di sepanjang lututku.

Maka, bila dulu aku tak pernah takut lagi kepada angin yang sering berkelebat di lembah di luar kampung; kini aku paling takut berada dekat angin itu. Sebab sejak kata-kata ibu memutuskan nasibku dari masa lalu sebagai keluarga manusia yang dapat menahan tubuhnya dari sedotan angin, kini aku hanyalah sebatang bambu yang bertiang kurus dan ringan, yang akan dengan mudah diterbangkan angin ke mana saja bila tak mengakar secara kuat. Dan karena lembah di luar kampung sejak duluy menakutkanku, maka aku paling khawatir mmebayangkan, bila suatu ketika angin itu berhasil menyergapku lalu menerbangkan ke lembah gelap itu.

Begitulah, kusebut saja diriku dan namaku sekarang ini adalah Bambu. Bambu hijau yang baru saja belajar memelihara daun-daunnya dari tangan-tangan bocah yang sering menebaskan golok mereka melukaiku. Bambu hijau yang melewati perjalanan waktu yang rasanya be rgerak sangat lambat dan membosankan. Sedikit sekali perubahan dan kejadian penting di tengah kehidupan bambu. Sampai suatu hari, dengan terkejut aku menatap ke arah sebatang bambu sepertiku, yang tampak berusaha melepaskan dirinya dari belitan rimbunan daun-daun bambu di serumpun bambu betina yang dikatakan sebagai ibuku itu.

Bambu kecil. Bambu kecil seeprtiku, beberapa waktu lewat. Aku mengamatinya dengan rasa ingin tahu. Memandang mulutnya yang menganga, dengan sedesis suara melesat ringan seolah baru saja diletupkan di perutnya, lalu merayap ke tenggorokannya, dan kini menyeruak ke tengah siang di antara bambu-bambu yang sedang terayun-ayun oleh angin kencang di tengah hutan bambu itu. ''Maaakh....''

Bambu kecil itu meneriakkan panggilan ke arah bambu yang perlahan-lahan melepaskan belitannya, bambu yang dikatakan juga sebagai ibuku itu. Lalu bambu kecil itu, dengan desauan khasnya yang melengking, menyenggolkan daun-daunnya ke arah daun-daun ibuku.

Hingga telingaku yang tak pernah terlihat langsung olehku, kemudian mendengar bisikan-bisikan lembut ibuku dan bambu kecil itu. Tubuh dan suara mereka saling menjalin, kemudian seakan mengapung di antara goyangan gelombang angin tak berkesudahan.

Lalu, di antara sorak-sorai bambu-bambu dan daun-daunnya yang dipermainkan angin, tampak bambu yang dikatakan sebagai ibuku itu kemudian mengitari hutan bambu di belakang kampung itu. Ibuku menggandeng tangan bambu kecil itu. Keduanya ikut bergoyang lincah digoyang angin. Lalu terlihat kemudian, bagaimana jari-jari ibuku yang besar memegang jemari tangan lentik si bambu kecil itu. Ibuku juga terkadang menciumi jemari kecil itu.

Dan saat bibir ibuku menyentuh kulit tangan yang mungil dan halus itu, tampak napas ibuku berdesau gembira dari hidungnya; meneriakkan kebahagiaan sebatang bambu tua yang masih memperoleh keberuntungan dalam hidupnya. Begitulah tafsiran khas serumpun bambu yang tiba-tiba saja bergoyang gelisah karena tertiup angin kencang di belakangku.

Sebagai bambu, aku tidak tahu secara pasti apa saja yang mau disampaikan desau bambu kecil itu; atau aku memang tak pernah terbiasa. Yang jelas, kini, di mana pun dan ke arah mana pun aku mengarahkan telinga, aku selalu mendengar desauan si bambu kecil. Aku selalu dapat mendengar lengkingannya. Sejarah apapun aku berjarak dari rumpun-rumpun bambu keluargaku itu, desauan bambu kecil yang kini sering dikatakan sebagai adikku itu, selalu terdengar di empat penjuru angin. Sementara, aku pun tak bisa melepaskan pandangan dan keingintahuanku dari setiap kehadirannya di sekitarku.

Kadang-kadang bambu kecil itu menyelipkan tubuhnya di antara bambu-bambu dewasa, agar ia lebih dapat memperdengarkan desauannya yang khas. Hingga bambu-bambu di sekitarnya, dapat lebih lama lagi mendengarkan desauannya. Dan kadang dia sendiri ternyata asyik pula mendengarkan desauannya sendiri. Itulah si bambu kecil yang tingginya kini telah menyusulku. Itulah si bambu kecil yng kerimbunan daun-daunnya kini menyamaiku. Namun tetap saja dia memiliki sesuatu yang berbeda, yakni desauan khas miliknya sendiri. Desauan berupa lengkingan yang pasti terbawa angin sampai ke lembah-lembah di sekitar hutan bambu dan perkampungan itu.

Dan si bambu kecil, tak henti-hentinya memuaskan diri dengan keinginan menonjolkan kekhasannya. Dia ingin semua bambu mengetahui desauannya yang berbeda dari bambu-bambu manapun. Dia ingin semua bambu terpesona, menikmatinya, dan mengenangkan sekaligus membicarakannya kapan pun. Itulah yang terjadi. Itulah yang berlangsung sepanjang waktu aku mengetahui keberadaan si bambu kecil, yang kini dikatakan juga berbentuk rampung dan lincah mengikuti rabaan angin.

Dan tentu saja, si bambu kecil bersuara khas itu selalu bersama ibuku, dan dia kini memiliki bermacam-macam rerumputan yang selalu menghiasi tangkai dan daun-daunnya yang hijau segar. Burung-burung meninggalkan daun-daun itu sebagai oleh-oleh dari petualangan mereka; atau bermacam unggas malam sengaja menitipkannya sebagai kenangan. Begitulah cerita-cerita yang semakin sering kudengar ditiupkan angin yang bergoyang-goyang gelisah di antara rimbunan bambu di sekitarku. Hingga, bambu kecil itu memang semakin banyak menyita perhatian bambu yang dikatakan ibuku dan juga bambu-bambu di hutan bambu itu.

Maka, suatu hari aku pun memandang kasihan kepada diriku sendiri yang berdiri limbung di tengah siang, di antara semilir angin dan suara-suara percakapan bambu-bambu dan waktu yang berluruhan, berupa daun-daun kering yang kemudian terinjak seseorang di kaki-kaki bambu-bambu yang menghampar di sekitarku. Sementara bambu kecil itu melilitkan dirinya dengan bambu yang dikatakan ibuku. Seolah pengetahuan dan keberadaannya hanyalah berada bersama ibuku. Dan itu adalah kenikmatan yang menggetarkan baginya; terlebih saat ia mendesaukan suaranya yang khas, ''Maaakh....''

Lalu dia pun mengulurkan jemari tanggannya yang mungil dan gemetar, menggerayangi wajah dan tubuh ibuku! Tatapannya berbinar di antara daun-daun hijau yang melambai-lambai mengalingi wajahnya dari tatapanku. Bambu kecil itu mulai melata dan berani melepaskan lilitan ibuku dari tubuhnya. Bambu kecil itu kemudian bersorak gembira ketika ia mampu berdiri kokoh menentang deru dan hempasan angin yang menerpa wajah dan tubuhnya. Sementara, ia tetap mendesaukan suaranya yang memiliki lengkingan tinggi yang khas.

Barangkali ia merasakan dirinya telah semakin membesar dan meninggi. Memiliki sepasang mata, sepasang kaki, sepasang telinga, sebuah kemaluan yang terbelah, sepasang tangan yang bergerak gemulai, di antara tebaran suara-suara gelisah dan gembira ke sekitar, sementara ia menahan napas sejenak, lalu melepaskannya, hingga desauannya kemudian berkejaran dan bertemu dengan desauan gembira bambu besar yang dikatakan ibuku itu. Hingga, seharian keduanya bergoyang-goyang gembira di antara derit serombongan angin yang kelihatannya keletihan, setelah melalui perjalanan yang jauh, kini harus menggoyang-goyangkan rimbunan bambu maha luas di tempat itu.

Dan dalam sebuah keheningan malam, di antara hempasan tidur yang melenakan kesadaranku dari gemerisik di sekitar, di antara angin yang masih berderit lirih, aku pun membayangkan sesuatu yang tak terkatakan, yang hanya dapat kukenali dari gerak desauannya yang khas. Bambu kecil itu agaknya sedang meneliti ibuku dengan cara baru. Ini sungguh mengherankan bagiku. Karena sudah berminggu-minggu bambu kecil itu lebih senang tanpa tangan atau tubuh siapa pun meliliti dirinya.

''Mengapa ia meliliti ibuku dan masih mendesau selarut ini?''

Aku tak tahan lagi dengan pertanyaan-pertanyaan berikutnya, dan segera membuka mata dalam kegelapan. Aku menyisihkan sayap-sayap unggas malam yang menghalangi pandanganku dari si bambu kecil. Dan dalam pekatnya malam, aku kemudian mampu menampak sosok si bambu kecil yang bergoyang ditiup angin itu semakin membesar, meninggi, dan merimbun. Si bambu kecil juga menggeliat-geliat sambil mencoba mengitarkan tatapannya. Kelihatannya si bambu kecil ingin memastikan suatu kondisi aman bagi rencananya. Entah apa rencana itu.

Dan aku pun kini menampak adegan biasa, seperti dulu, ketika si bambu kecil lebih merasa aman melalui hempasan angin malam berada di antara lilitan bambu yang dikatakan ibuku itu. Si bambu kecil merebahkan diri ke dalam pelukan bambu besar yang dikatakan ibuku. Lalu keduanya saling melilit dengan beringas. Dan aku sungguh terkejut. Bahwa si bambu yang dikatakan sebagai ibuku itu, ternyata sudah menunggu kedatangan si bambu kecil ke dalam lilitannya.

Kepalaku kemudian seperti dihinggapi puluhan unggas malam yang meronta-ronta di tempatnya berdiri. Ranting dan daun-daunku bergetar gelisah oleh sebuah pemandangan aneh yang menakutkan. Si bambu kecil kini melilit dan dililiti ibuku sekaan keduanya adalah bambu-bambu berlawan jenis yang meronta-ronta gembira dipermainkan angin malam yang menghempaskan dingin dan keheningan. Lalu desauan khas si bambu kecil pun kembali terdengar berupa lengkingan dan erangan.

Bambu kecil itu. Bambu kecil itu. Aku tak tahu bagaimana bambu-bambu menghindarkan tatapan mereka dari sebuah pemandangan yang tak mengenakkan keberadaan bambu kecil itu dan bambu yang dikatakan ibuku. Aku tak tahu apakah aku harus membiarkan unggas-unggas malam terus merubungi diriku hingga tatapanku tertahan oleh pekat malam, atau aku mengikuti angin menggoyangkan tubuhku hingga unggas-unggas itu beterbangan dengan kepak mereka, meninggalkan aku sendirian dengan keberadaan dan tatapan nyalang yang menyiksa.

Sementara si bambu kecil dan si bambu yang dikatakan ibuku masih terus jalin-menjalin seperti ular-ular yang terkadang meliliti tubuh kami; hingga kami merasa jijik ketika sisik-sisik ular itu melengketi kulit luar kami.

Aku tak bisa lagi menghalau kegalauan dari keberadaanku. Aku menjadi bambu yang gelisah mengikutkan hempasan angin yang terus menggoyang, menggoyang, mendesau, mendesau, namun tak bisa menghilangkan desauan si bambu kecil yang khas, seakan melengking, mengerang, tak berkesudahan.

Hingga aku tersadar keesokan harinya, dengan sekujur batang, ranting dan daun-daun terasa penat ketika merasakan terpaan sinar matahari yang panas pagi hari. Aku pun segera mencari-cari si bambu kecil dan si bambu yang dikatakan ibuku itu. Selama beberapa saat aku tak menemukan mereka. Keduanya benar-benar tak kelihatan. Padahal tak ada seekor unggas pun yang mengalingi pandanganku.

''Kapan bambu lainnya kita tebang?'' terdenar suara seorang anak di kakiku. Aku menunduk dan memandangi serombongan anak yang kelihatannya sengaja bermain di hutan bambu itu. Beberapa anak terus menengadah dan memapas-mapaskan goloknya ke arah bambu-bambu di dekat mereka.

''Hm, bambu-bambu ini sebaiknya memang kita tebang semua. Belakangan sering jadi sarang ular!'' kata seorang anak seraya mulai membacok penuh nafsu.

Beberapa bambu dan aku bergoyang gelisah dan mendesau-desau resah, karena sudah membayangkan sakitnya akan ditebang. Sementara, si bambu kecil dan si bambu yang dikatakan ibuku, tampak sudah tergolek mati di antara kaki-kaki bocah-bocah itu.

Lalu seorang bocah tampak gembira meraih bambu kecil itu. ''Bambu ini memang kecil, tapi rongganya bagus. Kita bikin seruling, suaranya pasti melengking!'' katanya.

Ah, si bambu kecil itu. Dalam matinya pun, ia akan memperdengarkan suaranya yang khas!