Monday, October 16, 2006

Bertakbirlah Para Penyair

Atas nama para penyair,/ yang dengan puisi berjuang menerangi gua ruhani,/ yang dalam jiwanya berkobar 6666 matahari,/ Aku sujud ke haribaanMu duhai Yang Mahaapi. (Sitok Srengenge, Takbir Para Penyair)

Ada yang berbeda pada malam Tadarus Puisi 1427 di TIM, 6 Oktober 2006 lalu. Bila tahun-tahun sebelumnya tadarusan diisi pembacaan puisi-puisi religius penyair Muslim, maka kali ini tampil di atas pentas para penyair dengan latar belakang agama beragam, seperti Saut Situmorang (Protestan), Joko Pinurbo (Katolik), Ida Ayu Oka Suwati Sideman (Hindu), dan Sitok Srengenge (Islam). “Lintas iman”, begitulah panitia menggarisbawahi keberbagaian latar belakang agama tersebut. Sebuah upaya untuk lebih memperluas ruang apresiasi bagi puisi-puisi religius, sekaligus menunjukkan betapa tak bertepinya pemaknaan religiusitas yang dapat diwadahi oleh puisi.

“Saya sendiri tak begitu pasti mana puisi yang religius, namun puisi-puisi saya semuanya religius,” begitulah pengantar Joko Pinurbo memulai pembacaan sebagai penampil kedua. Joko mencoba mencairkan istilah “lintas agama” yang dijadikan panitia melegitimasi acara, sebagai klaim yang boleh jadi tidak perlu ditegas-tegaskan. Sebab, bagi Joko, yang menjadi fokus adalah malam pertunjukan pembacaan puisi, dengan kekuatan sastra yang mampu ditawarkannya.

Pada pembacaan pertama, Joko membawakan Penumpang Terakhir. Sebuah puisi bertema kemanusiaan yang kompleks, antropologis, sosiologis, sekaligus religius. Tentang aku lirik yang memiliki kebiasaan mudik dan menumpangi becak langganannya. Setiap pulang kampung, aku selalu menemui abang becak/yang suka mangkal di bawah pohon beringin itu/dan memintanya mengantarku ke tempat-tempat/yang aku suka. Entah mengapa aku sering kangen/dengan becaknya. Mungkin karena genjotannya enak,/lancar pula lajunya.

Malam itu, aku lirik minta diantarkan ke kuburan, karena ingin menabur kembang di makam nenek moyang. Di pertengahan jalan, si aku lirik kasihan melihat tukang becak tua yang sudah mengayuh kepayahan. Si aku lirik pun meminta si tukang becak menjadi penumpang, dan si aku liriklah yang mendayung becak.

Sampai di kuburan aku berseru bangun dong, Pak,/tapi tuan penumpang diam saja, malah makin pulas/tidurnya. Aku tak tahu apakah bunga yang kubawa akan/kutaburkan di atas makam nenekmoyangku/atau di atas jenazah bang becak yang kesepian itu.

Malam itu, aku lirik menjadi penumpang terakhir bagi tukang becak, dan si tukang becak menjadi penumpang pertama sekaligus terakhir bagi aku lirik. Dan puisi ditutup dengan kemungkinan terbuka, si tukang becak boleh jadi meninggal dunia karena kelelahan, atau tertidur pulas di atas joknya. Yang pasti, tersuguh sebuah peristiwa rekaan sarat ironi, dengan kemungkinan kekayaan makna saling bersimpangan.

Siapa menjadi pendayung, siapa penumpang terakhir, untuk siapa bunga kematian ditaburkan, itulah persoalan hidup sehari-hari. Gonta-ganti peran antarmanusia, tak selamanya mudah dirunut. Hari ini menjadi tuan, besok menjadi jongos, hari ini selamat, besok dikuburkan. Tak mudah dilacak, seperti remangnya kehidupan itu sendiri.

Sarkasme atas psikologi banal

Dan seperti biasa, puisi Joko selalu membuka luas ruang cerita, dengan bentuk prosa yang sengaja dipenggal ke dalam bait-bait bebas yang lebih tepat disebut alinea. Hingga, aku lirik dalam puisi-puisi Joko pun sering lebih layak disebutkan sebagai narator. “Ini baru puisi religius,” kata Joko tersenyum, ketika memulai pembacaan puisi keduanya Sehabis Sembahyang.

Aku datang menghadapmu dalam doa sujudku.

Terima kasih atas segala pemberianmu,

mohon lagi kemurahanmu: sekadar mobil baru

yang lembut dan lebih kencang lajunya

agar aku bisa lebih cepat mencapaimu.

Sarkasme pada diri sendiri dan psikologi yang banal, adalah santapan puitik yang ditawarkan Joko. Benturan posisi doa yang penuh takluk, dibiarkan berdampingan dengan ejekan ironik terhadap watak loba. Kenyataan batin yang sukar disangkal dan dipungkiri kemungkinannya, dengan kata-kata tersusun sedemikian ketat berreferensi keseharian. Dengan jeli, Joko memilah-milah kenyataan dan mempertautkannya sebagai renungan yang sukar ditolak

Dan Joko belum berhenti, Sementara aku masuk ke rumahmu, kau malah/pergi ke kantor pos kecamatan,/mengambil jatah santunan seatus ribu./Berbekal kartu tanda miskin, kau rela antri/berjam-jam hingga bajumu yang masih baru/langsung luntur oleh cucuran peluhmu.

Berlanjut ke dua alinea berikutnya, tentang aku lirik yang menemukan Tuhan telah mengalami personalisasi sebagai fakis yang mendapatkan santunan, sempat menangis dan pingsan, lalu memperoleh jatahnya – namun kemudian dirampas aku lirik yang bersembahyang dalam puisi ini. Kekejaman manusia berlangsung kronologis, dengan penyerahan diri ke dalam doa dan kemasabodohan atas nasib orang lain.

Gugatan pada makna doa dan seperti apa manusia memaknainya, menjadi persoalan yang menyayat perasaan dan dihadirkan Joko. Seperti apa pencapaian bentuk dan isi puisi tak begitu penting lagi dipersoalkan, ketika persoalan yang dibawanya telah demikian menikam kesadaran. Ironi dan sarkasme, menjelujur tak habis-habisnya.

Berbeda dengan puisi-puisi Saut Situmorang sebagai penampil pertama, yang membawa serapah dan raungan. Saut mengangkat ziarah incest sebagai ziarah kreatif dan filosofis ke kebudayaan leluhur. Menghadapi langsung mitologi incest sebagai awal mula kehidupan suku, yang dulu mendera dan menimbulkan keterbatasan personifikasi, Saut sengaja kembali dan juga melepaskan diri. Hingga aku lirik menemukan dirinya: Aku lebih tinggi dari takdir, lebih kuasa dari/Yang Paling Kuasa/tiga benua/tiga raja penguasa/tiga warna keramat mulia/lebur dalam diriKu/jadi Aku!

Penyair yang pernah hidup 11 tahun di Selandia Baru ini secara unik meneriakkan puisi-puisi yang bagi saya lebih memaksimalisasikan antropologi Batak sebagai bahan kreatif, ketimbang perjalanan perantauan yang pernah memperkaya Sitor Situmorang. Barangkali, Saut Situmorang dengan sadar memang menghindari takdir Sitor Situmorang, Si Anak Hilang. Karena Saut menemukan hidup kreatif dalam tenaga serapah, penghujatan kritis terhadap kebudayaan leluhurnya. Tentu saja, dengan personifikasi baru: aku lirik dengan kemungkinan transendensi linguistik yang disengaja berlapis-lapis. mampuslah kau! Aku ambil kembali semua warisanKu! Dari rahimmu yang mandul kembali/dan lihatlah! Aku manortor sendiri mengejek langit dan bumi/suara gondangKu gemuruh menampar matahari terbakar.

Ida Ayu Oka Sudawati Sideman, menjadi penampil ketiga yang menurut saya agak dipaksakan panitia di antara para penyair “jantan” malam itu. Dengan puisi Sinta, Sideman seperti mengetahui bahwa ruang dan waktu pembacaan malam itu tidak begitu tepat baginya. Ia pun hanya membacakan Sinta, dan membiarkan pentas dikelebati tebaran kata-kata dengan gaya khas ketiga penyair Indonesia terbaik saat ini. Dan yang terakhir, tentu saja Sitok Srengenge, seorang penyair yang tak memerlukan lagi kata-kata pengantar ataupun ulasan panjang lebar tentang puisi-puisinya.

Osmosa Asal Mula adalah puisi Sitok yang menurut saya termasuk sebuah puisi Indonesia terbaik saat ini. Memperagakan permainan sampiran dan isi yang terus melebar dan berlanjut dengan sebuah ide yang pada satu bait menjadi penutup namun pembuka pada bait berikutnya, hingga penulisan puisi Osmosa Asal Mula keseluruhan sebenarnya bersifat melingkar, mengisyaratkan kebulatan hidup, sebagai wujud kesempurnaan ciptaan dan Sang Pencipta. Meski terdapat beragam pertanyaan yang tak pernah selesai, di dalam bulatan tersebut.

Aku bertanya kepada angin/Dari mana asalnya angin/Angin menggoyangkan pucuk-pucuk daun/Dan kesaksian pohon-pohon melukis lingkaran tahun //Aku bertanya kepada pohon/Darimana datangnya waktu/Pohon merekahkan kelopak bunga/Dan kusaksikan lebah hingga menghisap madu… dst.

Patut dicatat, kesadaran Sitok membacakan puisi Takbir Para Penyair yang terkenal itu dari balik panggung, ketika panggung diisi tiga penari Darwis menunjukkan keterampilannya. Tarian Darwis adalah sebuah tarian sufistik yang dipoluperkan oleh Rumi pada abad ke-13. Rumi dan para pengikutnya memuja Tuhan dengan tarian berputar, simbolisasi memutari sebuah kutub, menambah kekhusyukan sekaligus menandaskan ketaklukan. Malam itu, di antara suara Sitok yang lantang, para penari Darwis terus berputar:

Dan kami yang naif ini

beranikan diri mematik letik api

gagu menggugah madah debu

digetar rasa ingin sembahyang kepadaMU

Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 15 Oktober 2006

Tuesday, October 10, 2006

Perjalanan Berbahaya ke Kandahar


Bermaksud menyelamatkan saudarinya yang mau bunuh diri karena putus asa, seorang wartawati dari Kanada berusaha menyelusup ke Afghanistan.

Kandahar adalah karya istimewa Mohsen Makhmalbaf, sutradara Iran terkenal, yang segera mendapatkan berbagai penghargaan internasional ketika disertakan di beberapa festival perfilman bergengsi lima tahun lalu. Kandahar, itulah kota di bagian utara Afghanistan yang menjadi tujuan Nafas, seorang wartawati keturunan Afghanistan yang sudah berhasil meninggalkan Afghanistan dan menetap di Kanada. Nafas ingin kembali ke Afghanistan, untuk menyelamatkan saudarinya yang mau bunuh diri. Kabar itu didapatnya melalui surat yang dikirimkan tiga bulan sebelumnya. Dari tangan ke tangan, surat itu sampai ke tangan Nafas dua bulan kemudian. Nafas hanya memiliki batas waktu sebulan untuk menyelamatkan saudarinya tersebut.

Masalah menghadang. Nafas adalah seorang jurnalis yang banyak terlibat dalam gerakan swadaya masyarakat memperjuangkan nasib wanita di Iran, Pakitas, Kazakhstan, Turkmenistan, hingga kesulitan mendapatkan visa kunjungan ke Afghanistan. Untuk itulah ia menumpang sebuah helikopter yang menerbangkannya ke gurun pasir di bagian utara Iran. Dari sana, melalui perjalanan darat, ia akan menuju Kandahar. Sebuah jalan pintas yang diharapkannya dapat ditempuhnya agar ia sempat menolong saudarinya.

Selama dalam perjalanan, Nafas merekam peristiwa dan pengalaman yang dilaluinya ke dalam taperecorder. “Ini black box saya. Yang akan dapat menceritakan apa yang sudah saya lalui, bila sesuatu terjadi pada saya,” kata Nafas kepada pilot helikopter yang menerbangkannya.

Nafas kemudian mendapatkan sebuah keluarga keturunan Mongol yang mau dikembalikan pemerintah Iran ke Afghanistan. Nafas diizinkan ikut rombongan itu dengan membayar 200 dolar, harus mengenakan burga, dan menyamar sebagai istri keempat si pria Mongol. Masa itu pemerintah Iran berusaha mengembalikan para pengungsi yang datang dari Afghanistan dan telah merepotkan Iran. Dengan bantuan PBB, pemerintah Iran mengembalikan setiap pengungsi Afghanistan, dengan bekal 1 dolar per orang.

Nafas tentu saja tidak menerima 1 dolar jatahnya, malah ia membayar kepada si pria Mongol yang menjadi kepala rombongan itu. Mereka menuju Kandahar dengan menumpang sebuah bajay. Si pria Mongol dengan tiga istrinya, lima putrinya, ditambah Nafas. Dan nasib sial menimpa. Sopir bajay bersama keneknya membajak mereka di tengah jalan. Harta benda mereka dirampas, dan mereka ditinggalkan begitu saja di tengah gurun pasir.

Kemudian, dengan menumpang pedati yang lewat dari tempat itu, si kepala rombongan kemudian membawa keluarganya kembali ke Iran, meninggalkan Nafas sendirian. Nafas pun melanjutkan perjalanan ke desa terdekat. Kali ini, Nafas berkenalan dan mendapatkan bantuan dari seorang anak bernama Khak. Khak pandai mengaji hanya dengan menirukan bunyi, tanpa bisa membaca. Kemampuannya ini dipergoki Mullah, guru mengaji mereka, hingga Khak dikeluarkan. Tempatnya digantikan anak lain yang sudah antri mendapatkan pendidikan agama dan pelatihan militer gratis dari pemerintah Iran.

Khak pun menjadi seorang pembaca doa di kuburan dan bertemu Nafas. “Mari saya nyanyikan doa penguburanmu,” katanya kepada Nafas.

“Saya masih hidup,” kata Nafas, “untuk apa didoakan seperti orang mati?”

“Tidak ada salahnya mempersiapkan doa sebelum mati,” kata Khak bertahan.

Nafas tak bisa menghindari Khak, karena ia perlu bantuannya untuk memandunya ke Kandahar. Khak bersedia bila dibayar 50 dolar. Nafas pun ditemani Khak dalam perjalanan darat melintasi gurun pasir. Di tengah jalan, mereka kehausan, dan Khak memberikan air dari sebuah sumur untuk Nafas. Ini membuat Nafas sakit perut dan kemudian dibawa Khak ke seorang mantri desa kecil di tengah gurun pasir.

Menemukan Tuhan dengan menolong sesama

Mengejutkan bagi Nafas, si mantri desa yang berusaha mengobatinya ternyata bisa berbahasa Inggris, dan lebih mengejutkan lagi, ia ternyata seorang negro beragama Islam dari Amerika Serikat. “Apa yang kamu cari di sini?” tanya Nafas.

“Tuhan,” kata Talib Bin Sahib, nama baru si mantri negro yang menyamar sebagai orang Iran itu. “Ketika tentara Amerika datang ke Afghanistan, kami membawa nama Tuhan. Ketika Rusia kemudian datang, tentara mereka juga berjuang atas nama Tuhan. Dan tentaran Afghanistan juga berjuang atas nama Tuhan. Saya frustrasi dan kecewa. Sampai suatu kali, saya menolong seorang anak yang terkena ranjau darat. Saya pun mengerti bagaimana caranya menemukan Tuhan, yakni dengan menolong orang lain.”

Nafas tak bisa menutupi kekagumannya kepada Talib, apalagi Talib kemudian menawarkan bantuan setelah mengetahui tujuannya menyeberang ke Kandahar.

“Waktu saya semakin sempit, saya harus segera sampai agar sempat menyelamatkan saudari saya,” kata Nafas.

Talib membawa Nafas ke sebuah perkemahan Palang Merah Internasional. Di sana banyak orang cacat tanpa kaki karena korban ranjau darat yang bertebaran di permukaan gurun pasir Iran dan Afghanistan. Palang Merah Internasional setiap kali menurunkan kaki-kaki palsu dengan helikopter, dan tampaklah orang-orang cacat itu mengejar kaki-kaki palsu yang melayang jatuh dengan parasut kecil.

Mohsen Makhmalbaf dengan jeli menyuguhkan adegan-adegan yang mampu menggugah emosi, kemanusiaan, rasa keadilan, khususnya lagi ketidakpuasan atas perang yang hanya mengakibatkan penderitaan. Lihatlah puluhan laki-laki Iran dan Afghanistan yang cacat dan berusaha mengejar kaki-kaki palsu yang diterjunkan helikopter itu. Tanpa diteriakkan, tampaklah sebuah pemandangan simbolik yang mengiris perasaan, menghamparkan kekejaman ranjau darat yang memusnahkan kaki-kaki manusia tak bersalah, yang tak selalu berkaitan dengan perang, arah politik, ataupun kebenaran Tuhan.

Sebab, bagi Makhmalbaf, di mana Tuhan berada, kepada siapa Tuhan berpihak, sudah menjadi relatif ketika ia hanya dijadikan pembenaran melakukan suatu pembunuhan. Namun begitu berbeda, ketika Tuhan dijadikan alasan menolong sesama, seperti yang dilakukan Talib Bin Sahib. Ia meninggalkan negaranya, pasukannya, untuk tinggal di desa Iran dan menolong masyarakat kecil.

“Saya bukan dokter, tapi manusia tak selalu menjadi korban penyakit rumit. Banyak yang hanya karena ketidaktahuan, tak bisa mengatasi deman, flu, sakit perut, disentri, atau keracunan makanan. Untuk penyakit sederhana ini, saya mengetahui pengobatannya. Jadi, saya mampu menolong orang lain. Itu sudah cukup,” begitulah si pria negro Talib, menjelaskan kepada Nafas.

Selanjutnya Nafas ditolong seorang Afghanistan yang bersedia dibayar dua ratus dolar untuk menemaninya ke Kandahar. Si pria Afghanistan membantu Nafas dengan menyaru sebagai keluarga pengantin yang berjalan berombongan menuju Kandahar. Namun di pintu masuk Kandahar, mereka dicegat patroli, dan tidak berhasil meloloskan diri. Nafas pun ditangkap dan dipenjara di Afghanistan. Dari mana taperecordernya kemudian menjadi bahan cerita untuk film ini. Itulah logika fiksinya.

Namun yang tetap bergaung adalah, betapa rasa kemanusiaan ternyata menjelujur ai antara manusia, lintas bangsa, lintas negara, dan tidak meributkan atas nama Tuhan yang mana seseorang berjuang. Nafas hanya ingin membantu saudarinya yang merasa putus asa karena pemerintah Afghanistan yang represif terhadap perempuan, begitu pun Talib hanya ingin membantu siapa saja yang mengalami penyakit sederhana dengan cara sederhana pula.

Dengan latar belakang lanskap gurun pasir yang panas, angin melambai-lambai menggoyang burga dan jubah, digambarkanlah sekelompok manusia padang pasir hidup dengan masalah mereka, dan berusaha mengatasinya. Akal dan keberanian, menjadi modal penting mereka untuk melanjutkan hidup yang paling sederhana sekalipun!

Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 14 Oktober 2006

Leila, Luka Eksistensial Perempuan

Tradisi mengharuskan seorang suami memperoleh keturunan dari istrinya. Bila itu tidak berhasil, tradisi mendukung suami mendapatkannya dari istri yang lain.

Apa yang salah dengan poligami? Mengapa orang tertentu mendukungnya, dan orang lain menolaknya? Lalu, apa pula tujuan berumah tangga? Semata-mata melanjutkan keturunankah, atau cukup dengan membahagiakan mereka yang melakoninya? Berdua sampai tua, bila tidak ada atau malah tidak membutuhkan keturunan? Mengapa pula seorang ibu (dan mertua) demikian berperan mengatur rumah tangga anak-anaknya?

Dengan tempo lambat namun enak disimak, Dariush Mehrjui mengurai filmnya Leila dengan bayang-bayang berbagai pertanyaan di atas. Beberapa jawaban dan kemungkinan sempat ditawarkan Dariush atas beberapa persoalan. Namun secara keseluruhan, para tokoh menjalani kehidupannya secara wajar, tanpa dicekoki ide-ide besar Dariush.

Tersebutlah Leila, putri sebuah keluarga modern Iran, yang diperkenalkan kepada Reza, teman kakaknya Hossein. Dari perkenalan ini, orangtua Leila memutuskan akan menikahkah Leila dengan Reza. Dan Leila setuju.

Pernikahan mereka berlangsung bahagia. Paling tidak ini diperlihatkan gambar-gambar, bagaimana keduanya menjalani keseharian dengan terbuka, mesra, saling memberikan perhatian. Reza terkadang membawakan hadiah-hadiah untuk Leila, di antaranya sebuah boneka binatang berekor panjang (marsupaliami), yang secara semiotik menunjukkan bahwa Iran tak terasing dari kemodernan. Marsupaliami adalah sebuah tokoh komik Hollywood yang laris dan dikenal di seluruh dunia.

Leila dan Reza juga terkadang mengisi malam mereka dengan menonton video, dan yang kebetulan mereka tonton dalam film adalah Dr Zhivago yang diperankan oleh Omar Shariff. Artinya, kehidupan mereka memang aman-aman saja, meskipun belum dikaruniai anak.

Anak. Itulah pangkal persoalan yang menunjukkan, bagaimana seorang individu di Iran adalah bagian dari keluarga sebelumnya, mengusung pula keinginan ayah-ibu. Dari hasil tes laboratoium, kandungan Leila dianggap kurang produktif untuk pembuahan. Untuk pembuahan di luar kandungan Reza tak setuju. Sementara, ibu Reza menginginkan cucu dari Reza, dan sangat keberatan bila tidak adanya keturunan Reza akan ditafsirkan sebagai kegagalan Reza memberikan keturunan. “Kami tak memiliki anggota keluarga yang tak mampu memberikan keturunan, semuanya normal,” kata Ibu Reza kepada Leila.

Ibu Reza pun meminta dan bahkan menekankan agar Leila mendukung Reza menikah lagi, agar mendapatkan keturunan langsung. Dukungan Leila akan sama saja dengan mempertahankan kemuliaannya sebagai istri yang mengerti kebutuhan dan kehormatan suami. Dan Leila sendiri tak ingin keluarganya mengetahui, bahwa rumah tangganya bergejolak karena ketidakmampuannya memberikan keturunan.

Dengan berat hati Leila menerima permintaan ibu mertuanya. Ia teramat mencintai Reza dan menghormati mertuanya. Itulah nilai-nilai keperempuanan yang dikenalnya, meskipun ia seorang perempuan Iran modern. Padahal Reza sudah berkali-kali menegaskan lebih menginginkan Leila daripada anak. Namun Leila memilih harus menahankan perihnya luka, ketika harus membantu Reza memilihkan istri kedua.

Tragis. Itulah yang disampaikan Dariush Mehrjui yang menyutradarai dan juga menulis skenario film ini. Diperagakan melalui perilaku para pelakon yang tenang, tidak banyak mengobral senyum maupun kata-kata, “anak” menyosok sebagai keturunan yang sangat didambakan sekaligus mencuatkan teror mental dalam keseharian Leila dan Reza.

Doa menawar takdir

Untuk itulah Leila rajin berdoa, salat tahajud, meminta kepada Tuhan agar ia diberikan kekuatan menghadapi cobaan. “Begitu banyak anak-anak di dunia, mengapa tak satu pun yang datang dari rahimku,” tanya Leila dalam satu doanya.

Lalu dalam dialog bersama Homeyra, adik Reza, yang memandang sedih kepada Leila, Leila berucap, “Tak ada yang perlu disesalkan. Mereka sudah menggariskan nasib di keningku sebelum saya lahir,” kata Leila lirih mempersoalan takdir yang tidak adil.

Dan tentu saja mengundang simpati luar biasa ketika garis hidup yang dijalani Leila adalah, bagaimana ia harus membantu Reza mencarikan istri kedua baginya. Mereka berangkat dalam satu mobil ke dalam kota, lalu Leila diturunkan di sebuah taman, dan bersembunyi di antara pepohonan atau di balik papan iklan, mengintai ke tikungan jalan. Dari tikungan itulah, setiap kali Reza akan muncul membawa calon istrinya, bersama calon mertuanya. Reza akan melambatkan mobil sehingga Leila dapat mengintai jelas ke arah calon “madunya”.

Dari beberapa orang gadis yang diperkenalkan, ada saja penolakan yang muncul dari Reza. Kalau bukan soal fisik, tata bahasa, minat yang tidak sama, juga keengganan meninggalkan Leila. Namun selama ini, Leila sendiri selalu mengatakan mendukung.

“Kali ini ia sudah tahu bahwa perkawinan tujuannya untuk mendapatkan keturunan,” cerita Reza tentang suatu calon kepada Leila.

“Gadis itu berkata, seorang anak tak mungkin didapatkan tanpa cinta. Dan mustahil seorang suami dapat membagi cinta secara adil kepada dua orang wanita dalam waktu bersamaan. Untuk itu saya meminta kamu menceraikan Leila. Begitulah permintaannya,” lanjut Reza.

“Kamu menjawab apa?” tanya Leila.

“Saya katakan, hal yang paling mustahil saya lakukan adalah menceraikan Leila yang sangat saya cintai,” jawab Reza.

Mendengar itu Leila merasa bahagia, namun wajahnya langsung muram, karena ia menyadari persoalan mereka belum juga selesai. Telepon demi telepon dari ibu mertuanya akan kembali datang, menanyakan hasil perkenalan itu. Dalam film ini, Dariush menggambarkan ibu Reza bergerak agresif dengan kerinduannya mendapatkan cucu dari Reza, dan sebaliknya dengan ayah Reza yang lebih bersimpati kepada Leila, namun kelihatannya tak berdaya oleh kebudayaan atau tradisi keluarga yang memberikan harga tinggi bagi hadirnya keturunan dari seorang anak.

Ibu Reza pun meminta tolong kepada adiknya, bibi Reza, agar mencarikan perempuan lain. Dan ditemukanlah seorang janda yang ditinggal mati suaminya. Kali ini, Reza bersedia. Ia menyukai keperibadian janda itu, dan juga bersimpati atas kehidupannya. Maka semakin lengkaplah penderitaan Leila.

Namun film kemudian memperlihatkan, bagaimana Leila adalah pribadi kuat dan tabah menjalani tradisi. Ia membersihkan rumah, mengepel lantai, mengganti semua seprei, membereskan lemari utama, dan menyiapkan kamar tamu untuk dirinya sendiri. Ia menyiapkan bunga-bunga segar di kamar tidurnya, yang nantinya akan menjadi kamar pengantin bagi Reza dan istrinya yang baru.

Dan malam pesta perkawinan pun usai. Reza membawa istri keduanya ke rumah, diikuti keluarga dan teman-teman istri keduanya, berpesta di rumah Reza. Semua barang dan makanan sudah menanti, siap digunakan dan dimanfaatkan. Semuanya sudah dipersiapkan oleh Leila. Namun ketika malam pengantin dimulai, Leila tak dapat lagi menahankan penderitaan batinnya. Ia kabur, kembali ke rumah orangtuanya, dan menceritakan semua yang terjadi.

Leila pun teringat, akan ucapan seorang bibi Reza, bahwa Reza pastilah sama saja seperti pria-pria lainnya – tak akan menolak berpoligami bila kesempatan untuk itu memang tersedia. Namun, Dariush Mehrjui mengangakan kenyataan lain, bahwa luka-luka banyak Leila bisa jadi terus mengucurkan darah perih untuk poligami itu.

Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 7 Oktober 2006

Biografi yang Memperkaya Teks Fiksi

Kaum formalis mengembalikan penilaian mutu sastra semata-mata ke semua unsur intrinsik karya yang diteliti. Namun dalam kasus Raoul Schrott, cara itu agak merugikan.

Adakah kaitan langsung antara biografi seorang sastrawan dengan karya yang diciptakannya? Umar Junus pernah jenuh dengan pendekatan biografis, ketika sastra Indonesia terjerembab pada gunjingan biografi seniman dan semakin jauh dari pencapaian karyanya. Namun ketika mengamati karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Prof Dr A Teeuw dalam Citra Manusia Indonesia dalam Karya Pramoedya Ananta Toer secara meyakinkan menunjukkan, betapa eratnya kehidupan keseharian (biografi) Pram dengan karya-karya terbaiknya, seperti Perburuan, Bukan Pasar Malam, Midah si Manis Bergigi Emas, termasuk tetralogi Pulau Buru. Dari sini, seorang sastrawan dalam pengamatan Teeuw, sedikit banyak ternyata menjadikan kesehariannya sebagai bahan reflektif untuk menghidupkan karya-karya fiksinya. Dengan begitu, interpretasi atas karya, dapat pula dilakukan dengan bercermin pada kehidupan pengarangnya.

Dalam kasus lain, keterikatan biografi dengan hasil karya dapat juga disimak pada karya Raoul Schrott, khususnya Die Wuste Lop Nor (The Desert of Lop Nor) yang terjemahan bahasa Indonesianya Gurun Lop Nor dibacakan di GoetheHaus, Jakarta, pada 28 September 2006. Schrott membacakannya dalam bahasa Jerman, sedangkan Arswendi Nasution (Aktor Teater Mandiri) membacakannya dalam bahasa Indonesia. Mereka ditemani Nirwan Arsuka yang bertindak selaku moderator. Disponsori Goethe Institut Jakarta, Schrott sengaja datang ke Indonesia dalam rangka mengikuti festival seni di Ubud, Bali, dan menyempatkan mampir mengisi acara di GoetheHaus malam itu.

Gurun Lor Nop merupakan kisah cinta 112 halaman, yang ditulis dalam bentuk prosa liris. Menguraikan ingatan atas berbagai negara dan kota yang pernah dilalui si tokoh cerita, Raoul Louper. Kisah pria dengan tiga wanita, sebuah kota kecil di gurun pasir, dan tentang perjalanan ke berbagai benua. Suatu kali, selama seminggu Raoul Louper mengambil bus menuju Kairo; tiba di sana, cerita pun dimulai. Tentang hasrat yang membuatnya selalu pergi dari tiga wanita dalam kehidupannya, Elif, Fransesca, dan Arlette. Disinggung juga pengalaman-pengalaman unik di gurun pasir, ketika mendengar “nyanyian pasir”, badai pasir, dan panasnya gurun. Selama itu, si tokoh utama selalu teringat kepada tiga wanita yang ditinggalkannya di negeri mereka masing-masing.

Demikianlah di bab awal (bab II) Schrott memulai pengembaraan tokohnya:

Rumah itu terletak di atas bukit. Dia menyewa lantai atas, yang bisa dicapainya melalui tangga di samping rumah.

Di dalam kamar yang satu-satunya itu ada sebuah meja dari kayu ek dan sebuah peti; di ceruk jendela tergeletak satu buah pinus, sebuah jimat, dan sebuah batu.

Hanya itu yang mengingatkannya kepada ketiga perempuan yang pernah bersamanya.

Pemilik rumah menyuruh anak perempuannya mengantarkan makanan ke atas. Anak itu meletakkannya dalam mangkuk di atas meja.

Laki-laki itu bernama Raoul Louper, ia berusia 43 tahun, setengah Yahudi, dan lahir di Pulau Porquerolles di Teluk Toulon.

Dari desa itu tidak jauh ke Alexanria.

Pertemuan darat dan laut terasa monoton

Sebuah penceritaan puitis yang menggabungkan deskripsi, monolog interior, juga semangat mendongeng. Indikasi bentuk penceritaan yang banyak dilakukan Gabriel Garcia Marquez dan Milan Kundera. Menggabungkan kenangan dan fantasi secara sejajar, didukung fakta yang bisa ditemukan siapa pun yang kebetulan berpeluang mengulangi pengalaman yang sama. Kisah “nyanyian pasir” gurun, tentu sering kita dengar. Bagaimana pada malam-malam tertentu, para pelintas gurun tergoda suara-suara “mirip manusia” yang ternyata hanya akibat gesekan pasir-pasir yangs sedang diputar dan diterbangkan angin kencang secara berulang di tempat yang sama. Dengan anasir ini, jelas sudah, bahwa Schrott sedang menyoroti kenyataan yang dibentuk oleh teks. Ontologi dipertanyakan.

Tapi sebelum itu, inilah biografi Schrott yang menurut saya ikut memperkaya tulisannya. Penulis Austria ini lahir pada 1964 di Sao Paulo, Brasil; dibesarkan di Tunisia dan Landeck (Tirol), dan kini menetap di Irlandia. Ia mempelajari filologi dan sastra di Norwegia, Paris, Berlin dan Innsbruck. Mendapat gelar Master bidang filsafat tahun 1986 dan PhD tahun 1988. Kini ia termasuk pengarang berbahasa Jerman terpenting: dikenal sebagai penerbit, penyair, novelis, esais, dan terutama penerjemah. Karyanya “Die Erfindung der Poesie” (Penemuan Puisi), yang berisi terjemahan puisi-puisi dari seluruh dunia selama kurun waktu 4000 tahun terakhir, menggemparkan jagat sastra Jerman khususnya. Penghargaan demi penghargaan pun terus diperolehnya. Di antaranya: penghargaan sastra dari Salzburg, beasiswa Robert Musil, penghargaan dari pameran buku Frankfurt, dll.

Dan penting dikemukakan, Schrott menguasai berbagai bahasa yang tidak biasa, a.l. Provencalis, Okzitanis dan Galisch (bahasa Skotlandia kuno). Sejak tahun 1994, hampir setiap tahun ia menerbitkan: kumpulan puisi, kumpulan esai, novel, dan juga karya-karya terjemahan. Membekas dalam karyanya, khususnya Gurun Lop Nor – yang tersaji sebagai prosa liris dengan aspek filosofis yang kaya – nuansa cakrawala sastra lintas budaya dan negara. Dan mencuat juga, betapa batas-batas geografis yang dilalui Schrott membuyar dalam teksnya, hingga ketika mengikuti kisah pelukis Raoul, protagonis Gurun Lor Nop, kita seperti sedang bertamasya menikmati cakrawala sastra China klasik, Eropa, maupun Afrika secara bersamaan. Hal ini dimungkinkan oleh kebebasan Schrott mengolah teksnya, secara liris dan lentur, tidak terjerat kaku oleh aturan puisi maupun formalitas prosa.

Pendekatan posmodernisme yang membebaskan karya dari keharusan ontologis, bisa dimanfaatkan menyoroti operasionalisasi teks yang dilakukan Schrott. Tapi lihatlah kelincahan imajinasi dan kekayaan suasana yang serentak dihadirkannya dalam Gurun Lor Nop, tak cukup tertangkap oleh kategorisasi relatifnya epistemologi ataupun terbelahnya ontologi kalangan posmodernisme. Sebab terbuka pula peluang, menikmati kekayaan teks Lor Nop sebagai jaring semiotik dengan musikalisasi dan visualisasi pemaknaan yang terangkat bersamanya.

Longgarnya ontologi kenyataan dalam Lor Nop, dengan gamblang dapat disimak dari cara Raoul menganyam teks di dalam kisah percintaan Bulan Sabit dengan Sha-shan-ze. Kisah kasih tak sampai Sha-shan-ze yang miskin dengan Bulan Sabit putri seorang kaya itu, muncul sebagai cerita di dalam cerita; teks di dalam teks. Bulan Sabit dan Sha-shan-ze dipisahkan oleh takdir sosial; Bulan Sabit dikawinkan dengan seorang jenderal, dan Sha-shan-ze putus asa. Akhir cerita mudah ditebak, kematian tragis Sha-shan-ze dan Bulan Sabit. Namun kemenangan cinta kemudian dikonkretkan melalui metafora alam, menyatunya danau dengan bukit pasir; danau air mata Bulan Sabit dan bukit pasir kuburan Sha-shan-ze.

Ceritakanlah sebuah kisah untukku, Arlette berkata. Apa kisah paling bagus yang kau tahu? Karanglah sebuah kisah untukku, tidak masalah apakah kisah itu benar atau tidak.(bab XVII)

Ceritakanlah sebuah kisah untukku, Elif berkata. Dan pastikan kisah itu akan menjadi kenyataan.(bab LVII)

Si tokoh utama, Raoul pun berkisah kepada gadis-gadisnya tentang juru tulis di Dun Huang, yang mempunyai anak perempuan bernama Bulan Sabit yang mencintai pemuda Sha-shan-ze. Uniknya (sebagai gambaran kebebasan mengoperasikan teks sekaligus diragukannya ontologi), gadis-gadis Raoul ternyata mendapatkan alur dan akhir cerita yang tidak sama; meski pesannya senada: memenangkan cinta tragis di atas ketidakadilan.

Schrott juga sengaja melakukan hubungan interteks antara Bulan Sabit – Sha-shan-ze dengan kisah China yang lebih populer, Sampek – Engthai, yang juga bermotif cinta tragis. Berkat pergaulan Schrott dengan banyak teks, terjadilah teks melahirkan teks, yang akan terus pula menemukan tokoh cerita dan para pembaca baru. Itulah kemenangan teks sastra, yang kali ini, menurut saya, hanya dapat lahir akibat lekatnya biografi Schrott yang menekuni beragam bahasa dan kebudayaan, sebagai modal kreatifnya melahirkan karya.

Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 8 Oktober 2006

Wednesday, October 04, 2006

Ziarah Politik pada Kenangan

* Pembicaraan atas cerpen-cerpen Sides

Sebuah cerpen bagi Sides Sudyarto adalah untaian biografis tokoh cerita, dalam periode waktu tertentu, dengan latar belakang sosial-politik yang menyeret bahkan mengorbankannya (baca: membuatnya menjadi korban). Maka setiap kali para tokoh ini mengalami petumbuhan karakter atau penegasan sikap secara eksistensial, pastilah itu berkaitan dengan perkembangan peristiwa sosial-politik. Sebab para tokoh hidup demikian dekat dengan situasi sosial-politik, karena si pengarang memang menjadikan cerpennya sebagai media reflektif menyoroti kecenderungan sosial-politik tersebut. Bagaimana tokoh-tokoh (baca: manusia kecil) ternyata hanya menjadi permainan “nasib” karena perubahan politik.

Inilah sebagian gambaran yang saya dapatkan dari pembacaan atas kumpulan cerpen Salat Lebaran di Kamp Konsentrasi karya Sides Sudyarto (2006). Memuat cerpen-cerpen: Bulan Kian Hitam Matahari Kian Hitam, Surat untuk Orang Mati, Ziarah Maya Kepada Dia, Pelarian, Poliandri, Terdakwa, Salat Lebaran Kawanan Tahanan Politik dalam Sebuah Kamp Konsentrasi, Sang Pemberontak. Dengan kesalahan cetak yang fatal, Ziarah Maya Kepada Dia dimuat dua kali, dan Pelarian juga dimuat dua kali.

Lalu, paparan di atas pun menjadi dasar saya memperbincangkan Ziarah Maya Kepada Dia, yang menurut saya paling kuat memperlihatkan tendensi reflektif itu. Lebih khusus lagi, tendensi reflektif atas peristiwa sosial politik yang masih tersimpan di dalam kenangan naratornya. Dan cerpen ini menurut saya, bahkan sebagian besar cerpen dalam kumpulan ini, memang berlalu-lalang di seputar kenangan naratornya, entah itu si pengarang langsung atau tidak. Artinya, ada tendensi membangun kesadaran sejarah dari teks fiksi yang dioperasikan dengan perangkat artistik tertentu. Meskipun Terdakwa dan Bulan Kian Hitam Matahari Kian Hitam, bisa dikatakan menempuh jalur penceritaan berbeda, yang menurut saya memiliki kemungkinan terus dikembangkan sebagai jenis cerita-cerita simbolik.

Tersebutlah Ciwa, dalam Ziarah Maya Kepada Dia, seorang pemuda yang mengenyam kuliah pada tahun 1960-an di Yogyakarta. Tahun 1962 ia bertemu dengan Tatiek Hardiningsih, tahun 1964 mereka berpisah. Ciwa, nama baru yang diambil dari Kecewa, terkesan sedang menceritakan masa lalunya. Bagaimana ia dan Tatiek menjadi sepasang kekasih, dan sama-sama aktivis kiri di kampus yang terbagi-bagi ke dalam kelompok politik agama, nasionalis, dan Marxis. Lalu hubungan mesra mereka berakhir karena alasan sepele bagi Tatiek memiripkan model rambutnya seperti perempuan Jepang, adalah persoalan serius bagi Ciwa. Ciwa tidak setuju Tatiek memotong rambutnya, karena Ciwa mencintainya rambut panjang Tatiek. Akibatnya: Ciwa dan Tatiek putus cinta. Putus cinta ini dilanjutkan dengan tindakan Ciwa pulang kampung.

Geger peristiwa 1965 melanda kampus-kampus di Yogyakarta. Para mahasiswa kiri ditangkapi termasuk Ciwa yang diadukan oleh Lurah. Ia diinterogasi, ditahan, dan kemudian dilepas setelah 9 bulan menjalani hukuman yang tidak begitu jelas benar-salahnya. Kemudian tergambarlah chaos 1965, ketika orang-orang yang dituduh kiri tiba-tiba diperlakukan sebagai orang asing di lingkungan rumah sendiri, ditolak dalam pergaulan, bahkan dihindari oleh sesama eks tapol.

Yang juga unik, meski dipaparkan secara tak langsung – bagaimana para simpatisan kiri yang semestinya atheis itu ternyata rajin sholat. Lalu peristiwa interogasi pun berlangsung antara teman-teman sepermainan yang menjadi lawan karena pilihan politik yang berbeda. Ini memperlihatkan bagaimana arah politik demikian mengikat sampai ke tingkat praksis (sosial); namun demikian cair di tingkat individu (psikologis); sebab seorang kiri toh menunaikan ibadah sholat.

Cerpen kemudian melanjutkan plot sebagai benang-merah biografis Ciwa. Ditolak di kampung, tak menemukan Tatiek di Yogyakarta karena sudah meninggal dunia, lalu memendam kecewa, ia berangkat ke Jakarta. Hiduplah ia sebagai tukang becak dan nyaris mengawini seorang janda tauke kaya. Namun, ia kemudian memilih pergi ke kota lain, masih di Jawa Tengah, kali ini menjumpai Palupi, temannya sesama aktivis kiri yang kini melanjutkan hidup sebagai pelacur. Ketika Ciwa mencoba melamar, Palupi menolak. Ciwa pun melanjutkan perjalanannya. Kita tak pernah tahu akan ke mana lagi Ciwa menziarahi Tatiek yang dicintainya, namun sudah meninggal dunia itu. Sebab cerpen berakhir pula.

Lalu ada cerpen Terdakwa, yang menokohkan Rukmini, seorang perempuan buta. Kali ini tidak ada kenangan, tapi absurditas. Rukmini hamil dan di pengadilan desa ada tiga tertuduh. Rukmini yang buta tidak mendapatkan pelayanan hukum yang normal karena dalam pengadilannya tidak ada jaksa penuntut. Plot berkembang aneh, ketiga tertuduh ditemukan mati dengan tubuh penuh luka dan bekas pukulan, demikian juga si Lurah yang memimpin sidang di balai desa. Selanjutnya, Rukmini menggelandang, lalu diciduk petugas dan ditempatkan satu sel bersama para pelacur. Kemudian Rukmini buta dibebaskan, diculik lagi, lalu ditemukan meninggal.

Cerpen ini, seperti tokohnya yang buta, benar-benar hanya memperlihatkan kegelapan arah bagi saya. Terlalu banyak bintik-bintik putih kemungkinan semiotik yang dapat ditarik, namun serentak pula kurang berhasil mengarahkan makna. Misalnya: hukum ternyata buta. Manusia buta atas nasibnya. Banyak manusia buta nurani atas nasib orang lain apalagi si buta, dan seterusnya, dan seterusnya. Namun, cukup unik pula bagaimana Sides juga mengisi ceritanya dengan kehidupan orang-orang buta (Bulan dan Matahari) dalam cerpen Bulan Kian Hitam, Matahari Kian Hitam. Alur percintaan disusun dengan dramatis dan liris, memuat kritik tajam atas perlakuan kurang manusiawi terhadap orang-orang buta, yang dijodohkan sejak kecil dengan sesama si buta. Namun cerita berakhir kurang istimewa, ketika modal kebutaan yang sebenarnya unik itu tak kunjung menampilkan kejutan; malah dipaksakan berakhir dengan masuknya ayah Bulan ke panti jompo dan ayah Matahari ke rumah sakit jiwa.

Lalu sebuah cerpen yang menurut saya digarap penuh perhitungan dari sisi artistik dan matang secara emosional adalah Salat Lebaran Kawanan Tahanan Politik dalam Sebuah Kamp Konsentrasi. Seorang hukuman yang rajin menulis catatan harian merekam secara detail berbagai kejadian penting di kamp tempatnya ditawan. Mulai dari cara bergaul sesama tahanan, dengan para penjaga, dan juga berbagai kegiatan penting seperti menerima kunjungan pembesuk dan saat sholat Idul Fitri yang mengharukan. Semua dipaparkan runtut dan jelas. Dialog dan afirmasi filosofis dimunculkan wajar, seperti mempertanyakan dari mana asal manusia dan akan ke mana, apa makna sejarah dan bagaimana sejarah pecah menjadi revolusi yang tak selalu menghasilkan apa yang dicita-citakan bersama.

Dan terakhir, setelah kehilangan si tokoh cerita pemilik catatan harian itu akibat hukuman mati yang ditimpakan kepadanya, sebuah kejutan ditinggalkan. Si tawanan yang tertanam di kuburan dangkal tersebut, tangannya mencuat dari tanah. Dan kematiannya didoakan seorang Pastor. Artinya, si tawanan bukanlah seorang Islam. Namun kemanusiaan telah membuatnya mampu melintasi batas-batas agama di kamp tawanan itu, hingga isi catatan hariannya menunjukkan keterharuan atas jejak-jejak kemanusiaan di kamp tawanan tersebut.

Arie MP Tamba, disampaikan di Meja Budaya, 15 September 2006