Friday, November 17, 2006

Mengobrolkan Fantasie Impromtu Karya [rei]

Esai Arie MP Tamba*

Sebagai seorang pembaca karya sastra, saya mempercayai apa yang dikatakan Jauss yang kemudian lebih dikenal sebagai paham teori resepsi, bahwa karya sastra bukanlah sebuah obyek yang berdiri sendirian dan menawarkan wajah yang sama kepada setiap pembaca dalam setiap periode. Sebab, lanjut Iser (temannya Jauss), setiap pembaca selalu berpartisipasi aktif dalam pembacaannya, sesuai cakrawala harapan atau pengetahuan kesusastraannya masing-masing.

Tentu saja saya bisa menerima adanya pendekatan pembacaan lain, seperti yang dilakukan kaum formalis, yang berkutat dengan aspek intrinsik karya sastra seiring perkembangan teorisisasi karya sastra di lembaga akademis ataupun berhasil ditegakkan seorang figur kritikus sastra berpengaruh. Dan saya juga bisa memaklumi, pilihan pendekatan Marxis yang ingin meneropong sejauh mana sebuah karya sastra memiliki kekuatan sosiologis memetakan pertentangan kelas dan kecenderungan-kecenderungan politik yang ada di masyarakat, atau bahkan pendekatan biografis-psikologis seperti pernah dilakukan Arief Budiman terhadap Chairil Anwar, dan pada tingkat tertentu juga HB Jassin ketika menyusun teori angkatan, yang mengandaikan adanya hubungan langsung kepengarangan seseorang dengan perkembangan politik di masyarakat, dll.

Dari sini, dengan memilih pendekatan resepsi pembaca, atau secara lugas diilustrasikan Fish, bahwa setiap pembaca sesungguhnya tak pernah menghampiri sebuah karya sastra dengan kepala kosong, karena pembaca selalu membawa “kopor” berisi berbagai keputusan teoritis, ideologis, bahkan mental strategis, seperti pernah disinggung Subagio Sastrowardoyo tentang sajak-sajak D. Zawawi Imron, yang kalau diibaratkan meski seorang wanita yang tidak cantik, tapi karena terlanjur menyukainya, maka bagi Subagio sajak-sajak Zawawi-lah yang terbaik.

Dengan paparan pengantar seperti inilah, saya mendekati Fantasia Impromptu, novel karya [rei] ini. Sebuah karya debutan yang bagi saya layak dibicarakan, paling tidak untuk kemungkinan potensi yang masih bisa berkembang dari sana. Sebuah novel yang memperagakan teknik penulisan dengan tipologi teks kaya, dari prosa, puisi, teks email, chatting, SMS dan dialog yang disusun saling berhadapan seperti pola penulisan skenario TV. Semuanya itu, mengalir secara lancar sepanjang 393 halaman, mengusung berbagai cerita yang berkembang dalam fantasi si narator.

Dimulai oleh Overture, lagu pembukaan dalam komposisi musik, sebagai ucapan terima kasih kepada orang-orang yang mendukung proses kreatifnya, [rei] menuliskan ceritanya ke dalam tiga bagian cerita. Masing-masing bagian cerita memiliki variasi-variasi tersendiri. Lalu cerita kemudian ditutup oleh Finale, lagu penutup, sebuah penjelasan proses cerita atau pengakuan narator tentang perannya yang telah menghasilkan sebuah novel. Dengan pembukaan cerita yang sekaligus menjadi tema: tentang kegiatan mengikuti misa. Dan dari kegiatan itulah, si narator mereka-reka dunia keseharian para tokoh-tokoh cerita yang ditemukannya di gereja itu.

Pada Bagian I Variation I.1 tentang Hadi dan Ibunya. Ibunya tak bisa menerima kenyataan bahwa suaminya, Yohanes Sumarno sudah meninggal dunia, lalu menjadikan Hadi sebagai “suami” yang masih hidup. Jadilah Hadi mempermak dirinya, berperilaku seperti ayahnya, berpakaian seperti ayahnya, dengan perasaan tertekan sekaligus kasihan kepada sang ibu.

Bagian I Variation I.2 tentang Rendy yang menjadi pria simpanannya Mbak Tuti yang lebih tua. Pada Rendy, Mbak Tuti menemukan dua sosok pria yang dicintainya, yakni suaminya Rama dan putranya Rommy yang keduanya sudah meninggal. Untuk mendapatkan kemewahan hidup, Rendy rela menjadi simpanan, terkadang berperan sebagai Rommy, lalu lain saat sebagai Rama, bergantung kebutuhan psikologis Mbak Tuti. Namun, di sisi lain, Rendy ternyata juga mencintai Monik alias Marko Dirga.

Bagian I Variation I.3 tentang Dicky yang hidupnya dikuasi dan diatur ibunya, dari cara tampil hingga bergaul dengan siapa, dan diperlakukan pula sebagai pembantu di rumah. Ada potongan kisah tentang anak pungut melalui sinetron ataupun fantasi tokoh cerita, yang memungkinkan bahwa Dicky sebenarnya bukan anak kandung.

Pada Bagian II Variation II.1 tentang Nico dan ibunya, Astari. Bila pada Bagian I yang menjadi sumber cerita adalah anak, maka pada Bagian II tokoh ibulah yang menjadi sumber cerita. Digambarkan cinta segitiga antara Astari, Oetoro dan Tjokro. Astari dipaksa menikah dengan Tjokro, padahal ia mencintai Oetoro. Tjokro sering menyiksa Astari karena mengetahui bahwa Astari tidak suci lagi. Dalam puncak penderitaannya, suatu kali Astari melawan bahkan membunuh Tjokro. Nico tidak mengetahui kalau ayahnya adalah Oetoro, dan pria yang ia kira ayahnya, sebenarnya terkubur di samping rumah.

Pada Bagian II Variation II.2 tentang Micky yang dianggap anak oleh ibu temannya Eko, tetangganya. Kisah dimulai dari Lely, ibu Eko, yang mengimpikan hidup sebagai orang kaya, dan menganggap rumah tetangganya adalah rumahnya. Micky dan Rani, ibunya, tidak tega menyadarkan Lely yang ditinggal sendiri oleh suaminya yang sudah meninggal dan anaknya, Eko, yang bekerja di luar negeri. Sementara pada Bagian II Variation II. 3 tentang Bima dan ibunya, Gayatri. Gayatri ditinggal mati suaminya yang kecelakaan, dr Rahadian, seorang ahli penyakit kanker, pada malam ulang tahun Gayatri. Gayatri menunggu, terus menunggu, dan tak bisa menerima kabar dan kenyataan kematian sang suami yang dicintainya.

Pada Bagian III Variation III.1 tentang Tabita, abangnya Robby, dan ibunya, Bu Annie. Tabita menjadi seorang pendiam karena sering disiksa ayahnya yang kejam. Pada Bagian III Variation III.2 tentang rekaan-rekaan Deasy akan asmaranya bersama Arief. Tapi Arief ternyata menikah dengan Margaretha Ratna Gunawan. Pada Bagian III Variation III.3 tentang rekaan mahasiswi Andita, kehidupan chattingnya (baca: dunia maya), dan hubungan khususnya dengan Eri yang baru di tingkat lamunan.

Lalu pada Finale, narator utama pun mengakui bahwa semua tokoh dalam novelnya, plot yang mereka lalui, konflik yang dialami, harapan yang dikumandangkan, semuanya adalah hasil rekaannya. Narator melanjutkan, kalau ia adalah seorang wartawan yang sedang mau melakukan peliputan. Sebelumnya, ia mampir ke gereja, dan “menemukan” tokoh cerita dengan dandanan yang berbeda: seorang ibu berpakaian putih, dan pemuda anaknya berpakaian jin belel.

Si narator masih tergoda ingin terus bercerita, tapi ia sudah merasa cukup dan menjelaskan bahwa semua cerita dalam novelnya dapat ia susun karena kesukaannya mendengarkan komposisi “Fantasie-Impromptu in C Sharp Minor” karya Chopin. Komposisi musik yang selalu membawanya pada perenungan masalah ada dan tiada, real dan tidak real, eksis dan tidak eksis. Atau kemungkinan, bahwa dunia ini hanya terdiri dari kumpulan imajinasi.

Sampai di sini, bisa dimaklumi mengapa [rei] demikian bebasnya mempermain-mainkan imajinasinya melayarkan berbagai cerita. Inilah ideologi penceritaan kaum posmodernis, yang meragukan kepastian sebuah kenyataan bersama, yang diimbaskan ke dalam cerita-cerita yang tidak konsisten mengacu pada sebuah realitas kisahan, seperti dianut kalangan realisme dan modernisme. Sebab, di dalam cerita, tidak ada kenyataan ontologis yang pasti kecuali teks yang berpura-pura dibiarkan menyusun realitas. Tak lebih, tapi menurut saya itu sudah mencukupi.

Lalu potensi lain yang dibukakan novel [rei] adalah tawaran polifonik yang cukup tinggi, yang semestinya menjadi keistimewan pada novel berikutnya. Novel polifonik seperti digambarkan dan juga dipraktekkan Milan Kundera, tampil dengan kombinasi bentuk berbagai genre: prosa, puisi, reportase, esai, dll, yang terlihat juga pada Fantasie Impromptu. Berupa bermacam alur, berbagai tokoh cerita, yang tidak saling berhubungan, sebagaimana lazimnya diolah maksimal pada novel dengan plot tunggal. Hingga, para tokoh cerita polifonik harus bisa meyakinkan pembaca, bahwa mereka hidup di dunianya masing-masing, dengan perjalanan dan kemungkinan kehadirannya.

Begitulah Bagian-bagian dan Variation-variation dalam Fantasie Impromptu, bagi saya mampu menyosokkan keberadaan sebagai rangkaian cerita dengan tokoh-tokoh yang tak harus saling mengenal, kecuali diikat satu tema: menghadiri misa yang membosankan di gereja. Terlepas dari apa pun tawaran kritik atau esaistik si novelis, dengan pilihan tema ini, ditunjukkan sebuah tema rutinitas, yang ternyata dapat diisi berbagai kemungkinan cerita.

Cerita-cerita, yang menurut saya “kebanyakan” plot dan “kurang” esaistik, karena cerita-cerita tak begitu kunjung mendebarkan saya sebagai persoalan eksistensial dan filosofis yang memukau. Kecuali pada Bagian I Variation I.2. Tentang Rendy yang menawarkan ruang penjelajahan pengalaman keseharian dengan pemikiran khas, yang sebagian telah dimasuki [rei], namun sebagian lain masih dibiarkan usai tak terbicarakan. Tapi sebagai pengantar untuk sebuah debutan yang cukup cemerlang dan menjanjikan, saya kira cukuplah sudah saya memuji. Terima kasih.

* Disampaikan di Meja Budaya, PDS HB Jassin, TIM, 17 November 2006