Monday, March 26, 2007

Kremlin, Kunjungan Dua Kali

Selamat pagi, Kremlin! Brrrr…!! Saya menggeretukkan kedua geraham. Seluruh tubuh rasanya tertusuk-tusuk udara dingin sampai ke tulang. Padahal saya sudah mengenakan pakian empat lapis. Dress code suit lengkap membungkus pakaian dalam musim dingin masih juga dibalut lagi dengan jaket tebal dari luar. Tapi, udara dingin belum tertaklukkan. Dan yang kedinginan tidak hanya saya. Semua anggota rombongan wartawan dari Indonesia itu bertarung intens melawan udara beku. 0 derajat Celsius.

Kami diberangkatkan satu jam lebih dulu dari hotel menuju Alexander Garden, tempat upacara peletakan karangan bunga oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di makam pahlawan tak dikenal bangsa Rusia. Dari luar pagar makam, kami dapat melihat api abadi yang terus menyala dari tungku bawah tanah. Di sekitar tungku itu sedang bersiap pasukan aubade militer yang akan mengikuti upacara pukul 09.00 Waktu Moskow.

Bila dilihat dari udara, Kremlin berbentuk segitiga. Di sisi datar bagian selatan dibatasi oleh Sungai Moskwa yang melengkung memisahkan sepertiga daratan Moskow berbentuk busur. Di sisi miring sebelah kiri membentang Alexander Garden yang memisahkan tembok Kremlin dari jajaran pertokoan dan gedung-gedung perkantoran serta perumahan. Lalu di sisi miring sebelah kanan, membentanglah Lapangan Merah (Red Square) yang terkenal itu, yang bersama tembok Kremlin mengapit Musoleum Lenin di sebelah utara, tempat disimpannya jenazah Bapak Revolusi Rusia Vladimir Illych Lenin yang telah dibalsam, dan di bagian selatan mengapit sebuah gereja orthodoks Pokrovsky Cathedral.

Dalam bahasa Rusia Kremlin berarti “benteng” (fortress) atau “benteng kota” (citadel). Lebih dari itu, Kremlin tidak saja menjadi “jantung” kota Moskow tapi negara Rusia. Bangunan awalnya didirikan oleh pangeran Yuri Dolgoruky pada tahun 1156 dan menjadi pusat pemerintahan Rusia sejak tahun 1276 sampai di zaman Presiden Vladimir Putin yang akan bertemu dengan Presiden SBY siang harinya (12.00 Waktu Moskow).

Selain gedung-gedung perkantoran dan tempat tinggal kepala negara, di dalam kompleks Kremlin terdapat juga berbagai monumen arsitektur, gereja orthodoks, dan museum Armoury Chamber berisi peninggalan barang-barang kerajaan, seperti pakaian kebesaran, senjara perang, peralatan rumah tangga, dan kereta kerajaan. Di dalam museum Armoury ini masih terdapat pula museum khusus permata kerajaan.

Pukul 09.30 Waktu Moskow, upacara peletakan karangan bunga oleh Presiden SBY dilakukan. Udara dingin mulai berkurang. Sekelebat cahaya matahari tampak menerangi langit Moskow, namun sukar dipastikan apakah matahari telah menyembul sempurna di atas kota itu.

Mengikuti upacara yang berlangsung secara militer, Presiden didampingi pejabat kota Moskow dan sebagian besar menterinya. Yang juga menjadi pusat perhatian selama upacara, tentu saja aubade militer Tentara Merah yang terkenal itu. Ketika mereka baris-berbaris, dan bersama kelompok marching bandnya membawakan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” serta lagu kebangsaan “Gimn Rossiyskoy Federatsii” – semua mata nyaris tak lepas dari setiap gerak mereka.

“Bukan main. Boleh jadi inilah aubade militer yang paling indah dan masih ada,” kata seorang pajabat Indonesia yang berada di kelompok wartawan.

Selesai upacara, kami kembali mengikuti pertemuan di tempat lain. Dan siang harinya, kembali mengunjungi Kremlin untuk kedua kalinya. Para wartawan Indonesia, Rusia, dan asing lainnya akan menjadi saksi berbagai pengumuman kerjasama Rusia dan Indonesia. Kali ini rombongan kami dibawa masuk melalui sisi sebelah kanan segitiga Kremlin, Lapangan Merah (Red Square).

Lapangan Merah (Red Square, Krasnaya Ploschad) merupakan lapangan kota paling terkenal di Moskow. Berukuran 695 x 130 m, lapangan dikelilingi berbagai gedung dan obyek bersejarah, antara lain Musoleum Lenin, Museum Sejarah Nasional, Kathedral Kazan, State Department Store (GUM), dan Kathedral St. Basil. Lapangan juga memisahkan Kremlin dari pusat perdagangan bersejarah Kitay Gorod. Jalan-jalan utama kota Moskow menyebar dari Kitay Gorod ke segala arah, memanjang ke jalan-jalan utama di luar Moskow. Lapangan Merah sering dianggap sebagai lapangan pusat kota Moskow.

Meski sudah siang Waktu Moskow, bagi saya udara masih saja tak teratasi. Hawa dingin menusuk-nusuk ke tulang. Namun bayang-bayang akan menjenguk “rahasia” Kremlin, menjadi pendorong bagi saya mengikuti rombongan dengan langkah kukuh, melalui pemeriksaan demi pemeriksaan. Wajah-wajah dingin anggota dinas rahasia Rusia, seperti digambarkan film-film James Bond, segera sirna. Pemeriksaan memang ketat, namun senyum serta ucapan, “Spasibo, Spasibo!” selalu terdengar. “Terima kasih, terima kasih,” balas saya suatu kali.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home