Monday, March 26, 2007

Mengawetkan Tradisi Mengadaptasi Kemajuan

Pagi itu, burung-burung gagak menyalak dan melayang-layang di halaman gedung-gedung kekaisaran. Dari satu wuwungan gedung terbang ke pohon-pohon, atau dari satu pohon ke rimbunan pohon lainnya. Mengikuti pergerakan burung-burung itu, selama beberapa saat seseorang bisa saja terlupa bahwa ia sedang berada di pusat kota Tokyo, ibu kota dari sebuah negara paling maju di dunia: Jepang.

Sebuah pagi yang mendung dan bergerimis di bulan November 2006. Di sebuah pojok pintu keluar sebuah gedung, serombongan wartawan Indonesia baru saja selesai mengikuti upacara penyambutan kenegaraan yang dipersembahkan bagi kepala negara mereka. Upacara berlangsung di sebuah ruangan seluas setengah lapangan bola, berbentuk persegi panjang, tanpa furnitur pengisi ruangan. Tak ada pula aksesori ruangan yang mudah dikenali, kecuali dua perlambang dua negara: bendera merah-putih dan bendera hinomaru (kain putih dengan bulan merah di tengahnya).

Dari pintu keluar sebuah gedung di areal kekaisaran itu, seseorang akan sulit menentukan ia sedang berada di posisi mana. Gedung-gedung beraksitektur Jepang saling bersambungan, bersusun rapat, bertingkat-tingkat, tinggi, di dalam wilayah daratan yang dikelilingi sungai buatan. Yang mana istana kekaisaran, yang mana ruang hunian, yang mana gedung pertemuan, boleh jadi hanya diketahui oleh orang-orang istana atau pengurusnya.

Lalu di luar sungai buatan itu, membentanglah kota Tokyo yang sebenarnya, berupa gedung-gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, apartemen, rumah sakit, bahkan kampus, yang umumnya menjulang tinggi ke angkasa Tokyo, di antara jalan-jalan panjang dengan aspal beton, atau jembatan-jembatan yang bersimpangan atau saling melintang dan sedang dipenuhi berbagai kendaraan yang melaju cepat.

Jalan-jalan memang selalu dipenuhi kendaraan di Tokyo. Tapi tak ada asap solar, dan tak ada kemacetan. Semua kendaraan mengikuti jalur yang sudah ditentukan, berhenti pada lampu-lampu merah, melambat pada tanda penyeberangan, dan selalu menempatkan posisi pada antrian. Sebuah keteraturan dan sistem transportasi yang bekerja maksimal, dengan mudah ditemukan di jalanan kota Tokyo.

Adapun pola lokasi istana di dalam sungai dan kota di luar sungai, boleh jadi diilhami oleh geografis Jepang sendiri yang memang dikelilingi laut. Arus hangat dan dingin mengalir melalui laut-laut di sekitarnya, hingga membentuk lingkungan yang mendukung berkembangnya berbagai spesies ikan. Sebagian besar Jepang berada dalam zona utara beriklim sedang dan beriklim monsun yang lembab, dengan angin tenggara yang bertiup dari Samudera Pasifik selama musim panas, dan angin barat-laut yang bertiup dari benua Eurasia (Eropa-Asia) pada musim dingin.

Membandingkan kehidupan di dalam sungai buatan yang mengurung (sekaligus melindungi) istana kekaisaran dan perangkatnya, dengan kemegahan maupun arus cepat kemodernan di luar sungai – seperti menemukan perbandingan langsung antara tradisi yang dipertahankan dan kehidupan modern yang dibiarkan berkembang. Dari sebuah tatakrama kerajaan dengan nilai-nilai dan pemaknaan yang harus diikuti siapa pun yang dengan rela masuk ke dalamnya, bersisian dengan tatakrama pergaulan modern yang dinamis, efektif, dan modis.

Lihatlah, di jalan-jalan kota Tokyo, orang-orang berjalan cepat menuju kantor, dengan pakaian lengkap, jas, pantalon bagi yang pria, dengan model rambut yang agak “ngepunk” bila ia seorang pria muda. Dan sepatu hak tinggi, rok sampai dengkul, pakaian atas berlapis sweater, rambut dibiarkan tergerai, lalu melangkah tak kalah cepatnya bila ia seorang wanita apalagi seorang gadis muda.

Dengan cepat bisa diketahui, bahwa penduduk kota Tokyo mencintai jalan kaki, dan tak mau menyia-nyiakan waktu di perjalanan. Mobil-mobil memang berseliweran, tapi orang-orang Tokyo juga tampak bahagia dan menikmati jalan kaki di bawah udara 14 derajat Celcius dan langit bergerimis.

Semua di jalanan berlangsung ringkas dan enak dipandang. Sama halnya dengan upacara kenegaraan yang baru saja disaksikan serombongan wartawan dari Indonesia itu: hening, singkat, namun khusuk. Hingga, Jepang di dalam sungai dan Jepang di luar sungai hanya dibedakan satu istilah: tradisi yang dikenakan. Sementara manusianya: sama-sama manusia Jepang yang enggan berleha-leha.

Dan sepanjang sejarahnya, Jepang memang telah menyerap banyak gagasan dari negara-negara lain termasuk teknologi, adat-istiadat, dan bentuk-bentuk pengungkapan kebudayaan. Namun Jepang tetap bertahan dengan budayanya yang unik, sambil mengintegrasikan masukan-masukan dari luar itu secara cerdas. Hingga, bisa disimpulkan, gaya hidup orang Jepang kini adalah perpaduan budaya tradisional di bawah pengaruh Asia dan budaya modern Barat.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home