Mengawetkan Tradisi Mengadaptasi Kemajuan
Pagi itu, burung-burung gagak menyalak dan melayang-layang di halaman gedung-gedung kekaisaran. Dari satu wuwungan gedung terbang ke pohon-pohon, atau dari satu pohon ke rimbunan pohon lainnya. Mengikuti pergerakan burung-burung itu, selama beberapa saat seseorang bisa saja terlupa bahwa ia sedang berada di pusat
Sebuah pagi yang mendung dan bergerimis di bulan November 2006. Di sebuah pojok pintu keluar sebuah gedung, serombongan wartawan
Dari pintu keluar sebuah gedung di areal kekaisaran itu, seseorang akan sulit menentukan ia sedang berada di posisi mana. Gedung-gedung beraksitektur Jepang saling bersambungan, bersusun rapat, bertingkat-tingkat, tinggi, di dalam wilayah daratan yang dikelilingi sungai buatan. Yang mana istana kekaisaran, yang mana ruang hunian, yang mana gedung pertemuan, boleh jadi hanya diketahui oleh orang-orang istana atau pengurusnya.
Lalu di luar sungai buatan itu, membentanglah kota Tokyo yang sebenarnya, berupa gedung-gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, apartemen, rumah sakit, bahkan kampus, yang umumnya menjulang tinggi ke angkasa Tokyo, di antara jalan-jalan panjang dengan aspal beton, atau jembatan-jembatan yang bersimpangan atau saling melintang dan sedang dipenuhi berbagai kendaraan yang melaju cepat.
Jalan-jalan memang selalu dipenuhi kendaraan di
Adapun pola lokasi istana di dalam sungai dan
Membandingkan kehidupan di dalam sungai buatan yang mengurung (sekaligus melindungi) istana kekaisaran dan perangkatnya, dengan kemegahan maupun arus cepat kemodernan di luar sungai – seperti menemukan perbandingan langsung antara tradisi yang dipertahankan dan kehidupan modern yang dibiarkan berkembang. Dari sebuah tatakrama kerajaan dengan nilai-nilai dan pemaknaan yang harus diikuti siapa pun yang dengan rela masuk ke dalamnya, bersisian dengan tatakrama pergaulan modern yang dinamis, efektif, dan modis.
Lihatlah, di jalan-jalan
Dengan cepat bisa diketahui, bahwa penduduk
Semua di jalanan berlangsung ringkas dan enak dipandang. Sama halnya dengan upacara kenegaraan yang baru saja disaksikan serombongan wartawan dari Indonesia itu: hening, singkat, namun khusuk. Hingga, Jepang di dalam sungai dan Jepang di luar sungai hanya dibedakan satu istilah: tradisi yang dikenakan. Sementara manusianya: sama-sama manusia Jepang yang enggan berleha-leha.
Dan sepanjang sejarahnya, Jepang memang telah menyerap banyak gagasan dari negara-negara lain termasuk teknologi, adat-istiadat, dan bentuk-bentuk pengungkapan kebudayaan. Namun Jepang tetap bertahan dengan budayanya yang unik, sambil mengintegrasikan masukan-masukan dari luar itu secara cerdas. Hingga, bisa disimpulkan,

0 Comments:
Post a Comment
<< Home