Monday, March 26, 2007

Sastra Buruh Melawan Represi

Dunia Sastra Indonesia pernah disibukkan oleh perdebatan sastra Manikebu Vs Lekra. Kedua aliran kesusastraan yang berangkat dari cara pandang khas ini (Liberalisme dan Humanisme Universal pada Manikebu, Sosialisme dan Komunisme pada Lekra), ikut mewarnai perbenturan politik yang memuncak pada “bencana” 1965 yang masih gelap itu. Uniknya, “jejak” perdebatan itu menggejala kembali ketika dunia sastra Indonesia dimasuki istilah Sastra Kontekstual tahun 1984-an, dan ketika Pramudya Ananta Toer pada 1995 memperoleh penghargaan Magsasay dari Filipina untuk karya-karyanya. Dan yang paling anyar, “jejak” tersebut ikut pula membayangi fenomena Sastra Buruh yang meramaikan sastra Indonesia sejak 1995-an. Apa yang terjadi, dan seperti apa “sosok” Sastra Buruh itu, wartawan Jurnal Nasional Arie MP Tamba menelusurinya. Red

Sastra Buruh Melawan Represi

SORE itu Institut Puisi Tangerang (IPT) mengadakan pertemuan di sebuah pinggir kali. Institut Puisi Tangerang didirikan oleh penyair Wowok Hesti Prabowo untuk membantu para buruh pabrik di wilayah Tangerang, yang meminati dunia sastra, khususnya dunia puisi, sebagai alat ekspresi. Sebagai instruktur atau pembimbing, Wowok melibatkan beberapa penyair seperti Iwan Gunadi, Nur Zain Hae, Eka Budianta, Ahmadun Yosi Herfanda, dan Wowok sendiri.

Begitulah IPT berpindah-pindah dari satu rumah petak ke rumah petak lainnya, atau ke taman kota, ke tanah lapang, ke pinggir kali, atau boleh jadi ke rumah salah seorang pembimbing. Dan sore itu, mereka berjanji berkumpul di sebuah pinggir kali.

Acara pelatihan belum dimulai. Sore itu yang mendapat giliran membimbing adalah Iwan Gunadi, seorang penyair dan pengamat sastra yang juga bekerja sebagai redaktur di sebuah majalah perbankan di Jakarta. Di sampingnya, duduk seseorang yang menurut dugaan Iwan adalah “buruh” yang baru pertama kali ikut pelatihan. Pakaiannya memang sederhana, tapi jelas berbeda dari buruh umumnya. Ia memakai jaket dan bersepatu. Sementara buruh-buruh lain datang hanya mengenakan t-shirt dan bersandal.

“Apa tujuan acara ini, mas,” tanya si “buruh”.

Iwan menjawab ringan. “Biasalah. Memberikan semacam pelatihan agar teman-teman buruh dapat menulis puisi dengan lebih bagus.”

“Kenapa harus dilatih? Siapa penyandang dananya?”

Iwan mengerutkan kening. Pertanyaan beruntun si “buruh” menurutnya biasa saja dari seseorang yang baru ikut pelatihan, namun tidak berkaitan dengan kegiatan mereka. Dan karena tidak ingin mengecewakan si “buruh” agar bersedia datang lagi pada sesi-sesi berikutnya, Iwan pun menjelaskan seadanya bahwa pertemuan itu tak mengeluarkan biaya yang berarti. Pembimbing tidak mendapatkan honor, dan bila diselenggarakan di sebuah rumah petak buruh, tuan rumah yang menyediakan tempat dapat menyediakan air putih saja atau tak menyediakan apa pun boleh juga.

“Siapa ketuanya?”

Iwan semakin terganggu.. Teman “buruh” itu mestinya sudah mengetahui bahwa pertemuan-pertemuan IPT adalah gagasan Wowok Hesti Prabowo, seorang buruh yang senang menulis puisi, lalu menggalang buruh agar senang menulis puisi.

“Wowok Hesti Prabowo,” jawab Iwan pendek.

Iwan sama sekali tak mengetahui, bahwa para buruh yang semakin banyak berdatangan ke pinggir kali sore itu, mengira bahwa “buruh” yang sedang berbincang dengan Iwan adalah calon pembimbing pada sesi berikutnya. Dalam bayangan sebagian buruh, “buruh” itu ingin melihat dulu lingkungan pergaulan yang akan ikut diurusinya.

Kemudian, banyak lagi yang diperbincangkan Iwan dengan si “buruh” tentang IPT dan kegiatannya. Namun, hingga acara kemudian benar-benar dimulai oleh Iwan, seingatnya, si “buruh” tak sekalipun bertanya tentang puisi atau bagaimana caranya menulis puisi yang baik.

Iwan kemudian menyilakan para buruh yang sudah menulis puisi membacakan karyanya. Setelah itu Iwan mengajak para buruh mengarahkan perhatian ke setiap diksi yang mereka gunakan, bagaimana menjalinnya menjadi struktur puisi agar lebih baik, seperti apa sebaiknya membuat judul yang mengundang perhatian, dan sejauh mana puisi-puisi mereka telah memiliki isyarat tentang tema yang mau disampaikan.

Puisi-puisi kemudian ditulis ulang, lalu dibahas lagi, dan kemudian diadakan lagi diskusi dan pembacaan tentang beberapa karya terkenal yang diperkenalkan Iwan sebagai puisi-puisi yang memiliki anasir sastra seperti diajarkannya. Begitulah selalu isi kegiatan IPT berlangsung selama bertahun-tahun, berupa diskusi dan praktek langsung, sejak tahun 1995 sampai 1998.

“Secara umum apa yang mereka tanyakan adalah bagaimana membentuk imajinasi yang kuat, membuat judul yang baik, memulai dan mengakhiri puisi, dan hal-hal teknis lainnya,” jelas Iwan. Dan sebagian besar, menurut Iwan, permasalahan yang dihadapi para buruh yang ikut program pelatihan di IPT adalah struktur bahasa yang sama saja, dengan diksi yang khas dan terbatas, lalu dibebani tema kehidupan buruh.

“Saya mengasumsikan, kalau pun Sastra Buruh adalah sebuah genre, maka ia tidak didukung oleh landasan filosofis yang kuat; kecuali adanya kekhasan tematik akibat pengalaman sehari-hari,” kata Iwan.

Apa yang sering diteriakkan, jelas Iwan, rata-rata adalah perlawanan terhadap penguasa di pabrik dan juga penguasa di luar pabrik. Namun disayangkan oleh Iwan, para buruh secara tematis juga tidak menekuni dunia mereka secara rinci. Para buruh cenderung membicarakan permasalahan buruh pada tataran umum dengan seragam.

“Mereka jarang membicarakan bagaimana buruh mengantri mandi, hidup sempit-sempitan di rumah petak, dan semacamnya. Umumnya mereka membicarakan ketertindasan yang dikenali sebagai bahasa umum: gaji kecil, waktu kerja ketat dan menekan. Sementara hal-hal spesifik seperti bagaimana kehidupan seksual mereka, hubungan dengan kekasih, tidak mereka garap,” kata Iwan.

Iwan justru menemukan, sebuah puisi buruh yang membicarakan kehidupan seksual buruh yang khas, ditulis oleh Wowok ketika sudah tidak lagi menjadi buruh.

***

LALU pertemuan IPT di pinggir kali sore itu pun usai pada malam hari.

Iwan pulang dan telah melupakan si “buruh”. Tapi Iwan dan para buruh di IPT kemudian ramai membahas si “buruh” pada pertemuan selanjutnya di sebuah taman kota di Tangerang. Si “buruh” itu tidak kelihatan batang hidungnya. Dengan mudah Iwan dan para buruh menyimpulkan, bahwa si “buruh” adalah seorang intel yang sengaja mengawasi kegiatan IPT.

Dan bukan sekali itu saja IPT diawasi intel, yang pada tahun 1990-an begitu ketat mengawasi kegiatan masyarakat yang sedang mengadakan pertemuan. Apalagi bila kegiatan itu dilakukan para buruh, yang notabene dianggap sebagai salah satu kekuatan potensial mengadakan perlawanan di perusahaan ataupun kepada pemerintah yang berkuasa. Masa itu, Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) sudah sering mengadakan demontrasi, begitupun Serikat Buruh Sejahtera pimpinan Muchtar Pakpahan.

“Malam itu acara diadakan di rumah saya. Para intel mengerumuni dari ujung gang yang satu ke ujung gang yang lain. Boleh jadi jumlah mereka lebih banyak dibanding jumlah kami yang mengadakan pelatihan,” cerita Wowok Hesti Prabowo.

Para intel itu masuk ke dalam rumah, dan seluruh peserta IPT dimintai KTP-nya, nama-nama mereka didata, lalu pertemuan dibubarkan.

“Saya juga mendengar hal itu dari teman-teman. Saya kurang tahu persis siapa yang menjadi pembimbing malam itu. Kebetulan saya tidak datang,” kata Iwan Gunadi.

Wowok Hesti Prabowo lahir di Purwodadi Grobogan, 16 April 1963. Lulus STMA (semacam STM Kimia) di Yogyakarta tahun 1983, ia langsung bekerja di pabrik. Belasan tahun ia menjadi buruh pabrik di berbagai kota seperti di PT Ispat Indo (pabrik baja, Surabaya), PT Diamond Keramik (Pabrik Keramik, Gersik), PT Beruang Plastik Utama, PT Berlina (di Tangerang).

Selama memburuh di Tangerang, pada malam harinya Wowok kuliah di Fakultas Teknik Kimia Tekstil UNIS Tangerang (lulus tahun 1996). Ia pernah menjadi Ketua Unit Kerja SPSI PT Berlina. Puncak kariernya adalah manajer personalia, sebelum akhirnya di-PHK karena dinilai terlalu memihak buruh.

“Aktivitas kesenian teman-teman buruh di Tangerang tidak lepas dari Wowok. Wowok pernah jadi buruh, jadi manajer buruh, lalu keluar dan juga aktif di organisasi buruh. Waktu Roda Roda Budaya berdiri, Wowok sudah tidak lagi memburuh. Jadi ia relatif memiliki waktu lebih luang dibandingkan teman-teman buruh lainnya,” tutur Iwan Gunadi.

Menurut Iwan, Wowok secara khusus mencoba menjadikan sastra, terutama melalui disiplin puisi yang lebih dikuasainya, sebagai upaya menggerakkan buruh agar mampu keluar dari represi kekuasaan. Caranya, Wowok sengaja membentuk beberapa kelompok: Roda Roda Budaya (RRB), Budaya Buruh Tangerang (Bubutan), Institut Puisi Tangerang (IPT), Teater Tabur (Teater Buruh). “Tapi saya tidak tahu persis apakah Wowok ikut mendirikan Teater Tabur. Yang jelas dalam kegiatan teater, Wowok selalu bersinggungan dengan Teater Tabur,” kata Iwan.

Pementasan-pementasan Teater Tabur didomisi tema menjadikan buruh berdaya, mampu berhadapan dengan pengusaha atau penguasa. “Tapi waktu itu, lewat RRB, IPT, Tabur, Wowok bukan hanya memotivasi teman-teman buruh menulis puisi atau berkesenian, tapi juga menfasilitasi mereka,” papar Iwan.

Hingga, para buruh itu kemudian ada yang menerbitkan buku dalam bentuk sederhana, difotokopi, atau bahkan lebih bagus, dengan dicetak. Wowok secara intens melakukan pemberdayaan secara artistik kepada buruh-buruh yang karena pendidikannya yang terbatas, diasumsikan kurang menguasai bahasa dan teknik menulis karya sastra yang bagus.

“Awalnya bersama teman-teman buruh di pabrik, kami membentuk Komunitas Budaya Buruh Tangerang (Bubutan) tahun 1995. Kegiatannya mengikuti tradisi teman-teman sastra ketika itu, kumpul-kumpul, baca puisi, diskusi, keliling di kelompok-kelompok buruh, juga ke rumah-rumah kontrakannya,” kisah Wowok.

Satu hal yang langsung dirasakan Wowok adalah Bubutan ternyata tidak luwes memasuki dunia sastra Indonesia. Para buruh yang mengelompok bersamanya digayuti perasaan terpinggirkan, bahkan merasa minder kepada para sastrawan di pusat kesenian di Jakarta. Untuk menyiasatinya, Wowok pun mendirikan RRB. Sebagian besar anggotanya masih buruh, namun mereka dapat berinteraksi dengan para sastrawan nonburuh yang diajak Wowok ikut bergabung.

“Istilah Sastra Buruh muncul bersamaan dengan dikenalnya Sastra Pedalaman, gerakan sastra pinggiran. Karena anggota kita semuanya buruh dan berbicara tentang kehidupan buruh, maka kita namai saja Sastra Buruh,” kata Wowok.

Sastra Pedalaman adalah sebuah gerakan sastra yang dimotori Koesprihanto Namma dari Ngawi, yang menggugat “persekongkolan” koran-koran nasional dengan para sastrawan Jakarta. Koran-koran nasional dianggap menutup diri kepada para penulis daerah. Hal ini dipersoalkan Koesprihanto dan teman-temannya, sebagai sebuah rekayasa dan dominasi nilai sastra yang tidak adil.

“Saya, Koes, dan Sosiawan Leak dari Solo memang rajin berkomunikasi. Bikin gerakan yuk. Atau bikin apa lagi nih? Begitulah setiap kali datang ajakan dan pertanyaan dari mereka, bila kami telepon-teleponan,” ungkap Wowok.

Namun Wowok dan teman-teman buruhnya di Tangerang kemudian merasa heran, kenapa kemunculan Sastra Buruh diramaikan para sastrawan Jakarta. Sastra Buruh bahkan kemudian dicap kiri, mengusung semangat komunisme. Sementara tahun 1993, 1994, 1995, adalah hari-hari buruh yang dilalui dengan banyak pemogokan. Di setiap pemogokan para buruh membacakan puisi sebagai sarana menyampaikan aspirasi. Menunjukkan isi hati mereka yang tertekan, karena diperlakukan tidak adil oleh perusahaan dan juga peraturan pemerintah.

“Dan biasanya aktivis Bubutan adalah pengurus serikat aktif di perusahaan tempat mereka bekerja. Jadi bukan buruh biasa. Mereka mampu mengorganisir perlawanan dengan berdemo dan membacakan puisi, atau berteater,” kata Wowok.

Namun begitu mendengar adanya tudingan bahwa Sastra Buruh dicap kiri atau menganut paham Komunis, Wowok pun mempelajari sejarah sastra Indonesia dan menemukan suatu masa ketika terjadi persilangan ide antara kelompok Lekra dan Manikebu sejak 1950-an, yang memuncak pada tahun 1965-an. Perbedaan pilihan yang kemudian campur-baur dengan politik yang juga mendapat kekuatan dari sastra.

Goenawan Mohamad (1988) pernah menulis, berbeda dengan Manikebu yang menjadikan kemanusiaan dan kebebasan sebagai nilai tertinggi kesenian, kelompok Lekra menjadikan “politik sebagai panglima’. Maxim Gorki yang sering kali dikutip (diilhami pandangan Marxisme-Leninisme) menandaskan bahwa sastra tak pernah berada di luar politik. Ini berangkat dari pandangan, bahwa kehidupan terbangun dari perjuangan kelas yang manifestasinya adalah politik. Dan karena kehidupan dikuasai perjuangan kelas, tak seorang pun dapat mengelak dari pergulatan politik yang ada di dalamnya.

Sedangkan Bakri Siregar (1964) menyatakan bahwa sastrawan yang bergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang didirikan tanggal 17 Agustus 1950, tegas berpihak kepada rakyat dan mengabdi kepada rakyat, dan dengan demikian atas dasar “seni untuk rakyat” seperti dinyatakan “mukadimah Lekra” (1950) – menolak aliran “seni untuk seni” yang menurutnya dianut kelompok Manikebu.

“Saya baru tahu polemik itu setelah membaca sejarah sastra Indonesia. Sama halnya, kami tak pernah tahu kalau sidang puisi yang beberapa kali kami lakukan ternyata sudah pernah diadakan di Bandung tahun 1970-an,” kata Wowok.

Resonansi hadirnya Sastra Buruh, meskipun sifatnya menegasi, bagi Wowok dan para buruh di Bubutan justru menjadi penyemangat. Mereka merasa menjadi sorotan dan keberadaannya diperhitungkan Jakarta. “Pola pengangkatan seseorang menjadi penyair, ikut dipersoalkan bahkan dicurigai teman-teman Jakarta,” ungkap Wowok.

Wowok menggambarkan, guna menumbuhkan gairah bersastra di kalangan buruh, hal yang pertama dilakukan adalah penegasan bahwa menjadi penyair itu mudah. “Kita yakinkan siapa pun yang menulis puisi adalah penyair. Maka, dalam setiap pertemuan di rumah-rumah petak para buruh itu, kita membuat acara satu dua orang baca puisi, kita sambut dengan tepuk tangan, lalu kita nobatkan sebagai penyair,” kisah Wowok.

Dari sisi ini Sastra Buruh bisa ditafsirkan sebagai perlawanan terhadap penguasaan legitimasi sastra dari pusat kesenian di Jakarta, sejenis dengan gerakan perlawanan Sastra Pedalaman dan gerakan sastra pinggiran lainnya. Gerakan yang menentang legitimasi pusat (dengan segala infrastrukturnya, termasuk lembaga semacam Taman Ismail Marzuki dan juga media cetak Jakarta) sebagai “pembabtis” eksistensi kesastrawanan atau kepenyairan seseorang.

Tapi bagi Wowok, apa yang dilakukannya lebih bersifat menjaga moral dan mental para buruh yang diajaknya. “Setelah melantik mereka sebagai penyair, besoknya ketemu sudah enak, tinggal menagih, mana puisimu, ayo kita baca, kita diskusikan,” kata Wowok.

Namun, kalau pun para sastrawan yang sudah mapan menyebutkan cara pelantikan yang mudah itu sebagai perlawanan legitimasi, Wowok siap berargumentasi. “Lha, memangnya dunia kesusastraan itu milik siapa, penyair itu siapa. Kan mereka yang menulis sastra, menulis puisi, itu penyair. Terlepas dari orang menyukainya atau tidak, orang akan menganggapnya bagus atau tidak. Jadi persoalannya bukan puisi yang ditulis buruh atau nonburuh, tapi sastra yang berkualitas atau tidak. Kalau ada nada negatif menerima Sastra Buruh, boleh jadi muncul dari persepsi yang salah,” papar Wowok.

Endo Senggono, Pimpinan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, mempunyai catatan tersendiri tentang Sastra Buruh yang digerakkan Wowok. “Mereka, Wowok dan Dingu Rilesta, tahun 1995 datang ke PDS mau meluncurkan buku puisi Rumah Petak. Yang menghubungkan ke sini adalah penyair Sitok Srengenge,” kisah Endo.

Saat itu peluncuran buku belum marak. Maka acara peluncuran Rumah Petak cukup mendapat sambutan di kalangan sastrawan dan buruh. Istilah Sastra Buruh pun diperdengarkan. Rumah Petak berisi puisi-puisi yang mengangkat persoalan buruh, terutama yang bekerja di Tangerang. Ini salah satu puisi yang terdapat di dalamnya:

Alasan PHK, karya Wowok Hesti Prabowo

katamu, ibarat suami istri

bila tiada kecocokan harus cerai

mengapa begitu?

lantas kau menceraikan sepihak

tanpa pengadilan tanpa pesangon

katamu, ada jumpa ada pisah

selalu saja kau katakan itu

lantas kau phk aku tanpa salah

Bah!

manusia apa kau ini

kau anggap aku istri

selama ini tak kau sayangi

apakah karena dulu aku yang melamarmu?

Bah!

manusia apa kau ini

istrimu kau perkosa setiap hari

demi kepuasanmu

tapi bila tak lagi nikmat

kau kata tak cocok lagi

baiklah kita cerai

di pertempuran!

(Cikokol, Tangerang, 1994)

***

“TAK ada perbedaan khas dengan karya sastra umumnya yang menyoroti masalah buruh. Bedanya, kali ini yang menulisnya adalah buruh Tangerang yang sebenarnya, bukan penyair umumnya,” kata Endo. Saat itu, khazanah sastra Indonesia pun dimasuki istilah Sastra Buruh dengan nama Wowok sebagai presidennya.

Kelompok Sastra Buruh RRB kemudian juga meluncurkan buku puisi Trotoar yang mendapat dukungan dari beberapa penyair nonburuh. Sambutan dunia sastra Indonesia semakin jelas, paling tidak dating dari para sastrawan yang ikut hadir di PDS HB Jassin.

“Wowok dikenal, baik oleh para dedengkot perpuisian Indonesia seperti Sutardji Calzoum Bachri, maupun para pemula yang baru belajar menulis di rumah-rumah petak, kawasan industri Jabotabek, dan kota-kota lain di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, apalagi Jawa. Wowok adalah organisator yang menggerakkan aktivitas budaya di kalangan pinggiran, termasuk Kudus, Surakarta, Purwokerto, dan seterusnya. Wowok telah menjadi fenomena klasik yang khas dalam proses industrialisasi di Asia Tenggara pada umumnya, dan di Pulau Jawa pada khususnya,” demikian Eka Budianta pernah menulis (1999).

“Beberapa sastrawan senior berdatangan ke acaranya Wowok, dan mereka selalu mengikuti sampai acara selesai, seperti Eka Budianta, Taufiq Ismail, Ikranegara, dan Leon Agusta,” ungkap Endo.

Endo juga melihat adanya vitalitas gerakan Sastra Buruh yang ingin menjadi kelompok alternatif. Saat itu, prareformasi 1998, di Indonesia sedang menjamur kelompok masyarakat yang membangun diri menjadi semacam komunitas karier ataupun politik, seperti para sastrawan, para bankir, para mahasiswa, para aktivis lingkungan, dll.

“Dipilihnya tempat peluncuran buku mereka di PDS HB Jassin, saya kira tidak lepas dari anggapan bahwa tempat ini netral, meskipun lokasinya berada di TIM yang diandaikan sebagai pusat kesenian yang harus dilawan oleh komunitas seniman,” kata Endo.

Dan sejak itu, bila sebelumnya PDS HB Jassin lebih sering menerima kunjungan tamu-tamu pelajar SMA atau mahasiswa yang datang untuk penelitian sastra, selanjutnya PDS menjadi tempat peluncuran buku yang “bebas” dari birokrasi pemerintah. “Aktivis buruh seperti Muchtar Pakpahan pun memilih meluncurkan bukunya di PDS,” ungkap Endo.

***

AKARNYA boleh jadi memang gejolak sosial prareformasi 1998, berupa tumbuhnya gerakan masyarakat yang ingin melepaskan diri dari jaringan birokrasi pemerintah atau malah ingin melawannya. “Sebab pembredelan Tempo yang kemudian menyatukan perlawanan massa pada 21 juni 1994, berangkat dari sini juga. Waktu itu, Wowok membuat buku Catatan Pengadilan Tempo. Saya kira Wowok berkenalan dengan Sitok saat itu,” kata Endo.

Tidak saja berhasil membuat acara di PDS HB Jassin dan mengundang para sastrawan senior untuk hadir, Wowok dan teman-temannya pun mengadakan acara dan mengundang para sastrawan Jakarta, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ikranegara, Sides Sudyarto DS, dan dokumentator sastra Endo Senggono ke tempat mereka di Tangerang.

Bubutan yang dipimpin Wowok waktu itu beranggotakan 50-an orang. Beberapa pertemuan yang diselenggarakan bersama tamu-tamu sastrawan berhasil membawa penyadaran eksistensial. Hingga, di dalam pemogokan yang dilakukan, selain melakukan orasi, mereka membacakan puisi-puisi yang semakin mampu menyuarakan aspirasi. “Ayo, lawan!” begitulah afirmasi yang diteriakkan kebanyakan puisi buruh yang ditulis dan dibacakan pada masa itu.

Di dunia sastra, puisi-puisi buruh seperti itu sering dicap slogan. “Makanya, untuk menyiasatinya, agar teman-teman buruh dapat mengembangkan kemampuan di bidang kesusastraan, kita membentuk Institut Puisi Tangerang (IPT),” ujar Wowok.

Semua ini dilakukan Wowok, tak lepas dari kepercayaannya yang tinggi bahwa sastra adalah “alat”. “Sastra adalah alat untuk membuat hidup agar lebih baik dan adil,” tegas Wowok.

“Bagi buruh, puisi adalah benteng harga diri,” demikian Wowok menulis dalam pengantar buku puisinya Buruh Menggugat yang sebelum diterbitkan tahun 1999, selama beberapa tahun fotokopiannya banyak beredar di kalangan buruh.

Menulis puisi itu gampang, kata Wowok. Menjadi penyair itu gampang. Itulah yang selalu dikatakannya kepada buruh, sopir, atau siapa saja orang yang awam atas puisi, agar mereka tidak ragu, malu, atau takut menulis puisi. Siapa pun bisa menjadi penyair karena dunia kepenyairan adalah milik semua orang.

Lebih dari itu, lanjut Wowok, menulis puisi tidak sekadar merangkai kata-kata. Tak sekadar membebaskan kata-kata. Memang, kata-kata punya hak untuk bebas seperti halnya penyair yang berhak dan bebas mengatur, mengendalikan, dan memaknai kata-kata. Namun kata-kata tak cukup hanya untuk dirinya sendiri. Puisi tak cukup hanya untuk puisi. Seni tak cukup hanya untuk seni.

“Bagi buruh, puisi adalah mulut,” tulis Wowok. Ketika hak-hak buruh ditebas, kebebasan buruh dibelenggu, kehidupannya ditindas dengan berbagai intimidasi dan kesewenangan maka untuk menyuarakan isi hatinya buruh butuh mulut. Dan mulut itu adalah puisi.

Jadi, puisi bagi buruh adalah media untuk berjuang. Memang, puisi tak seefektif atau seampuh pemogokan. Tapi, lihatlah, di berbagai aksi pemogokan buruh, selalu ada puisi. Ya, seharusnya begitu: puisi dan pemogokan bisa berjalan berdampingan.

Puisi buruh atau sastra buruh, kata Wowok, suka atau tidak suka, mau tidak mau, telah menjelma wilayah baru yang mandiri dalam peta kesusastraan Indonesia, bahkan dunia. Dan itulah obsesi Wowok sejak pertama kali mengobarkan Sastra Buruh, agar dunia sastra mau tak mau harus berpaling pada komunitas pabrik yang dulu dicitrakan sebagai “manusia robot”. Sebab, sastra bagi buruh adalah dunia nyata. Sastra tidak untuk mengukuhkan kecongkakan sastrawan yang merasa dirinya di awang-awang dan kakinya tak pernah menginjak bumi…

Setelah buruh menemukan harga dirinya lewat puisi, simpul Wowok dalam pengantar Buruh Menggugat itu, maka kelak buruh tak boleh bodoh, tak harus miskin dan tak boleh penakut.

***

BARANGKALI karena tendensi tematik “berapi-api” yang ditekankan Wowok inilah, selama menjadi pembimbing di IPT, Iwan Gunadi jarang mendapatkan puisi yang kaya potensi kesusastraannya. “Banyak teman buruh lebih senang bicara tentang tema-tema besar, kekerasan, kekuasaan, perlawanan,” kata Iwan.

Iwan menyebutkan beberapa nama yang puisi-puisinya penuh teriakan, afirmatif, seperti Dingu Rilesta, Nurjanah Sutardji, Marzuki, Magnus Albertus, dll. Puisi-puisi mereka tidak jauh beda dengan kebanyakan puisi yang lain, kurang terinci, tidak sulit memahaminya, karena semua persoalan disampaikan dengan nada polos dan lugu.

Hal yang berbeda dengan apa yang ditemukan Iwan pada puisi-puisi Husnul Khuluqi, seorang buruh Tangerang yang masih menulis puisi dan juga memburuh sampai sekarang (2007). Menurut Iwan, Husnul menulis puisi dengan sandaran tema-tema kecil dan rinci, seperti bagaimana buruh mengisi kehidupan malam minggunya, bagaimana derita buruh tampak dari kehidupan anaknya, membicarakan keterpaksaan tidak bisa pulang saat Lebaran, menyoroti menu makanan di pabrik yang itu-itu saja, atau bagaimana ia mau sholat sementara dalam bayangannya ada pengawasan dari mandor, dll.

“Masalah keseharian dan lebih konkret justru jarang digarap kebanyakan penyair buruh,” jelas Iwan. Hingga, Iwan menandaskan, bila pada kebanyakan penyair buruh nada afirmatif mudah ditemukan, maka di puisi-puisi Husnul nada afirmatif justru langka.

Endo Senggono mendukung pendapat Iwan. “Selain Wowok, dua nama yang terus bertahan dan saya kira berkembang adalah Aris Kurniawan pada prosa dan Husnul Khuluqi pada puisi,” kata Endo.

Tentang Aris Kurniawan, cerpenis yang lima tahun terakhir karya-karyanya banyak menyebar di berbagai media cetak Jakarta maupun kota-kota besar lainnya di Indonesia, memang bertumbuh dari IPT (seperti juga Husnul) dan memacu diri dengan tambahan bacaan dari orang-orang yang bersedia meminjamkan buku termasuk dari Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.

Aris Kurniawan kini tidak lagi bekerja di pabrik, tapi menjadi wartawan di sebuah majalah dan situs perfilman, disamping terus berkarya dan rajin membaca serta menghadiri diskusi-diskusi sastra. “Aris mengenal seorang ibu yang rajin meminjamkan buku kepadanya, di samping mencari buku yang dibutuhkannya ke PDS,” ungkap Endo.

Iwan membenarkan apa yang digambarkan Endo tentang Aris. Sementara Iwan sendiri mempunyai pola “membantu” Aris dan Husnul mengatasi keterbatasan ekonomi membeli buku. “Keduanya saya tawari buku-buku, dengan catatan keduanya berjanji akan membacanya. Dan kalau ada yang menghilangkan buku yang dipinjamnya, selanjutnya ia kehilangan kesempatan untuk meminjam,” kata Iwan Gunadi.

Husnul Khuluqi belakangan juga mulai menulis cerpen dan novel. Bagi Iwan, Husnul adalah tipe buruh dengan sisi kepenyairan yang khas. Tahun 1996 ke belakang, kosakata Husnul tidak banyak. Husnul masih menulis rata-rata dengan nada lugu dan transparansi yang sama sebagaimana buruh-buruh lainnya. Pemanfaatan metafornya tidak banyak.

“Tapi sejak tahun 1998 ke sini, ia sudah menjadi penyair sebagaimana penyair mutakhir yang senang bermain-main metafora. Dan Husnul didukung pengalaman keseharian yang istimewa sebagai buruh, sehingga puisinya mempunyai keunikan yang tidak sampai menjadi puisi gelap, seperti yang menjebak para penyair mutakhir,” papar Iwan.

Selama 10 tahun memburuh, Husnul tetap menulis puisi buruh, meski jumlahnya hanya sebagian kecil dari puisi-puisinya. “Walau sebagian kecil, tapi jumlahnya lebih dari ratusan. Karena Husnul sudah menulis puisi ribuan. Saya pernah memintanya memfotokopi semua puisi-puisinya yang lama maupun terbaru,” kisah Iwan.

Ketika sedang produktif, beberapa tahun lalu Husnul mengirim puisi secara rutin kepada Iwan. Lalu belakangan ia mengirim puisi hanya sesekali. Menurut Iwan, Husnul pernah berkata bahwa banyak juga puisinya yang tidak terdokumentasi, karena dikirim ke media massa sebelum memfotokopinya. Sementara, Husnul tidak mengetahui apakah puisi-puisinya itu dipublikasikan atau tidak.

“Yang menyolok adalah, Husnul berkembang sebagai penyair, bahkan cukup signifikan dalam penguasaan bahasa: diksi, kosakata, struktur, maupun pemanfaatan metafora,” kata Iwan.

Uniknya lagi, menurut Iwan, Husnul selalu menghadiri acara demo dan baca puisi yang dilakukan teman-temannya buruh ketika berhadapan dengan perusahaan atau pemerintah. Tapi Husnul tak pernah ikut membacakan puisi-puisinya, bahkan yang berisikan perlawanan. Dan sejak kecil, tambah Iwan, Husnul pun ternyata telah bercita-cita menjadi seorang penulis.

Maka, bila dengan gerakan Sastra Buruh, Wowok ingin melawan represi perusahaan dan pemerintah yang menelikung buruh, dan juga legitimasi pusat sastra dengan eksklusivisme yang “meremehkan” kepenyairan buruh – Husnul boleh jadi tidak termasuk dalam kelompok “buruh” ini. Sebab, Husnul tak pernah menjadikan pusat-pinggiran, buruh-pengusaha, buruh-pemerintah, senior-junior, remeh-eksklusif, sebagai ajang persoalan sastra. Ia hanya menulis puisi, yang kini jumlahnya sudah ribuan.

Lalu pada 7 September 1996 lahirlah Komunitas Sastra Indonesia (KSI) yang keanggotaannya tidak saja buruh, melainkan nonburuh, ditambah beberapa komunitas sastra yang sudah menjamur pada masa itu. Meskipun, anggota yang paling dominan adalah buruh, karena KSI memang berangkat dari embrionya: RRB.

“Ini berawal dari kegiatan persiapan kumpulan puisi Trotoar yang mengakomodasi puisi-puisi buruh di Tangerang ditambah para penyair se-Jabotabek itu,” kisah Wowok. Ketika ia mengalami PHK dan mendapatkan pesangon, menyisihkan sebagian uang pesangon untuk penerbitan buku kumpulan bersama sudah menjadi obsesinya.

Namun dalam beberapa kali pertemuan merancang acara di PDS HB Jassin, terbetiklah gagasan ingin meluaskan wilayah kegiatan organisasi kesenian RRB ke tingkat nasional atau Indonesia.

“Keinginan itu menguat ketika rapat di rumahnya Azwina Aziz Miraza. Hampir 60-an orang yang datang. Buruh banyak, pengamen ada, penyair ada, ditambah macam-macam profesi lain yang secara pribadi-pribadi meminati sastra. Di situlah teman-teman bersepakat menunjuk 11 orang sebagai perwakilan dari komunitas-komunitas yang hadir untuk membentuk organisasi kesusastraan yang lebih besar,” papar Iwan.

Ada Iwan Gunadi dari Kelompok Tikar Pandan, Wowok dari Roda Roda Budaya bersama para buruh, ada Ayid Suyitno dari Sastra Kita, Ahmadun Yosi Herfanda dari Korcil Republika, Diah Hadaning dari Warung Sastra Diah, Medy Loekito dari Rumah Sastra Pulo Asem, Shobir Poerwanto dari Sarang Matahari Penggiat Sastra, ada Wig SM dari Komunitas Sastra Bekasi, Slamet Rahardjo Rais dari Masyarakat Sastra Jakarta, dll.

“Nama Komunitas Sastra Indonesia dimunculkan oleh Viddy Alymahfoedh Daery,” kata Iwan Gunadi. Sebagai jalan tengah dari munculnya dua usulan nama yang diperdebatkan: antara Komunitas Sastrawan Indonesia atau Komunitas Sastrawan di Indonesia. Dengan anggapan bahwa anggota komunitas tidak hanya individunya, melainkan juga materinya, yakni sastra.

Sebagai pengurus KSI periode I (1996-1999), Wowok Hesti Prabowo terpilih sebagai ketua. “Karena ketuanya seorang aktivis buruh, wajar saja kalau program awal KSI lebih banyak mendukung keperluan buruh dan menyuarakan aspirasi mereka, yang kemudian sempat menciptakan stigma dan meresahkan teman-teman komunitas yang tergabung dalam KSI,” ujar Iwan.

“Seperti ketika menggerakkan RRB, kali ini KSI pun kembali dituding kiri, mengusung paham Komunis,” kata Wowok.

Wowok pun merelakan dirinya disidang oleh teman-temannya di KSI. “Saya ditanyai apakah isu di luar memang benar bahwa saya menyebarkan Komunisme. Tentu saja saya sangkal. Seperti sudah saya katakan, saya baru mengetahui di dunia sastra Indonesia pernah ada perbenturan ide antara Komunisme dengan Humanisme Universal, setelah aktif menyuarakan perlawanan buruh dengan puisi,” ungkap Wowok.

Mengatasi persoalan tudingan yang datang dari luar KSI ini, pada kepengurusan KSI periode II (1999-2002), terpilihlah menjadi ketua Ahmadun Yosi Herfanda dari komunitas Korcil Republika. “Bisa saja orang berkomentar, KSI sedang bergerak dari kiri ke kanan,” kata Wowok tersenyum.

“Tapi tetap tak bisa dipungkiri, KSI nyaris identik dengan Wowok,” kata Endo Senggono.

***

MELIHAT kegiatan KSI yang beruntun di masa kepengurusannya, ikut menjadikan Wowok sebagai pusat perhatian. Hingga, wajar saja stigma yang pernah muncul di masa RRB menggayuti pula sampai ke KSI. Ditambah tudingan seolah-olah RRB-nya Wowok telah membesar menjadi KSI-nya Wowok.

Padahal, seperti dijelaskan Iwan Gunadi, KSI sejak awal lebih dijadikan semacam “pendorong” bagi berkembangnya komunitas-komunitas yang bernaung di bawahnya. “KSI tidak untuk mematikan komunitas yang tergabung di bawahnya,” kata Iwan.

Bila yang terlihat masa itu adalah produktivitas kerja KSI yang luar biasa, “itu tidak selalu dari KSI. Bisa saja kegiatan itu dilakukan komunitas di bawahnya, apakah itu Komunitas Sastra Bekasi, Sastra Kita, Masyarakat Sastra Jakarta, namun karena kesepakatan di KSI, selalu disebutkan berkerja sama dengan KSI,” jelas Iwan yang menjadi ketua KSI kepengurusan periode III (2002-2005).

Hal ini dapat berlangsung karena semangat kerja sama yang tinggi di kalangan anggota KSI. Setiap orang memiliki komunitas, namun secara bersamaan menyiapkan diri untuk kegiatan yang lebih besar. “Meski perjalanan tidak mulus-mulus amat, tapi semua masalah bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan,” ungkap Iwan.

Beberapa buku kumpulan puisi, seperti Asosiasi Penyair Indonesia (API) Jilid I dan Jilid II, menghimpun karya puluhan penyair se-Indonesia, berhasil diterbitkan KSI. Begitupun sebuah buku kumpulan puisi, cerpen, esai yang tergabung dalam Angkatan 2000, kembali berhasil diterbitkan KSI.

“Semuanya hasil kerja sama dengan pihak lain. API dengan penerbit Angkasa, Angkatan 2000 dengan kelompok Gramedia. KSI tak pernah punya uang,” kata Wowok. Dengan kerja sama pula, KSI sudah beberapa kali menyalurkan bantuan dana dan sembako kepada para seniman maupun masyarakat yang terkena bencana alam. Yang terbaru (tahun 2006) adalah menyalurkan bantuan dana Rp 2,5 juta sampai Rp 4 juta per orang kepada seniman-seniman Yogyakarta yang tertimpa bencana gempa.

“Kami menyalurkan ratusan juta rupiah. Semuanya bantuan dari relasi seorang simpatisan KSI, Melanie Budianta,” ungkap Wowok.

“KSI memang tak pernah memiliki dana. Semua program diselenggarakan dengan swadaya atau bekerja sama dengan donator, juga patungan dari sesama pengurus. Namun, sukar dipungkiri, yang paling banyak mengeluarkan uang ya Wowok,” pungkas Iwan Gunadi.