Selamat Malam Tokyo, Selamat Natal Akihito
Keluar dari bandara Haneda pada suatu sore di penghujung November 2006, di dalam bus yang menjemput kami, saya langsung terkesima. Di antara jembatan dan jalan-jalan layang yang bersilangan di sisi sebuah selat, saya sudah melihat gedung-gedung apartemen diremangi cahaya senja. Namun beberapa kamar masih tampak terlihat jelas dari luar. Dan di kamar-kamar itu, saya melihat lampu-lampu pohon
Tak terhindarkan, saya segera mencurigai rekaman persiapan data yang saya selipkan di sudut benak.
Sebagai pusat politik Jepang sejak tahun 1603,
Kepala pemerintahan terbaru adalah PM Shinzo Abe yang mulai memerintah pada 26 September 2006. Dalam kunjungan kami ke
Tapi, lihat, seusai melewati sebuah tikungan menjauhi selat itu, dan bus yang saya tumpangi kini sepenuhnya berada di wilayah gedung-gedung apartemen dan perkantoran serta pusat-pusat belanja, saya semakin sering melihat pohon-pohon
Agama, bagaimana dengan agama? Kejar ingatan saya. Ah, jumlah penduduknya dulu. Tadi sudah saya sebutkan, seperempatnya, sekitar 30 jutaan penduduk Jepang menghuni
Lalu, kenapa mereka sudah menyalakan pohon
Selanjutnya, malam pertama di
“Yuk, kita pakai jaket baru keluar,” ajak seorang teman. Hal yang kemudian saya sepakati. Begitu turun dari bus dan memasuki kamar hotel beberapa jam lalu, sibuk mengurus perlengkapan jaringan internet yang diinstal ke dalam kamar, lalu sempat mengetik beberapa berita pendek, saya dan teman sekamar ternyata sudah “berlama-lama” di kamar. Beberapa restoran hotel yang dipersiapkan sebagai tempat makan anggota rombongan sudah tutup. Dan satu-satunya makanan yang tersedia hanyalah di kafe lobi, atau memesan ke dapur hotel (yang tentu saja enak dan mahal), atau berusaha mencari makanan alternatif ke luar hotel.
Dan tawaran untuk keluar hotel tentu saja lebih menggairahkan saya. Saya sungguh sudah tidak sabar ingin berdekatan langsung dengan manusia-manusia Tokyo, yang selama ini baru saya lamunkan sebagai efek pergaulan dengan novel-novelnya Kawabata, Mishima, atau Murakami yang kini termasuk novel-novel yang paling banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa lain di dunia. Manusia-manusia unggul dari
Sebab, Jepang memang pernah menutup diri dari dunia luar. Sejak tahun 1603 Shogun Tokugawa dalam upaya mempertahankan kekuasaan telah menutup wilayah Jepang dari pengaruh asing dan selama 250 tahun masa isolasi itu, masyarakat Jepang menikmati stabilitas politik dan berkembangnya kebudayaan khas Jepang. Namun, sejak penandatanganan Perjanjian Kanagawa antara Jepang-Amerika Serikat pada 1854, Jepang membuka pelabuhan dan mulai mengalami proses industrialisasi dan modernisasi yang pesat.
Pukul 24.00 Waktu Tokyo saya dan teman sekamar kemudian meninggalkan gerbang hotel dan langsung berjuang menghadapi hantaman angin dan udara dingin. Jalanan sudah sepi. Sementara, saat itu, di Jakarta barulah pukul 22.00 malam. Dan karena malam Senin, hari pertama masa kerja dalam seminggu, jalanan
Aneh, saya mendadak enggan melangkah, begitu pun teman saya. “Mestinya kita mengajak teman lain,” kata teman saya. Saya mengangguk dan menyadari: kami sedang di negeri asing, bahkan baru beberapa jam. Tapi, bukankah
“Bagaimana, kita lanjutkan mencari makan?” tanya saya.
“Kita makan di dapur hotel sajalah, atau di kafe lobi. Tadi saya lihat ada teman-teman wartawan lain kok,” kata teman saya.
Saya setuju dan kami segera berbalik menuju halaman hotel yang baru kami tinggalkan sekitar 40-an meter. Dingin itu, dingin tengah malam
Hussshh! Sehembus udara hangat langsung menerpa wajah dan menyamankan tubuh saya, ketika kami kembali ke dalam lobi hotel. Dan saya langsung terperanjat, ketika menampak di pojok lobi hotel: sebuah pohon
Pohon Natal lagi! Pertanyaan saya tadi sore kembali menyala dan ingin mendapatkan jawaban. Kenapa? Kenapa pohon
Dari seorang wanita pelayan kafe lobi yang akhirnya kami kunjungi, saya pun mendapatkan jawaban sederhana namun mencengangkan. Masyarakat Jepang, sangat menghormati kaisar mereka. Salah satu cara adalah dengan merelakan peringatan hari nasional Jepang sama dengan tanggal kelahiran sang kaisar, dan merayakannya selama sebulan.
Kaisar Akihito, sang putera matahari yang sekarang memimpin kekaisaran Jepang lahir pada 23 Desember. Untuk merayakannya, masyarakat Jepang telah memulainya sejak 23 November. Sementara itu, hari

0 Comments:
Post a Comment
<< Home