Monday, March 26, 2007

Selamat Malam Tokyo, Selamat Natal Akihito

Keluar dari bandara Haneda pada suatu sore di penghujung November 2006, di dalam bus yang menjemput kami, saya langsung terkesima. Di antara jembatan dan jalan-jalan layang yang bersilangan di sisi sebuah selat, saya sudah melihat gedung-gedung apartemen diremangi cahaya senja. Namun beberapa kamar masih tampak terlihat jelas dari luar. Dan di kamar-kamar itu, saya melihat lampu-lampu pohon Natal berkelap-kelip. Betapa cepatnya Tokyo merayakan hari Natal, pikir saya. 25 Desember masih sebulan lagi.

Tak terhindarkan, saya segera mencurigai rekaman persiapan data yang saya selipkan di sudut benak. Japan adalah nama Nihon atau Nippon dalam bahasa Inggris. Sementara Jepang adalah penyebutan dalam bahasa Indonesia. Ibu kotanya Tokyo, kota paling besar di Jepang yang menjadi tujuan saya dan teman-teman wartawan dari Indonesia sore itu.

Sebagai pusat politik Jepang sejak tahun 1603, Tokyo adalah ibu kota dan pusat ekonomi serta informasi. Di tengah-tengah kota Tokyo, terdapat Istana Kekaisaran yang dulu merupakan Puri Edo. Di sekitar Istana terdapat National Diet Building (Gedung Parlemen), kementerian-kementerian, dan distrik-distrik bisnis. Sekitar 30 juta orang, atau kurang lebih seperempat dari jumlah penduduk Jepang, tinggal di Metropolitan Tokyo dan sekitarnya.

Kepala pemerintahan terbaru adalah PM Shinzo Abe yang mulai memerintah pada 26 September 2006. Dalam kunjungan kami ke Tokyo itu, pada hari ketiga saya dan teman-teman akan berkesempatan bertemu dengan Shinzo Abe. Tentu saja, saya dan teman-teman wartawan hanya kebagian tugas meliput. Sebab yang akan bertemu dengan Shinzo Abe adalah Presiden SBY, yang dalam kunjungan kerja dan kenegaraannya itu mengajak wartawan untuk menyertai, di antaranya saya.

Tapi, lihat, seusai melewati sebuah tikungan menjauhi selat itu, dan bus yang saya tumpangi kini sepenuhnya berada di wilayah gedung-gedung apartemen dan perkantoran serta pusat-pusat belanja, saya semakin sering melihat pohon-pohon Natal berbagai ukuran. Ada yang di pojok kamar, di bagian ruang depan pertokoan, di dekat jendela, atau di bawah tangga. Lampu-lampunya berkelap-kelip semakin terang dan jelas, seiring remang senja yang semakin pekat. Lampu-lampu pohon Natal itu, berkelap-kelip di antara terang lampu-lampu kota Tokyo yang mulai menyala terang-benderang.

Agama, bagaimana dengan agama? Kejar ingatan saya. Ah, jumlah penduduknya dulu. Tadi sudah saya sebutkan, seperempatnya, sekitar 30 jutaan penduduk Jepang menghuni Tokyo. Tapi berapa jumlah penduduk Jepang? Perhitungan tahun 2006, jumlah seluruhnya 127, 741 juta. Terdiri dari suku-suku asli Ainu, warga keturunan Korea, dan warga keturunan China. Dengan pendapatan perkapita, termasuk tertinggi di dunia, US$ 40,242. Lalu, agama, mayoritas agama Shinto (50,3 %), Buddha (44 %), Kristen (1 %), lain-lain (4,7 %).

Lalu, kenapa mereka sudah menyalakan pohon Natal baru pada bulan November? Apakah data yang saya pelajari tidak valid? Sebab, mayoritas penduduk Tokyo ternyata beragama Kristen yang saleh? Hingga merayakan Natal, lebih dini dibanding orang-orang Kristen di negara-negara lain, termasuk Eropa Barat dan Amerika Serikat? Saya benar-benar penasaran, tapi tak sempat lagi memikirkan lebih dalam, karena bus telah memasuki halaman parkir hotel tempat kami menginap. Kami harus segera turun dengan bawaan masing-masing.

Selanjutnya, malam pertama di Tokyo saya isi dengan orientasi ruang dan iklim. Saat itu Jepang masih di bawah musim gugur. Cuaca malam hari bisa mencapai 10 derajat Celcius. Di kamar hotel dan café lobi hotel tentu saja hangat, karena adanya pemanas secara sentral. Pukul 23.00 malam Waktu Tokyo, iseng-iseng saya mengikuti ajakan seorang teman untuk keluar dari pintu depan hotel. Saya langsung merasakan hantaman udara dingin 10 derajat Celcius itu. Saya menggigil dan merasakan tusukan angin malam yang dingin di wajah saya.

“Yuk, kita pakai jaket baru keluar,” ajak seorang teman. Hal yang kemudian saya sepakati. Begitu turun dari bus dan memasuki kamar hotel beberapa jam lalu, sibuk mengurus perlengkapan jaringan internet yang diinstal ke dalam kamar, lalu sempat mengetik beberapa berita pendek, saya dan teman sekamar ternyata sudah “berlama-lama” di kamar. Beberapa restoran hotel yang dipersiapkan sebagai tempat makan anggota rombongan sudah tutup. Dan satu-satunya makanan yang tersedia hanyalah di kafe lobi, atau memesan ke dapur hotel (yang tentu saja enak dan mahal), atau berusaha mencari makanan alternatif ke luar hotel.

Dan tawaran untuk keluar hotel tentu saja lebih menggairahkan saya. Saya sungguh sudah tidak sabar ingin berdekatan langsung dengan manusia-manusia Tokyo, yang selama ini baru saya lamunkan sebagai efek pergaulan dengan novel-novelnya Kawabata, Mishima, atau Murakami yang kini termasuk novel-novel yang paling banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa lain di dunia. Manusia-manusia unggul dari Asia, dengan sejarah panjang yang pernah tak diketahui dunia luar.

Sebab, Jepang memang pernah menutup diri dari dunia luar. Sejak tahun 1603 Shogun Tokugawa dalam upaya mempertahankan kekuasaan telah menutup wilayah Jepang dari pengaruh asing dan selama 250 tahun masa isolasi itu, masyarakat Jepang menikmati stabilitas politik dan berkembangnya kebudayaan khas Jepang. Namun, sejak penandatanganan Perjanjian Kanagawa antara Jepang-Amerika Serikat pada 1854, Jepang membuka pelabuhan dan mulai mengalami proses industrialisasi dan modernisasi yang pesat.

Pukul 24.00 Waktu Tokyo saya dan teman sekamar kemudian meninggalkan gerbang hotel dan langsung berjuang menghadapi hantaman angin dan udara dingin. Jalanan sudah sepi. Sementara, saat itu, di Jakarta barulah pukul 22.00 malam. Dan karena malam Senin, hari pertama masa kerja dalam seminggu, jalanan Tokyo yang masih melingkari lokasi hotel tidak begitu ramai. Di kejauhan, kami melihat lampu-lampu terang dari jajaran kafe-kafe atau mungkin juga restoran yang masih buka.

Aneh, saya mendadak enggan melangkah, begitu pun teman saya. “Mestinya kita mengajak teman lain,” kata teman saya. Saya mengangguk dan menyadari: kami sedang di negeri asing, bahkan baru beberapa jam. Tapi, bukankah kota Tokyo terkenal aman? Lihat, di perempatan jalan sana dua orang polisi sedang mengbrol di bawah udara dingin. Embun bertiup dari mulut mereka, ketika mereka mengobrol. Sekilas, mereka melirik ke arah kami yang melangkah ragu.

“Bagaimana, kita lanjutkan mencari makan?” tanya saya.

“Kita makan di dapur hotel sajalah, atau di kafe lobi. Tadi saya lihat ada teman-teman wartawan lain kok,” kata teman saya.

Saya setuju dan kami segera berbalik menuju halaman hotel yang baru kami tinggalkan sekitar 40-an meter. Dingin itu, dingin tengah malam kota Tokyo, benar-benar lebih dingin dari udara dingin yang saya rasakan, ketika menyongsong terbitnya matahari Pukul 04.00 subuh di puncak Gunung Bromo beberapa tahun lalu.

Hussshh! Sehembus udara hangat langsung menerpa wajah dan menyamankan tubuh saya, ketika kami kembali ke dalam lobi hotel. Dan saya langsung terperanjat, ketika menampak di pojok lobi hotel: sebuah pohon Natal raksasa berdiri megah dengan hiasan lampu-lampu yang berkelap-kelip serta boneka Santa Claus raksasa di sampingnya.

Pohon Natal lagi! Pertanyaan saya tadi sore kembali menyala dan ingin mendapatkan jawaban. Kenapa? Kenapa pohon Natal, sudah menyala di setiap pojokan rumah-rumah dan gedung-gedung kota Tokyo, padahal baru bulan November?

Dari seorang wanita pelayan kafe lobi yang akhirnya kami kunjungi, saya pun mendapatkan jawaban sederhana namun mencengangkan. Masyarakat Jepang, sangat menghormati kaisar mereka. Salah satu cara adalah dengan merelakan peringatan hari nasional Jepang sama dengan tanggal kelahiran sang kaisar, dan merayakannya selama sebulan.

Kaisar Akihito, sang putera matahari yang sekarang memimpin kekaisaran Jepang lahir pada 23 Desember. Untuk merayakannya, masyarakat Jepang telah memulainya sejak 23 November. Sementara itu, hari Natal bagi umat Kristen adalah merayakan hari kelahiran Kristus, yang jatuh pada 25 Desember setiap tahunnya. Tanggal itu berdekatan dengan hari kelahiran Akihito. Merayakannya secara bersamaan, selama sebulan, tidak ada ruginya bagi masyarakat Jepang, Tokyo khususnya. “Lagi pula, pohon Natal itu indah, banyak lampu-lampunya,” demikian si wanita pelayan itu, seraya menyajikan teh hijau yang saya pesan.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home