Monday, March 26, 2007

St.Petersburg, Kunjungan Musim Gugur

Matahari di penghujung bulan November 2006 itu tak kelihatan. Waktu masih menunjukkan pukul 16.00 Waktu Saint Petersburg. Rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendarat di bandar udara militer Pulkovo 1 Zona-A, St Petersburg. Kepala negara dan ibu serta rombongan khusus lainnya, seperti para menteri, para rektor dan kelompok pengusaha yang disertakan, mengikuti prosesi penyambutan oleh pejabat setempat. Sementara para wartawan diberangkatkan lebih dulu ke hotel.

Di Jakarta saat itu waktu tentu saja sudah pukul 20.00 malam. Kesibukan di jalan-jalan Sudirman ataupun Jalan Gatot Subroto pastilah mulai berkurang, apalagi pada hari kerja. Orang-orang sebagian besar bahkan boleh jadi sudah merapat ke rumah masing-masing. Tapi di jalan-jalan St. Petersburg yang mendung (nyaris gelap), menembus udara dingin yang terkadang sampai di bawah 0 derajat Celcius, orang-orang baru saja mau berangkat kuliah sore, atau mau berbelanja, sedang jalan-jalan, atau baru mau melanjutkan pertemuan bisnis berikutnya.

“Jam kantor masih satu atau dua jam lagi,” kata pemandu kami, seorang mahasiswa Indonesia yang mengambil kuliah pascasarjana bidang geologi di St. Petersburg, seraya merapatkan jaket dan mengetatkan sarung tangannya. Ia adalah salah seorang dari 30-an mahasiswa Indonesia yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah Rusia untuk melanjutkan pendidikan di St. Petersburg.

St. Petersburg didirikan oleh Tsar Peter The Great pada 27 Mei 1703 sebagai “jendela” ke Eropa. Kota ini berperan sebagai ibu kota Kekaisaran Rusia selama dua ratus tahun. Pada tahun 1917 setelah revolusi Rusia, ibu kota Rusia pindah ke Moskow. St. Petersburg adalah kota terbesar kedua di Rusia dan ketiga terbesar di Eropa. Kota ini juga merupakan pusat budaya penting di Eropa, dan sebagai pelabuhan terpenting Rusia di Laut Baltik. Kota ini mencakup wilayah sebesar 1439 km2.

Pusat kota St. Petersburg kini masuk dalam situs World Heritage Unesco, untuk dipelihara sebagai kekayaan dunia. Kota ini telah berperan sebagai pusat politik dan budaya Rusia dan tetap mengagumkan sampai sekarang sehingga dijuluki sebagai ibu kota utara (Severnaya Stolitsa). Kota ini adalah pusat administratif Leningrad Oblast (yang merupakan wiyalah sendiri) dan Distrik Federal Barat Laut.

Karena demikian penting dan berpengaruhnya kota yang terletak di barat laut Rusia dekat delta Sungai Neva di bagian timur Teluk Findlandia di Laut Baltik ini, kota ini telah beberapa kali berganti nama. Tahun 1703-1914 bernama St. Petersburg; tahun 1914-1924 bernama Petrograd; tahun 1924-1991 bernama Leningrad; dan tanggal 9 September 1991 nama St. Petersburg kembali digunakan. Perubahan nama ini, menurut pemandu kami itu, seiring dengan perubahan politik yang terjadi.

Bagi penggemar sastra Rusia, kota ini tentu saja menggiurkan. Nama besar seperti Fyodor Dostoyevsky melekat erat dengan kota ini. Hampir semua pengarang yang pernah mendapatkan nobel sastra selalu menyebutkan nama Dostoyevsky sebagai salah seorang “guru” mereka. Artinya, mereka pun pasti pernah membayang-bayangkan seperti apa kota yang melahirkan pengarang besar itu. Dan pemerintah St. Petersburg mengetahui cara menghargai sastrawan mereka. Di Jalan Kuznechnyy 5/2 berdiri museum sastra Dostoyevsky, terbuka untuk umum, dan hanya tutup setiap hari Senin dan Rabu setiap bulannya.

Di bekas rumah yang selanjutnya dijadikan museum itu, para pengunjung pun dapat mereka-reka, di kamar yang mana Dostoyevsky mengerjakan karya-karya besarnya seperti The Notes of Underground, Crime and Punishment, The Brother of Karamazov, atau The Idiot yang kemudian menjadi salah satu nama restoran terkenal di St. Petersburg, yang dulunya sering dikunjungi oleh Dostoyevsky itu.

Vladimir Nobokov yang terkenal dengan karya kontroversial Lolita juga kelahiran kota ini. Begitupun komponis besar Pyotr Ilych Tchaikovsky, Igor Stravinski, Rimsky-Korsakov, dll. Juga penari balet terkenal Vaslav Nijinsky, Anna Pavlova, dll. Ada pula ilmuan penting Leonhard Euler dan Mikhail Lomonosov. Juga ilmuwan pengusaha yang kemudian namanya diabadikan, Alfred Nobel, ternyata kelahiran kota lama penuh sejarah dan jejak kebudayaan tingkat tinggi ini.

Hari sudah pukul 21.00 Waktu Jakarta, ketika kami tiba di hotel. Beberapa teman wartawan berkemas langsung menuju kamar. “Mau ke mana?” tanya seorang teman. “Mau tidur ah, sudah malam dan capek,” jawab seorang wartawati dari sebuah situs terkenal di Jakarta.

“Lho, ini kan baru jam lima sore waktu sini. Kita jalan dulu, cari oleh-oleh,” kata teman lain. Dan si mahasiswa pemandu kami tertawa. “Mulanya memang agak membingungkan, tubuh sudah lelah tapi waktu masih sore,” katanya.

1 Comments:

At 11:24 PM, Blogger CV. MEORI AGRO said...

SAya tertarik mengundang anda untuk bertukar pikiran tentang sastra Rusia...Silahkan mengunjungi blos saya di http://meontology.blogdrive.com/

 

Post a Comment

<< Home