Monday, March 26, 2007

Tokyo, Sebuah Pojok Tengah Malam

Karena keharusan mengirimkan berita ke Jakarta malam itu juga, saya dan tiga orang teman dari Jakarta tak sempat makan malam di restoran hotel. Lagi pula, kami memang seperti sengaja berlama-lama mengerjakan berita, agar terpaksa makan di luar hotel. Sebab sudah menginjak hari kedua di Tokyo itu, kami belum sempat juga melepaskan langkah merayapi kepadatan dan kemeriahan lampu-lampu kota Tokyo.

Sebagai pusat politik Jepang, sejak tahun 1603, Tokyo adalah ibu kota dan pusat ekonomi serta informasi. Di tengah-tengah kota terdapat Istana Kekaisaran, yang dulu merupakan Puri Edo. Di sekitar istana terdapat National Diet Building (Gedung Parlemen), kementerian-kementerian, dan distrik-distrik bisnis. Sekitar 30 juta orang, atau kurang lebih seperempat dari jumlah penduduk Jepang, tinggal di Metropolitan Tokyo dan sekitarnya.

Tanpa direncanakan, langkah kami memasuki sebuah jalan sempit di Sukiyabashi. Jalanan mirip “Jalan Jaksa” Jakarta, dengan bar dan kafe di kiri kanan. Mata kami pun jelalatan membaca-baca apa saja yang kira-kira dapat dimengerti di antara papan nama-papan nama yang menggunakan huruf kanji, namun sebagian ada juga bahasa Inggris tentang acara yang ditawarkan, tarifnya, dan sampai jam berapa masih buka.

“Wah, itu kafe karaoke,” kata seorang teman yang menjadi pemimpin redaksi di sebuah harian Jakarta.

“Bukanya sampai pagi,” kata seorang teman dari harian terkenal di Jakarta. “Eh, ada kafe video,” celetuk teman lain dari sebuah koran daerah yang usianya paling muda dari kami berempat.

“Yang pasti harganya lumayan mahal,” ujar saya dan si pemimpin redaksi hampir bersamaan.

Tiba-tiba saja gemuruh suara kereta memekakkan telinga di antara desau angin dingin yang berusaha kami lawan dengan jaket tebal dan sarung tangan itu. Kami ternyata berada tak jauh di bawah rel kereta api. Siang hari, dari dalam kamar salah seorang dari kami, akan tampak sebuah jalan kereta api layang melintang tak jauh dari hotel tempat kami menginap. Setiap saat terdengar gemuruh kereta api biasa dan juga bullet train yang melesat seperti peluru melarikan penumpangnya.

“Eh, itu ada kafe, di bawah rel,” kata seorang teman. Dan kami segera bersahutan. “Wah, ada makanan akhirnya.” “Benar. Tempatnya juga unik,” sambung saya.

Kafe itu di kubah bawah rel, yang menjadi lorong lalu lalang menuju wilayah lain di Sukiyabashi itu. Di dalam kafe dan juga di luarnya dipenuhi pengunjung. Rata-rata berusia 30-an tahun, pria dan wanita, saling mengobrol, makan, minum, dengan pakaian pantalon lengkap bagi yang pria dan pakaian kerja yang modis bagi wanita.

Saya langsung teringat orang-orang Jepang yang workaholic, dan senang menghabiskan waktu di kafe-kafe mana pun sehabis kerja tengah malam, dan pulang ke rumah setelah agak mabuk. Novel Yasunari Kawabata sampai Haruki Murakami membicarakan orang-orang yang berpendapatan perkapita lebih kurang US$ 40,242 itu mengisi waktu. Dan tengah malam itu, saya pun melihat “orang-orang makmur” tersebut secara langsung.

Kami masuk ke kafe itu. Sesekali gemuruh kereta api yang berlalu masih terdengar dan membuat atap kafe agak bergoyang. Tapi kafe itu tampak kokoh, artistik, dan unik. Setiap jengkal dindingnya, dipenuhi poster-poster film lama Jepang. Menurut saya, siapa pun tak akan kehabisan bahan obrolan, bila mampir di kafe tersebut. Selalu ada film yang akan jadi perbincangan. Dan saya lihat sendiri, para pengunjung, orang-orang Jepang itu, memang tak ada yang kehabisan obrolan. Mereka berbincang bebas, bahkan sesekali tertawa lepas. Tapi tak sekali pun mereka melirik poster-poster film itu. Agaknya mereka adalah pelanggan lama, yang sudah hapal dengan dekorasi kafe langganannya.

Mereka juga tidak begitu menaruh perhatian atas kehadiran kami, yang boleh jadi akan aneh, karena lewat tengah malam masih memesan menu makan siang. Empat keranjang ayam dan kentang goreng disajikan. Masing-masing keranjang berisi empat potong ayam goreng. Kami benar-benar makan kenyang, persis pukul dua subuh Waktu Tokyo.

Pukul dua lewat lima belas, kami melangkah pulang, kembali melalui “Jalan Jaksa” itu. Kafe-kafe dan bar di jalan itu masih buka. Dari luar jendela tampak pengunjung yang sama, yang saya lihat sekitar dua jam lalu, tetap berbincang dengan hangat, tertawa, dan menenggak minuman atau mengepulkan asap rokok di meja mereka.

Lalu di sebuah persimpangan, kami berpapasan dengan empat pemuda berpakaian pantalon yang kelihatannya mabuk berat, keluar dari sebuah bar yang masih terang-benderang. Keempat pemuda itu saling berjalan berangkulan, tertawa-tawa, dan melangkah dengan limbung.

“Mereka benar-benar mabuk,” kata seorang teman.

Saya tiba-tiba tercenung, dan bertanya dalam hati: adakah mabuk orang-orang di sebuah pojokan kota Tokyo yang megah itu, sama dengan mabuknya orang-orang putus kerja di luar kompleks perumahan saya di Bekasi?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home