Monday, March 26, 2007

Dua Kali Menjelajah Kremlin

Selamat pagi, Kremlin! Brrrr…!! Saya menggeretukkan kedua geraham. Seluruh tubuh rasanya tertusuk-tusuk udara dingin sampai ke tulang. Padahal saya sudah mengenakan pakian empat lapis. Dress code suit lengkap membungkus pakaian dalam musim dingin masih juga dibalut lagi dengan jaket tebal dari luar. Tapi, udara dingin belum tertaklukkan. Dan yang kedinginan tidak hanya saya. Semua anggota rombongan wartawan dari Indonesia itu bertarung intens melawan udara beku. 0 derajat Celsius.

Kami diberangkatkan satu jam lebih dulu dari hotel menuju Alexander Garden, tempat upacara peletakan karangan bunga oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di makam pahlawan tak dikenal bangsa Rusia. Dari luar pagar makam, kami dapat melihat api abadi yang terus menyala dari tungku bawah tanah. Di sekitar tungku itu sedang bersiap pasukan aubade militer yang akan mengikuti upacara pukul 09.00 Waktu Moskow.

Tidak jauh dari makam pahlawan tak dikenal itu terdapat Arbat Lama. Sebuah daerah pejalan kaki yang “dipagari” oleh berbagai toko cindera mata, toko buku, toko barang antik, toko perhiasan, gedung teater, galeri kafem dan restoran, serta diramaikan oleh pelukis potret dan pemain musik. Pemandangan keramaian ini tentu saja lebih mudah ditemukan pada musim panas. Sedangkan pada musim dingin, orang-orang yang pergi ke sana hanya mengunjungi toko-toko cindera mata atau kafe.

Sedangkan pagi itu, karena akan dilangsungkan ucapara kenegaraan untuk tamu Presiden Vladimir Putin, daerah tersebut terutup sementara. Bahkan kami yang mencoba permisi untuk ke toilet, kepada para petugas keamanan Rusia itu, tidak mendapatkan respons posotif. Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan tegas, serta menyilangkan tangan mereka. “Daerah tertutup, sampai upacara selesai,” kata seorang petugas berseragam tentara itu.

Masih berdekatan dengan Kremlin, terdapat sebuah galeri Tretyakovsky Galery yang jarang dilewatkan oleh turis asing yang datang ke Moskow. Galeri lukisan ini berisi lebih dari 100 ribu karya seni Rusia dari abad ke-11 hingga ke-20. Dari data-data yang mudah ditemukan di pintu museum, dijelaskan bahwa bangunan galeri yang dibangun pada tahun 1856 itu sebelumnya adalah rumah tinggal Pavel Tretyakov, seorang kolektor karya seni terbesar pada masanya.

Pada tahun 1892, Pavel Tretyakov menyumbangkan seluruh koleksinya (1287 lukisan, 518 gambar dan 9 patung) kepada kota Moskow, beserta rumahnya sebagai tempat penyimpanan. Hal ini kemudian menjadi dorongan kuat bagi pemerintah daerah Moskow dari masa ke masa, hingga kini, terus menyediakan anggaran untuk mengoleksi dan merawat barang-barang seni yang mereka dapatkan melalui sumbangan ataupun membeli langsung kepada kreatornya.

Bila dilihat dari udara, Kremlin berbentuk segitiga. Di sisi datar bagian selatan dibatasi oleh Sungai Moskwa yang melengkung memisahkan sepertiga daratan Moskow berbentuk busur. Di sisi miring sebelah kiri membentang Alexander Garden yang memisahkan tembok Kremlin dari jajaran pertokoan dan gedung-gedung perkantoran serta perumahan. Lalu di sisi miring sebelah kanan, membentanglah Lapangan Merah (Red Square) yang terkenal itu, yang bersama tembok Kremlin mengapit Musoleum Lenin di sebelah utara, tempat disimpannya jenazah Bapak Revolusi Rusia Vladimir Illych Lenin yang telah dibalsam, dan di bagian selatan mengapit sebuah gereja orthodoks Pokrovsky Cathedral.

Dalam bahasa Rusia Kremlin berarti “benteng” (fortress) atau “benteng kota” (citadel). Lebih dari itu, Kremlin tidak saja menjadi “jantung” kota Moskow tapi negara Rusia. Bangunan awalnya didirikan oleh pangeran Yuri Dolgoruky pada tahun 1156 dan menjadi pusat pemerintahan Rusia sejak tahun 1276 sampai di zaman Presiden Vladimir Putin yang akan bertemu dengan Presiden SBY siang harinya (12.00 Waktu Moskow).

Selain gedung-gedung perkantoran dan tempat tinggal kepala negara, di dalam kompleks Kremlin terdapat juga berbagai monumen arsitektur, gereja orthodoks, dan museum Armoury Chamber berisi peninggalan barang-barang kerajaan, seperti pakaian kebesaran, senjara perang, peralatan rumah tangga, dan kereta kerajaan. Di dalam museum Armoury ini masih terdapat pula museum khusus permata kerajaan.

Pukul 09.30 Waktu Moskow, upacara peletakan karangan bunga oleh Presiden SBY dilakukan. Udara dingin mulai berkurang. Sekelebat cahaya matahari tampak menerangi langit Moskow, namun sukar dipastikan apakah matahari telah menyembul sempurna di atas kota itu.

Mengikuti upacara yang berlangsung secara militer, Presiden didampingi pejabat kota Moskow dan sebagian besar menterinya. Yang juga menjadi pusat perhatian selama upacara, tentu saja aubade militer Tentara Merah yang terkenal itu. Ketika mereka baris-berbaris, dan bersama kelompok marching bandnya membawakan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” serta lagu kebangsaan “Gimn Rossiyskoy Federatsii” – semua mata nyaris tak lepas dari setiap gerak mereka.

“Bukan main. Boleh jadi inilah aubade militer yang paling indah dan masih ada,” kata seorang pajabat Indonesia yang berada di kelompok wartawan.

Selesai upacara, kami mengikuti pertemuan dan juga berkunjung ke tempat lain. Dan siang harinya, kembali mendatangi Kremlin untuk kedua kalinya. Para wartawan Indonesia, Rusia, dan asing lainnya akan menjadi saksi berbagai pengumuman kerjasama Rusia dan Indonesia. Kali ini, rombongan kami dibawa masuk melalui sisi sebelah kanan segitiga Kremlin, Lapangan Merah (Red Square).

Lapangan Merah (Red Square, Krasnaya Ploschad) merupakan lapangan kota paling terkenal di Moskow. Berukuran 695 x 130 m, lapangan dikelilingi berbagai gedung dan obyek bersejarah, antara lain Musoleum Lenin, Museum Sejarah Nasional, Kathedral Kazan, State Department Store (GUM), dan Kathedral St. Basil. Lapangan juga memisahkan Kremlin dari pusat perdagangan bersejarah Kitay Gorod. Jalan-jalan utama kota Moskow menyebar dari Kitay Gorod ke segala arah, memanjang ke jalan-jalan utama di luar Moskow. Lapangan Merah sering dianggap sebagai lapangan pusat kota Moskow.

Sebuah lapangan yang juga terkenal adalah Poklonnaya Gora, sebuah tempat berisi museum dan monumen kemenangan Rusia atas Prancis pada Perang Dunia II. Sementara bersisian dengan Sungai Moskwa di bagian selatan, membentanglah Gorky Park, sebuah tempat yang dilantunkan oleh grup rock terkenal Scorpions itu, sebagai bagian dari ikon perubahan yang terjadi di Rusia, dari pemerintahan komunisme yang tertutup ke pemerintahan yang lebih terbuka dan demokratis seperti sekarang.

Gorky Park menjadi arena bagi kalangan seniman Moskow khususnya menampilkan karya-karya mereka. Di sana tersedia panggung dan juga fasilitas rekreasi. Jadi para pengunjung dapat menyibukkan dirinya dengan permainan ataupun kesempatan menikmati karya seni yang dipamerkan atau dipertontonkan. Di seberang Gorky Park ini, seperti sengaja melengkapi dan memenuhi kebutuhan para turis yang berwisata ke sana, terdapat “galeri jalanan” yang selalu buka di setiap musim, dan menjual berbagai macam lukisan.

Yang sayang dilewatkan juga adalah Izmailovsky Park, kompleks kediaman Tsar dari abad ke-17. Di danau yang terletak dekat kompleks inilah Peter Agung mulai m\belajar berlayar dan akhirnya tertarik pada dunia maritim. Saat ini taman Iszmailovsky lebih dikenal sebagai “open air art market” yang menjual berbagai suvenir dan karya seni, mulai dari lukisan, karpet dari Asia Tengah, barang antik, boneka kayu (Matryoska), arloji, sampai pada perlengkapan militer.

Meski sudah tengah hari Waktu Moskow, bagi saya udara masih saja tak teratasi. Hawa dingin tetap menusuk-nusuk ke tulang. Namun bayang-bayang akan menjenguk “rahasia” Kremlin, menjadi pendorong bagi saya mengikuti rombongan dengan langkah kukuh, melalui pemeriksaan demi pemeriksaan kedua kalinya memasuki Kremlin itu.

Kami sedang berada di kantor seorang kepala pemerintahan sebuah negara yang memiliki sejarah kebudayaan, ilmu pengetahuan, seni, politik, dan sosial yang panjang serta kaya: Rusia. Semasa namanya masih Uni Sovyet, wajah-wajah dingin anggota dinas rahasia Rusia yang melakukan pemeriksaan secara ketat kepada para pengunjung itu, terkenal kaku, dingin, dan tak bersahabat.

Paling tidak itulah yang digambarkan film-film James Bond yang pernah saya tonton. Tapi siang itu, bayangan “tak bersahabat” itu sirna. Yang memeriksa kami adalah para petugas keamanan dengan pakaian jas-pantalon yang rapi, rajin melempar senyum dan ringan mengucapkan, “Spasibo, Spasibo!”. Saya pun tak dapat menahan diri dan terpancing santai suatu kali, “Terima kasih, terima kasih,” balas saya.

Selamat Malam Tokyo, Selamat Natal Akihito

Keluar dari bandara Haneda pada suatu sore di penghujung November 2006, di dalam bus yang menjemput kami, saya langsung terkesima. Di antara jembatan dan jalan-jalan layang yang bersilangan di sisi sebuah selat, saya sudah melihat gedung-gedung apartemen diremangi cahaya senja. Namun beberapa kamar masih tampak terlihat jelas dari luar. Dan di kamar-kamar itu, saya melihat lampu-lampu pohon Natal berkelap-kelip. Betapa cepatnya Tokyo merayakan hari Natal, pikir saya. 25 Desember masih sebulan lagi.

Tak terhindarkan, saya segera mencurigai rekaman persiapan data yang saya selipkan di sudut benak. Japan adalah nama Nihon atau Nippon dalam bahasa Inggris. Sementara Jepang adalah penyebutan dalam bahasa Indonesia. Ibu kotanya Tokyo, kota paling besar di Jepang yang menjadi tujuan saya dan teman-teman wartawan dari Indonesia sore itu.

Sebagai pusat politik Jepang sejak tahun 1603, Tokyo adalah ibu kota dan pusat ekonomi serta informasi. Di tengah-tengah kota Tokyo, terdapat Istana Kekaisaran yang dulu merupakan Puri Edo. Di sekitar Istana terdapat National Diet Building (Gedung Parlemen), kementerian-kementerian, dan distrik-distrik bisnis. Sekitar 30 juta orang, atau kurang lebih seperempat dari jumlah penduduk Jepang, tinggal di Metropolitan Tokyo dan sekitarnya.

Kepala pemerintahan terbaru adalah PM Shinzo Abe yang mulai memerintah pada 26 September 2006. Dalam kunjungan kami ke Tokyo itu, pada hari ketiga saya dan teman-teman akan berkesempatan bertemu dengan Shinzo Abe. Tentu saja, saya dan teman-teman wartawan hanya kebagian tugas meliput. Sebab yang akan bertemu dengan Shinzo Abe adalah Presiden SBY, yang dalam kunjungan kerja dan kenegaraannya itu mengajak wartawan untuk menyertai, di antaranya saya.

Tapi, lihat, seusai melewati sebuah tikungan menjauhi selat itu, dan bus yang saya tumpangi kini sepenuhnya berada di wilayah gedung-gedung apartemen dan perkantoran serta pusat-pusat belanja, saya semakin sering melihat pohon-pohon Natal berbagai ukuran. Ada yang di pojok kamar, di bagian ruang depan pertokoan, di dekat jendela, atau di bawah tangga. Lampu-lampunya berkelap-kelip semakin terang dan jelas, seiring remang senja yang semakin pekat. Lampu-lampu pohon Natal itu, berkelap-kelip di antara terang lampu-lampu kota Tokyo yang mulai menyala terang-benderang.

Agama, bagaimana dengan agama? Kejar ingatan saya. Ah, jumlah penduduknya dulu. Tadi sudah saya sebutkan, seperempatnya, sekitar 30 jutaan penduduk Jepang menghuni Tokyo. Tapi berapa jumlah penduduk Jepang? Perhitungan tahun 2006, jumlah seluruhnya 127, 741 juta. Terdiri dari suku-suku asli Ainu, warga keturunan Korea, dan warga keturunan China. Dengan pendapatan perkapita, termasuk tertinggi di dunia, US$ 40,242. Lalu, agama, mayoritas agama Shinto (50,3 %), Buddha (44 %), Kristen (1 %), lain-lain (4,7 %).

Lalu, kenapa mereka sudah menyalakan pohon Natal baru pada bulan November? Apakah data yang saya pelajari tidak valid? Sebab, mayoritas penduduk Tokyo ternyata beragama Kristen yang saleh? Hingga merayakan Natal, lebih dini dibanding orang-orang Kristen di negara-negara lain, termasuk Eropa Barat dan Amerika Serikat? Saya benar-benar penasaran, tapi tak sempat lagi memikirkan lebih dalam, karena bus telah memasuki halaman parkir hotel tempat kami menginap. Kami harus segera turun dengan bawaan masing-masing.

Selanjutnya, malam pertama di Tokyo saya isi dengan orientasi ruang dan iklim. Saat itu Jepang masih di bawah musim gugur. Cuaca malam hari bisa mencapai 10 derajat Celcius. Di kamar hotel dan café lobi hotel tentu saja hangat, karena adanya pemanas secara sentral. Pukul 23.00 malam Waktu Tokyo, iseng-iseng saya mengikuti ajakan seorang teman untuk keluar dari pintu depan hotel. Saya langsung merasakan hantaman udara dingin 10 derajat Celcius itu. Saya menggigil dan merasakan tusukan angin malam yang dingin di wajah saya.

“Yuk, kita pakai jaket baru keluar,” ajak seorang teman. Hal yang kemudian saya sepakati. Begitu turun dari bus dan memasuki kamar hotel beberapa jam lalu, sibuk mengurus perlengkapan jaringan internet yang diinstal ke dalam kamar, lalu sempat mengetik beberapa berita pendek, saya dan teman sekamar ternyata sudah “berlama-lama” di kamar. Beberapa restoran hotel yang dipersiapkan sebagai tempat makan anggota rombongan sudah tutup. Dan satu-satunya makanan yang tersedia hanyalah di kafe lobi, atau memesan ke dapur hotel (yang tentu saja enak dan mahal), atau berusaha mencari makanan alternatif ke luar hotel.

Dan tawaran untuk keluar hotel tentu saja lebih menggairahkan saya. Saya sungguh sudah tidak sabar ingin berdekatan langsung dengan manusia-manusia Tokyo, yang selama ini baru saya lamunkan sebagai efek pergaulan dengan novel-novelnya Kawabata, Mishima, atau Murakami yang kini termasuk novel-novel yang paling banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa lain di dunia. Manusia-manusia unggul dari Asia, dengan sejarah panjang yang pernah tak diketahui dunia luar.

Sebab, Jepang memang pernah menutup diri dari dunia luar. Sejak tahun 1603 Shogun Tokugawa dalam upaya mempertahankan kekuasaan telah menutup wilayah Jepang dari pengaruh asing dan selama 250 tahun masa isolasi itu, masyarakat Jepang menikmati stabilitas politik dan berkembangnya kebudayaan khas Jepang. Namun, sejak penandatanganan Perjanjian Kanagawa antara Jepang-Amerika Serikat pada 1854, Jepang membuka pelabuhan dan mulai mengalami proses industrialisasi dan modernisasi yang pesat.

Pukul 24.00 Waktu Tokyo saya dan teman sekamar kemudian meninggalkan gerbang hotel dan langsung berjuang menghadapi hantaman angin dan udara dingin. Jalanan sudah sepi. Sementara, saat itu, di Jakarta barulah pukul 22.00 malam. Dan karena malam Senin, hari pertama masa kerja dalam seminggu, jalanan Tokyo yang masih melingkari lokasi hotel tidak begitu ramai. Di kejauhan, kami melihat lampu-lampu terang dari jajaran kafe-kafe atau mungkin juga restoran yang masih buka.

Aneh, saya mendadak enggan melangkah, begitu pun teman saya. “Mestinya kita mengajak teman lain,” kata teman saya. Saya mengangguk dan menyadari: kami sedang di negeri asing, bahkan baru beberapa jam. Tapi, bukankah kota Tokyo terkenal aman? Lihat, di perempatan jalan sana dua orang polisi sedang mengbrol di bawah udara dingin. Embun bertiup dari mulut mereka, ketika mereka mengobrol. Sekilas, mereka melirik ke arah kami yang melangkah ragu.

“Bagaimana, kita lanjutkan mencari makan?” tanya saya.

“Kita makan di dapur hotel sajalah, atau di kafe lobi. Tadi saya lihat ada teman-teman wartawan lain kok,” kata teman saya.

Saya setuju dan kami segera berbalik menuju halaman hotel yang baru kami tinggalkan sekitar 40-an meter. Dingin itu, dingin tengah malam kota Tokyo, benar-benar lebih dingin dari udara dingin yang saya rasakan, ketika menyongsong terbitnya matahari Pukul 04.00 subuh di puncak Gunung Bromo beberapa tahun lalu.

Hussshh! Sehembus udara hangat langsung menerpa wajah dan menyamankan tubuh saya, ketika kami kembali ke dalam lobi hotel. Dan saya langsung terperanjat, ketika menampak di pojok lobi hotel: sebuah pohon Natal raksasa berdiri megah dengan hiasan lampu-lampu yang berkelap-kelip serta boneka Santa Claus raksasa di sampingnya.

Pohon Natal lagi! Pertanyaan saya tadi sore kembali menyala dan ingin mendapatkan jawaban. Kenapa? Kenapa pohon Natal, sudah menyala di setiap pojokan rumah-rumah dan gedung-gedung kota Tokyo, padahal baru bulan November?

Dari seorang wanita pelayan kafe lobi yang akhirnya kami kunjungi, saya pun mendapatkan jawaban sederhana namun mencengangkan. Masyarakat Jepang, sangat menghormati kaisar mereka. Salah satu cara adalah dengan merelakan peringatan hari nasional Jepang sama dengan tanggal kelahiran sang kaisar, dan merayakannya selama sebulan.

Kaisar Akihito, sang putera matahari yang sekarang memimpin kekaisaran Jepang lahir pada 23 Desember. Untuk merayakannya, masyarakat Jepang telah memulainya sejak 23 November. Sementara itu, hari Natal bagi umat Kristen adalah merayakan hari kelahiran Kristus, yang jatuh pada 25 Desember setiap tahunnya. Tanggal itu berdekatan dengan hari kelahiran Akihito. Merayakannya secara bersamaan, selama sebulan, tidak ada ruginya bagi masyarakat Jepang, Tokyo khususnya. “Lagi pula, pohon Natal itu indah, banyak lampu-lampunya,” demikian si wanita pelayan itu, seraya menyajikan teh hijau yang saya pesan.

Kremlin, Kunjungan Dua Kali

Selamat pagi, Kremlin! Brrrr…!! Saya menggeretukkan kedua geraham. Seluruh tubuh rasanya tertusuk-tusuk udara dingin sampai ke tulang. Padahal saya sudah mengenakan pakian empat lapis. Dress code suit lengkap membungkus pakaian dalam musim dingin masih juga dibalut lagi dengan jaket tebal dari luar. Tapi, udara dingin belum tertaklukkan. Dan yang kedinginan tidak hanya saya. Semua anggota rombongan wartawan dari Indonesia itu bertarung intens melawan udara beku. 0 derajat Celsius.

Kami diberangkatkan satu jam lebih dulu dari hotel menuju Alexander Garden, tempat upacara peletakan karangan bunga oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di makam pahlawan tak dikenal bangsa Rusia. Dari luar pagar makam, kami dapat melihat api abadi yang terus menyala dari tungku bawah tanah. Di sekitar tungku itu sedang bersiap pasukan aubade militer yang akan mengikuti upacara pukul 09.00 Waktu Moskow.

Bila dilihat dari udara, Kremlin berbentuk segitiga. Di sisi datar bagian selatan dibatasi oleh Sungai Moskwa yang melengkung memisahkan sepertiga daratan Moskow berbentuk busur. Di sisi miring sebelah kiri membentang Alexander Garden yang memisahkan tembok Kremlin dari jajaran pertokoan dan gedung-gedung perkantoran serta perumahan. Lalu di sisi miring sebelah kanan, membentanglah Lapangan Merah (Red Square) yang terkenal itu, yang bersama tembok Kremlin mengapit Musoleum Lenin di sebelah utara, tempat disimpannya jenazah Bapak Revolusi Rusia Vladimir Illych Lenin yang telah dibalsam, dan di bagian selatan mengapit sebuah gereja orthodoks Pokrovsky Cathedral.

Dalam bahasa Rusia Kremlin berarti “benteng” (fortress) atau “benteng kota” (citadel). Lebih dari itu, Kremlin tidak saja menjadi “jantung” kota Moskow tapi negara Rusia. Bangunan awalnya didirikan oleh pangeran Yuri Dolgoruky pada tahun 1156 dan menjadi pusat pemerintahan Rusia sejak tahun 1276 sampai di zaman Presiden Vladimir Putin yang akan bertemu dengan Presiden SBY siang harinya (12.00 Waktu Moskow).

Selain gedung-gedung perkantoran dan tempat tinggal kepala negara, di dalam kompleks Kremlin terdapat juga berbagai monumen arsitektur, gereja orthodoks, dan museum Armoury Chamber berisi peninggalan barang-barang kerajaan, seperti pakaian kebesaran, senjara perang, peralatan rumah tangga, dan kereta kerajaan. Di dalam museum Armoury ini masih terdapat pula museum khusus permata kerajaan.

Pukul 09.30 Waktu Moskow, upacara peletakan karangan bunga oleh Presiden SBY dilakukan. Udara dingin mulai berkurang. Sekelebat cahaya matahari tampak menerangi langit Moskow, namun sukar dipastikan apakah matahari telah menyembul sempurna di atas kota itu.

Mengikuti upacara yang berlangsung secara militer, Presiden didampingi pejabat kota Moskow dan sebagian besar menterinya. Yang juga menjadi pusat perhatian selama upacara, tentu saja aubade militer Tentara Merah yang terkenal itu. Ketika mereka baris-berbaris, dan bersama kelompok marching bandnya membawakan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” serta lagu kebangsaan “Gimn Rossiyskoy Federatsii” – semua mata nyaris tak lepas dari setiap gerak mereka.

“Bukan main. Boleh jadi inilah aubade militer yang paling indah dan masih ada,” kata seorang pajabat Indonesia yang berada di kelompok wartawan.

Selesai upacara, kami kembali mengikuti pertemuan di tempat lain. Dan siang harinya, kembali mengunjungi Kremlin untuk kedua kalinya. Para wartawan Indonesia, Rusia, dan asing lainnya akan menjadi saksi berbagai pengumuman kerjasama Rusia dan Indonesia. Kali ini rombongan kami dibawa masuk melalui sisi sebelah kanan segitiga Kremlin, Lapangan Merah (Red Square).

Lapangan Merah (Red Square, Krasnaya Ploschad) merupakan lapangan kota paling terkenal di Moskow. Berukuran 695 x 130 m, lapangan dikelilingi berbagai gedung dan obyek bersejarah, antara lain Musoleum Lenin, Museum Sejarah Nasional, Kathedral Kazan, State Department Store (GUM), dan Kathedral St. Basil. Lapangan juga memisahkan Kremlin dari pusat perdagangan bersejarah Kitay Gorod. Jalan-jalan utama kota Moskow menyebar dari Kitay Gorod ke segala arah, memanjang ke jalan-jalan utama di luar Moskow. Lapangan Merah sering dianggap sebagai lapangan pusat kota Moskow.

Meski sudah siang Waktu Moskow, bagi saya udara masih saja tak teratasi. Hawa dingin menusuk-nusuk ke tulang. Namun bayang-bayang akan menjenguk “rahasia” Kremlin, menjadi pendorong bagi saya mengikuti rombongan dengan langkah kukuh, melalui pemeriksaan demi pemeriksaan. Wajah-wajah dingin anggota dinas rahasia Rusia, seperti digambarkan film-film James Bond, segera sirna. Pemeriksaan memang ketat, namun senyum serta ucapan, “Spasibo, Spasibo!” selalu terdengar. “Terima kasih, terima kasih,” balas saya suatu kali.

St.Petersburg, Kunjungan Musim Gugur

Matahari di penghujung bulan November 2006 itu tak kelihatan. Waktu masih menunjukkan pukul 16.00 Waktu Saint Petersburg. Rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendarat di bandar udara militer Pulkovo 1 Zona-A, St Petersburg. Kepala negara dan ibu serta rombongan khusus lainnya, seperti para menteri, para rektor dan kelompok pengusaha yang disertakan, mengikuti prosesi penyambutan oleh pejabat setempat. Sementara para wartawan diberangkatkan lebih dulu ke hotel.

Di Jakarta saat itu waktu tentu saja sudah pukul 20.00 malam. Kesibukan di jalan-jalan Sudirman ataupun Jalan Gatot Subroto pastilah mulai berkurang, apalagi pada hari kerja. Orang-orang sebagian besar bahkan boleh jadi sudah merapat ke rumah masing-masing. Tapi di jalan-jalan St. Petersburg yang mendung (nyaris gelap), menembus udara dingin yang terkadang sampai di bawah 0 derajat Celcius, orang-orang baru saja mau berangkat kuliah sore, atau mau berbelanja, sedang jalan-jalan, atau baru mau melanjutkan pertemuan bisnis berikutnya.

“Jam kantor masih satu atau dua jam lagi,” kata pemandu kami, seorang mahasiswa Indonesia yang mengambil kuliah pascasarjana bidang geologi di St. Petersburg, seraya merapatkan jaket dan mengetatkan sarung tangannya. Ia adalah salah seorang dari 30-an mahasiswa Indonesia yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah Rusia untuk melanjutkan pendidikan di St. Petersburg.

St. Petersburg didirikan oleh Tsar Peter The Great pada 27 Mei 1703 sebagai “jendela” ke Eropa. Kota ini berperan sebagai ibu kota Kekaisaran Rusia selama dua ratus tahun. Pada tahun 1917 setelah revolusi Rusia, ibu kota Rusia pindah ke Moskow. St. Petersburg adalah kota terbesar kedua di Rusia dan ketiga terbesar di Eropa. Kota ini juga merupakan pusat budaya penting di Eropa, dan sebagai pelabuhan terpenting Rusia di Laut Baltik. Kota ini mencakup wilayah sebesar 1439 km2.

Pusat kota St. Petersburg kini masuk dalam situs World Heritage Unesco, untuk dipelihara sebagai kekayaan dunia. Kota ini telah berperan sebagai pusat politik dan budaya Rusia dan tetap mengagumkan sampai sekarang sehingga dijuluki sebagai ibu kota utara (Severnaya Stolitsa). Kota ini adalah pusat administratif Leningrad Oblast (yang merupakan wiyalah sendiri) dan Distrik Federal Barat Laut.

Karena demikian penting dan berpengaruhnya kota yang terletak di barat laut Rusia dekat delta Sungai Neva di bagian timur Teluk Findlandia di Laut Baltik ini, kota ini telah beberapa kali berganti nama. Tahun 1703-1914 bernama St. Petersburg; tahun 1914-1924 bernama Petrograd; tahun 1924-1991 bernama Leningrad; dan tanggal 9 September 1991 nama St. Petersburg kembali digunakan. Perubahan nama ini, menurut pemandu kami itu, seiring dengan perubahan politik yang terjadi.

Bagi penggemar sastra Rusia, kota ini tentu saja menggiurkan. Nama besar seperti Fyodor Dostoyevsky melekat erat dengan kota ini. Hampir semua pengarang yang pernah mendapatkan nobel sastra selalu menyebutkan nama Dostoyevsky sebagai salah seorang “guru” mereka. Artinya, mereka pun pasti pernah membayang-bayangkan seperti apa kota yang melahirkan pengarang besar itu. Dan pemerintah St. Petersburg mengetahui cara menghargai sastrawan mereka. Di Jalan Kuznechnyy 5/2 berdiri museum sastra Dostoyevsky, terbuka untuk umum, dan hanya tutup setiap hari Senin dan Rabu setiap bulannya.

Di bekas rumah yang selanjutnya dijadikan museum itu, para pengunjung pun dapat mereka-reka, di kamar yang mana Dostoyevsky mengerjakan karya-karya besarnya seperti The Notes of Underground, Crime and Punishment, The Brother of Karamazov, atau The Idiot yang kemudian menjadi salah satu nama restoran terkenal di St. Petersburg, yang dulunya sering dikunjungi oleh Dostoyevsky itu.

Vladimir Nobokov yang terkenal dengan karya kontroversial Lolita juga kelahiran kota ini. Begitupun komponis besar Pyotr Ilych Tchaikovsky, Igor Stravinski, Rimsky-Korsakov, dll. Juga penari balet terkenal Vaslav Nijinsky, Anna Pavlova, dll. Ada pula ilmuan penting Leonhard Euler dan Mikhail Lomonosov. Juga ilmuwan pengusaha yang kemudian namanya diabadikan, Alfred Nobel, ternyata kelahiran kota lama penuh sejarah dan jejak kebudayaan tingkat tinggi ini.

Hari sudah pukul 21.00 Waktu Jakarta, ketika kami tiba di hotel. Beberapa teman wartawan berkemas langsung menuju kamar. “Mau ke mana?” tanya seorang teman. “Mau tidur ah, sudah malam dan capek,” jawab seorang wartawati dari sebuah situs terkenal di Jakarta.

“Lho, ini kan baru jam lima sore waktu sini. Kita jalan dulu, cari oleh-oleh,” kata teman lain. Dan si mahasiswa pemandu kami tertawa. “Mulanya memang agak membingungkan, tubuh sudah lelah tapi waktu masih sore,” katanya.

Tokyo, Sebuah Pojok Tengah Malam

Karena keharusan mengirimkan berita ke Jakarta malam itu juga, saya dan tiga orang teman dari Jakarta tak sempat makan malam di restoran hotel. Lagi pula, kami memang seperti sengaja berlama-lama mengerjakan berita, agar terpaksa makan di luar hotel. Sebab sudah menginjak hari kedua di Tokyo itu, kami belum sempat juga melepaskan langkah merayapi kepadatan dan kemeriahan lampu-lampu kota Tokyo.

Sebagai pusat politik Jepang, sejak tahun 1603, Tokyo adalah ibu kota dan pusat ekonomi serta informasi. Di tengah-tengah kota terdapat Istana Kekaisaran, yang dulu merupakan Puri Edo. Di sekitar istana terdapat National Diet Building (Gedung Parlemen), kementerian-kementerian, dan distrik-distrik bisnis. Sekitar 30 juta orang, atau kurang lebih seperempat dari jumlah penduduk Jepang, tinggal di Metropolitan Tokyo dan sekitarnya.

Tanpa direncanakan, langkah kami memasuki sebuah jalan sempit di Sukiyabashi. Jalanan mirip “Jalan Jaksa” Jakarta, dengan bar dan kafe di kiri kanan. Mata kami pun jelalatan membaca-baca apa saja yang kira-kira dapat dimengerti di antara papan nama-papan nama yang menggunakan huruf kanji, namun sebagian ada juga bahasa Inggris tentang acara yang ditawarkan, tarifnya, dan sampai jam berapa masih buka.

“Wah, itu kafe karaoke,” kata seorang teman yang menjadi pemimpin redaksi di sebuah harian Jakarta.

“Bukanya sampai pagi,” kata seorang teman dari harian terkenal di Jakarta. “Eh, ada kafe video,” celetuk teman lain dari sebuah koran daerah yang usianya paling muda dari kami berempat.

“Yang pasti harganya lumayan mahal,” ujar saya dan si pemimpin redaksi hampir bersamaan.

Tiba-tiba saja gemuruh suara kereta memekakkan telinga di antara desau angin dingin yang berusaha kami lawan dengan jaket tebal dan sarung tangan itu. Kami ternyata berada tak jauh di bawah rel kereta api. Siang hari, dari dalam kamar salah seorang dari kami, akan tampak sebuah jalan kereta api layang melintang tak jauh dari hotel tempat kami menginap. Setiap saat terdengar gemuruh kereta api biasa dan juga bullet train yang melesat seperti peluru melarikan penumpangnya.

“Eh, itu ada kafe, di bawah rel,” kata seorang teman. Dan kami segera bersahutan. “Wah, ada makanan akhirnya.” “Benar. Tempatnya juga unik,” sambung saya.

Kafe itu di kubah bawah rel, yang menjadi lorong lalu lalang menuju wilayah lain di Sukiyabashi itu. Di dalam kafe dan juga di luarnya dipenuhi pengunjung. Rata-rata berusia 30-an tahun, pria dan wanita, saling mengobrol, makan, minum, dengan pakaian pantalon lengkap bagi yang pria dan pakaian kerja yang modis bagi wanita.

Saya langsung teringat orang-orang Jepang yang workaholic, dan senang menghabiskan waktu di kafe-kafe mana pun sehabis kerja tengah malam, dan pulang ke rumah setelah agak mabuk. Novel Yasunari Kawabata sampai Haruki Murakami membicarakan orang-orang yang berpendapatan perkapita lebih kurang US$ 40,242 itu mengisi waktu. Dan tengah malam itu, saya pun melihat “orang-orang makmur” tersebut secara langsung.

Kami masuk ke kafe itu. Sesekali gemuruh kereta api yang berlalu masih terdengar dan membuat atap kafe agak bergoyang. Tapi kafe itu tampak kokoh, artistik, dan unik. Setiap jengkal dindingnya, dipenuhi poster-poster film lama Jepang. Menurut saya, siapa pun tak akan kehabisan bahan obrolan, bila mampir di kafe tersebut. Selalu ada film yang akan jadi perbincangan. Dan saya lihat sendiri, para pengunjung, orang-orang Jepang itu, memang tak ada yang kehabisan obrolan. Mereka berbincang bebas, bahkan sesekali tertawa lepas. Tapi tak sekali pun mereka melirik poster-poster film itu. Agaknya mereka adalah pelanggan lama, yang sudah hapal dengan dekorasi kafe langganannya.

Mereka juga tidak begitu menaruh perhatian atas kehadiran kami, yang boleh jadi akan aneh, karena lewat tengah malam masih memesan menu makan siang. Empat keranjang ayam dan kentang goreng disajikan. Masing-masing keranjang berisi empat potong ayam goreng. Kami benar-benar makan kenyang, persis pukul dua subuh Waktu Tokyo.

Pukul dua lewat lima belas, kami melangkah pulang, kembali melalui “Jalan Jaksa” itu. Kafe-kafe dan bar di jalan itu masih buka. Dari luar jendela tampak pengunjung yang sama, yang saya lihat sekitar dua jam lalu, tetap berbincang dengan hangat, tertawa, dan menenggak minuman atau mengepulkan asap rokok di meja mereka.

Lalu di sebuah persimpangan, kami berpapasan dengan empat pemuda berpakaian pantalon yang kelihatannya mabuk berat, keluar dari sebuah bar yang masih terang-benderang. Keempat pemuda itu saling berjalan berangkulan, tertawa-tawa, dan melangkah dengan limbung.

“Mereka benar-benar mabuk,” kata seorang teman.

Saya tiba-tiba tercenung, dan bertanya dalam hati: adakah mabuk orang-orang di sebuah pojokan kota Tokyo yang megah itu, sama dengan mabuknya orang-orang putus kerja di luar kompleks perumahan saya di Bekasi?

Mengawetkan Tradisi Mengadaptasi Kemajuan

Pagi itu, burung-burung gagak menyalak dan melayang-layang di halaman gedung-gedung kekaisaran. Dari satu wuwungan gedung terbang ke pohon-pohon, atau dari satu pohon ke rimbunan pohon lainnya. Mengikuti pergerakan burung-burung itu, selama beberapa saat seseorang bisa saja terlupa bahwa ia sedang berada di pusat kota Tokyo, ibu kota dari sebuah negara paling maju di dunia: Jepang.

Sebuah pagi yang mendung dan bergerimis di bulan November 2006. Di sebuah pojok pintu keluar sebuah gedung, serombongan wartawan Indonesia baru saja selesai mengikuti upacara penyambutan kenegaraan yang dipersembahkan bagi kepala negara mereka. Upacara berlangsung di sebuah ruangan seluas setengah lapangan bola, berbentuk persegi panjang, tanpa furnitur pengisi ruangan. Tak ada pula aksesori ruangan yang mudah dikenali, kecuali dua perlambang dua negara: bendera merah-putih dan bendera hinomaru (kain putih dengan bulan merah di tengahnya).

Dari pintu keluar sebuah gedung di areal kekaisaran itu, seseorang akan sulit menentukan ia sedang berada di posisi mana. Gedung-gedung beraksitektur Jepang saling bersambungan, bersusun rapat, bertingkat-tingkat, tinggi, di dalam wilayah daratan yang dikelilingi sungai buatan. Yang mana istana kekaisaran, yang mana ruang hunian, yang mana gedung pertemuan, boleh jadi hanya diketahui oleh orang-orang istana atau pengurusnya.

Lalu di luar sungai buatan itu, membentanglah kota Tokyo yang sebenarnya, berupa gedung-gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, apartemen, rumah sakit, bahkan kampus, yang umumnya menjulang tinggi ke angkasa Tokyo, di antara jalan-jalan panjang dengan aspal beton, atau jembatan-jembatan yang bersimpangan atau saling melintang dan sedang dipenuhi berbagai kendaraan yang melaju cepat.

Jalan-jalan memang selalu dipenuhi kendaraan di Tokyo. Tapi tak ada asap solar, dan tak ada kemacetan. Semua kendaraan mengikuti jalur yang sudah ditentukan, berhenti pada lampu-lampu merah, melambat pada tanda penyeberangan, dan selalu menempatkan posisi pada antrian. Sebuah keteraturan dan sistem transportasi yang bekerja maksimal, dengan mudah ditemukan di jalanan kota Tokyo.

Adapun pola lokasi istana di dalam sungai dan kota di luar sungai, boleh jadi diilhami oleh geografis Jepang sendiri yang memang dikelilingi laut. Arus hangat dan dingin mengalir melalui laut-laut di sekitarnya, hingga membentuk lingkungan yang mendukung berkembangnya berbagai spesies ikan. Sebagian besar Jepang berada dalam zona utara beriklim sedang dan beriklim monsun yang lembab, dengan angin tenggara yang bertiup dari Samudera Pasifik selama musim panas, dan angin barat-laut yang bertiup dari benua Eurasia (Eropa-Asia) pada musim dingin.

Membandingkan kehidupan di dalam sungai buatan yang mengurung (sekaligus melindungi) istana kekaisaran dan perangkatnya, dengan kemegahan maupun arus cepat kemodernan di luar sungai – seperti menemukan perbandingan langsung antara tradisi yang dipertahankan dan kehidupan modern yang dibiarkan berkembang. Dari sebuah tatakrama kerajaan dengan nilai-nilai dan pemaknaan yang harus diikuti siapa pun yang dengan rela masuk ke dalamnya, bersisian dengan tatakrama pergaulan modern yang dinamis, efektif, dan modis.

Lihatlah, di jalan-jalan kota Tokyo, orang-orang berjalan cepat menuju kantor, dengan pakaian lengkap, jas, pantalon bagi yang pria, dengan model rambut yang agak “ngepunk” bila ia seorang pria muda. Dan sepatu hak tinggi, rok sampai dengkul, pakaian atas berlapis sweater, rambut dibiarkan tergerai, lalu melangkah tak kalah cepatnya bila ia seorang wanita apalagi seorang gadis muda.

Dengan cepat bisa diketahui, bahwa penduduk kota Tokyo mencintai jalan kaki, dan tak mau menyia-nyiakan waktu di perjalanan. Mobil-mobil memang berseliweran, tapi orang-orang Tokyo juga tampak bahagia dan menikmati jalan kaki di bawah udara 14 derajat Celcius dan langit bergerimis.

Semua di jalanan berlangsung ringkas dan enak dipandang. Sama halnya dengan upacara kenegaraan yang baru saja disaksikan serombongan wartawan dari Indonesia itu: hening, singkat, namun khusuk. Hingga, Jepang di dalam sungai dan Jepang di luar sungai hanya dibedakan satu istilah: tradisi yang dikenakan. Sementara manusianya: sama-sama manusia Jepang yang enggan berleha-leha.

Dan sepanjang sejarahnya, Jepang memang telah menyerap banyak gagasan dari negara-negara lain termasuk teknologi, adat-istiadat, dan bentuk-bentuk pengungkapan kebudayaan. Namun Jepang tetap bertahan dengan budayanya yang unik, sambil mengintegrasikan masukan-masukan dari luar itu secara cerdas. Hingga, bisa disimpulkan, gaya hidup orang Jepang kini adalah perpaduan budaya tradisional di bawah pengaruh Asia dan budaya modern Barat.

Sastra Buruh Melawan Represi

Dunia Sastra Indonesia pernah disibukkan oleh perdebatan sastra Manikebu Vs Lekra. Kedua aliran kesusastraan yang berangkat dari cara pandang khas ini (Liberalisme dan Humanisme Universal pada Manikebu, Sosialisme dan Komunisme pada Lekra), ikut mewarnai perbenturan politik yang memuncak pada “bencana” 1965 yang masih gelap itu. Uniknya, “jejak” perdebatan itu menggejala kembali ketika dunia sastra Indonesia dimasuki istilah Sastra Kontekstual tahun 1984-an, dan ketika Pramudya Ananta Toer pada 1995 memperoleh penghargaan Magsasay dari Filipina untuk karya-karyanya. Dan yang paling anyar, “jejak” tersebut ikut pula membayangi fenomena Sastra Buruh yang meramaikan sastra Indonesia sejak 1995-an. Apa yang terjadi, dan seperti apa “sosok” Sastra Buruh itu, wartawan Jurnal Nasional Arie MP Tamba menelusurinya. Red

Sastra Buruh Melawan Represi

SORE itu Institut Puisi Tangerang (IPT) mengadakan pertemuan di sebuah pinggir kali. Institut Puisi Tangerang didirikan oleh penyair Wowok Hesti Prabowo untuk membantu para buruh pabrik di wilayah Tangerang, yang meminati dunia sastra, khususnya dunia puisi, sebagai alat ekspresi. Sebagai instruktur atau pembimbing, Wowok melibatkan beberapa penyair seperti Iwan Gunadi, Nur Zain Hae, Eka Budianta, Ahmadun Yosi Herfanda, dan Wowok sendiri.

Begitulah IPT berpindah-pindah dari satu rumah petak ke rumah petak lainnya, atau ke taman kota, ke tanah lapang, ke pinggir kali, atau boleh jadi ke rumah salah seorang pembimbing. Dan sore itu, mereka berjanji berkumpul di sebuah pinggir kali.

Acara pelatihan belum dimulai. Sore itu yang mendapat giliran membimbing adalah Iwan Gunadi, seorang penyair dan pengamat sastra yang juga bekerja sebagai redaktur di sebuah majalah perbankan di Jakarta. Di sampingnya, duduk seseorang yang menurut dugaan Iwan adalah “buruh” yang baru pertama kali ikut pelatihan. Pakaiannya memang sederhana, tapi jelas berbeda dari buruh umumnya. Ia memakai jaket dan bersepatu. Sementara buruh-buruh lain datang hanya mengenakan t-shirt dan bersandal.

“Apa tujuan acara ini, mas,” tanya si “buruh”.

Iwan menjawab ringan. “Biasalah. Memberikan semacam pelatihan agar teman-teman buruh dapat menulis puisi dengan lebih bagus.”

“Kenapa harus dilatih? Siapa penyandang dananya?”

Iwan mengerutkan kening. Pertanyaan beruntun si “buruh” menurutnya biasa saja dari seseorang yang baru ikut pelatihan, namun tidak berkaitan dengan kegiatan mereka. Dan karena tidak ingin mengecewakan si “buruh” agar bersedia datang lagi pada sesi-sesi berikutnya, Iwan pun menjelaskan seadanya bahwa pertemuan itu tak mengeluarkan biaya yang berarti. Pembimbing tidak mendapatkan honor, dan bila diselenggarakan di sebuah rumah petak buruh, tuan rumah yang menyediakan tempat dapat menyediakan air putih saja atau tak menyediakan apa pun boleh juga.

“Siapa ketuanya?”

Iwan semakin terganggu.. Teman “buruh” itu mestinya sudah mengetahui bahwa pertemuan-pertemuan IPT adalah gagasan Wowok Hesti Prabowo, seorang buruh yang senang menulis puisi, lalu menggalang buruh agar senang menulis puisi.

“Wowok Hesti Prabowo,” jawab Iwan pendek.

Iwan sama sekali tak mengetahui, bahwa para buruh yang semakin banyak berdatangan ke pinggir kali sore itu, mengira bahwa “buruh” yang sedang berbincang dengan Iwan adalah calon pembimbing pada sesi berikutnya. Dalam bayangan sebagian buruh, “buruh” itu ingin melihat dulu lingkungan pergaulan yang akan ikut diurusinya.

Kemudian, banyak lagi yang diperbincangkan Iwan dengan si “buruh” tentang IPT dan kegiatannya. Namun, hingga acara kemudian benar-benar dimulai oleh Iwan, seingatnya, si “buruh” tak sekalipun bertanya tentang puisi atau bagaimana caranya menulis puisi yang baik.

Iwan kemudian menyilakan para buruh yang sudah menulis puisi membacakan karyanya. Setelah itu Iwan mengajak para buruh mengarahkan perhatian ke setiap diksi yang mereka gunakan, bagaimana menjalinnya menjadi struktur puisi agar lebih baik, seperti apa sebaiknya membuat judul yang mengundang perhatian, dan sejauh mana puisi-puisi mereka telah memiliki isyarat tentang tema yang mau disampaikan.

Puisi-puisi kemudian ditulis ulang, lalu dibahas lagi, dan kemudian diadakan lagi diskusi dan pembacaan tentang beberapa karya terkenal yang diperkenalkan Iwan sebagai puisi-puisi yang memiliki anasir sastra seperti diajarkannya. Begitulah selalu isi kegiatan IPT berlangsung selama bertahun-tahun, berupa diskusi dan praktek langsung, sejak tahun 1995 sampai 1998.

“Secara umum apa yang mereka tanyakan adalah bagaimana membentuk imajinasi yang kuat, membuat judul yang baik, memulai dan mengakhiri puisi, dan hal-hal teknis lainnya,” jelas Iwan. Dan sebagian besar, menurut Iwan, permasalahan yang dihadapi para buruh yang ikut program pelatihan di IPT adalah struktur bahasa yang sama saja, dengan diksi yang khas dan terbatas, lalu dibebani tema kehidupan buruh.

“Saya mengasumsikan, kalau pun Sastra Buruh adalah sebuah genre, maka ia tidak didukung oleh landasan filosofis yang kuat; kecuali adanya kekhasan tematik akibat pengalaman sehari-hari,” kata Iwan.

Apa yang sering diteriakkan, jelas Iwan, rata-rata adalah perlawanan terhadap penguasa di pabrik dan juga penguasa di luar pabrik. Namun disayangkan oleh Iwan, para buruh secara tematis juga tidak menekuni dunia mereka secara rinci. Para buruh cenderung membicarakan permasalahan buruh pada tataran umum dengan seragam.

“Mereka jarang membicarakan bagaimana buruh mengantri mandi, hidup sempit-sempitan di rumah petak, dan semacamnya. Umumnya mereka membicarakan ketertindasan yang dikenali sebagai bahasa umum: gaji kecil, waktu kerja ketat dan menekan. Sementara hal-hal spesifik seperti bagaimana kehidupan seksual mereka, hubungan dengan kekasih, tidak mereka garap,” kata Iwan.

Iwan justru menemukan, sebuah puisi buruh yang membicarakan kehidupan seksual buruh yang khas, ditulis oleh Wowok ketika sudah tidak lagi menjadi buruh.

***

LALU pertemuan IPT di pinggir kali sore itu pun usai pada malam hari.

Iwan pulang dan telah melupakan si “buruh”. Tapi Iwan dan para buruh di IPT kemudian ramai membahas si “buruh” pada pertemuan selanjutnya di sebuah taman kota di Tangerang. Si “buruh” itu tidak kelihatan batang hidungnya. Dengan mudah Iwan dan para buruh menyimpulkan, bahwa si “buruh” adalah seorang intel yang sengaja mengawasi kegiatan IPT.

Dan bukan sekali itu saja IPT diawasi intel, yang pada tahun 1990-an begitu ketat mengawasi kegiatan masyarakat yang sedang mengadakan pertemuan. Apalagi bila kegiatan itu dilakukan para buruh, yang notabene dianggap sebagai salah satu kekuatan potensial mengadakan perlawanan di perusahaan ataupun kepada pemerintah yang berkuasa. Masa itu, Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) sudah sering mengadakan demontrasi, begitupun Serikat Buruh Sejahtera pimpinan Muchtar Pakpahan.

“Malam itu acara diadakan di rumah saya. Para intel mengerumuni dari ujung gang yang satu ke ujung gang yang lain. Boleh jadi jumlah mereka lebih banyak dibanding jumlah kami yang mengadakan pelatihan,” cerita Wowok Hesti Prabowo.

Para intel itu masuk ke dalam rumah, dan seluruh peserta IPT dimintai KTP-nya, nama-nama mereka didata, lalu pertemuan dibubarkan.

“Saya juga mendengar hal itu dari teman-teman. Saya kurang tahu persis siapa yang menjadi pembimbing malam itu. Kebetulan saya tidak datang,” kata Iwan Gunadi.

Wowok Hesti Prabowo lahir di Purwodadi Grobogan, 16 April 1963. Lulus STMA (semacam STM Kimia) di Yogyakarta tahun 1983, ia langsung bekerja di pabrik. Belasan tahun ia menjadi buruh pabrik di berbagai kota seperti di PT Ispat Indo (pabrik baja, Surabaya), PT Diamond Keramik (Pabrik Keramik, Gersik), PT Beruang Plastik Utama, PT Berlina (di Tangerang).

Selama memburuh di Tangerang, pada malam harinya Wowok kuliah di Fakultas Teknik Kimia Tekstil UNIS Tangerang (lulus tahun 1996). Ia pernah menjadi Ketua Unit Kerja SPSI PT Berlina. Puncak kariernya adalah manajer personalia, sebelum akhirnya di-PHK karena dinilai terlalu memihak buruh.

“Aktivitas kesenian teman-teman buruh di Tangerang tidak lepas dari Wowok. Wowok pernah jadi buruh, jadi manajer buruh, lalu keluar dan juga aktif di organisasi buruh. Waktu Roda Roda Budaya berdiri, Wowok sudah tidak lagi memburuh. Jadi ia relatif memiliki waktu lebih luang dibandingkan teman-teman buruh lainnya,” tutur Iwan Gunadi.

Menurut Iwan, Wowok secara khusus mencoba menjadikan sastra, terutama melalui disiplin puisi yang lebih dikuasainya, sebagai upaya menggerakkan buruh agar mampu keluar dari represi kekuasaan. Caranya, Wowok sengaja membentuk beberapa kelompok: Roda Roda Budaya (RRB), Budaya Buruh Tangerang (Bubutan), Institut Puisi Tangerang (IPT), Teater Tabur (Teater Buruh). “Tapi saya tidak tahu persis apakah Wowok ikut mendirikan Teater Tabur. Yang jelas dalam kegiatan teater, Wowok selalu bersinggungan dengan Teater Tabur,” kata Iwan.

Pementasan-pementasan Teater Tabur didomisi tema menjadikan buruh berdaya, mampu berhadapan dengan pengusaha atau penguasa. “Tapi waktu itu, lewat RRB, IPT, Tabur, Wowok bukan hanya memotivasi teman-teman buruh menulis puisi atau berkesenian, tapi juga menfasilitasi mereka,” papar Iwan.

Hingga, para buruh itu kemudian ada yang menerbitkan buku dalam bentuk sederhana, difotokopi, atau bahkan lebih bagus, dengan dicetak. Wowok secara intens melakukan pemberdayaan secara artistik kepada buruh-buruh yang karena pendidikannya yang terbatas, diasumsikan kurang menguasai bahasa dan teknik menulis karya sastra yang bagus.

“Awalnya bersama teman-teman buruh di pabrik, kami membentuk Komunitas Budaya Buruh Tangerang (Bubutan) tahun 1995. Kegiatannya mengikuti tradisi teman-teman sastra ketika itu, kumpul-kumpul, baca puisi, diskusi, keliling di kelompok-kelompok buruh, juga ke rumah-rumah kontrakannya,” kisah Wowok.

Satu hal yang langsung dirasakan Wowok adalah Bubutan ternyata tidak luwes memasuki dunia sastra Indonesia. Para buruh yang mengelompok bersamanya digayuti perasaan terpinggirkan, bahkan merasa minder kepada para sastrawan di pusat kesenian di Jakarta. Untuk menyiasatinya, Wowok pun mendirikan RRB. Sebagian besar anggotanya masih buruh, namun mereka dapat berinteraksi dengan para sastrawan nonburuh yang diajak Wowok ikut bergabung.

“Istilah Sastra Buruh muncul bersamaan dengan dikenalnya Sastra Pedalaman, gerakan sastra pinggiran. Karena anggota kita semuanya buruh dan berbicara tentang kehidupan buruh, maka kita namai saja Sastra Buruh,” kata Wowok.

Sastra Pedalaman adalah sebuah gerakan sastra yang dimotori Koesprihanto Namma dari Ngawi, yang menggugat “persekongkolan” koran-koran nasional dengan para sastrawan Jakarta. Koran-koran nasional dianggap menutup diri kepada para penulis daerah. Hal ini dipersoalkan Koesprihanto dan teman-temannya, sebagai sebuah rekayasa dan dominasi nilai sastra yang tidak adil.

“Saya, Koes, dan Sosiawan Leak dari Solo memang rajin berkomunikasi. Bikin gerakan yuk. Atau bikin apa lagi nih? Begitulah setiap kali datang ajakan dan pertanyaan dari mereka, bila kami telepon-teleponan,” ungkap Wowok.

Namun Wowok dan teman-teman buruhnya di Tangerang kemudian merasa heran, kenapa kemunculan Sastra Buruh diramaikan para sastrawan Jakarta. Sastra Buruh bahkan kemudian dicap kiri, mengusung semangat komunisme. Sementara tahun 1993, 1994, 1995, adalah hari-hari buruh yang dilalui dengan banyak pemogokan. Di setiap pemogokan para buruh membacakan puisi sebagai sarana menyampaikan aspirasi. Menunjukkan isi hati mereka yang tertekan, karena diperlakukan tidak adil oleh perusahaan dan juga peraturan pemerintah.

“Dan biasanya aktivis Bubutan adalah pengurus serikat aktif di perusahaan tempat mereka bekerja. Jadi bukan buruh biasa. Mereka mampu mengorganisir perlawanan dengan berdemo dan membacakan puisi, atau berteater,” kata Wowok.

Namun begitu mendengar adanya tudingan bahwa Sastra Buruh dicap kiri atau menganut paham Komunis, Wowok pun mempelajari sejarah sastra Indonesia dan menemukan suatu masa ketika terjadi persilangan ide antara kelompok Lekra dan Manikebu sejak 1950-an, yang memuncak pada tahun 1965-an. Perbedaan pilihan yang kemudian campur-baur dengan politik yang juga mendapat kekuatan dari sastra.

Goenawan Mohamad (1988) pernah menulis, berbeda dengan Manikebu yang menjadikan kemanusiaan dan kebebasan sebagai nilai tertinggi kesenian, kelompok Lekra menjadikan “politik sebagai panglima’. Maxim Gorki yang sering kali dikutip (diilhami pandangan Marxisme-Leninisme) menandaskan bahwa sastra tak pernah berada di luar politik. Ini berangkat dari pandangan, bahwa kehidupan terbangun dari perjuangan kelas yang manifestasinya adalah politik. Dan karena kehidupan dikuasai perjuangan kelas, tak seorang pun dapat mengelak dari pergulatan politik yang ada di dalamnya.

Sedangkan Bakri Siregar (1964) menyatakan bahwa sastrawan yang bergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang didirikan tanggal 17 Agustus 1950, tegas berpihak kepada rakyat dan mengabdi kepada rakyat, dan dengan demikian atas dasar “seni untuk rakyat” seperti dinyatakan “mukadimah Lekra” (1950) – menolak aliran “seni untuk seni” yang menurutnya dianut kelompok Manikebu.

“Saya baru tahu polemik itu setelah membaca sejarah sastra Indonesia. Sama halnya, kami tak pernah tahu kalau sidang puisi yang beberapa kali kami lakukan ternyata sudah pernah diadakan di Bandung tahun 1970-an,” kata Wowok.

Resonansi hadirnya Sastra Buruh, meskipun sifatnya menegasi, bagi Wowok dan para buruh di Bubutan justru menjadi penyemangat. Mereka merasa menjadi sorotan dan keberadaannya diperhitungkan Jakarta. “Pola pengangkatan seseorang menjadi penyair, ikut dipersoalkan bahkan dicurigai teman-teman Jakarta,” ungkap Wowok.

Wowok menggambarkan, guna menumbuhkan gairah bersastra di kalangan buruh, hal yang pertama dilakukan adalah penegasan bahwa menjadi penyair itu mudah. “Kita yakinkan siapa pun yang menulis puisi adalah penyair. Maka, dalam setiap pertemuan di rumah-rumah petak para buruh itu, kita membuat acara satu dua orang baca puisi, kita sambut dengan tepuk tangan, lalu kita nobatkan sebagai penyair,” kisah Wowok.

Dari sisi ini Sastra Buruh bisa ditafsirkan sebagai perlawanan terhadap penguasaan legitimasi sastra dari pusat kesenian di Jakarta, sejenis dengan gerakan perlawanan Sastra Pedalaman dan gerakan sastra pinggiran lainnya. Gerakan yang menentang legitimasi pusat (dengan segala infrastrukturnya, termasuk lembaga semacam Taman Ismail Marzuki dan juga media cetak Jakarta) sebagai “pembabtis” eksistensi kesastrawanan atau kepenyairan seseorang.

Tapi bagi Wowok, apa yang dilakukannya lebih bersifat menjaga moral dan mental para buruh yang diajaknya. “Setelah melantik mereka sebagai penyair, besoknya ketemu sudah enak, tinggal menagih, mana puisimu, ayo kita baca, kita diskusikan,” kata Wowok.

Namun, kalau pun para sastrawan yang sudah mapan menyebutkan cara pelantikan yang mudah itu sebagai perlawanan legitimasi, Wowok siap berargumentasi. “Lha, memangnya dunia kesusastraan itu milik siapa, penyair itu siapa. Kan mereka yang menulis sastra, menulis puisi, itu penyair. Terlepas dari orang menyukainya atau tidak, orang akan menganggapnya bagus atau tidak. Jadi persoalannya bukan puisi yang ditulis buruh atau nonburuh, tapi sastra yang berkualitas atau tidak. Kalau ada nada negatif menerima Sastra Buruh, boleh jadi muncul dari persepsi yang salah,” papar Wowok.

Endo Senggono, Pimpinan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, mempunyai catatan tersendiri tentang Sastra Buruh yang digerakkan Wowok. “Mereka, Wowok dan Dingu Rilesta, tahun 1995 datang ke PDS mau meluncurkan buku puisi Rumah Petak. Yang menghubungkan ke sini adalah penyair Sitok Srengenge,” kisah Endo.

Saat itu peluncuran buku belum marak. Maka acara peluncuran Rumah Petak cukup mendapat sambutan di kalangan sastrawan dan buruh. Istilah Sastra Buruh pun diperdengarkan. Rumah Petak berisi puisi-puisi yang mengangkat persoalan buruh, terutama yang bekerja di Tangerang. Ini salah satu puisi yang terdapat di dalamnya:

Alasan PHK, karya Wowok Hesti Prabowo

katamu, ibarat suami istri

bila tiada kecocokan harus cerai

mengapa begitu?

lantas kau menceraikan sepihak

tanpa pengadilan tanpa pesangon

katamu, ada jumpa ada pisah

selalu saja kau katakan itu

lantas kau phk aku tanpa salah

Bah!

manusia apa kau ini

kau anggap aku istri

selama ini tak kau sayangi

apakah karena dulu aku yang melamarmu?

Bah!

manusia apa kau ini

istrimu kau perkosa setiap hari

demi kepuasanmu

tapi bila tak lagi nikmat

kau kata tak cocok lagi

baiklah kita cerai

di pertempuran!

(Cikokol, Tangerang, 1994)

***

“TAK ada perbedaan khas dengan karya sastra umumnya yang menyoroti masalah buruh. Bedanya, kali ini yang menulisnya adalah buruh Tangerang yang sebenarnya, bukan penyair umumnya,” kata Endo. Saat itu, khazanah sastra Indonesia pun dimasuki istilah Sastra Buruh dengan nama Wowok sebagai presidennya.

Kelompok Sastra Buruh RRB kemudian juga meluncurkan buku puisi Trotoar yang mendapat dukungan dari beberapa penyair nonburuh. Sambutan dunia sastra Indonesia semakin jelas, paling tidak dating dari para sastrawan yang ikut hadir di PDS HB Jassin.

“Wowok dikenal, baik oleh para dedengkot perpuisian Indonesia seperti Sutardji Calzoum Bachri, maupun para pemula yang baru belajar menulis di rumah-rumah petak, kawasan industri Jabotabek, dan kota-kota lain di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, apalagi Jawa. Wowok adalah organisator yang menggerakkan aktivitas budaya di kalangan pinggiran, termasuk Kudus, Surakarta, Purwokerto, dan seterusnya. Wowok telah menjadi fenomena klasik yang khas dalam proses industrialisasi di Asia Tenggara pada umumnya, dan di Pulau Jawa pada khususnya,” demikian Eka Budianta pernah menulis (1999).

“Beberapa sastrawan senior berdatangan ke acaranya Wowok, dan mereka selalu mengikuti sampai acara selesai, seperti Eka Budianta, Taufiq Ismail, Ikranegara, dan Leon Agusta,” ungkap Endo.

Endo juga melihat adanya vitalitas gerakan Sastra Buruh yang ingin menjadi kelompok alternatif. Saat itu, prareformasi 1998, di Indonesia sedang menjamur kelompok masyarakat yang membangun diri menjadi semacam komunitas karier ataupun politik, seperti para sastrawan, para bankir, para mahasiswa, para aktivis lingkungan, dll.

“Dipilihnya tempat peluncuran buku mereka di PDS HB Jassin, saya kira tidak lepas dari anggapan bahwa tempat ini netral, meskipun lokasinya berada di TIM yang diandaikan sebagai pusat kesenian yang harus dilawan oleh komunitas seniman,” kata Endo.

Dan sejak itu, bila sebelumnya PDS HB Jassin lebih sering menerima kunjungan tamu-tamu pelajar SMA atau mahasiswa yang datang untuk penelitian sastra, selanjutnya PDS menjadi tempat peluncuran buku yang “bebas” dari birokrasi pemerintah. “Aktivis buruh seperti Muchtar Pakpahan pun memilih meluncurkan bukunya di PDS,” ungkap Endo.

***

AKARNYA boleh jadi memang gejolak sosial prareformasi 1998, berupa tumbuhnya gerakan masyarakat yang ingin melepaskan diri dari jaringan birokrasi pemerintah atau malah ingin melawannya. “Sebab pembredelan Tempo yang kemudian menyatukan perlawanan massa pada 21 juni 1994, berangkat dari sini juga. Waktu itu, Wowok membuat buku Catatan Pengadilan Tempo. Saya kira Wowok berkenalan dengan Sitok saat itu,” kata Endo.

Tidak saja berhasil membuat acara di PDS HB Jassin dan mengundang para sastrawan senior untuk hadir, Wowok dan teman-temannya pun mengadakan acara dan mengundang para sastrawan Jakarta, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ikranegara, Sides Sudyarto DS, dan dokumentator sastra Endo Senggono ke tempat mereka di Tangerang.

Bubutan yang dipimpin Wowok waktu itu beranggotakan 50-an orang. Beberapa pertemuan yang diselenggarakan bersama tamu-tamu sastrawan berhasil membawa penyadaran eksistensial. Hingga, di dalam pemogokan yang dilakukan, selain melakukan orasi, mereka membacakan puisi-puisi yang semakin mampu menyuarakan aspirasi. “Ayo, lawan!” begitulah afirmasi yang diteriakkan kebanyakan puisi buruh yang ditulis dan dibacakan pada masa itu.

Di dunia sastra, puisi-puisi buruh seperti itu sering dicap slogan. “Makanya, untuk menyiasatinya, agar teman-teman buruh dapat mengembangkan kemampuan di bidang kesusastraan, kita membentuk Institut Puisi Tangerang (IPT),” ujar Wowok.

Semua ini dilakukan Wowok, tak lepas dari kepercayaannya yang tinggi bahwa sastra adalah “alat”. “Sastra adalah alat untuk membuat hidup agar lebih baik dan adil,” tegas Wowok.

“Bagi buruh, puisi adalah benteng harga diri,” demikian Wowok menulis dalam pengantar buku puisinya Buruh Menggugat yang sebelum diterbitkan tahun 1999, selama beberapa tahun fotokopiannya banyak beredar di kalangan buruh.

Menulis puisi itu gampang, kata Wowok. Menjadi penyair itu gampang. Itulah yang selalu dikatakannya kepada buruh, sopir, atau siapa saja orang yang awam atas puisi, agar mereka tidak ragu, malu, atau takut menulis puisi. Siapa pun bisa menjadi penyair karena dunia kepenyairan adalah milik semua orang.

Lebih dari itu, lanjut Wowok, menulis puisi tidak sekadar merangkai kata-kata. Tak sekadar membebaskan kata-kata. Memang, kata-kata punya hak untuk bebas seperti halnya penyair yang berhak dan bebas mengatur, mengendalikan, dan memaknai kata-kata. Namun kata-kata tak cukup hanya untuk dirinya sendiri. Puisi tak cukup hanya untuk puisi. Seni tak cukup hanya untuk seni.

“Bagi buruh, puisi adalah mulut,” tulis Wowok. Ketika hak-hak buruh ditebas, kebebasan buruh dibelenggu, kehidupannya ditindas dengan berbagai intimidasi dan kesewenangan maka untuk menyuarakan isi hatinya buruh butuh mulut. Dan mulut itu adalah puisi.

Jadi, puisi bagi buruh adalah media untuk berjuang. Memang, puisi tak seefektif atau seampuh pemogokan. Tapi, lihatlah, di berbagai aksi pemogokan buruh, selalu ada puisi. Ya, seharusnya begitu: puisi dan pemogokan bisa berjalan berdampingan.

Puisi buruh atau sastra buruh, kata Wowok, suka atau tidak suka, mau tidak mau, telah menjelma wilayah baru yang mandiri dalam peta kesusastraan Indonesia, bahkan dunia. Dan itulah obsesi Wowok sejak pertama kali mengobarkan Sastra Buruh, agar dunia sastra mau tak mau harus berpaling pada komunitas pabrik yang dulu dicitrakan sebagai “manusia robot”. Sebab, sastra bagi buruh adalah dunia nyata. Sastra tidak untuk mengukuhkan kecongkakan sastrawan yang merasa dirinya di awang-awang dan kakinya tak pernah menginjak bumi…

Setelah buruh menemukan harga dirinya lewat puisi, simpul Wowok dalam pengantar Buruh Menggugat itu, maka kelak buruh tak boleh bodoh, tak harus miskin dan tak boleh penakut.

***

BARANGKALI karena tendensi tematik “berapi-api” yang ditekankan Wowok inilah, selama menjadi pembimbing di IPT, Iwan Gunadi jarang mendapatkan puisi yang kaya potensi kesusastraannya. “Banyak teman buruh lebih senang bicara tentang tema-tema besar, kekerasan, kekuasaan, perlawanan,” kata Iwan.

Iwan menyebutkan beberapa nama yang puisi-puisinya penuh teriakan, afirmatif, seperti Dingu Rilesta, Nurjanah Sutardji, Marzuki, Magnus Albertus, dll. Puisi-puisi mereka tidak jauh beda dengan kebanyakan puisi yang lain, kurang terinci, tidak sulit memahaminya, karena semua persoalan disampaikan dengan nada polos dan lugu.

Hal yang berbeda dengan apa yang ditemukan Iwan pada puisi-puisi Husnul Khuluqi, seorang buruh Tangerang yang masih menulis puisi dan juga memburuh sampai sekarang (2007). Menurut Iwan, Husnul menulis puisi dengan sandaran tema-tema kecil dan rinci, seperti bagaimana buruh mengisi kehidupan malam minggunya, bagaimana derita buruh tampak dari kehidupan anaknya, membicarakan keterpaksaan tidak bisa pulang saat Lebaran, menyoroti menu makanan di pabrik yang itu-itu saja, atau bagaimana ia mau sholat sementara dalam bayangannya ada pengawasan dari mandor, dll.

“Masalah keseharian dan lebih konkret justru jarang digarap kebanyakan penyair buruh,” jelas Iwan. Hingga, Iwan menandaskan, bila pada kebanyakan penyair buruh nada afirmatif mudah ditemukan, maka di puisi-puisi Husnul nada afirmatif justru langka.

Endo Senggono mendukung pendapat Iwan. “Selain Wowok, dua nama yang terus bertahan dan saya kira berkembang adalah Aris Kurniawan pada prosa dan Husnul Khuluqi pada puisi,” kata Endo.

Tentang Aris Kurniawan, cerpenis yang lima tahun terakhir karya-karyanya banyak menyebar di berbagai media cetak Jakarta maupun kota-kota besar lainnya di Indonesia, memang bertumbuh dari IPT (seperti juga Husnul) dan memacu diri dengan tambahan bacaan dari orang-orang yang bersedia meminjamkan buku termasuk dari Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.

Aris Kurniawan kini tidak lagi bekerja di pabrik, tapi menjadi wartawan di sebuah majalah dan situs perfilman, disamping terus berkarya dan rajin membaca serta menghadiri diskusi-diskusi sastra. “Aris mengenal seorang ibu yang rajin meminjamkan buku kepadanya, di samping mencari buku yang dibutuhkannya ke PDS,” ungkap Endo.

Iwan membenarkan apa yang digambarkan Endo tentang Aris. Sementara Iwan sendiri mempunyai pola “membantu” Aris dan Husnul mengatasi keterbatasan ekonomi membeli buku. “Keduanya saya tawari buku-buku, dengan catatan keduanya berjanji akan membacanya. Dan kalau ada yang menghilangkan buku yang dipinjamnya, selanjutnya ia kehilangan kesempatan untuk meminjam,” kata Iwan Gunadi.

Husnul Khuluqi belakangan juga mulai menulis cerpen dan novel. Bagi Iwan, Husnul adalah tipe buruh dengan sisi kepenyairan yang khas. Tahun 1996 ke belakang, kosakata Husnul tidak banyak. Husnul masih menulis rata-rata dengan nada lugu dan transparansi yang sama sebagaimana buruh-buruh lainnya. Pemanfaatan metafornya tidak banyak.

“Tapi sejak tahun 1998 ke sini, ia sudah menjadi penyair sebagaimana penyair mutakhir yang senang bermain-main metafora. Dan Husnul didukung pengalaman keseharian yang istimewa sebagai buruh, sehingga puisinya mempunyai keunikan yang tidak sampai menjadi puisi gelap, seperti yang menjebak para penyair mutakhir,” papar Iwan.

Selama 10 tahun memburuh, Husnul tetap menulis puisi buruh, meski jumlahnya hanya sebagian kecil dari puisi-puisinya. “Walau sebagian kecil, tapi jumlahnya lebih dari ratusan. Karena Husnul sudah menulis puisi ribuan. Saya pernah memintanya memfotokopi semua puisi-puisinya yang lama maupun terbaru,” kisah Iwan.

Ketika sedang produktif, beberapa tahun lalu Husnul mengirim puisi secara rutin kepada Iwan. Lalu belakangan ia mengirim puisi hanya sesekali. Menurut Iwan, Husnul pernah berkata bahwa banyak juga puisinya yang tidak terdokumentasi, karena dikirim ke media massa sebelum memfotokopinya. Sementara, Husnul tidak mengetahui apakah puisi-puisinya itu dipublikasikan atau tidak.

“Yang menyolok adalah, Husnul berkembang sebagai penyair, bahkan cukup signifikan dalam penguasaan bahasa: diksi, kosakata, struktur, maupun pemanfaatan metafora,” kata Iwan.

Uniknya lagi, menurut Iwan, Husnul selalu menghadiri acara demo dan baca puisi yang dilakukan teman-temannya buruh ketika berhadapan dengan perusahaan atau pemerintah. Tapi Husnul tak pernah ikut membacakan puisi-puisinya, bahkan yang berisikan perlawanan. Dan sejak kecil, tambah Iwan, Husnul pun ternyata telah bercita-cita menjadi seorang penulis.

Maka, bila dengan gerakan Sastra Buruh, Wowok ingin melawan represi perusahaan dan pemerintah yang menelikung buruh, dan juga legitimasi pusat sastra dengan eksklusivisme yang “meremehkan” kepenyairan buruh – Husnul boleh jadi tidak termasuk dalam kelompok “buruh” ini. Sebab, Husnul tak pernah menjadikan pusat-pinggiran, buruh-pengusaha, buruh-pemerintah, senior-junior, remeh-eksklusif, sebagai ajang persoalan sastra. Ia hanya menulis puisi, yang kini jumlahnya sudah ribuan.

Lalu pada 7 September 1996 lahirlah Komunitas Sastra Indonesia (KSI) yang keanggotaannya tidak saja buruh, melainkan nonburuh, ditambah beberapa komunitas sastra yang sudah menjamur pada masa itu. Meskipun, anggota yang paling dominan adalah buruh, karena KSI memang berangkat dari embrionya: RRB.

“Ini berawal dari kegiatan persiapan kumpulan puisi Trotoar yang mengakomodasi puisi-puisi buruh di Tangerang ditambah para penyair se-Jabotabek itu,” kisah Wowok. Ketika ia mengalami PHK dan mendapatkan pesangon, menyisihkan sebagian uang pesangon untuk penerbitan buku kumpulan bersama sudah menjadi obsesinya.

Namun dalam beberapa kali pertemuan merancang acara di PDS HB Jassin, terbetiklah gagasan ingin meluaskan wilayah kegiatan organisasi kesenian RRB ke tingkat nasional atau Indonesia.

“Keinginan itu menguat ketika rapat di rumahnya Azwina Aziz Miraza. Hampir 60-an orang yang datang. Buruh banyak, pengamen ada, penyair ada, ditambah macam-macam profesi lain yang secara pribadi-pribadi meminati sastra. Di situlah teman-teman bersepakat menunjuk 11 orang sebagai perwakilan dari komunitas-komunitas yang hadir untuk membentuk organisasi kesusastraan yang lebih besar,” papar Iwan.

Ada Iwan Gunadi dari Kelompok Tikar Pandan, Wowok dari Roda Roda Budaya bersama para buruh, ada Ayid Suyitno dari Sastra Kita, Ahmadun Yosi Herfanda dari Korcil Republika, Diah Hadaning dari Warung Sastra Diah, Medy Loekito dari Rumah Sastra Pulo Asem, Shobir Poerwanto dari Sarang Matahari Penggiat Sastra, ada Wig SM dari Komunitas Sastra Bekasi, Slamet Rahardjo Rais dari Masyarakat Sastra Jakarta, dll.

“Nama Komunitas Sastra Indonesia dimunculkan oleh Viddy Alymahfoedh Daery,” kata Iwan Gunadi. Sebagai jalan tengah dari munculnya dua usulan nama yang diperdebatkan: antara Komunitas Sastrawan Indonesia atau Komunitas Sastrawan di Indonesia. Dengan anggapan bahwa anggota komunitas tidak hanya individunya, melainkan juga materinya, yakni sastra.

Sebagai pengurus KSI periode I (1996-1999), Wowok Hesti Prabowo terpilih sebagai ketua. “Karena ketuanya seorang aktivis buruh, wajar saja kalau program awal KSI lebih banyak mendukung keperluan buruh dan menyuarakan aspirasi mereka, yang kemudian sempat menciptakan stigma dan meresahkan teman-teman komunitas yang tergabung dalam KSI,” ujar Iwan.

“Seperti ketika menggerakkan RRB, kali ini KSI pun kembali dituding kiri, mengusung paham Komunis,” kata Wowok.

Wowok pun merelakan dirinya disidang oleh teman-temannya di KSI. “Saya ditanyai apakah isu di luar memang benar bahwa saya menyebarkan Komunisme. Tentu saja saya sangkal. Seperti sudah saya katakan, saya baru mengetahui di dunia sastra Indonesia pernah ada perbenturan ide antara Komunisme dengan Humanisme Universal, setelah aktif menyuarakan perlawanan buruh dengan puisi,” ungkap Wowok.

Mengatasi persoalan tudingan yang datang dari luar KSI ini, pada kepengurusan KSI periode II (1999-2002), terpilihlah menjadi ketua Ahmadun Yosi Herfanda dari komunitas Korcil Republika. “Bisa saja orang berkomentar, KSI sedang bergerak dari kiri ke kanan,” kata Wowok tersenyum.

“Tapi tetap tak bisa dipungkiri, KSI nyaris identik dengan Wowok,” kata Endo Senggono.

***

MELIHAT kegiatan KSI yang beruntun di masa kepengurusannya, ikut menjadikan Wowok sebagai pusat perhatian. Hingga, wajar saja stigma yang pernah muncul di masa RRB menggayuti pula sampai ke KSI. Ditambah tudingan seolah-olah RRB-nya Wowok telah membesar menjadi KSI-nya Wowok.

Padahal, seperti dijelaskan Iwan Gunadi, KSI sejak awal lebih dijadikan semacam “pendorong” bagi berkembangnya komunitas-komunitas yang bernaung di bawahnya. “KSI tidak untuk mematikan komunitas yang tergabung di bawahnya,” kata Iwan.

Bila yang terlihat masa itu adalah produktivitas kerja KSI yang luar biasa, “itu tidak selalu dari KSI. Bisa saja kegiatan itu dilakukan komunitas di bawahnya, apakah itu Komunitas Sastra Bekasi, Sastra Kita, Masyarakat Sastra Jakarta, namun karena kesepakatan di KSI, selalu disebutkan berkerja sama dengan KSI,” jelas Iwan yang menjadi ketua KSI kepengurusan periode III (2002-2005).

Hal ini dapat berlangsung karena semangat kerja sama yang tinggi di kalangan anggota KSI. Setiap orang memiliki komunitas, namun secara bersamaan menyiapkan diri untuk kegiatan yang lebih besar. “Meski perjalanan tidak mulus-mulus amat, tapi semua masalah bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan,” ungkap Iwan.

Beberapa buku kumpulan puisi, seperti Asosiasi Penyair Indonesia (API) Jilid I dan Jilid II, menghimpun karya puluhan penyair se-Indonesia, berhasil diterbitkan KSI. Begitupun sebuah buku kumpulan puisi, cerpen, esai yang tergabung dalam Angkatan 2000, kembali berhasil diterbitkan KSI.

“Semuanya hasil kerja sama dengan pihak lain. API dengan penerbit Angkasa, Angkatan 2000 dengan kelompok Gramedia. KSI tak pernah punya uang,” kata Wowok. Dengan kerja sama pula, KSI sudah beberapa kali menyalurkan bantuan dana dan sembako kepada para seniman maupun masyarakat yang terkena bencana alam. Yang terbaru (tahun 2006) adalah menyalurkan bantuan dana Rp 2,5 juta sampai Rp 4 juta per orang kepada seniman-seniman Yogyakarta yang tertimpa bencana gempa.

“Kami menyalurkan ratusan juta rupiah. Semuanya bantuan dari relasi seorang simpatisan KSI, Melanie Budianta,” ungkap Wowok.

“KSI memang tak pernah memiliki dana. Semua program diselenggarakan dengan swadaya atau bekerja sama dengan donator, juga patungan dari sesama pengurus. Namun, sukar dipungkiri, yang paling banyak mengeluarkan uang ya Wowok,” pungkas Iwan Gunadi.